Thursday, October 13, 2011

[PLOT] Suspicion-Filled Space

Oke, forgive me for posting another roleplay posts AGAIN =')) Ini post dimana Liga sedang dalam pengaruh Imperius Curse, dan well..... proses menulisnya LUAMA banget :| banyak mikir, diskusi kanan-kiri, baca-baca semuanya tentang Imperius Curse, dan pada akhirnya tetep aja kayaknya gw nggak bisa deskripsi behaviour-nya Liga dengan tepat :| Seharusnya kan ya kalo kena Imperius sifatnya tetep nggak berubah, ini kesannya kayak Liga kerasukan gitu oTL Tapi yaudahlah, gw cukup puas kok dengan ini .____. Sebenernya Liga ngepost 3x di topik itu, yang pertama baru hadir tanpa ngapa2in, terus post kedua mulai kena Imperius dan post ketiga Liga mulai fighting pengaruhnya. Ini dua-duanya gw langsung post di sini deh malesin kalo dipisah HAHAHAHA #plak

Oh yeah.... selama di bawah pengaruh Imperius itu.... Andrew dateng buat nyelametin :") Ahihihihihihih~~~ :") #dikunyah

==================================


Post #1

Serius, dia kepingin pulang. Pikirannya melayang, bertanya-tanya sedang apa Andrew sekarang di rumah. Kalau ia di rumah, mungkin sekarang ia sedang membereskan cucian kering, atau menekuri salah satu bukunya, kemudian menanyai Andrew pemuda itu ingin makan malam apa, yang pasti akan dijawab dengan kata-kata 'terserah, apa saja kumakan' dan setelahnya pemuda itu akan curi-curi memeluknya dari belakang saat ia memasak.

Dengan dunia sihir yang tengah tidak karuan seperti sekarang, terjebak berminggu-minggu di rumah rasanya tidak buruk. Hei, paling tidak dia tak perlu merasa waswas sepanjang waktu, kan? Tak perlu terus-menerus memasang kewaspadaan tinggi, dan jelas tak akan ada orang aneh yang mendadak mendekatinya sambil menawarinya berbagai macam jimat-jimat tidak jelas.

Atau seperti pria rombeng menyeramkan ini yang tanpa Liga sadari tiba-tiba saja sudah ada di sampingnya. Dia gelagapan, dalam hati merutuk karena membiarkan dirinya sendiri lengah dengan melamun terlalu dalam hingga menurunkan kewaspadaannya. Seketika dia merinding, jijik, menepis lengan yang dengan kurangajarnya menyentuh kepalanya itu.

"Jangan sembarangan pegang-pegang—"

Dia tak mengerti apa yang terjadi. Entah kenapa, tiba-tiba saja, perasaan marah, terhina, serta jijik yang baru saja ia rasakan seperti terhapus begitu saja, seolah otaknya seperti tengah diprogram ulang dan sama sekali tidak mengenal apa itu waswas, apa itu marah, apa itu terhina, apa itu lelah. Sama sekali tak ada yang tersisa, lalu sesuatu yang hangat dan menyenangkan seolah tengah perlahan-lahan dituangkan ke atas kepalanya, meresap hingga ke kedua ujung jarinya, tubuhnya, bahkan ke kedua ujung kakinya. Tubuhnya seolah lupa bagaimana menjadi tegang karena lelah itu, perlahan-lahan melemas, terlena.

Satu bagian kecil di belakang kepalanya mengingat, ada hal lain yang pernah membuatnya lebih bahagia, lebih menyenangkan, lebih hangat dari apa yang tengah ia rasakan ini. Namun, kehangatan baru yang tengah menjalar ini, mendesak kepingan ingatan itu ke bagian paling belakang, paling berdebu, paling terabaikan, mengiming-iminginya hingga Liga lupa akan keberadaannya.

Katakan Diagon Alley aman... Katakan Diagon Alley aman...

'Hmm?'

Diagon Alley ini aman karena para Auror yang berjaga-jaga...

'Begitu?'

Yeah. Katakan Diagon Alley ini aman...

'Hng... Hanya bilang begitu, kan?'

Dan ajaklah mereka berdoa...

'Hah?'

Ajaklah mereka berlutut dan berdoa...

'...Berdoa bagaimana?'

Ajaklah mereka untuk berlutut bersama dan berdoa: Salam dan Doa Maria.

'... Aku tidak ingat.'

Ajaklah mereka berdoa...

'...Yasudahlah.'




"Hei."

Ada seseorang di dekatnya, sepertinya begitu. Dia hanya mendengar suara-suara ribut, lalu bayangan-bayangan kabur saling berkelebat di depan matanya yang dia tak bisa mengerti itu apa, lalu dia merasa tubuhnya ditarik dan disentak, namun dia sama sekali tidak mengenali apapun yang terlihat. Bibirnya tertarik, kehangatan yang ia rasakan tadi tak kuasa membuatnya tersenyum, melayang.

"Kau tahu," smiles, "Diagon Alley ini aman, lho. Amaan... sekali. Lihat, lihat," jemarinya menunjuk-nunjuk, pada sosok-sosok yang tak berhasil ia kenali apa, "ada banyak Auror yang berjaga-jaga!" Auror, Auror... Auror itu apa? Apa warna-warna yang tengah berkelebat hidup itu yang namanya Auror? Tidak tahu... dia hanya tahu harus berkata seperti itu. "Jangan takut, jangan takut. Di sini aman," takut itu apa, memangnya? "Jadi, ayo, kita berdoa... Kau tahu Doa Maria?"

Sesuatu di belakang kepalanya murung. Ia tak ingat apa itu Doa Maria. Doa Maria itu apa? Maria itu siapa? Perlahan.... ini membuatnya ragu berkata lebih lanjut.

Lalu ia perlahan merasakan, mengenali, bahwa ia bukan tengah ditarik dan disentak kesana kemari. Ia tengah dirangkul seseorang, dengan erat, seolah ada sesuatu yang besar dan menyenangkan tengah berdiri melindungi dirinya dari kelebatan-kelebatan dan suara-suara melengking tidak nyaman yang sejak tadi terus-menerus mendera-dera gendang telinganya. Lalu secuil ingatan itu, ingatan tentang sesuatu hal yang pernah membuatnya lebih bahagia, lebih hangat, lebih nyaman dari apa yang tengah ia rasakan ini, perlahan kembali menemukan jalannya untuk menampakkan diri.

Dia ingat pernah merasa nyaman dan bahagia dalam pelukan seseorang yang terasa hangat, yang terasa besar dan aman, membuatnya merasa terlindungi, membuatnya merasa dicintai sepenuh hati.

Seseorang yang sama dengan yang tengah merangkulnya erat sekarang. Ya... Liga akhirnya mengingat itu. Ada seseorang yang juga tengah merangkulnya sekarang dengan sepenuh hati. Suara yang sama di belakang kepalanya berkata, dia mengenalnya.

Siapa? Siapa?

"...drew?"

Iya... dia mengenal orang itu.


====================================

Post #2


Ada yang menyentuh kedua pipinya. Meneriakkan sesuatu. Apa? Apa yang diteriakkan? Nama—kah? Nama siapa?




Namanya.... siapa?

Kelebatan cahaya. Ledakan. Teriakan. Panas. Asap.

Tatapannya nanar, kalut. Refleks kedua tangannya terangkat, menyembunyikan kepala. Tidak, tidak, tidak. Dia tidak suka ini. Berisik. Berisik. Berisiiik!

Ajaklah mereka berdoa...

'Kenapa kau masih di situ?'

Ajaklah mereka berlutut dan berdoa...

'Berisik, berisik! Pergi, pergi dari sini!'

... Salam dan Doa Maria. Ajaklah mereka berlutut dan berdoa...


Kembali, suara-suara berisik itu seolah diperkecil, seolah menjauh, hingga samar... samar... Dia masih bisa mendengarnya, dia masih bisa merasakan panas, hidungnya sesak, matanya perih oleh asap, namun seolah ada selubung tak terlihat yang menghalanginya dari merasakan semua panas, dan sesak, dan perih.

Dan suara itu terus menerus menyuruhnya berdoa.

"Hail Mary, full of grace
our Lord is with thee"


Mulutnya membuka, bersenandung, syahdu.

"blessed art thou among women
and blessed is the fruit of thy womb, Jesus"


Kembali, ada yang mengulang-ulang satu kata. 'Li—ga'? Iya, Liga, katanya. Liga. Siapa?

Lalu Andrew. Liga. Andrew. Liga. Andrew. Liga—

Ada yang berusaha mengoyak-ngoyakkan selubung kehangatan yang sejak tadi melingkupinya. Sesuatu—seseorang—entahlah—di dalam kepalanya, berteriak-teriak, panik, panik, memanggil, putus asa.

Apa katanya?

Liga.

Ya, Liga.





"An—drew?"

Matanya berkerejap. Bingung. Bersirobok dengan mata seseorang, yang sehijau emerald, yang menatapnya balik dengan.... kacau? Kalut? Mata yang—

—Mendadak saja, dia seperti tengah disiram seember air es. Terkesiap. Seperti ada yang tiba-tiba membuka katup dan semua ingatan dan kenangan berpusar-pusar membebaskan diri, membanjirinya dengan hujan gambar dan kata-kata dan suara dan bau. Panik. Panik. Ia memandang sekeliling. Di mana? Melayang. Melayang? Melayang! Tolong! Tolong! Dia jatuh! Dia jat—

Tidak. Tidak jatuh. Dia terbang. Seseorang memeganginya. Erat. Kuat. Namun lembut. Siapa? Siapa?

"Andrew—"

Salam dan Doa Maria... Salam dan Doa Maria...

"Holy Mary, mother of—"

BERHENTI, BERHENTI!

"Andrew, help—"

Doa Maria... Doa Maria...

"Mother of God, pray for us sinners..."

Dia terisak-isak. Bahunya bergetar, hebat.

"Andrew—save—me—"

0 comments: