Three Words, Eight Letters
It’s been said, and over
Suara pintu dibuka. Langkah-langkah pelan, gamang, teredam karpet Persia berbulu tebal. Hening sesaat. Lemparan jas ke atas salah satu sofa beludru. Hempasan tubuh di kursi berlengan beludru lain.
Jika pria itu tengah duduk nyaman di sofa ruang keluarga, menonton dengan santai drama percintaan di televisi dengan kualitas macam proyek murahan anak sekolah menengah, mungkin dia akan tertawa sampai puas, menikmati hanya karena kesampahannya layak untuk ditertawakan dan dihina-dina.
Sayangnya, hidup punya sudut pandang tersendiri dalam menerjemahkan arti kata lelucon. Terkadang seperti setuju dengan pemahaman manusia kebanyakan. Seringkali hidup memilih dengan tiba-tiba, tanpa peringatan, dan dengan tingkah kalau manusia hanya tusuk gigi di tangan seekor beruang ngamuk, untuk menempatkan arti kata lelucon dalam lingkup yang lebih sektoral. Lucu untuknya sendiri. Mengenaskan bagi manusia.
Persisnya, bagi satu manusia bertubuh tegap, dengan rambut pirang kecoklatan yang sudah diacak-acak frustasi, yang kini telah melempar jas Armani-nya dengan lagak dia bisa beli baru bak membeli loli, tak ada kebahagiaan tampak tersisa di raut wajahnya.
Semacam tawa lolos. Tak memesona seperti tawanya yang biasa. Tidak seduktif, apalagi. Tawa pahit. Getir. Sarkas. Hanya saja, tawa itu sarkas pada dirinya. Menertawai dirinya. Harga dirinya. Kepengecutannya. Eksistensinya. Nasibnya. Ketidakbersyukurannya.
Yah, yang terakhir itu terdengar seperti diucapkan para pandir dan pemuka agama yang taat, selalu mengatupkan tangan dan mulutnya tak berhenti mengucap puji-pujian. Satu hal yang jelas, Rigel du Noir bukanlah orang suci macam mereka. Dia hanya seorang pria berusia hampir dua puluh delapan. Mencecap banyak dosa di masa lalu, namun berusaha untuk tobat, dengan caranya sendiri.
Tapi dia tetaplah seorang manusia. Seorang Rigel. Yang baru saja mendapati, langsung dari pihak pertama, kalau Janette-nya, Jane-nya tengah hamil.
Dan telah bertunangan dengan orang lain.
Tangannya menggerapai meja kecil di samping sofa, mencari-cari remote control CD Player-nya, memutar komposisi Mozart yang mengalun dengan volume lembut. Sepi terlalu menekan telinga, menstimulasi otaknya untuk memproyeksikan bermacam-macam pemikiran absurd juga hiperbolik, sama sekali tak membantu. Lampu tak ia nyalakan. Kegelapan lebih menawarkan sangtuari.
Janette Blizzard.
Yang dia kenal sejak usia sebelas. Seseorang yang selalu ingin dia lindungi dengan kedua tangannya, yang ia jaga bagaikan patung kaca buatan pengrajin terbaik, yang bisa membuat harinya indah hanya dengan menatap kedua bola matanya yang dalam dan tenang, yang membuatnya merasa sebagai kesatria yang baru saja menaklukkan monster laut pengganggu kerajaan bila bibir seranum delima itu tersenyum penuh kebahagiaan.
Sesungguhnya Janette untuknya itu—apa? Mereka bukanlah lagi remaja-remaja ingusan jaman sekolah dulu, dimana rotasi suka-cinta-cemburu-ditolak berputar-putar macam rantai setan yang mengungkung dirinya, Janette dan beberapa pihak figuran lain, adalah hal biasa. Mereka telah tumbuh melewati fase itu. Dewasa. Seharusnya.
Yet, he still clung on the same thing, the same person, for all this time.
Ketukan teredam langkah seirama yang familier, lalu ceklikan tombol, bersamaan dengan lampu-lampu bertudung di setiap sudut ruangan yang menyala. Kursinya yang membelakangi pintu masuk membuat Rigel tak bisa melihat siapa yang datang, tapi langkah kaki itu sudah memberitahunya.
"Didn't realize you've been home," ujar sang suara, meletakkan baki berisi peralatan minum teh untuknya sendiri di meja kecil di sebelahnya, merunduk untuk mengecup bibirnya ringan, helaian lembut setara sutera hitam tebal tergerai jatuh, aroma mawar menggelitik hidungnya.
"Baru saja tiba," tak sepenuhnya tepat, memang. Sebelah alis sang istri terangkat kilat menyangsikan, namun tak berkomentar lebih jauh lagi. Mendentingkan bel memanggil pelayan, meminta tambahan cangkir dari dapur untuk Rigel, menuang teh untuknya sendiri dan suaminya, gaun tidur sutera berenda melayang seiring geraknya, Recha du Noir duduk di kursi berlengan yang sama, terpisah oleh meja kecil berisi teh dan kudapan darinya.
"How she’s doing?"
Dia tahu siapa yang dimaksud istrinya. Pun dia tahu, ini hanyalah basa-basi semata. Recha tak pernah bisa sepenuhnya berkonsiliasi terbuka dengan dia. Dengan Janette.
"She's fine, as always. She—" ucapannya tertahan sesaat. Selama ini, selalu ada selapis yang dinamakan harga diri dan keangkuhan antara dia dan istrinya. Pernikahan mereka semata hanya untuk keuntungan status dan bisnis bagi keduanya. Dia menjatuhkan pilihan pada seorang Recha McFadden, tidak lain dan tidak bukan karena mereka sama. Sejenis. Juga saling diuntungkan. Rigel diuntungkan dengan meluasnya relasi bisnis, Recha diuntungkan—karena dia memerlukan status sebagai istri seseorang. Hanya ada permainan diantara keduanya: permainan untuk tidak jatuh cinta terlebih dulu. Seperti apa dirinya, luar dalamnya, baik busuknya, seperti itu jugalah Recha. Wanita itu tahu, tanpa harus dirinya memverbalkan.
Mungkin, karena itu pulalah dirinya memilih Recha, untuk menjadi bagian dari keluarganya?
"She... will become Madame Eamnnon, soon,"
Katakanlah dirinya ini lelah. Di satu titik, bahkan seorang Fuhrer pun bisa mengambil tindakan tolol bagai remaja baru mengenal kata puber karena batin yang lelah. Mungkin ini yang terjadi pada dirinya sekarang. Biarlah, untuk sekali ini saja, dirinya menyibakkan selubung antara dirinya dan Recha. Biarlah kali ini dia meletakkan senjata, menyatakan finalisasi antara permainan ego mereka berdua.
Istrinya tak mengucap apa-apa. Meletakkan cangkir earl grey-nya, Recha mendekati mini bar di sisi lain dinding, berkutat beberapa saat, kembali ke depan Rigel dengan cangkir teh bercampur brandy.
"Minumlah. Kau tampak kacau,"
Rigel menurut. Tegukan pertamanya memang ampuh, sedikit membuatnya tenang. Duduk di lengan kursinya, Recha menunggu hingga suaminya selesai, kembali meletakkan cangkir di atas meja. Dia masih tetap duduk di sana.
"What am I doing, Cher?" Rigel berbisik serak, napasnya tampak berat, kepalanya bersandar pada punggung kursi, zamrudnya yang kini tampak bingung dan resah, kehilangan binar yang selalu tampak di sana, menatap lekat bola mata istrinya. "What am I doing, all this while?"
Jemari halus Recha menelisik anak rambut suaminya, lalu merangkulnya lembut, meletakkan kepala Rigel di dadanya, dagunya bertelekan pada puncak kepala suaminya.
Sang du Noir itu, du Noir yang berkelas dan aristokrat itu, gemetar. Gamang. Bingung. Tersesat.
"Pull yourself together," hanya itu yang Recha ucapkan, masih tetap merangkul suaminya. Tak ada kata balasan. Namun tak ada perlawanan. Rigel seolah tersuruk dalam pelukannya, menyerah sepenuhnya.
"Please. Just stay like this—a little longer..."
Senyum lembut tertarik di bibir ranum itu, masih mengelus dan menepuk-nepuk Rigel lembut. Detik, menit, bergulir. Kelopak mata keduanya terpejam. Pelukannya belum terusik, keduanya sama-sama menikmati hening yang menyelimuti, larut dalam geming, menata kembali napas yang teracak gamang, merepih kembali keping-keping kesadaran.
"Daddy?"
Putri kecil mereka memecah hening, terdengar ragu, seperti takut. Keduanya menoleh, mendapati anak-anak mereka berdiri di ambang pintu, Yvonette kecil memeluk erat pinggang Eugene, seolah tak ingin melepasnya lagi selamanya.
"Anette mimpi buruk," bocah sembilan tahun itu menambahkan, lengannya merangkul lembut adiknya, menenangkan. Tampak ada bekas air mata menggenang di kedua pipi tembam Yvonette.
Istrinya menepuk lengannya perlahan, bangkit berdiri menyambut putri kecil mereka, meski tampak jelas ada kelip kecewa membayang di bola mata si gadis kecil yang masih berkilau basah. Selalunya, Rigel yang menemaninya tidur, terkadang mendongenginya, mendendangkan senandung pengantar tidur. Menepuk pelan puncak kepala sang putri kecil, Recha menggamit genggaman mungilnya yang masih bergelayut di pelukan sang kakak.
"Sini, Mummy temani kau tidur lagi,"
"Daddy mana?" tanyanya pelan. Tersenyum penuh arti, Recha mengerling Rigel yang masih duduk, nampak kembali meneguk sisa tehnya.
"Daddy'll come along," berkata singkat penuh pengertian, membawa putrinya kembali ke kamarnya di atas. Rigel masih berkutat, menuang lebih banyak brandy dan teh.
"Daddy?"
Dia merunduk. Entah sejak kapan Eugene berdiri di sampingnya, menatapnya penuh tanya dan khawatir, namun sekaligus tampak cukup dewasa untuk tidak mendesaknya. Sang du Noir tersenyum, menepuk puncak kepala putranya pelan.
"I'm fine, Gene. Come, adikmu minta ditemani," lengan kokohnya menggamit Eugene, menyusul istri dan putrinya.
Istrinya benar. Ada kenyataan yang menunggu Rigel untuk kembali. Dia tak boleh membiarkan dirinya tenggelam terseret arus. Ada mereka yang menunggunya, menatapnya penuh harap untuk menjadi pelindung mereka, sosok panutan mereka. Ada kedua anak dan istrinya yang membutuhkan perhatiannya, membutuhkan seseorang yang terbaik yang bisa mereka dapatkan untuk menjadi ayah dan suami.
Bersamaan dengan langkahnya, satu cerita dia tutup, disimpannya baik-baik di sudut hatinya. Janette memerlukannya, sebagai sahabat. Dia akan selalu ada, kini memberinya senyum penyemangat. Gurat putus asa itu tak seharusnya tampak lagi.
—THE END—
0 comments:
Post a Comment