A/N: Ini supposedly—apa ya?—semacam introduksi mungkin, buat cerita tentang keluarga chara gw, keluarga du Noir. Gw kepingin bikin semacem novel buat keluarga du Noir ini, jadi universe-nya bukan Wizarding World gitu. Celeste Noir itu char pertama gw di forum Hogsid (yang sekarang sudah R.I.P), dan kemudian gw lahirkan leluhurnya di IH, yaitu Rigel du Noir yang lahir tahun 1963 dan masuk Hogwarts tahun 1974. Rigel ini char gw yang background plotnya paling matang, keluarganya paling besar (soalnya sampe ngebesan dan sepupuan sama sana sini sampe family tree-nya bikin muntah—I'll show it later ==") dan gw beneran berharap Celeste bisa sampe nongol nanti di IH, pas jaman anak-anaknya Harry Potter ;_____;
Well—yah, enjoy deh. Crappy abis ini grah =')) gw kebanyakan bingung sama mau gimana ngatur alurnya sampe2 cuma numpuk plot bunnies-nya aja di hard disk =)) Terus Celeste jadi punya kembaran..... ini karena pacar gw pernah bilang kayaknya punya anak kembar cewek itu asik *UHUK* dan karena kayaknya nanggung kalo cuma berdua, gw tambahin dia punya adek juga, cowok, namanya Raphael =)) Ini dianggep intro boleh, one-shot boleh, apa deh =)) Enjoy :3
Serendipity
Apa kalian percaya pada takdir? Apa kalian percaya, bahwa tak ada yang namanya kebetulan di dunia ini, bahwa semuanya sudah diatur dalam satu jalinan benang takdir yang saling silang?
“Jangan, Cal! Kita kan dilarang masuk kalau Kakek sedang tak ada di rumah!”
Hari itu sama kelabu, sama berangin, sama bersaljunya seperti kemarin-kemarin. Aku dan adik kembarku kebosanan parah liburan musim dingin begini malah terjebak berhari-hari di rumah. Di puncak kebosanannya, Callanthia menghasutku untuk masuk ke ruang kerja Kakek untuk sesuatu yang ia sebut ‘bertualang’.
Aku tak pernah melihat Kakek marah, namun beliau mengesankan sebagai seorang pria yang sama sekali tak ingin kau buat marah. Jelas, aku tak mau melihat seperti apa Kakek versi marah untuk pertama kali.
“Ayolah, C. Pintunya tak dikunci, kok.”
Bukan Callanthia du Noir namanya kalau dia peduli dengan semprotanku. Dengan santai adik kembarku mengibaskan tangannya, memutar pegangan pintu tanpa memedulikan diriku yang tengah menatap ngeri sekeliling. Kalau sampai ada pelayan yang memergoki, habislah sudah. Mereka bukan pengadu memang, tapi kesetiaan mereka tetaplah pada Kakek sang kepala keluarga du Noir. Bila Kakek mendapati ada yang masuk ruangannya tanpa izin, lalu memaksa para pelayan buka mulut, aku yakin tak akan perlu waktu lama.
“Cal! Jangan macam-macam, ah!” aku menghentakkan kaki kesal. Kami memang hanya terpaut tiga menit, tapi bebalnya adikku itu seolah dia hanya bocah sepuluh tahun.
“Sssshh! Jangan keras-keras!” dia mendesis, menempelkan telunjuk ke bibirnya.
Aku merengut. Siapa memangnya yang sudah membuatku gusar barusan? Tak urung, aku mengikutinya juga masuk, mengendap-endap bagai pencuri. Aku tak bisa meninggalkan Cal menggeratak sendiri begitu saja. Siapa yang tahu apa yang akan dilakukannya?
Ruangan itu biasa saja, sebetulnya. Tak berbeda dari ruang-ruang kerja lain di bagian lain rumah kami. Rak-rak penuh buku, lemari-lemari arsip, nakas penuh pajangan macam-macam, meja kerja kayu mahogani berukir yang gagah menghadap jendela dengan satu PC di atasnya, beberapa kursi berlengan nyaman mengelilingi meja lain, perapian mati di satu sisi dinding, atasnya penuh bermacam-macam foto keluarga dan relasi Kakek. Rumah kami sudah sejak bertahun-tahun lalu menggunakan pemanas listrik, namun beberapa perapian di beberapa ruangan sengaja tak ditutup. Ruang kerja Kakek ini salah satunya.
“Lihat? Tak ada apa-apa yang menarik, kan?” aku mendengus, masih melipat kedua tanganku di depan dada, mengetuk-ngetuk karpet yang menutupi lantai. Cal tak memedulikan ucapanku lagi, berkeliling mengamati setiap incinya, seolah ini pertama kalinya kami masuk ke ruangan ini.
Meski tadi kubilang kami dilarang masuk kalau Kakek sedang tak ada di rumah, kami sudah pernah beberapa kali masuk sebelumnya. Saat Nenek meminta kami memanggil Kakek untuk makan malam, misalnya. Atau bila Ibu menyuruh kami mengantarkan teh. Memang ada pelayan, tapi kami tak menolak. Biasanya selalu berakhir dengan kami duduk di kursi berlengan dengan cangkir teh, menikmati Kakek bercerita.
“Hei, C. Lihat ini,” Cal memanggil dari depan perapian.
Aku menoleh, mendapati pandangannya terpaku pada satu foto hitam putih tua dalam pigura yang diletakkan tepat di tengah-tengah. Alisku mengernyit. Apa yang aneh? Aku sudah melihat foto itu puluhan kali, tak ada yang istimewa.
“Cuma foto,” kataku datar. Herannya, Cal menggeleng.
“Kukira juga begitu, tapi ada sesuatu di bawahnya,” suaranya bernada serius, tangannya terulur mengambil pigura itu dari atas perapian. Aku mengernyit, mendekat, mau tak mau rasa ingin tahuku tergelitik meski waswas Kakek akan memarahi kami.
“Apa?”
“Entahlah, sepertinya tulisan. Terpotong pinggir pigura, aku tak bisa membacanya dengan jelas.”
Aku mengamati pigura foto seukuran kartu post itu lebih dekat. Ternyata benar, ada tulisan bersambung meliuk-liuk dalam tinta merah yang terpotong oleh pinggiran pigura. Fotonya tak ada yang aneh, foto tua satu pemuda dengan empat gadis di kedua sisinya, dalam jas dan gaun pesta yang tampak ketinggalan jaman, sepertinya foto Kakek waktu masih muda dengan teman-temannya. Cal membolak-balik piguranya, seolah tengah mempelajari bagaimana cara membukanya. Tak perlu waktu lama.
Mengejutkan karena aku hanya berdiri di sampingnya sambil menahan napas, tanpa mencereweti Cal tentang Kakek bakal menggantung kami terbalik atau apa seperti biasanya. Hanya perlu beberapa menit bagi Cal berkutat. Senyum kemenangan tertarik begitu dia menarik fotonya keluar.
“Lihat, C! Memang betul ada tulisan!” dia berseru tertahan penuh semangat, menunjuk tulisan bersambung kecil-kecil dalam tinta merah. Aku melongokkan kepala ikut berdebar, entah kenapa ini terasa sangat mencekam, padahal bisa saja tulisannya hanya tulisan sepele.
“In the name of our blood, who stand here from left to the right,” pelan-pelan Cal membaca. Namun mataku keburu melotot, seolah hampir mau keluar. Kurasa Cal juga menyadarinya karena napasnya terkesiap saat membaca kalimat berikutnya.
“Friday BonClay, Cassandra Almendarez—“
“—Rigel du Noir, Voe Goscinny, and Janette Blizzard,” aku memotong tak sabar.
Kami hanya bisa ternganga setelah membacanya. Saling bertukar pandang horor.
“Ini—“
“Apa-apaan—“
“Kakek tak pernah cerita—“
“BonClay, Blizzard, Almendarez—“
“C, apa Thursday, Roxxy dan Estelle pernah cerita tentang ini?”
“Nggak, nggak pernah. Kurasa mereka juga sama sekali tak tahu tentang ini.”
“Jadi itu artinya—“
Lagi-lagi kami berpandangan, dengan rahang identik yang sama-sama ternganga, mata sehitam kumbang identik yang sama-sama ternganga.
“Whoa!”
Hening.
“Kita harus tanya Kakek begitu beliau pulang.”
Aku menimpali dengan diam, masih tercenung. Kalau ini dalam kondisi biasa, pasti aku langsung menampik ide Cal mentah-mentah, karena itu sama saja mengaku pada Kakek kalau kami memasuki ruang kerjanya tanpa izin saat beliau tak ada. Tapi rasa penasaran yang menghantui tentang kenapa teman-teman Kakek punya nama belakang yang sama dengan teman-teman kami, juga kenapa Kakek tak pernah bercerita tentang ini, jauh lebih mendesak. Ragu aku mengangguk.
Sekarang aku tanya lagi. Apa kalian percaya takdir?
1 comments:
Ntar kalau MM nyampe IH, jangan ada bubar-bubaran ah. Hahaha.
-SalahSatuPMPemegangCharaMM
Post a Comment