Sunday, December 25, 2011

Untitled

Lagi-lagi Untitled, HAHAHA. Fic kilat, ditulis cuma karena kangen Andrew .____. #patetik Entah OOC apa kaga, entah grammar-nya bener apa kaga, pokoknya ini gw ngetik tanpa mikir juga ._____. Disclaimer to JKR untuk Wizarding World-nya, chara-chara yang disebut milik masing-masing PM (malesabsen.com), sepotong lirik lagu yang dipake itu dari Nina Simone - Turn Me On.

Enjoy.

============================


Baru saja jam dinding besar yang tergantung di belakang konter berdentang enam kali. Sepi. Plakat 'Tutup' sudah semenjak tadi dibalik, terakhir kali bel di atas pintu masuk berdenting adalah ketika Aria pulang, dan itu sudah lebih dari setengah jam lalu. Gin menghilang begitu jam kerja usai dan ia tidak terlalu memedulikannya, bahkan ia tidak ingat apakah melihat gadis itu keluar dari toko atau tidak. Sepasang iris kelabunya menatap hampa deretan toples bumbu di atas rak, jemarinya berputar-putar di bibir cangkir teh yang juga telah lama kosong, sebelah tangannya menopang dagu.

Ada langkah-langkah pelan mendekati dapur tempatnya duduk, ia menyadari. Sesosok jangkung yang familier muncul kemudian, keningnya berkerut, mungkin heran ia masih melamun di dapur dengan tenangnya seusai jam kerja.

"You're not going back yet?"

Wajar saja kalau Kristobal heran, ini sesuatu di luar kebiasaan. Bahkan kalau Liga harus melembur pun, dia selalu menyempatkan diri pulang sejenak agar bisa memasak makan malam untuk Andrew. Sekarang pukul enam lebih, di luar bahkan sudah gelap, gadis itu masih tak bergerak dari dapur dengan wajah sekosong mayat, hanya menjawab dengan lenguhan pelan, mengintip isi poci teh seolah baru sadar cangkirnya kosong sejak tadi.

"Can I stay for tonight?"

Baru saja Kristobal tengah menimbang-nimbang apakah ia harus menginterogasi duluan atau menunggu hingga Liga buka mulut. Keningnya semakin berkerut, luar biasa heran. Coba, kapan memangnya gadis itu dengan sukarela minta untuk menginap?

"Another row with Andrew?"

Mungkin saja, kan? Terakhir kali Andrew yang mengungsi setelah katanya habis berselisih tegang, bukan tidak mungkin kini gadis itu yang mengungsi.

"What? No!" Barulah sekarang Liga tampak sedikit hidup, membelalak terkejut sambil mendengus meremehkan. "No, we're good, we're all good," dia menyalakan kompor lagi untuk menjerang air panas baru. "He's just away for some days. Work. I don't know where, though. Mundanus didn't tell him beforehand."

"You're lonely. I see."

Gadis itu mendengus, membuka mulutnya hendak mengatakan sesuatu untuk menyangkal, namun mendadak ia seperti teringat akan sesuatu, memandang Kristobal dengan pandangan cemas, alih-alih menanyakan hal yang lain.

"Wait—why did you think I had a row with him? Did he say something to you?"

"What do you think I am, your private domestic consultant?" Kristobal menjawab ketus, menyibukkan diri membuat secangkir kopi. "No, he didn't say anything, and like hell I care even if he did."

Meski begitu, pria itu mengerling dari sudut matanya, mendapati Liga tengah menghela napas lega, jemarinya memutar-mutar kaleng tempat daun teh tanpa fokus.

"So can I stay or not?"

Satu seringai menyebalkan terkembang.

"You cook for dinner."

"Mmkay."

Harus diakui Kristobal sedikit terkejut gadis itu menyetujui begitu saja tanpa penolakan sedikitpun.

"And bathe Toto."

"Fine."

"And make the list of all items that came today."

"Got it."

Hening sejenak. Liga menanggapi semuanya sambil lalu, sama sekali tidak tampak usaha untuk menolak atau menawar. Memasak makan malam dan memandikan Toto memang bukan hal yang asing lagi. Bukan hobinya mengurusi anak perempuan yang masih saja enggan melakukan gencatan senjata dengannya itu, namun mengingat opsi lainnya adalah membiarkan Toto dimandikan Fenrir atau Kristobal, ia menyanggupi tanpa pikir panjang lagi. Ini semata karena alasan kepantasan, anak perempuan itu bukan balita lagi.

"I'm supposed to be pleased that you're so obedient," pria itu menghela napas panjang, menggulirkan bola matanya. "Forget the list, Yosef'll do."

"I can manage it after dinner." Apa lagi yang bisa dia lakukan sehabis makan malam, memangnya? Ia perlu sesuatu untuk mengalihkan pikirannya atau dia hanya akan menghabiskan waktu dengan lagi-lagi melamun, bertanya-tanya apa yang tengah dilakukan Andrew-nya, bertanya-tanya apakah pemuda itu makan dengan teratur atau tidak, beristirahat yang cukup atau tidak, hal-hal kecil semacam itu hingga ia kelelahan sendiri dan jatuh tertidur. Memangnya untuk apa lagi ia menghindar pulang? Tiga hari berlalu semenjak Andrew berpamitan pergi, semakin lama rumah terasa semakin dingin dan sepi, ia tak tahan lagi.

"Did you forget that you're pregnant?" pria itu menyipit memandangnya. "I don't want to make your boyfriend think that I overworked you while he's away. End of discussion."

Liga tergugu, pria itu keburu menghilang lagi dari ambang pintu sebelum ia bisa mengatakan apapun.

***
Malam dua puluh empat Desember.

Toto memandangi perut Liga yang mulai membesar dengan luar biasa penasaran, menanyainya segala macam ketika dimandikan tadi. Bocah itu berkali-kali mengulangi pertanyaan tentang apakah betulan ada bayi di dalam perutnya, tentang bagaimana caranya si bayi keluar nanti, dan macam-macam lagi. Ia kelabakan ketika bocah perempuan itu bertanya apakah Mama Kristobal bisa hamil atau tidak, susah payah berusaha menjelaskan kalau orang yang ia panggil Mama ini adalah seorang pria tanpa harus menyakitinya atau apa. Liga mengangkat topik Natal dengan tujuan mengalihkan topik pembicaraan, namun bocah itu menyetirnya balik lagi dengan berkata ingin meminta bayi pada Sinterklas untuk hadiah Natal. Lagi-lagi, gadis itu menjelaskan panjang lebar tentang proses kehamilan yang memakan waktu sembilan bulan dan sebagainya.

Kalau airnya tidak mendingin, entah kapan mereka keluar bak mandi. Bocah itu bisa sangat keras kepala sewaktu-waktu. Fenrir meneriakinya dari luar, menyuruhnya memingsankan Toto saja daripada susah payah membujuknya, yang langsung Liga balas dengan membaweli Fenrir panjang lebar tentang ia bukan ayah yang bertanggung jawab dan sebagainya, juga mengancam akan mengadukan Fenrir ke Komisi Perlindungan Anak bila lagi-lagi pria itu kedapatan memakai Stupefy untuk membuat Toto menurut. Pada akhirnya, bocah itu mau keluar kamar mandi setelah Liga bilang akan mengizinkannya memakai lotion miliknya.

Toto rupanya belum mau menyerah begitu saja pada topik Natal. Ia melompat turun dari tempat tidur ketika Liga tengah menyisiri rambutnya yang keriting panjang, kaki-kaki kecilnya berderap memburu ruang tengah tempat Fenrir, Kristobal dan Junior duduk-duduk setelah makan malam, berceloteh berisik tentang besok hari Natal dan ia ingin makan kalkun panggang dan sebagainya besok malam. Mrs. Lovett si pengurus rumah sudah keburu absen untuk liburan. Dua pria lajang, mana pernah mereka mereka masak kalkun panggang dan cake Natal dan sebangsanya itu? Di tengah-tengah keputusasaan, Kristobal secara sebelah pihak memutuskan untuk memotong libur Liga yang teknisnya dimulai besok, mengharuskan dia memasak untuk makan malam Natal sesuai keinginan Toto kecil.

Liga mengantisipasi Junior lagi-lagi ngambek, atau sedikitnya mendengus sebal karena mereka kembali mengabulkan keinginan Toto, tapi si pemuda tanggung hanya mengintip sedikit dari balik buku yang tengah ia tekuni, seolah tak ada apa-apa yang terjadi. Ia lalu mengasumsikan kalau bahkan Junior pun ingin menghindari kemungkinan dapur meledak atau mendadak diare karena Kristobal terpaksa memasak.

Dan tiba-tiba saja, telah diputuskan kalau ia akan tinggal di Spiny Serpent sepanjang Natal. Atau setidaknya sampai Andrew pulang. Ia mengingatkan diri untuk memberikan daftar belanjaan pada Yosef besok pagi, enggan kalau harus berdesakan berbelanja di hari Natal.

Malam dua puluh empat Desember. Kristobal memberi kamar kosong di lantai paling atas ini untuk ia tempati. Tadi ia pulang sebentar untuk mengambil barang-barangnya, termasuk beberapa piringan hitam—yang sebenarnya kesemuanya milik Andrew—meminjam pemutar piringan hitam pada Kristobal. Ini kebiasaannya yang lain bila Andrew tengah pergi, apalagi berhari-hari seperti sekarang.

Hujan salju.

Ia berbaring miring menghadap jendela, mengamati butir-butir halus salju yang tertiup, mendesis ketika menyentuh kaca, semakin lama bertumpuk di tiap sudutnya. Pelan ia mengelus-elus perutnya, sesuatu yang semakin sering ia lakukan tanpa sadar. Belum begitu besar, namun ia tak lagi berani tidur telentang.

Seharusnya besok ia libur. Seharusnya Andrew juga libur. Gadis itu sempat ngambek dan mencemberuti Andrew seharian ketika pemuda itu berkata mendadak Mundanus menyeretnya bekerja dan membatalkan jatah liburnya yang sangat langka itu, tapi lama-lama ia sadar, ini sama sekali di luar kehendak Andrew, dia hanya bisa menurut atau dipecat dari titel Murid. Dia ingat dia memukul bahu Andrew sebal dan mengultimatumnya untuk pulang dalam keadaan utuh hanya karena pemuda itu terus-terusan berkelakar Mundanus mungkin akan membuatnya melakukan sesuatu yang berbahaya, lalu memaksanya pergi dengan membawa bermacam-macam ramuan. Ia ingat, setelahnya, Andrew memeluknya sangat erat, berbisik lirih di telinganya kalau pemuda itu juga tidak ingin pergi jauh-jauh darinya, tidak ketika Liga tengah berbadan dua begini. Terus, dan terus, mereka berpelukan, sedikit terlalu lama, tak ada satupun yang ingin melepaskan pelukan lebih dulu.

"Let me go with you." Ia ingat ia berkata begitu tanpa pikir panjang.

"Heh," Andrew menjentik ujung hidungnya, tampak sama tersiksanya. "You need rest as much as you can get. If you're there, either Mundanus would kick you out at once or enslaved you, too."

"I'm not that weak," Liga mendengus, menghentakkan kakinya kesal. Kenapa mendadak saja semua orang memperlakukannya seolah ia serapuh patung kaca begini? Ya, ia memang tengah hamil, tapi muntah-muntahnya sudah hampir hilang, ia tidak lagi terlalu mudah kelelahan seperti sebelumnya, malah ia merasa amat sangat sehat, hanya mungkin sedikit limbung bila bergerak terlalu cepat, ia belum terbiasa dengan beban tambahan di perutnya.

"Of course, you're my girl," pemuda itu terkekeh. Jemarinya mengelus helai-helai rambut di pelipis Liga. Mengecup keningnya lamat-lamat.

"Don't overwork yourself, kay? It's for our baby, too."

"We'll miss you."

"I know. I'll miss you, too. Both of you."

Pemuda itu berlutut, sorot matanya melembut ketika mengelus perut Liga, mengecupnya perlahan. "Be a good boy, kay, buddy? Take care of your Mummy for Daddy."

Mau tak mau Liga terkekeh kecil. Andrew masih saja keras kepala kalau anak mereka itu laki-laki, selalu mengabaikan godaan Liga tentang firasatnya yang malah lebih tajam dari firasat Liga, atau Andrew yang mendadak jago meramal, atau Andrew yang mendadak jadi seorang ahli kandungan. Keyakinannya kalau anak mereka laki-laki sama sekali tidak surut, dan tampaknya semakin lama semakin besar.

"I better get going."

Satu ciuman terakhir, dan api berwarna zamrud menelannya. Pemuda itu pergi untuk seminggu.

Ia menghela napas panjang, mengeluarkan cermin bulat kecil dari balik gaun tidurnya, rantai tipisnya berkilau memantulkan cahaya lampu minyak. Hanya ada putih berkabut, tak tampak apapun. Andrew memang berkata ia tidak tahu apakah ia punya waktu untuk berbincang lewat cermin atau tidak. Tetap saja...

——
Like a flower waiting to bloom
like a light bulb in a dark room
I am sitting here waiting for you to come home and turn me on
——

Sial, lagunya malah membuatnya semakin merana.

"Hey, Andrew," ia berbisik, berharap seraut wajah pemuda itu muncul dengan cengiran khas-nya, menghujaninya ciuman jarak jauh, mungkin juga merengek-rengek tentang pemuda itu yang juga merindukan Liga.

Tapi nihil. Hanya ada kabut putih seperti sebelumnya.

Jemarinya mengelus permukaan cermin yang dingin, menggigit bibir getir. Malam dua puluh empat Desember. Hujan salju. Mungkin sebentar lagi dua puluh lima, ia tidak tahu sudah berapa lama ia berbaring begini, mendengarkan musik, mendengarkan angin di luar, mendengarkan napasnya sendiri, mendengarkan detak jantungnya sendiri.

"I miss you."

Kembali sebelah tangannya mengelus perutnya.

"He said he missed you, too."

Rasanya bernapas terasa semakin berat. Apa mendadak ada yang menyedot seluruh persediaan oksigen di ruangan kecil ini?

"Cepat pulang, dong."

Knockturn Alley di malam hari sama sunyinya dengan kuburan, ternyata.

—THE END—

0 comments: