Friday, October 14, 2011

Re: [...] | Another Episode

Kesunyian ini tak akan bertahan lama. Lihat saja—

"GRAAAAAAAHHHH!!!"

tuh, kan.

Sebenarnya, teriakan frustasi barusan bukanlah hal aneh ataupun ganjil. Berminggu-minggu ini seruan geram, raungan murka atau teriakan gusar seperti sudah jadi bagian dari keseharian yang selalu terdengar di rumah kecil milik sepasang manusia bernama Liga dan Andrew. Tidak, mereka tidak tengah bertengkar, atau marahan, atau ngambek, pundung, you named it. Hubungan keduanya baik-baik saja, malahan amat sangat baik, seperti layaknya pasangan-pasangan newlywed yang masih dimabuk euforia bulan madu. Tidur saling menempel berpelukan, membangunkan dengan kecupan sayang, menjalani hari penuh kata-kata bujukan hangat, sindiran-sindiran seduktif, cekikikan nakal yang tercetus random. Hari-hari yang sempurna.

Harusnya.

Suka tidak suka, ledakan-ledakan frustasi selalu muncul secara berkala, mengeruhkan suasana hangat yang seharusnya murni semanis madu, secerah lautan tulip, sesegar udara pagi di tengah hutan pinus. Ha. Morcerf brengsek, Mundanus lebih brengsek. Dengan sebegitu banyaknya sumpah serapah yang keluar dari mulut mereka, Liga tak habis pikir kenapa Morcerf dan Mundanus masih hidup sampai detik ini.

(Kini suara cabikan perkamen yang dirobek-robek gusar)

"Hey, Andrew," ringan, seolah kegusaran yang tercetus sama tak berartinya dengan derak kayu terbakar di perapian. Semakin lama, suara-suara sarat frustasi jadi sama biasanya dengan ciuman selamat pagi. Mengabaikan rokok entah keberapa yang baru saja dinyalakan lagi oleh pemudanya, Liga menyodorkan sekeping cookies hangat ke depan wajahnya. "Coba dong. Resep baru. Pakai potongan kelapa dan pistachio."

Ngomong-ngomong....

Ini pukul berapa ya?

Keduanya mengerejap ketika jam berdentang, satu, dua, tiga, empat kali, seperti baru terbangun dari trans, baru menyadari jam biologis mereka kacau habis-habisan beberapa minggu ini. Tangan Andrew terulur, mencomot cookies yang ditawarkan gadisnya, mengunyahnya perlahan. Kemudian ia baru sadar sejak tadi wangi kue dipanggang tak henti-hentinya tercium.

"Kamu ngapain—"

Kata-katanya terhenti begitu berbalik, bengong mendapati keadaan dapur kecil yang entah sejak kapan ia punggungi. Satu meja kecil ekstra telah dijejalkan di sana menutupi lorong sempit menuju teras tempat mencuci di luar, di atasnya penuh sesak dengan berloyang-loyang pie berbagai isi, cake yang telah komplit dihias krim, yang baru setengah tertutupi, yang masih polos, yang tak perlu dihias, muffin dan cupcakes, beberapa loyang cookies berbagai bentuk dan rasa, dan gadisnya tengah mengangkat seloyang puding, beranjak membuka pintu kulkas. Andrew menjulurkan lehernya, sekilas menangkap rak-rak kulkas juga penuh sesak dengan berbagai macam dessert.

Tenggorokannya berdeguk gugup.

"Are you planning to open a cake shop or are we having a party that I don't know of?"

Tawa canggung meloloskan diri dari mulut Liga, sesaat irisnya tampak berkabut bingung. Kakinya bergerak-gerak canggung di tempat, jemarinya memainkan ujung celemek berenda yang tengah ia kenakan.

"Party? Mungkin...ya..." jawaban gadis itu terdengar amat sangat tidak meyakinkan, bingung dan kalut belum menghilang dari matanya. "Wanna have some party?" Kembali, kekeh canggung terdengar.

Spontan pemuda itu menoleh pada area di depan perapian yang masih berkeretak menjilat-jilat seru, area kerja gadisnya. Satu set meja-kursi lain dipasang di sana, penuh buku-buku yang terbuka berantakan, perkamen-perkamen penuh tulisan bertumpukan, perkamen panjang yang baru setengah ditulisi belum digulung, tampak coretan-coretan besar di atasnya, bahkan botol tintanya tidak ditutup. Cabikan-cabikan perkamen robek bertebaran di kaki meja. Dia menghela napas, matanya membulat mengerti. Rokoknya yang masih panjang dimatikan. Setelah tampaknya seperti seabad menempel di kursi, pemuda itu berdiri. Menggamit lengan gadisnya.

"Masih penangkal racun?"

Liga menggeleng.

"Ramuan pelangsing," ujarnya, masih menerawang pada lantai, entah sadar entah tidak tengah juga mengunyah sepotong cookies. "Perbandingan berat badan, jumlah massa, usia, dengan dosisnya bikin gila, Morcerf menyuruhku meneliti sendiri. Terus... terus pada dasarnya ramuan buat tiap orang pasti ada yang berbeda—"

Kata-katanya terhenti begitu saja, terputus oleh ciuman lembut yang diberikan pemudanya. Hangat, penuh sayang, melemaskan otot-otot yang tegang, mengendurkan urat-urat yang terentang kritis. Perlahan, kelopak mata gadis itu menutup, menikmati setiap detiknya. Kekalutan di matanya meredup, bahunya melemas, tidak lagi ia pedulikan rasa pahit tembakau yang tercecap, meski biasanya dia selalu bawel tentang pemudanya yang tidak enak untuk dicium setelah merokok. Dia bisa merasakan jemari Andrew menarik celemeknya hingga lepas, melemparkannya ke punggung kursi.

"Mandi, yuk?"

Liga mengangguk dalam bisu, masih belum melepaskan jemari mereka yang saling berkaitan. Mematikan oven dan kompor, kaki-kakinya yang telanjang perlahan menapaki lantai kayu, mengikuti Andrew yang membimbingnya ke kamar mandi. Pemuda itu memindahkan pemutar musik portabel mereka ke dalam, memainkan lagu bernada lembut, sementara ia mengisi bak mandi dengan air hangat, menyalakan lilin aromaterapi, dan seketika kamar mandi kecil itu dipenuhi aroma rose blossom bercampur lavender yang ia hirup dalam-dalam, perlahan mengendurkan ketegangan. Dia membiarkan Andrew melepaskan seluruh pakaiannya, membiarkan dirinya dituntun masuk ke bak mandi.

Pukul empat pagi. Lampu di ruang tengah sama sekali belum dimatikan semenjak matahari terbenam sore tadi. Rasanya seperti sudah berabad-abad semenjak mereka bangun, lalu makan, setelahnya memaksa tangan dan otak bekerja tanpa henti. Berendam sebentar, ditemani musik yang mengalun pelan, ditemani wangi aromaterapi yang menguar menenangkan, bergantian memijat otot-otot yang kaku, menggosok kulit yang lengket dengan penat, lalu hanya menyelonjor santai, saling bersandar, merasakan kulit mereka saling bersentuhan, bertukar bisu. Sesuatu yang semakin lama terasa seperti sebuah kemewahan diantara hari-hari memuakkan.

"Kue-kuenya kukirim buat Orange saja, deh."

Andrew menimpali dalam gumaman sabar, tahu gadisnya sama sekali tidak memaksudkannya sebagai sebuah pertanyaan yang menuntut jawaban pasti. Namun, ia juga mengerti gadisnya membutuhkan respon, puas meski hanya dengan lenguhan pelan.

"Terus buat Nigel juga. Terus... Auel, Argie, Romeo juga. Oh, Toto juga."

"Si anak mastermu itu?"

"He em, dia selalu suka camilan buatanku, lho."

"Kamu bikin kue buat satu desa apa."

Liga tergelak. Menertawakan dirinya sendiri.

"Terus... Mau kirim buat Oleg dan pacarnya juga?"

"Mmm-hmm." Andrew kembali bergumam, mengeratkan pelukannya. Liga tak lagi melanjutkan kata-katanya, ikut tenggelam dalam diam, bersender nyaman di dada pemudanya. Perlahan-lahan, kelopak matanya tertutup. Menikmati kedamaian, yang ia tahu hanya bisa terkecap sementara.

Pukul empat pagi. Keduanya sampai lupa kapan terakhir kali mereka tidur. Meluangkan setengah hingga satu jam, mungkin hingga lilin pendek itu habis, sekeping kedamaian yang hanya bisa mereka dapatkan dengan mendorong hal-hal lain ke tepi.

"Nanti liburan, yuk?"

"Hmm? Kamu mau ke mana?"

"Nggak tahu... Pantai mungkin?"

"Grah. Panas."

"Buuu," kembali gelak kecil terdengar. "Kamu mau ke mana?"

"Hmmm.... Mau lihat Islandia?"

"Hnnnn..."

"Terus ke kastilku lagi."

"Hayo ngapain?"

"Renovasi?"

"Renovasi atau 'renovasi'?"

Cekikikan kecil lagi, ditingkahi kekehan bandel.

"Aku mau ke Venezia juga, dong."

"Iya..."

"Terus Monaco..."

"Mmmhmmm...."

"Terus... Kamu masih hutang bawa aku ke Jepang."

"He em..."

Pemutar musiknya sudah kembali memutar ke bagian awal sejak tadi. Api lilin mengerejap, bergoyang, masih berjuang untuk menyala hingga saat-saat terakhir. Lalu mengecil, mengecil, mengecil....

Lalu padam.

0 comments: