Monday, April 18, 2011

Last Farewell

A/N: Ini cerpen blending. Gw tulis saat gw lagi blending sama—something—jadi mungkin agak terlalu menye-menye dan cengeng. Sebenernya gw sendiri nggak terlalu suka sama tokoh yang cengeng. Sayangnya, setiap kali gw tulis Angst, selalu jadinya cengeng wae ==" But—yeaa.... Enjoy deh.

Completion Date: April 7th, 2011


Last Farewell

“Hei,”


Segurat senyum merekah pelan, manik sehitam kumbang berkelip dengan seri. Tanpa perlu mencari sosoknya, dia tahu siapa yang menyapanya. Jauh di lubuk hatinya, dia setengah mengharap kehadiran sapaan barusan, seolah sudah jadi sesuatu yang tak terpisahkan dari kesehariannya. Memutar sekali lagi anak kunci hingga bunyi ‘klik’ halus itu terdengar sebelum berbalik dan meletakkan sepatu hak datarnya di rak samping pintu.


“Bagaimana?” lagi, sosok itu membuka suara. Satu anggukan kecil penuh kepuasan menimpali.


“Bagus,” akhirnya dia berujar, mengikat rambutnya yang selegam arang dalam kunciran ekor kuda, kakinya kini tenggelam dalam sepasang sandal rumah berbulu lembut, menapak berat satu demi satu. “Mereka berdua sehat, semuanya sesuai jadwal,” mengusap perutnya yang menggembung dengan lembut dan penuh sayang, seri di matanya semakin berbinar. Terasa tendangan kecil menghentak dinding perutnya, bersusulan. Langkahnya terhenti sesaat, memejam, menikmati tanggapan hiperaktif dua malaikat kecilnya.


“Baguslah kalau begitu,” terpancar kelegaan yang sama dari sosok lawan bicaranya, pria Kaukasian berbadan tegap, rambut dirty blond dalam potongan pendek, garis rahang tegas, kedua matanya sewarna zamrud. “Lalu, dia? Tidak mengantarmu pulang?” retorikal, sebenarnya, hanya untuk menyatakan kesinisan samar yang tak berusaha ditutupi untuk tersuara, karena mereka sama-sama tahu, dia hanya ada dalam ketiadaan ‘dia’. Manik sehitam kumbang itu bergulir pelan. Sekejap, lalu kembali berkutat menuang air minum untuknya sendiri.


“Kembali ke kantornya. Aku pulang naik taksi. Tak perlu komentar,” potongnya sebelum mendapat balasan, tahu persis reaksi apa yang bakal dikeluarkan lawan bicaranya—keduanya bukan dua orang yang baru berkenalan kemarin sore— “Aku perlu singgah ke beberapa tempat tadi, waktu istirahatnya bakal habis hanya untuk mengantarku seperempat jalan,”


Sosok itu mendengus.


“Reg,” dia menatap tajam dari gelasnya, sedikit rasa tak suka terpancar dari suaranya. Zamrud itu ikut bergulir, malas, namun melengos dengan kedua tangan di saku celananya, tak berkata apa-apa.


“Kurasa kita harus bicara tentang ini, Reg,” tambahnya, menghela napas panjang.


Mengomentari biasanya hanya menyiram minyak pada api, dengan perut yang semakin membesar dan lelah menggelayut, mendiskusikannya lebih lanjut hanyalah membuang-buang tenaga. Namun, ada hal-hal yang memintanya untuk meluruskan perdebatan tak berujung diantara mereka. Kehidupannya beberapa bulan belakangan. Masa depannya.


“Untuk apa?” timpal sang pria, tertawa kering. “Kamu mengerti semuanya tentangku, sifatku, pendapat-pendapatku, luar dalam. Harus ya kita masih membicarakan ini?”


“Ya, tapi apa kamu mengenalku? Pendapat-pendapatku, mimpi-mimpiku, rencana-rencanaku?”


Hening mengambang diantara keduanya. Hitam beradu dengan hijau, mengeras.


“Aku mengenal dirimu yang dulu. Bukan yang sekarang,” ujar pria itu, pahit.


Tawa sarkas singkat pecah.


“Lalu apa? Kamu minta aku untuk kembali pada diriku yang dulu itu?” maniknya masih belum mau melepas sepasang zamrud itu. Kembali, helaan napas lelah terhembus. “Semua sudah berubah, Reg. Aku, kamu, semua diantara kita—“


“—Sementara aku tak pernah memintamu untuk berubah!”


Dia terperanjat, menatap dengan perasaan terluka. Seorang Reg tak pernah berbicara dengan nada tinggi begini padanya. Zamrud itu masih lekat, masih keras.


“Tak pernah sekalipun,” lanjutnya parau, mengacak-acak rambut pirang pendeknya frustasi. “Dia yang membuatmu berubah. Mimpi-mimpi lamamu, apa kamu masih ingat? Atau semua sudah kamu kubur rapat-rapat demi apa yang kamu sebut mimpi baru itu? Demi dia?!”


“Cukup!” suaranya bergetar, menahan sesuatu yang mengganjal pangkal teggorokannya, mendesak untuk keluar. “Aku berubah atas kesadaranku sendiri, Reg! Jangan limpahkan semua kemarahanmu pada suamiku!”


“Kamu merasa dia cukup berharga bagimu sampai kamu membuang semuanya? Melupakan semuanya?”


“Tak bisakah aku memiliki mimpi-mimpi yang normal, Reg? Suami, anak-anak, keluarga… Tak bisakah aku bermimpi seperti layaknya wanita normal?”


“LALU AKU INI APA BUATMU?!”


Bahu keduanya sama-sama bergetar, dada mereka sama-sama naik-turun dengan liar. Marah, kesal, sakit hati, semua bercampur memperkeruh atmosfer diantara mereka.


Matanya panas. Sesuatu yang mengganjal tenggorokannya semakin membesar. Tak ada kata terucap meski dia membuka mulutnya. Meski dia ingin mengatakan sesuatu, apapun, untuk menjawab lelaki pirang itu.


Tapi bisu menyelubungi lebih kuat.


“Buatmu, aku ini tak lebih dari sekedar cadangan, kan? Sesuatu untuk membuatmu sekedar tidak merasa kesepian dan sendiri. Lalu dia datang, dan kamu meninggalkanku begitu saja—“


“—bukan begitu, aku—“


“—dan saat diantara kalian ada masalah, kamu kembali mendatangiku, karena kamu tak mau sendirian. Cuma segitu hargaku untukmu, eh?”


“—CUKUP, REG. CUKUP!” pertahanannya tak bisa terbendung lagi. Butiran bening mengalir deras, tak sanggup menahannya lebih lama, terisak-isak hebat. Kepalanya berputar pening. Dadanya sakit, setiap tarikan napas rasanya seperti menancapkan ribuan jarum diantara tulang rusuknya. Kedua janin di rahimnya menendang-nendang hiperaktif, seolah ikut bereaksi pada lautan emosi yang membanjiri setiap pembuluh darahnya. Zamrud itu masih menatap, keras, dingin. Berbalik, menjauh, tanpa sepatah katapun.


“Reg? REG! KEMBALI! KUMOHON!”


Sia-sia. Suaranya seperti tak pernah akan bisa menjangkaunya, satu sosok yang telah menghilang tanpa jejak, tepat di depan kedua matanya. Dia merosot, terpuruk, hanya bisa terisak liar tanpa daya.

***

Dering telepon berulangkali mengetuk kesadarannya. Kelopak matanya terbuka perlahan, mengerjap beberapa kali, membiasakan matanya dengan cahaya temaram dalam ruangan, sesaat kebingungan. Deringnya terhenti, lalu terdengar lagi, masih terabaikan. Perlahan kesadarannya terkumpul. Dia terbaring di tempat tidurnya, kamarnya hampir gelap, hanya diterangi sisa-sisa cahaya mentari yang hampir tertelan hari. Tangannya menggerapai meja kecil di samping ranjangnya, sadar telepon genggamnya belum berhenti berdering. Bang Tirta. Editornya.


“Halo?”


“Diangkat jukamu tidur?”


“Baru bangun, nggak apa-apa kok Bang. Ada apa? Meeting kita nanti malam, kan?”


“Tadi Abang telepon suamimu tanya dia pulang jam berapa,” ujar suara di seberang. Semenjak perutnya bertambah besar, Bang Tirta selalu meminta pertemuan diadakan di rumahnya saja, tak mau memintanya keluar, dan selalu datang malam hari setelah suaminya pulang bekerja, atau di akhir minggu. “Dia mendadak harus lembur, katanya. Diskusi lewat telepon gimana? Yang bisa didiskusikan saja. Sisanya dilanjut Sabtu.”


Dia lupa kalau suaminya selalu harus pulang beberapa jam lebih lambat bila siang harinya digunakan untuk mengantarnya ke dokter kandungan.


“Duh, maaf Bang, Mel lupa kasih tahu kalau Kang Ari harus lembur malam ini,” sesalnya. Pria di seberang tertawa kecil.


“Nggak apa-apa. So, bisa lanjut diskusi? Senggang nggak?”


“Boleh. Tapi… seingat Mel saja ya? Laptopnya… di meja…” dia tak kuasa mengatakan hal yang sebenarnya. Bahwa dalam keadaannya yang sekarang, dia tak sanggup untuk bahkan berdiskusi mengenai apapun yang bersangkutan dengan novelnya. Dengan Reginald. Membuka laptopnya, membuka kembali rancangan naskahnya, hanya menggarami luka.


Pria itu kembali terkekeh.


“Oke, oke, nggak apa. So… terakhir meeting kita udah finalized soal kerangka plot buat novel kedua ini, kan ya? Terus… soal Reginald dengan Janelle, itu kamu mau bikin mereka jadi gimana?”


Ini semakin sulit untuknya. Sebagian dirinya bersyukur, mereka hanya perlu berbincang lewat telepon tanpa harus bertatap muka. Editornya tak perlu tahu tentang itu. Rahasia kecilnya, antara dirinya dan Reginald.


“Hmm… Menurut Abang gimana?”


“Lho, malah balik tanya,” dia bisa membayangkan Bang Tirta tengah tersenyum pasrah.


“Yah, Abang kan laki-laki, mungkin punya pendapat berbeda, ditilik dari sisi pribadi laki-laki. Semisal Reginald ini Abang, apa yang bakal Abang lakukan?”


Jeda sesaat diantara mereka. Dia yakin Bang Tirta tengah menggaruk-garuk rambutnya, berpikir keras.


“Hmm… Abang pribadi sih, lebih suka menghindar dari mencari masalah, ya, lurus-lurus saja. Keadaan udah nggak memungkinkan buat bisa sama Janelle, ya sudah, Abang lepas, selesaikan semuanya dan fokus sama Raychel, buat membangun keluarga Abang sendiri yang stabil.”


“Abang udah nggak sayang Janelle lagi? Atau, udah mulai mencintai Raychel?”


“Nggak bisa dibilang gitu juga. Ini sih pendapat Abang pribadi, ya. Abang kan orangnya nggak suka macem-macem lah, pingin hidup yang lurus-lurus saja. Abang mungkin saja masih sayang setengah gila sama Janelle, tapi keadaan nggak memungkinkan kita buat bersama, kan? Tambah lagi Abang sudah punya Raychel sebagai istri, sudah mau punya anak juga. Kalau Abang… ya kenapa nggak dari dulu lamar Janelle, gitu, kenapa malah lamar Raychel. Betul memang, kondisinya agak berat untuk minta Janelle alih-alih Raychel, tapi buat Abang, daripada menikah tapi masih kebayang-bayang orang lain, jadinya bikin hidup berantakan, kenapa nggak diusahakan sampai pol dari awal, begitu.


Tapi yang lalu ya biarlah berlalu, Abang rasa yang penting sekarang kedepannya gimana. Betul mungkin, Abang sayang sama Janelle, tapi kalau rasa sayang itu malah bikin Abang menghancurkan keluarga sendiri, dan mungkin menarik Janelle ke lubang yang sama, Abang merasa nggak pantas disebut laki-laki. Kita bisa cinta ke banyak orang, bisa sayang ke banyak orang, tapi nggak mungkin kita bisa memiliki semua yang kita sayang. Abang bahkan akan mendorong Janelle buat cari kebahagiaannya sendiri, masa depannya sendiri.”


Dia terpekur. Kata-kata Bang Tirta seolah menamparnya telak. Dirinya yang tak bisa memutuskan ini, bukan hanya membuat dirinya sendiri menderita. Dia takut seseorang akan tersakiti. Tapi pada akhirnya, Reginald, keluarganya, masa depannya, tanpa sadar dia menarik semua ke keterpurukan yang sama.


“Hei, kenapa diam?”


Dia mengerjap, baru sadar Bang Tirta masih tersambung. “Ng—nggak apa, Bang. Lagi memikirkan kata-kata Abang barusan,” dia mengelak.


“Tapi ini pendapat Abang pribadi ya, dengan karakter Abang yang seperti ini. Reaksi Reginald mungkin akan berbeda, karena karakternya dia jelas berbeda dengan Abang. Bisa saja kamu bikin benar-benar bertolak belakang dari apa yang Abang paparkan tadi, untuk bikin konfliknya semakin dalam. Ini kan novel, terserah kamu sebagai penulis juga. Memangnya rencana awalmu mau gimana?”


“Ngg… belum ada sih… sebenarnya. Mel stuck di bagian itu, sebenarnya,” dia tertawa canggung, tak ubahnya seperti seorang bocah yang kedapatan mencuri mangga tetangga.


“Ya ampun, Mel Mel… Pantas saja…”


Dia masih tertawa canggung. “Maaf, Bang. Mungkin… Mel memang nggak bisa ambil keputusan, terlalu gamang. Mel nggak berani bikin tokoh Mel sendiri menderita,”


“Santai saja, Mel. Ini kan cuma novel, tho?” ucapan yang telak. Kembali, dia merasa seperti ditampar terang-terangan. Ini… memang seharusnya hanya sekedar sebuah novel. Entah sejak kapan, tanpa sadar, Reginald telah menjadi bagian dari kehidupannya juga. Seseorang yang sangat berarti baginya.


“Lagian Mel, kalau kamu terus-terusan membuat Reginald indecisive begini, malah hanya akan menyakiti lebih banyak pihak lagi, kan. Dia sendiri juga akan tersakiti.”


Lagi-lagi, Bang Tirta benar. Sesungguhnya, dia sadar akan hal ini. Sadar, sesadar-sadarnya. Dia mengulur dan terus mengulur waktu, tak ingin memutuskan sesuatu yang dia tahu sama masifnya dengan menyayat lehernya untuk bunuh diri. Sementara, perlahan, jauh di dalam dirinya, dia sekarat seiring hari yang bertambah.


“Bang, maaf, sudah jam segini, Mel belum siapkan makan malam,” dia mencari-cari alasan. Tak sanggup untuk berkata lebih banyak lagi.


“Oke deh. Hmm… kita lanjut Sabtu saja? Atau kalau besok kamu senggang, besok Abang telepon lagi gimana?”


“Boleh, besok biar Mel yang telepon deh. Telepon ke nomor kantor?”


“Yup yup. Oke, salam buat Ari, ya!”


Sambungannya terputus. Air matanya tumpah.

***

“I’m sorry,”


Satu suara lemah menyapanya. Jantungnya seolah hampir meloncat ke tenggorokan, sontak berbalik. Sosok itu berdiri di sana, tak jauh dari tempatnya, memandangnya sendu dengan kedua zamrudnya yang biasa. Sesuatu menggelegak dalam dadanya, membuncah. Beberapa hari ini, dia menanti-nantikan kehadirannya, selalu berharap kalau pertengkaran mereka tempo hari itu tak benar-benar jadi kali yang paling terakhir mereka bertemu.


“Reg…” suaranya bergetar, tangisnya hampir meledak lagi.


“Kamu… masih marah?” tanyanya terdengar cemas, sarat perhatian. Dia menggeleng cepat-cepat, meski air matanya tetap berjatuhan. Menunduk, kedua tangannya menutupi wajahnya. Dia tak tahu harus berkata apa. Semuanya seperti saling berlomba ingin tercetus, saling tertindih satu sama lain.


“Kupikir… kupikir aku tak akan bisa melihatmu lagi,” ucapnya di tengah sedu sedan.


“Aku… pergi tanpa berpamitan hari itu,”


Dia terdiam. Jauh dalam benaknya, dia tahu, cepat atau lambat, hari ini harus tiba. Bukankah dia sudah memutuskan tak akan ragu melangkah lagi? Meski dirinya enggan, dia harus memaksa diri untuk melangkah maju, menutup semuanya. Ada pertemuan, ada perpisahan. Ini semata bukan hanya akibat dari perputaran dunia. Seiring waktu, perpisahan tak bisa dihindari. Memaksakan hal itu untuk tak terjadi, semua di luar kehendaknya. Menolak perpisahan itu untuk datang, dia hanya menenggelamkan diri dalam distorsi imajinya, terus menerus mensugesti diri kalau perpisahan itu tidaklah nyata.


Dadanya terasa dihimpit.


“Aku—“ dia memejam sesaat, mengeraskan kepalan tangannya, berusaha terdengar senormal yang ia bisa, “—sudah memilih nama untuk mereka,” lengannya mengelus lembut perutnya, penuh sayang.


“Hm? Siapa?”


Dia mendongak, mencari-cari sepasang zamrud itu, yang selalu menatapnya dengan penuh kasih, yang selalu tampak tenang dan dalam, yang selalu memberinya kesejukan. Lagi, dadanya terasa sakit, menyadari kalau dia akan kehilangan tatapan dari sepasang zamrud itu.


“Selina dan Serene,” kembali ditatapnya pria itu, seolah mencari persetujuan. Sang pria tertegun sejenak, tampak tak mengira ini yang akan terucap, namun sebuah senyum terkembang perlahan.


“Itu—“


“Nama calon cucu-cucumu, yeah,” dia menimpali, senyumnya tampak seperti tengah mengenang sesuatu, kembali mengelus-elus perutnya dengan sayang. “Aku suka dua nama itu, sudah tercetus jauh sebelum kupikirkan nama untukmu. Rasanya… mereka berdua sudah seperti anakku sendiri.”


Satu anggukan. “Nama itu cantik. Aku suka.”


“Sungguh, boleh?” dua manik sehitam kumbang berbinar, penuh pengharapan, seolah ingin memastikan. Lagi, pria itu mengangguk.


“Pakailah,” katanya, “Kedua putrimu akan tumbuh jadi dua gadis yang tak kalah cantiknya, aku yakin itu.”


Serinya merekah perlahan. “Terima kasih.”


Sunyi menyelimuti. Namun, keduanya tak berusaha memecahkannya. Ada yang ingin mereka reguk hingga puas, Ada yang ingin mereka tunda, diam-diam berharap kepada waktu untuk tidak menggulirkan lengan-lengannya. Di tengah keheningan, detik-detik berjalan yang mereka tata satu persatu, disimpan dengan seksama dalam relung otak mereka.


“Ini… pertemuan terakhir kita.”


Sang pria memecah keheningan, hati-hati mengucapnya.


Mulutnya terbuka, namun tak ada kata terucap. Lidahnya kelu. Benaknya kebas. Banyak, terlalu banyak hal yang ingin ia sampaikan, hal-hal yang belum sempat dia katakan, hal-hal yang seorang Reg harus tahu, namun tak pernah dia berani sampaikan. Berat, ia mengangguk.


“Reg?”


“Hmm?”


“Kamu…” sesuatu mengganjal tenggorokannya sebelum dia sanggup menyelesaikan apa yang ingin dia katakan. Menggelengkan kepalanya, berusaha menjernihkan pikirannya. Bagaimanapun, Reg tak bisa pergi tanpa dia sempat mengatakan ini. “Bagiku, kamu tak pernah jadi pengganti ataupun cadangan. Bagiku—“ sial, dia tercekat lagi. “—lebih—dari sekedar pengganti. Kamu—Reginald-ku. Satu-satunya.”


Pernahkah dia merasa segagu saat ini? Sepanjang hidupnya, dia selalu merangkai kata. Sesuatu yang sudah seperti udara baginya, sesakral bernapas. Namun di saat sepenting ini, mendadak otaknya mengebas, layaknya seorang bocah dua tahun yang masih tertatih mencerna kata.


“Aku tahu, Chèr.Reginald selalu tahu.


Dia tak boleh menangis. Dia tak ingin melepas Reginald dengan air mata. Dia ingin melepasnya dengan senyuman. Senyuman paling tulus. Karena Reginald… tak berhak dilepas dengan air mata.


“Jangan menangis terus, oke? Jalani hidupmu dengan penuh kebahagiaan. Ada dia di sampingmu. Kamu pantas mendapatkannya.”


Anggukan lagi.


“Terima kasih sudah membawaku hadir di kehidupanmu. Selina dan Serene, semoga mereka tumbuh dengan baik. Kamu pasti bisa jadi ibu yang hebat untuk mereka.”


Tuhan, perpisahan ini menyakitkan.


“Adieu, Melanie, ma chère,”


Dan sosok itu menghilang, tertiup angin yang menyelusup melalui jeruji jendela, melebur dalam partikel-partikel cahaya mentari tengah hari yang ikut mengintip. Sekejap, tak tampak seperti pernah ada orang lain selain dirinya di sana. Dapurnya lengang, hanya ada dirinya duduk di kursi makan, memandangi satu spasi kosong, dimana sedetik lalu, Reginald-nya, masih ada, memberinya senyuman yang terakhir, salam perpisahan yang terakhir, kedua zamrud-nya memandangnya penuh sayang, untuk terakhir kali. Sudut bibirnya berkedut, memaksakan sebuah senyuman di tengah tangis diamnya.


“Selamat tinggal, Reg. Dan terima kasih.”


Segalanya benar-benar telah berakhir, sampai di sini.

—END—




0 comments: