Anggaplah ini hadiah untuk diri saya sendiri :"| #WUAPA Yapokoknyabegitulahyaaaa uhuk uhuk. Tadinya sih mau ikutan chronicles of yang bikin tema Just Be Friends, tapi tahu deh ini ngepas apa kaga, anggap aja ngepas yaaa ='))=')) #udahtelatjugasihwoi
Terima kasih sama yang udah kasih saran nama, maaf nggak saya ambil semuanya, karena ternyata yang bisa ditongolin cuma segini #plak Enjoy deh. oTL
--------------------------------------------------------
Just Be Friends
DOOOR!! PUHAHAHAHAHAH! >D Tebak siapa :>
Pakabaaar??? Ketemuan yuk yuk yuuk D: Aku kepingin cerita buanyaaaaakkk banget. Besok sore bisa?
Agak percuma sepertinya si pengirim menggunakan nomor yang tak tercatat di memori ponselku. Diantara semua yang mungkin mengirimiku SMS, cuma satu orang yang selalu menulis seheboh bocah lima tahun begitu hingga sekarang, selalu memulai dengan tebak-tebakan iseng senada. Sudah begitu, tanpa singkatan pula. Sebentuk lengkung tipis terbentuk.
Sudah berapa bulan, ya?
Kania pasti, ya? Apa kabar? Lagi pulang, nih? Hayu aja, kebetulan saya lagi senggang. Di tempat biasa?
Bohong kalau kubilang tidak kangen.
***
“FAIRUZ! Sini, di sini!”
Seruan sekeras itu, cuma satu yang punya. Setelah bertahun-tahun pemiliknya masih sama saja, ternyata. Penampilannya boleh saja tampak semakin dewasa, jauh berbeda dengan saat sekolah dulu, tapi gadis itu masih sama. Masih selalu berteriak-teriak heboh berlebihan saat bertemu kenalan, masih tidak peduli pada pandangan aneh beberapa orang yang duduk di dekatnya pada seorang gadis dua puluhan berjilbab apik dengan make up segar berteriak-teriak barbar, hampir meloncat-loncat heboh dengan cengiran lebar. Untung saja foodcourt itu hampir penuh, sebagian besar sibuk dengan urusan masing-masing.
Some things changed. Some things didn’t.
“Heh, Assalamualaikum-nya mana!”
“Yee, rempong deh. Assalamualaikum. Tuh, udah!”
“Waalaikum salam,” aku nyengir, membuka percakapan seperti barusan semata karena ingin menggodanya seperti biasa.
“Kayaknya kamu sehat, ya,” menarik kursi di depannya, langsung duduk begitu saja. Tak perlu ada jabat tangan, atau bahkan rangkulan bersahabat. Anggukan atau kedikan kepala saja sudah cukup, gestur yang normal-normal saja diberikan diantara lingkaran pertemananku.
“Pangling deh, makin cantik,” jeda sesaat, aku menikmati cengiran puas dan bangganya (entah kenapa aku tahu dia selalu berusaha datang dengan penampilan terbaiknya setiap kali ada reuni semacam ini), sebelum kemudian kulanjutkan diiringi cengiran jahil, “tapi dalamnya nggak berubah, ya, ternyata,” aku terkekeh, puas menikmati senyumnya yang langsung menguap, bibirnya mengerucut cemberut.
“Apa sih,” ujarnya ketus, “biar dong. Orang lain juga nggak protes.”
Aku kembali terkekeh.
“Udah pesan makanan?” tanyaku, melirik meja kami masih kosong. Dia menggeleng.
“Barusan pesan es buah doang. Kamu mau makan?”
“Es buah juga, deh,” aku menggeleng, berdiri lagi untuk memesan di kounter.
“Ambilkan punyaku sekalian ya, Fai! Sudah kubayar, kok!”
Aku cuma mendengus sebagai balasan.
Ada beberapa pemikiran dan pertanyaan yang bergumul. Kenapa Kania meminta bertemu berdua saja, misalnya. Aku gatal ingin bertanya apakah Kemal tidak keberatan pacarnya bertemu denganku berdua saja begini (atau, haruskah aku bertanya dulu apa mereka berdua masih bersama?). Atau tentang apa yang ingin diceritakan Kania padaku. Kenapa tidak lewat telepon atau SMS saja seperti biasa?
Atau mungkin, aku bisa bersabar dan menunggu Kania sendiri yang mulai bercerita.
“Nih,” kuletakkan dua mangkuk dengan es serut menggunung di depan kami, salah satunya kusodorkan lebih dekat padanya, yang ternyata tengah menyibukkan diri dengan ponselnya saat aku menunggui es buah kami.
“Thanks,” dia mengangkat kepalanya, mengetik beberapa saat lagi sebelum memasukkan ponselnya kembali.
“Kemal, ya?” aku tidak tahan tidak menggodanya, ternyata. Bagaimana tidak, kalau setelah entah berapa tahun mereka bersama, gadis di depanku ini masih saja memberikan ekspresi tersipu yang sama bila ditanya, lalu mengangguk canggung sebagai balasan? Seolah, ia terhenti di usia remaja belasannya.
“Nggak apa-apa nih, kita ketemuan berdua begini?”
“Nggak apa-apa, Kemal tahu, kok. Dia oke,”
“Hoo.”
“Kamu sendiri? Shiva gimana, nih?”
“Baik-baik aja, ada di rumahnya,” aku tahu cepat atau lambat pasti dia akan bertanya tentang Shiva kalau aku bertanya tentang Kemal.
“Ya siapa tahu… nggak apa-apa kan, pacarnya kupinjam sebentar?”
“Kenapa nggak tanya sendiri?”
“Hidih! Yang pacarnya siapa juga…”
“Kalau kamu yang pinjam mana mungkin Shiva marah, sih.”
Aku tidak melebih-lebihkan barusan. Sepertinya ketika pertama kali Shiva kupertemukan dengannya dulu itu, mereka berdua langsung cocok sampai-sampai aku yakin Kania jadi lebih sering mengobrol dengan pacarku itu daripada denganku. Tentu, aku senang saat-saat berkumpul setiap beberapa bulan sekali ini bersama Kania, bersama Kemal, juga teman-teman kami yang lain semasa SMA dulu. Tapi sepertinya aku juga sedikit merindukan waktu-waktu mengobrol hanya berdua saja dengan Kania. Seperti dulu. Saat hitungan jam rasanya seperti berlalu begitu saja ketika kami berdua tenggelam dalam pembicaraan, yang bisa berkisar dari diskusi mendalam tentang episode anime terbaru yang tengah kami ikuti, berencana mau mencoba warung bakso mana akhir minggu berikutnya, menggosipkan crush masing-masing, kegiatan ekstrakurikuler, sampai apakah teori gerak parabola benar-benar bisa diaplikasikan dalam pertandingan nyata atau tidak. Debat-debat bodoh dan random sejenis itu.
Masa lalu yang menyenangkan.
“Terus, kamu mau cerita apa, nih?”
Cengiran khasnya kembali muncul lagi. Senyam-senyum tersipunya yang tampak malu-malu, tapi juga dengan mudah aku bisa melihat semburat kebanggaan dan rasa puas yang mendalam di sana, seolah dalam hitungan detik gadis itu bisa meledak setiap saat saking bahagianya.
“Apaan? Cerita bagus ya pastinya?” aku balas nyengir. Dia masih tersenyum-senyum. Alih-alih menjawab, dia mengacungkan tangan kirinya ke depan wajahku.
“Tadaaa!!” serunya ceria.
Sebentuk cincin bermata satu yang sederhana di jari manisnya tertangkap mataku. Awalnya kupikir itu cincinnya yang biasa (hadiah ulang tahun ketujuhbelas dari neneknya, yang ia pakai di jari manis karena katanya tidak pas di jari yang lain) tapi kemudian aku sadar itu cincin yang berbeda. Mataku membulat, menyadari apa itu.
“Dari Kemal?!” aku berseru terkejut. Tentu saja aku terkejut. Tidak setiap hari sahabatmu mendatangimu lalu bercerita mereka baru saja dilamar. Meski, tidak bisa disebut terlalu tiba-tiba juga. Mereka berdua sudah bersama semenjak sekitar tiga tahun lalu, hal ini pasti akan terjadi cepat atau lambat. Aku mengenal mereka semenjak SMP. Keduanya bukan tipe yang berani mengatakan ya pada komitmen bila tidak memiliki niat yang lebih serius.
“Iya, lah. Dari siapa lagi, memangnya?” dia tertawa riang, masih melambai-lambaikan tangan kirinya, sesekali berhenti hanya untuk memandangi cincinnya penuh damba.
Kebahagiaannya, antusiasmenya, seperti biasa, selalu menular.
“WUAH! Ya ampun, selamat! Kapan?” aku melotot antusias. Kemudian tiba-tiba aku teringat sesuatu. “Jangan-jangan… kemarin?”
Kania mengangguk, masih tersipu.
“Pantesan!” aku tertawa terbahak-bahak. “Statusnya Kemal kemarin di FB kayak gitu, hahaha! Subhanallah, nggak nyangka… tuh anak diem-diem, tapi udah punya rencana besar, ckckck.”
“Ah, kayak nggak hapal dia aja, gimana. Inget waktu kita berdua baru mulai jadian dulu?” dia tergelak singkat.
Aku mengangguk. Siapa yang tidak ingat? Tak ada siapapun yang mengira, bahkan mereka berdua tidak memberi gelagat tengah memiliki sesuatu yang lebih daripada sekedar persahabatan seperti sebelumnya. Saling flirt secara terselubung, berbalas status dan komen di Facebook dengan amat sangat tersirat, sepertinya tidak banyak yang berhasil menebak ada apa diantara mereka, sampai satu reuni berbulan-bulan kemudian.
“Kalian sukses bikin anak-anak kaget tuh, datang gandengan tangan begitu. Duduk sebelahan terus. Pulang juga bareng-bareng. Nggak kamu banget padahal, diem-diem begitu,”
Dia mengikik kecil.
“Kemal, tuh. Nggak ngerti deh maunya apa, nggak mau orang-orang tahu. Kayaknya puaas, gitu, membayangkan tiba-tiba kita berdua bilang mau nikah tanpa siapapun tahu dari sebelumnya.”
Aku diam saja, pura-pura mengangguk setuju. Mungkin Kania tidak tahu, betapa Kemal sempat mendatangiku dengan dilemanya yang kompleks, mendasari keputusannya untuk merahasiakan tentang mereka dari semua orang. Biarlah, Kania tak perlu ikut terbebani. Terkadang Kemal terlalu mudah panik untuk hal-hal remeh.
“Terus ini, nggak ada yang tahu juga?”
“Memang belum ada siapa-siapa yang tahu, kok. Habis ini kita mau kasih tahu orangtuaku dulu… Yaa Mama sama Papa udah dari dulu sih tahu kalau kita kepingin lanjut sampai serius. Ini mungkin bilang formalnya, gitu, sebelum lanjut rencanain buat kapan lamaran resmi sambil dihadiri keluarga masing-masing.”
Dia terdiam sejenak. Raut wajahnya jadi serius, mengulur waktu dengan mengaduk-aduk es buahnya. Aku tahu sebelumnya tadi dia memeriksa potongan-potongan buahnya dulu, memakannya mulai dari buah yang potongannya paling banyak sampai yang paling sedikit. Kebiasaannya belum berubah semenjak dulu, lagi-lagi kusadari itu. Aku tak mendesak lagi, ikut mengalihkan perhatian pada es buah milikku.
“Aku bilang Kemal… pingin kasih tahu kamu dulu. Menurut kamu… gimana?”
Sebenarnya pertanyaannya ini sama sekali tidak akan membawa pengaruh apapun. Ya, memangnya akan membawa pengaruh apa, aku tahu diri dengan posisiku. Ini hanya satu dari kebiasaan kecil Kania. Kebiasaannya… yang belum berubah. Dia masih seorang Kania yang sama ketika masa sekolah dulu ternyata, yang begitu manja padaku, yang selalu mendatangiku terlebih dulu bila ada sesuatu yang mengganggunya, yang selalu bertanya meminta pendapatku sekalipun untuk hal-hal yang sudah demikian jelas. Yang selalu bocor bercerita bahkan untuk hal-hal seremeh ‘habis coba resep kue baru dan gagal’ dan sejenisnya padaku, namun enggan membaginya pada teman-teman perempuannya yang lain.
Sepertinya… ada sebagian kecil diriku yang juga merindukan ketergantungannya padaku itu.
Lengkung tipis di wajahku muncul dengan tulus.
“Kamu sendiri ngerasanya gimana?” ini juga pertanyaan retoris, aku tahu.
“…Nggak tahu…” kepalanya malah menunduk lemas, menjawab dengan suara kecil. Aku terkekeh menimpalinya.
“Lah kok malah nggak tahu. Kamu ini gimana, kamu yang dilamar, kan? Udah diterima, pula. Kenapa tiba-tiba nggak yakin begini?”
“Bukan begitu.” Dia menghembuskan napas panjang, wajahnya keruh. “Aku senang waktu Kemal ngomong kemarin, aku nggak bisa berhenti memutar lagi dan lagi kata-katanya dia, aku udah nunggu-nunggu ini dari lama. Ya ampun Fai, rasanya aku nggak bisa berhenti senyum-senyum sendiri kayak orang gila, rasanya aku jadi orang paling bahagia di dunia aku pingin terus-terusan teriak ngasih tahu semua orang sebahagia apa aku.”
Kania, Kania. Definisi kebahagiaannya belum berubah juga. Masih sesederhana dulu.
“Terus, kamu khawatir apa lagi?”
Dia malah membalas dengan erangan. Aku tertawa pelan.
“Kalau itu bikin kamu dan Kemal bahagia, jalanilah. Saya percaya kalian sama-sama punya tujuan baik, saya percaya restu Allah bersama kalian. Soal nggak yakin, nggak percaya diri dan sebagainya, itu cuma gangguan-gangguan kecil, semua orang, yang paling hebat sekalipun, pasti punya.”
“Iya sih…”
“Udah, nggak usah jadi ngemo gitu, ah. Saya percaya sama kalian, kalian juga harus punya kepercayaan sama diri sendiri, dong.”
“Betulan?”
“Yah…” aku nyengir jahil, “asalkan kamu sama Kemal nggak panik mengenai hal yang sama sih, semuanya bakal baik-baik aja. Kayaknya.” Kemal yang panikan dan Kania yang over-reaktif dan terlalu gamblang. Untung saja mereka mengkhawatirkan hal yang sama sekali berbeda.
“Dih!” dia cemberut lagi, namun sepertinya kini benaknya meringan, kembali mengaduk-aduk mangkuknya ceria. Aku tersenyum tipis.
“Kamu masih ingat, Fai?”
“Hm?”
“Dulu… kita pernah sama-sama berjanji.”
Aku tahu janji mana yang dia maksudkan. Tapi aku masih diam, membiarkannya melanjutkan.
“Janji, kalau meskipun di masa depan jalan kehidupan kita terpisah, we’ll still be friends. Until forever.”
Hei, Kania. Menurutmu, aku akan semudah itu melupakan janji kita?
“Ingat, lah. Masa lupa.”
Senyum itu, senyum yang dulu membuatku rela melakukan apa saja demi membuatnya selalu terkembang dengan tulus, tanpa terbayang sendu, atau ternoda lara. Aku menyukai tawanya yang selalu berderai ramai, pekikan-pekikannya, teriakannya hebohnya. Bagaimana ia bisa menjadi seseorang dengan pemikiran yang sangat dewasa, sekaligus sejahil bocah lima tahun. Bagaimana ia selalu membuatku merasa jadi lelaki paling hebat, karena ia selalu mendatangiku untuk hal apapun. Bagaimana aku merasa jadi seseorang yang paling penting untuknya karena aku selalu jadi yang pertama tahu segalanya mengenai seorang Kania.
“Jadi… masih teman?”
Some things changed. But some things still stay as they are.
Kuulurkan kelingking kananku. “Yep. Tetap teman.”
Dia tersenyum kecil, juga mengulurkan kelingking kanannya. Mengaitkannya dengan kelingkingku. “Tetap teman,” ulangnya.
Ada satu beban terangkat melihat Kania kembali tersenyum begitu tulus, kembali bisa merasakan kebahagiaan dengan sederhana. Ya, siapa bilang aku memasabodohi apa yang pernah terjadi di masa lalu? Aku sudah terlalu kejam padanya, memberinya harapan yang salah, kemudian membuatnya jatuh dengan keras. Terlalu keras. Dan aku terlalu pengecut untuk mengatakan hal yang sebenarnya padanya, berharap waktu akan menyelesaikan semua begitu saja.
“Selamat ya, sekali lagi. Senang kamu bisa nemu orang yang bisa bikin kamu bahagia begini.” Senang, karena pada akhirnya kamu bisa bahagia dengan tulus bersama orang lain. Dia yang bisa menghapus sakit yang dulu saya buat.
Tentu saja, yang terakhir itu tidak kuucapkan keras-keras. Aku masih sama pengecutnya seperti dulu, rupanya. Masih sama sulitnya mengatakan dengan tegas apa yang sebenarnya kuinginkan.
Sialnya, sepertinya Kania bisa membaca pikiranku.
“Kamu tahu, Fai,”
“Hm?”
“Semua yang dulu pernah terjadi diantara kita, aku nggak merasa itu menyakitkan lagi. Semuanya jadi… apa ya? Bahkan sesuatu yang mungkin dulu bikin aku sakit, rasanya sekarang hanya jadi sebuah kenangan. Kenangan yang nggak pingin aku lupakan, yang tetap aku simpan. Aku belajar banyak dari semua itu. Sekarang, aku sudah menemukan kebahagiaanku, jalan hidupku. Kamu nggak perlu khawatir lagi.”
Begini ya rasanya tertangkap basah itu? Ha-ha. Aku harus menjawab apa sekarang? Kania hanya kuberi satu senyum lemah penuh maaf. Kuharap itu cukup.
“Jadi kamu sama Shiva kapan, nih?”
Mendadak saja aku hampir tersedak. Kania, sebaliknya, tertawa terbahak, tampak sangat puas.
“Aduh, jangan tanya itu dulu, deh. Kamu kan tahu saya baru selesai profesi, belum punya apa-apa,” ujarku, mengerang. Iya, aku belum punya apa-apa, baru menata pondasi kehidupan baru beberapa bulan lalu. Berbeda dengan Kemal. Mungkin dia berkali-kali menyatakan ketidakpercayaan dirinya, karena masih merasa belum jadi apa-apa. Meski begitu dia telah meniti karir sejak beberapa tahun lalu, dan mau tak mau harus kuakui, itu membuatku iri. Aku belum bisa memberi Shiva apapun, seperti Kemal yang memberi Kania senyum bahagia permanen.
“Didoain cepet nyusul, deh. Aku pingin kamu juga bahagia, Fai.”
“Amin. Doain modalnya cepet gede juga, dong.”
“Hidih! Nawar!”
Aku senang kami bisa tertawa lepas seperti ini lagi. Seperti dulu, masa-masa awal, ketika belum ada satupun hal-hal buruk terjadi, ketika kami masih murni hanya ingin memberikan perhatian penuh pada satu sama lain, selayaknya sahabat yang saling menyayangi.
“Aku pulang deh, ya. Takut keburu Maghrib di jalan nanti.”
Aku mengangguk. “Kemal nggak jemput?”
“Nggak, dia masih kerja. Nanti datang ke rumah juga kayaknya sepulang kerja. Aku suruh dia telepon kamu deh nanti.”
“Nggak apa, saya aja nanti yang SMS dia.” Aku nyengir.
Kami berjalan beriringan keluar. Hampir seperti dulu, ketika aku selalu menungguinya naik angkutan umum menuju rumahnya dulu sebelum aku memutar ke arah berlawanan untuk pulang. Hanya saja, kali ini telah banyak hal berbeda terjadi diantara kami.
“Salam buat Kemal, ya. Buat keluarga kamu juga.”
“Insyaallah. Salam buat Shiva juga. Kamu mau kasih tahu dia nggak apa-apa, kok. Siapa tahu jadi nambah semangat kalian buat nyusul.”
“Dasar! Itu mah repot di saya nanti,” sambitku, tak urung tergelak bersamanya.
Angkutan umumnya tiba.
“Yuk. Assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam.”
Selamat tinggal. Semoga bahagia.
0 comments:
Post a Comment