Kira-kira, kamu sedang berada di mana ya, sekarang, Reg?
“Lipat tangkai yang ini ke dalam, tarik pelan-pelan, nah, iya begitu.”
Wanita itu kini duduk di atas sebuah batu datar, angin yang berhembus perlahan bermain-main dengan anak-anak rambutnya yang masih selegam arang, jemarinya menganyam batang-batang bunga liar mungil perlahan-lahan di bawah tatapan intens kedua putri kembarnya yang duduk bersimpuh di atas rerumputan, kening mereka yang berkerut seragam membuat urusan menganyam bunga ini jadi tampak sepenting hidup dan mati. Dia tersenyum kecil, membongkar anyamannya dan mengulangi langkahnya lagi, begitu terus hingga kedua putrinya berhasil mengikuti. Beberapa meter dari mereka, sang ayah tengah bercengkerama di gubuk kecil tak berdinding itu dengan seorang pria tua pemikul kayu bakar yang tengah beristirahat dari perjalanannya.
“Errrgh…” tampak sedikit lebih frustasi dari kembarannya, Selina lagi-lagi mematahkan batang bunga yang tengah ia anyam, menggeram kesal di bawah tatapan simpatik Serene.
“Coba, pelan-pelan saja rangkainya, hm?” dia menyodorkan sebatang bunga baru, membimbing putrinya sabar. “Ayo, masih ingat yang Papa ajarkan bagaimana kalau merasa marah?”
Bocah kecil itu menarik napas panjang, kilau di matanya tampak berkabut oleh kesal dan marah. Tak urung, bibirnya terbuka, berkata perlahan mengingat-ingat ajaran ayah mereka.
“Kalau lagi kepingin marah,”
“Tutup mata,” seperti sudah di-set otomatis, Serene melanjutkan kata-kata kembarannya, tangan mungilnya menggenggam Selina erat, seolah berusaha memberikan sebagian ketenangannya.
“Tarik napas yang dalaaamm…”
“Terus hitung sampai sepuluh.”
“Satu…” dia mulai berhitung diikuti komat-kamit tanpa suara kedua putrinya yang mengekor, menarik napas dalam-dalam di setiap hitungannya. “Dua… Tiga…”
Bukit ini masih belum berubah. Jalan setapaknya, rel keretanya, bunga-bunga liarnya, gerumbulan semaknya… Mengejutkan betapa tahunan telah berlalu semenjak hari itu, ketika kita berdua mengejar matahari terbit ke sini.
“…Sepuluh.”
Hembusan napas panjang yang terakhir terhela. Kelopak mata Selina kecil masih menutup, khusyuk, dengan raut wajah yang lebih tenang, dadanya naik turun dalam ritme normal yang teratur, diperhatikan lekat oleh Serene, bibir mungilnya menyungging kecil dalam satu senyuman lega, meremas tangan kembarannya penuh sayang.
“Sudah tenang?” sang ibunda menepuk perlahan puncak kepala putrinya, sepasang mata yang identik dengan mata kedua putri kembarnya menunduk dalam tatapan meneliti. Selina mengangguk kecil.
“Papa!”
Sang ibunda dan si kecil Selina ikut menoleh pada seruan memanggil Serene, mendapati sang ayah tengah berjalan mendekat, melambai pada mereka, pria tua dengan pikulan kayu bakarnya kembali meneruskan perjalanan. Kedua bocah kecil itu sontak berdiri, berlari-lari dengan kaki-kaki mungil mereka menyongsong sang ayah, mulut mereka heboh berceloteh dengan tawa sesekali berderai. Ia masih duduk di sana, menunggu dengan sabar suami dan anak-anaknya menghampiri.
“Sebentar lagi ada kereta lewat.”
Ucapan berikutnya tenggelam oleh seruan ekstatik Selina dan Serene. Melihat kereta lewat dari jarak amat dekat adalah hal lain yang dinanti-nantikan dari piknik ke puncak bukit ini, seperti halnya anak-anak kecil lain, bersemangat melihat sesuatu yang jarang didapati di kehidupan sehari-hari. Saling bergandengan tangan, kedua bocah kecil itu berlari-lari ke tepi rel kereta, mengangguk-angguk bersemangat pada teriakan ayah mereka untuk tidak berdiri terlalu dekat.
“Semangatnya mereka benar-benar kopian dari kamu,” mengulurkan tangan membantu istrinya berdiri, pria itu terkekeh pendek, menggeleng-gelengkan kepala mengamati kedua putri kembarnya mengayun-ayunkan tangan dengan riang di tepi rel kereta, ditimpali dengusan geli istrinya.
Keduanya tak menyadari, sementara mereka saling berangkulan dan melamat-lamatkan langkah, kedua bocah kecil itu sibuk berbisik-bisik dengan ekspresi serius, sesekali mencuri pandang pada orangtua mereka, bertukar pandang penuh arti.
Kurasa matahari terbitnya juga tak berubah, sayang sekali semalam hujan deras, aku tidak berani membawa anak-anakku keluar pagi buta dengan jalan setapak masih licin dan berlumpur.
“Datang! Datang!” menunjuk dengan heboh pada satu titik kecil yang semakin lama semakin membesar dan mendekat diiringi suara gemuruh yang khas, Selina melonjak-lonjak penuh semangat, matanya yang bulat hitam berbinar-binar, bergantian memandang orangtuanya beberapa langkah di belakang dan kereta yang semakin mendekat dengan penuh antusias, genggaman tangannya pada Selene yang terus-menerus menjulurkan lehernya dan tampak tegang belum ia lepaskan. Sang ayah tertawa pelan, mendekati kedua putrinya.
“Papa nanti aku mau teriak, ya!”
Berteriak sekeras-kerasnya ketika kereta berlalu cepat hingga suara mereka tertelan oleh deru mesin kereta api, tanpa memedulikan apa yang mungkin dipikirkan para penumpang jika mereka melihat beberapa orang random berteriak-teriak seperti hilang akal di tepi rel kereta adalah satu dari sekian kebiasaan masa kecil sang ibunda yang selalu ia lakukan setiap kali mendatangi bukit kecil ini ketika bermain dan mendapati kereta tengah melintas. Bagi si kembar, ini sesuatu yang menyenangkan untuk dilakukan.
“Aku juga! Aku juga! Teriakanku pasti yang paling kenceng nanti!”
“Ah, masa?” pria itu mengedip, terkekeh jahil. “Pasti teriakan Papa yang paling kenceng, dong. Kan Papa paling gede.”
“Iiih!” wajah Selina kecil mengerut kesal, tampak tertantang. “Aku lebih kenceng pokoknya! Lihat aja nanti!”
“Oke, kita tanding, ya,” alis pria itu terangkat puas, terkekeh menimpali tantangan putrinya. “Sebentar lagi… Satu… Dua… Tiga!”
“AAAAAAAAAAAAAAAAAAA—“
Masih menggenggam tangan saudara kembarnya, Serene berhenti berteriak, mengambil satu langkah mundur, ragu-ragu ketika berbalik, namun tatapan kedua bola matanya yang besar dan jernih tampak mantap saat bersirobok dengan sang ibunda. Bibir mungilnya yang sewarna koral terkembang dalam senyuman paling damai yang pernah wanita itu lihat dari putri kecilnya, lalu terbuka, perlahan membisikkan sesuatu.
Kamu masih ingat kan, pada hari itu? Waktu itu kubilang, aku suka desa nenekku karena matahari terbit di sini lebih besar, lebih cantik, lebih ceria. Lalu kamu bilang—
“Vous êtes les plus brilliants de tous, mon petit soleil.”
Dia tertegun, tampak terlalu terkejut untuk memberi reaksi apapun, hanya terpaku menatap kosong pada Serene kecil yang kembali membalikkan badan dan kembali berteriak bersama kembaran dan ayahnya, bersikap seolah sepotong kalimat barusan tak pernah ada, tak pernah keluar dari bibirnya.
Seolah semua hanya bagian dari lamunan siang hari wanita itu.
***
“Belum tidur juga, Mel?”
Suara anjing melolong panjang terdengar samar di kejauhan. Sesekali derit roda karet di aspal kasar berdecit, kentongan rendah tukang nasi goreng bertalu, satu dua motor dan mobil menderu lalu lalang. Suara-suara malam, tertangkap oleh telingaku yang selalu mendadak jadi jauh lebih tajam saat lampu telah kumatikan dan aku mencoba berbaring.
“Mmm,” aku hanya bergumam diam, masih berbaring miring menghadap tembok, mengorek-ngoreknya random, hanya sekedar untuk merasakan tekstur cat yang tidak rata di bawah kulitku. Tungkai-tungkaiku pasti tengah saling menekuk seperti janin, selimutku sudah sejak tadi tertendang entah ke mana, mungkin teronggok di lantai dekat kaki ranjang. “Panas,” akhirnya aku menambahkan.
Aku bisa merasakan sesuatu tengah bergerak perlahan di kegelapan, bergerak mendekat ke kaki tempat tidurku, diam sesaat di sana, kemudian duduk tak jauh dari kedua kakiku yang bergelung memeluk guling. Lalu diam. Suara-suara malam masih terdengar di latar belakang.
“Hei, Reg?”
“Hmm?”
Aku terdiam sesaat, tak melanjutkan kata-kataku. Berbalik pada akhirnya, kerdip lampu tidur yang berpijar di sebelah tempat tidur yang pertama tertangkap oleh mataku. Aku menggeser posisiku sedikit, melengkungkan punggungku hingga aku bisa melihatnya duduk bersila di kaki tempat tidur.
Dalam cahaya temaram seperti ini, aku masih bisa melihat kerlip itu di matanya.
“Nyanyikan sesuatu untukku?”
Bahkan Reginald tak tampak seterkejut itu saat dulu aku menyeletuk tampaknya asyik bila membuatnya menggoda bocah yang tujuh tahun lebih muda. Seharusnya aku mengikik puas melihat tampang membelalaknya itu, dan mungkin mengungkitnya lagi nanti kapanpun aku punya kesempatan. Tapi aku hanya berbaring tak bergerak, menatap matanya.
“Please?”
Mungkin dia menangkap kalau aku tengah bersungguh-sungguh dan bukan sedang berkelakar, ekspresi wajahnya kemudian melembut.
“Kenapa tiba-tiba?”
“Entahlah,” aku mengalihkan pandang, jemariku bermain-main tanpa fokus dengan ujung renda di sarung bantalku. “Hanya… sedang ingin?”
Dia bergerak dalam duduknya, sedikit mendekat. Ada desahan samar yang terlolos, tampak jelas roda-roda otaknya tengah berputar.
“Mau kunyanyikan apa?”
“Aku tak tahu,” refleks saja bahuku mengedik samar. “Bukankah dulu ibumu sering menyanyikanmu lagu pengantar tidur ketika kau kecil?”
Dia kembali terpekur beberapa saat.
“Hmm… yaah,” akhirnya dia angkat suara, “Mère dulu memang sering menyanyi untukku ketika kecil.”
“Nyanyikan aku salah satunya saja.”
“Suaraku tidak indah, lho.”
“Tidak apa, menyanyi saja.”
Dia terkekeh canggung sesaat, menarik napasnya dalam. Aku masih bergelung dalam posisiku, menatapnya lekat.
***
“Oke, jadi mau dibacakan apa?”
Ia duduk di tepi tempat tidur, di mana kedua bocah kecil itu telah bergelung nyaman di bawah selimut mereka, kelelahan setelah bermain seharian di piknik sebelumnya tampaknya berkontribusi membuat mereka mengantuk dengan cepat dan sepertinya akan jatuh tertidur kapan saja. Tangan mungil Selina mengucek-ngucek matanya, menguap amat sangat lebar, Serene bergelung tak bergerak, kelopak matanya hampir menutup. Dia tersenyum lembut.
“Hmmm… sudah ngantuk berat, ya? Kalau gitu… libur dibacakan cerita buat malam ini?”
Sesuatu tampak tengah bergulat di benak Selina kecil. Terdiam tanpa menanggapi kata-kata ibunya dalam bentuk apapun, keraguan tampak berbayang di bola matanya, jari-jemari mungilnya bermain-main dengan ujung selimut. Ia menyadari, kalau kini mata Serene pun terbuka sepenuhnya, menatap kembarannya seperti tengah menunggu sesuatu.
“Mm? Ada apa, Sayang?” Firasatnya mengatakan, mereka tak akan membuka mulut sebelum ia mendesak. Menit demi menit berlalu, kantuk tampaknya sama sekali hilang, diganti keragu-raguan untuk menyampaikan apapun yang ingin mereka sampaikan.
“Mama…”
“Ya?”
Terdiam lagi. Di balik matanya, Serene seperti tengah menimbang-nimbang sesuatu yang lain, melihat kembarannya tak juga mengatakan apa yang sepertinya telah mereka rencanakan untuk sampaikan pada sang ibunda. Ia meremas tangan mungil Selina, bibirnya bergerak perlahan namun mantap. “Nyanyikan kami, dong, Ma.”
Sesuatu menggelitik benaknya. Memang, semenjak kedua putrinya ini masihlah bayi kecil, bahkan semenjak mereka masih dalam kandungannya, dia sering bersenandung untuk mereka. Semakin tahun, ketika keduanya telah mengerti kata dan cerita, dia membacakan putri-putri kecilnya buku-buku cerita bergambar hingga mereka tertidur, terkadang juga bersenandung ketika ia selesai membacakan dan keduanya belum tertidur juga. Sikap keduanya sekarang, saat memintanya menyanyikan mereka lagu pengantar tidur, adalah sesuatu yang biasanya mereka tampakkan kalau mereka menginginkan sesuatu yang besar—atau mereka pikir besar.
Ada sesuatu yang lain di balik permintaan ini, dan ia tak tahu apa. Semakin ia berpikir, semakin ia sadar kalau ini bukan pertama kali kedua putrinya bersikap seolah mereka memiliki dunia yang lain, yang hanya berisi mereka berdua, yang hanya diketahui oleh mereka berdua. Dan ia bertanya-tanya, apakah ini yang mereka sebut sebagai ikatan khusus yang dimiliki dua anak kembar? Atau, mereka berdua hanya telah tumbuh besar dan semakin dewasa tanpa ia sadari?
Apa kamu juga merasa seperti ini ketika melihat anak-anakmu tumbuh besar, Reg? Rasanya seperti baru kemarin aku menggendong keduanya dalam gulungan selimut… Lalu tiba-tiba saja lima tahun telah berlalu.
Ia membelai sayang helai legam Serene kecilnya yang masih tampak tengah berpikir. “Mau dinyanyikan apa?”
“Yang itu lho Maa…”
“Yang ituu…”
Keningnya berkerut atas jawaban saling bersahutan kedua putrinya, sama sekali tidak mengerti lagu mana yang mereka maksud. Tampaknya, keduanya pun tak tahu harus menyebut lagu yang mereka maksud bagaimana, akhirnya menghela napas.
“Yang begini, nih,” Selina mencetus, lalu mulai membuka bibirnya, menyenandungkan rangkaian nada-nada. Awalnya ia berkerut bingung, tak langsung mengenalinya dalam detik-detik pertama. Lalu, semendadak hilangnya kantuk dari mata kedua putrinya, ia terkesiap, kelopak matanya membelalak lebar. Untuk beberapa saat, ia hanya bisa terpaku, menatap kosong kedua putrinya secara bergantian. Belum hilang rasa terkejutnya, Serene ikut bersenandung. Lalu bernyanyi.
“L'était une petite poule grise, qu'allait pondre dans l'église… Pondait un p'tit' coco, que l'enfant mangeait tout chaud…”
***
“Itu lagu tentang ayam betina yang bertelur dan anak kecil memakan telurnya, kan?” aku mendengus geli, masih meringkuk tak bergerak. Pria Perancis itu mendadak berhenti bersenandung, tampak sedikit sebal.
“Aku cuma ingat itu,” dia berkata ketus. “Mau dinyanyikan, tidak? Kalau tidak mau ya sudah.”
“Eeh… Lanjut lanjut!” aku cepat-cepat berkata, menyembunyikan tawa geliku. “Aku bukan menertawaimu, kok. Betulan! Lanjut, please?”
Dia mengeluarkan dengusan khas-nya, menggulirkan matanya sebal. Tak urung, beberapa saat kemudian Reginald lanjut bersenandung. Kurasa dia pun menikmati saat-saat menyenandungkan lagu pengantar tidur untukku, seperti aku yang mendengarnya sambil bergelung nyaman, kelopak mataku perlahan-lahan tertutup.
Aku tidak mendengar baris terakhir nyanyiannya.
***
“Nah, yang itu, Ma,” Selina mengangguk-angguk bersemangat begitu kembarannya selesai menyanyikan satu bait, menunggu dengan penuh harap. Di bawah selimut, kedua bocah kecil itu masih saling bergandengan tangan erat, seperti tengah menunggu sesuatu yang lain dari ibu mereka.
Ibu mereka yang masih terpana.
Hei, Reg.
Konyolkah bila aku merasa, kamu tidak benar-benar sepenuhnya pergi dari kehidupanku? Bahwa, meski aku tak bisa melihatmu lagi, atau berbincang denganmu lagi, kamu masih di sini, bersamaku, bersama kami?
Lagu itu… tentu saja, bagaimana mungkin ia lupa? Bagaimana dulu, seseorang yang sangat berarti untuknya pernah menyanyikan lagu itu untuknya sebelum ia tidur. Bagaimana ketika kedua putrinya masih dalam kandungan, orang yang sama juga bersenandung untuk mereka, begitu seringnya hingga ia sendiri bisa menyanyikan dengan aksen sempurna yang lancar, meski selalu ia timpali dengan guyonan tentang lama-lama itu akan membuat bayinya jadi lebih Perancis, yang tentu saja sama sekali tidak digubris.
Lagu yang tak pernah ia dendangkan lagi untuk kedua putrinya semenjak orang itu pergi.
Lalu tiba-tiba ia teringat potongan kejadian siang tadi. Pada sepotong kalimat yang diucapkan Serene kecilnya. Kata-kata yang, seumur hidupnya, hanya pernah diucapkan orang itu semata. Sesuatu yang tak pernah ia bagi pada siapapun, bahkan suaminya sendiri. Lagipula selain lagu itu, kemampuan bahasa Perancisnya setara kemampuan seekor ikan memanjat pohon plus aksennya yang masih mengerikan, sehingga ia hampir tak pernah mencetuskan kata-kata berbahasa Perancis selama bertahun-tahun.
Konyolkah, bila aku berpikir, bahwa selama ini kamu selalu dan selalu bersama mereka, menjaga mereka?
“Mama?”
“Mama kenapa?”
Kelopak matanya mengerejap, baru menyadari wajah-wajah kecil itu tengah berkerut cemas, dua pasang mata bulat yang sinarnya terbayang oleh khawatir, memandangnya lekat. Dia menghembuskan napas panjang, menggeleng samar.
“Tak apa-apa,” ujarnya pelan, sudut bibirnya tersungging, menepuk-nepuk tangan kedua putrinya yang tengah saling menggenggam erat. Roda-roda benaknya masih sibuk berputar dan berputar, berbagai mungkinkah dan kenapa saling berloncatan, masing-masing lebih membingungkan dari yang lain. Namun, sesuatu di belakang kepalanya seperti membantu untuk memutuskan bahwa meluluskan permintaan kedua putrinya adalah jalan terbaik.
“L'était une p'tit' poul' noir, qu'allait pondre dans l'armoire,” ia mulai bernyanyi, terkejut dengan dirinya sendiri karena masih bisa menyanyikannya dengan sempurna meski tahunan telah berlalu.
Ia melanjutkan senandungnya, kini matanya tak lagi tampak gamang oleh bingung, atau mendamba rindu. Menepuk-nepuk Selina dan Serene, suaranya yang lirih mengalun memenuhi ruang kecil kamar di rumah tua neneknya ini. Perlahan, kelopak mata kedua putrinya memberat, ritme napas mereka melambat. Lalu menutup.
“Pondait un p'tit' … coco… que l'enfant mangeait… tout… chaud…” nyanyiannya melambat, lalu berhenti. Dua bocah kecil identiknya yang tersayang telah lelap, bergelung tak bergerak. Ia tersenyum, berdiri, mengganti lampu dengan lampu tidur sebelum keluar dan menutup pintu. Berdiri di baliknya beberapa saat, bersandar, kelopak matanya tertutup.
***
“Jadi?”
Bibir mungilnya berbisik hampir tanpa suara, mencolek kembarannya di samping, kelopak matanya membuka setengah, mengintip cemas pintu kamar yang baru saja menutup.
“Gimana, berhasil nggak?” kembali ia berbisik, lebih mendesak dari sebelumnya, mengguncang-guncang tubuh kembarannya, mungkin mengira kembarannya betul-betul telah tertidur. Tapi tidak. Bocah kecil cerminan dirinya berbalik menatapnya, mengangkat telunjuk mungilnya ke bibir, mengisyaratkan kembarannya untuk bersabar. Perlahan, dia bangun menyibakkan selimutnya, menatap ke sudut kamar di seberang pintu, pada seseorang yang tengah berdiri bersandar dengan kedua tangan terlipat di depan dada, yang beberapa saat lalu tak ada di sana.
“Berhasil?” bisiknya perlahan pada orang itu, ragu-ragu. Orang itu tak segera menjawab, kedua irisnya yang sewarna zamrud, tampak cemerlang meski dalam cahaya temaram lampu tidur, terpaku pada pintu dalam tatapan penuh rindu. Atau, pada sesuatu yang berada di baliknya.
***
Ada sesuatu yang menggelenyar hangat dalam dadanya. Menunduk, ia tersenyum pada dirinya sendiri, menyadari sesuatu yang selama ini selalu luput dari perhatiannya.
Di manapun kamu berada… kenangan tentangmu dan bersamamu akan selalu dan selalu tersimpan di tempat yang sama, tak akan kuhilangkan. Kurasa… itu yang lebih penting daripada hanya bertanya-tanya kamu di mana… atau apakah kamu masih ‘ada’ atau tidak… Karena kamu masih dan selalu akan hidup dalam kenanganku.
Ya, Reg?
***
Lalu pria itu mengangguk, sudut bibirnya terangkat dalam satu senyuman puas yang samar. Kedua bocah kecil identik itu sontak terbangun, dua wajah bulat kecil yang serupa meneriakkan ekstatik dan kegembiraan melimpah tanpa suara, dalam diam bertukar tosspenuh kepuasan, lalu setelahnya saling mengingatkan kalau mereka seharusnya sesunyi padang pasir di malam hari.
“Terima kasih ya, kalian berdua,” kembali pria itu membuka suara, duduk di kaki tempat tidur sepasang bocah kecil itu, masih tersenyum pada mereka. Keduanya mengangguk-angguk bersemangat.
“Tapi…” mendadak ekspresi Selina berubah suram.
“Hmm?”
“Reg… habis ini nggak akan pergi, kan? Masih bakalan terus sama-sama kita, kan?”
Dia terkekeh pelan. “Tentu saja. Kita teman, kan?” ia melipat kedua kakinya santai, nyengir cerah.
“Benar?”
“Betulan nggak akan pergi?”
“Janji?”
“Janji.”
“Biarpun…” Serene terdiam sejenak, tampak sedikit bingung melanjutkan kata-katanya. “Biarpun nanti kami sudah besar, atau nggak bisa lihat Reg lagi?”
Pria itu mengangguk. “Aku selalu di sini,” dia kemudian menunjuk dada Serene, “dan di sini,” lalu dada Selina, “dan di hati ibu kalian.”
Dua senyum mungil yang identik tertarik, tampak puas dengan jawaban sang pria berambut pirang itu.
“Oke, waktunya tidur, kalian berdua,” ia menepuk tempat tidur di kedua sisinya, mengisyaratkan sepasang bocah kecil itu untuk kembali berbaring. Keduanya menurut, kembali berbaring dan menarik selimut.
“Bonne nuit, Reg.”
“Bonne nuit.”
***
Mana mungkin aku melupakanmu, Mel? You’re my sweetheart, my little sunshine, and always be. Aku senang kamu baik-baik saja, bahagia dengan kehidupanmu, dengan kedua anakmu yang sama-sama cantik dan menyenangkan. Suamimu masih baik, kulihat. .
Aku masih hidup, dan akan terus hidup selama kau masih mengingatku, selama anak-anakmu masih mengingatku. Jadi teruskanlah, jalani hidupmu, tanpa harus mengkhawatirkan diriku, tanpa selalu bertanya-tanya tentang keberadaanku. Karena aku akan selalu ada, bersamamu, bersama keluargamu.
—THE END—
Note:
- Vous êtes les plus brilliants de tous, mon petit soleil = You're the brightest of all, my little sunshine.
- Bonne nuit = Selamat malam.
- Lagu yang dinyanyikan itu salah satu French Lullaby yang judulnya 'La Petite Poule Grise'. Silakan cari di Youtube kalau mau dengar lagunya bagaimana.
0 comments:
Post a Comment