Monday, July 04, 2011

Everybody Has Their Own Version of Happiness Part 1

Disclaimer: Mami JK untuk PotterVerse-nya dan para PM chara-chara yang tersebut di dalam FF ini. Maaf kalo OOC oTL


Dedicated to: Tiga muse saya, sumber inspirasi saya, tiga orang yang sangat berarti dalam perkembangan karakter Liga; Neng Eli, Teki sama Sapu. Makasih banyak. FF ini nggak bisa terwujud kalau tanpa kalian, mungkin Liga nggak bakalan jadi kayak gini tanpa kalian. Maaf, mungkin gw yang lagi kena euforia ini bikin kalian empet dan bosen oTL gw sayang kalian ;;________;;


A/N: Ini FF tentang Liga Gerhild, Original Chara gw di IndoHogwarts, kelas 6, visunya Kate Bosworth. Dibikin waktu lagi blending, terus belum lama habis marathon Buffy 4 season dan marathon ulang That's 70's Show 2 season, jadi--well--beginilahjadinyauhuk (pokerface) Sepertinya rated M. Kayaknya sih. Siap-siap aja =)) *ditimpuk* Karena kayaknya kepanjangan, gw bagi dua. Ini part 1-nya. Enjoy!


Completion date: June 29, 2011



Everybody Has Their Own Version of Happiness


Liga Gerhild, tujuh belas tahun. Malam ini, dia hanyalah seorang gadis biasa dalam gaun ball merah menyala buatan Oscar De La Renta yang terseret anggun, dengan pipi yang memerah sehat, dengan rambut keemasan yang masih tergelung dan tersampir indah, dengan tuxedo milik Andrew VanWyck menutupi bahunya yang tenggelam dalam rangkulan hangat si pemuda dengan dasi terlepas dan dua kancing kemeja teratas terbuka, sebelah tangan menggelayuti pinggangnya, sebelah lagi berayun kekanakan menenteng hak tinggi Pour La Victoire berwarna merah satin, kaki-kakinya yang telanjang menapaki lantai batu dingin, berjalan perlahan, seolah keduanya tak ingin segera tiba di tujuan, seolah keduanya sama-sama berdoa agar waktu terhenti begitu saja.


“Sebentar. Jadi asramamu teknisnya ada di bawah danau? Betul-betul di bawah danau?


Liga mengangguk kecil. “Jangankan kau, aku pun awalnya tak percaya. Tapi itu tertulis di buku Sejarah Hogwarts, jadi harusnya benar, kan?”


Satu lagi, informasi yang menurut Andrew menggelikan dan tidak wajar mengenai kastil Hogwarts. Dibandingkan dengan kastil Durmstrang-nya yang hanya empat lantai itu, jelas saja Hogwarts memiliki lebih banyak sudut-sudut tak terduga. Namun, letak asrama di bawah danau baginya itu lebih mengarah ke sinting.


No offense, tapi Salazar-mu itu betulan sakit kayaknya,”


Liga tergelak pelan. Mengesampingkan segala catatan agung mengenai Salazar Slytherin, satu dari empat pendiri Hogwarts, kemungkinan Salazar Slytherin ini mengidap paranoia berlebihan, tampaknya tak bisa ditampik.


“Setidaknya aku tak perlu memanjat ratusan anak tangga setiap hari. Bayangkan kalau asramaku di menara juga, seperti anak-anak Gryffindor dan Ravenclaw,” Liga menggeleng-gelengkan kepalanya prihatin.


“Iya juga, sih. Nanti kau tambah kering saja. Tapi dengan betis sebesar atlet Olimpiade,” kalimat Andrew terputus, mendadak berakhir dalam erangan ketika Liga memukul lengan atasnya dengan high heels-nya, namun segera berganti dengan seringai puas mendapati gadisnya gagal dalam usahanya untuk tampak marah dan tersinggung.


“It’s quite romantic, don’t you think so? With me staying on the lake,” si pemuda berbisik rendah, menjawil ringan dagu mungil Liga, mengelus bibirnya yang terpoles lipstik merah menyala, semerah gaunnya. Menunduk, menyesapnya, lamat-lamat, menikmati setiap detik yang berlalu, mereguk setiap tetes manis yang terasa, merengkuhnya dengan hati-hati.


Liga merasakan permukaan tembok batu menekan punggungnya, tuxedo yang hanya tersampir di bahunya bergeser. Dia tak peduli. Dia tidak sedang dalam situasi untuk peduli. Sepasang hak tinggi merah satin terjatuh, disusul bunyi halus tuxedo yang ikut terpuruk, jemari yang sesaat lalu menggenggamnya kini saling mencengkeram, saling menekan, menari-nari, kedua lengan ramping melingkar erat. Ada helaan napas berat yang tertahan, naik-turun, kehilangan irama. Jemari yang bertualang, membelai liar, bibir yang saling berpagutan, hembusan panas di telinga, sentuhan penuh gairah di leher, Liga merasa kakinya selembek jeli, lantai di bawahnya sehampa awan, seluruh permukaan kulitnya tersengat menyenangkan.


Keduanya hanyalah remaja tujuh belas tahun, Sayang. Remaja tujuh belas tahun normal, yang dengan mudah tenggelam dalam kebahagiaan-kebahagiaan sederhana yang tercipta dan terasa pada saat ini.


“So when will you invite me in?” Andrew berbisik berat di sela-sela, kembali membuat darahnya berdesir. Seraut senyum tertarik, tampak penuh sesal.


“I can’t,” Liga balas berbisik, sesaat terkesiap, pemuda itu belum berhenti, hidung mereka masih saling bersentuhan, pun jemarinya, masih tenggelam diantara helai-helai ikal kecoklatan sang pemuda. “Bahkan anak asrama lain juga tak seharusnya masuk, apalagi kau?”


“Huh. Being a good girl, eh?”


Dia tertawa kecil. “Besides, you can’t enter my room. It’s enchanted,”


Pemuda itu menggerung. “With your curfew and everything, Hogwarts-mu betulan cupu deh.”


“Lebih cupu mana dengan cowok yang mengencani cewek murid sekolah cupu?


“…Woi.”


Nah, nah. Dia menang, bukan begitu? Jadi bolehkah kita terkekeh puas sekarang? Sudah, dari tadi, andai saja Andrew tidak sibuk membuat napasnya terasa terputus-putus, atau beberapa kali terkesiap ketika sesuatu menyengat lehernya, atau membuatnya sibuk mempertimbangkan ajakan Andrew sebelumnya untuk—erm—well—menginap di kabinnya.


Dan ya, Liga tahu apa yang akan terjadi, seandainya itu terwujud.


“Andrew, I—“ terputus pagutan lain, “—really—“ sengalan napas, “have—to—“ terengah pelan, “go back—“


“Mmm-hmm,” si pemuda melenguh, tampak jelas hanya bersuara ala-kadarnya tanpa mempertimbangkan apa maksud dari lenguhannya, atau setidaknya, terlalu sibuk untuk memperhatikan kata-kata Liga.


“Andrew!”


Satu desahan berat, panjang, penuh sesal. Hangat tubuhnya menjauh, ogah-ogahan melepas kontak, masih berkeras melingkari pinggang ramping si gadis, tergelitik organza yang berlipat-lipat, sebelah lengannya mengelus lembut pipi sehalus kaca. Liga mengelus lengannya pelan, iris kelabunya menatap nanar, jemarinya merunut keliman kemeja si pemuda, menggigit bibir sendu.


Kau sudah tahu kenapa. Keduanya tak ingin berpisah.


“Besok sarapan bareng?”


“Eight?”


“Nine.”


“Fine,” si gadis terkekeh kecil, geli dengan kecupan di ujung hidungnya. Kembali, Liga merasakan hangat tubuhnya menjauh, ketika si pemuda menunduk, memunguti sepasang hak tinggi dan tuxedo yang sesaat lalu terabaikan begitu saja, mengulurkan sepatu merah satin padanya, kembali menyampirkan tuxedo-nya di bahu Liga.


“See you around,”


“See you around,” Liga berbisik, membalas kecupan lembut salam perpisahan, yang diakhiri tepukan kecil di puncak kepalanya.


“Sana masuk, atau sedetik lagi kuculik kau ke kabin,” kekeh Andrew, matanya berkilat jahil, meski tak tampak usaha apapun untuk merealisasikan ucapannya, melenggang pergi, tangannya tenggelam di dalam saku. Hak tingginya dia genggam dengan kedua tangan, bersandar pada tembok, memperhatikan punggung tegap itu semakin menjauh, dan menjauh…


Lalu menghilang di belokan.


Liga Gerhild, tujuh belas tahun. Baru saja berpikir, mungkin kebahagiaan tidak menuntut kompleksitas teori penuh kriteria yang dulu disusunnya.


—o0o—


“Nah! Tuh kan, sudah pulang—wait. YOU WEAR HIS SUIT?!”


Matanya membulat terkejut. Mengingat dia dan Andrew termasuk yang paling terakhir meninggalkan Aula Besar (ditambah sedikit ’mampir’ di sini dan di sana—well,) dan kegiatan ‘ekstra’ di depan dinding yang menjadi pintu masuk asrama Slytherin, Liga mengira hanya tinggal tumpukan abu dan bara berkelip hampir padam di perapian, ditambah kursi-kursi dan meja membisu yang menyambutnya.


Sama sekali tak menyangka akan ada bonus berupa sesosok berambut merah menyala, masih dalam balutan gaun strapless hitam organza berhias tatahan sequin emas, tengah bersandar pada punggung sofa yang membelakangi mereka, berkacak pinggang dengan ekspresi terkejut terpeta jelas. Seolah masih kurang, sesosok pirang yang rambut riap-riapannya tak ada lagi yang punya, duduk di atas punggung sofa, tengah mengerang kesal, meninju sofa berkulit sewarna zaitun matang tanpa tedeng aling-aling, namun kelipan jenaka dan seringai jumawa segera menggantikan.


Nah. Ini, satu bentuk kejutan yang tidak dia sangka-sangka.


“Ngapain kalian?” Tentu, dia heran. Untuk apa Orange Muscat dan Nigel White menungguinya pulang dengan setia, mungkin sambil terbengong-bengong bosan menanti menit-menit berlalu? Dia sebelumnya memperkirakan Orange sudah di dalam kamar mereka, mengganti gaunnya, mungkin tengah bergosip dulu dengan Kerry, Cannelle dan Eloise mengenai yang masing-masing mereka alami di Ball tadi. Mungkin saat Liga masuk, Orange baru saja terlelap, tapi segera meloncat bangun karena suara pintu terbuka, lalu memberondongnya dengan sejuta pertanyaan, kemudian memekik tertahan (agar tidak membangunkan Kerry, Cannelle dan Eloise) atau berdecak di setiap detail yang menurutnya perlu.


Sedangkan Nigel, well, kau tahu dia seperti apa. Setelah mengibas-ngibaskan tangannya seolah mengusir mereka keluar dari Ruang Rekreasi sebelum Ball tadi sambil nyengir menyebalkan, berkata dia lebih memilih berkencan dengan bantal daripada ribet memakai jubah pesta dan berputar-putar bagai orang tolol, paling-paling Nigel hanya akan mencegatnya besok, lalu mengorek-ngorek apa saja yang terjadi antara dirinya dan Andrew dengan tampang jumawa-nya yang minta disumpal cacing Flobber, berhenti menggodai dirinya cupu karena masih belum tersentuh, namun berganti dengan berbagai seruan-seruan norak bila mendapati dirinya tengah bersama Andrew.


Tapi, Liga tak pernah menduga keduanya akan dengan kompak menungguinya begini. Sekejap Liga jadi merasa seperti seorang anak tunggal yang baru keluar berkencan pertama kali seumur hidupnya, dengan Nigel dan Orange menjadi sepasang orang tua yang ketat dan khawatiran.


Tunggu. Itu menggelikan.


“HE GAVE YOU HIS SUIT?!”


“WAH. Kalian ngapain saja tadi?”


“TUNGGU NIGEL! This doesn’t change anything! Aku tetap menang!”


“Woi!”


Tidak mengejutkan, keduanya mengabaikan pertanyaan heran Liga. Si pirang-pilon kembali bersungut-sungut dalam gerutuan tinggi-rendah yang Liga tak bisa tangkap kata-katanya, namun kini berbalik, memungut kantung kulit yang tampak berat, disambar Nona Anggur yang masih mendelik curiga. Mata Liga semakin membesar, tiba-tiba sadar apa yang terjadi.


“Tunggu tunggu. Apa-apaan sih? Kalian taruhan?” masih menenteng-nenteng hak tingginya, Liga berjalan mendekati keduanya, berkacak pinggang. Baiklah, tingkat godaan keduanya saat tahu Liga tercantol seorang pemuda Durmstrang (dalam hal ini, Orange lebih kepada mengomel panjang lebar, serta mewanti-wantinya setelah berhasil mendesak Liga menceritakan setiap detil percakapan antara dirinya dengan Andrew saat di kelas Ramuan) meningkat drastis, namun tetap saja, Liga tak mengira akan sampai pada tahap taruhan seperti ini.


“Heh!”


FYI, Liga masihlah seorang Liga yang dulu. Dia tak suka bila diabaikan.


“Nigel yang mulai,” melengos, kembali duduk dengan hati-hati agar gaunnya tidak terlipat di tempat yang salah, akhirnya Orange membuka mulut. “Dia mencegatku waktu aku baru pulang, mendadak bertanya kenapa tidak pulang denganmu. Ya kubilang saja kau lagi lupa dunia di pelukan Andrew-jerk-VanWyck itu. Terus ngajak taruhan tolol,”


Seperti kali-kali sebelumnya, selalu ada nada sebal yang terselip bila Orange harus mengucapkan nama Andrew, yang Liga abaikan seperti biasa (cukup sekali saja mereka berdebat hebat tentang satu makhluk adam ini, saat Orange mengaku dia baru saja melabrak Andrew karena menurutnya pemuda brengsek macam Andrew tidak pantas untuk Liga), hanya memusatkan perhatian pada kata-katanya yang lain. Mengerutkan kening, dia ganti menatap tajam Nigel, meminta penjelasan.


Tolol, tapi kau senang-senang saja bisa menang, kan?” pemuda itu mendengus malas, dengan luar biasanya tidak lagi tampak kesal dan mengumpat-umpat, padahal Liga yakin jumlah kepingan Galleon dalam kantung kulit di genggaman Orange itu tidak sedikit. Lagi, dia merasa tersentil oleh kenyataan.


Dasar orang kaya.


“Oh, come on!” dia berseru, menghentakkan kakinya kesal, sama sekali tidak sempat mengkhawatirkan apakah ada yang akan terbangun karena keramaian yang mereka buat atau tidak. “Taruhan apa? Jangan bilang kalian taruhan soal aku bakalan pulang malam ini atau tidak,” dia menggulirkan matanya malas, meletakkan hak tingginya di samping sofa sebelum ikut duduk di petak kosong sebelah kanan Orange.


Hening.



Bull’s eye?



Oh ya Merlin bunting.


Dia membelalak ngeri.


“Demi apa—“ speechless— “kalian betulan taruhan soal itu? Soal ITU?!


Bunda Maria. Teman macam apa mereka berdua ini? Dia menuntut penjelasan sesegera mungkin pokoknya.


“Hei, sudah kubilang Nigel yang mulai, oke?” Orange menegaskan, meski tampak sedikit kegelisahan di sorot matanya, sangat jelas sengaja menghindari tatapan Liga. “And I said no the hell way you’ll ditch the curfew and sneak out with that—bast—“


“Andrew,” Liga membetulkan, otomatis saja, sedikit lega Orange bertaruh dirinya akan pulang meski jelas sekali untuk alasan yang sama sekali berbeda antara keduanya. Tapi ini bukan waktunya untuk membahas itu, no? Ada hal lain yang lebih penting. Menusuk Nigel dengan garpu besi penyodok kayu bakar dan memanggangnya di atas perapian, misalnya.


“Dan kenapa kau malah bikin taruhan tolol macam itu, heh? Bukannya tadi kau sudah pamitan mau pacaran dengan bantal tersayang?” Liga memutar tubuhnya menghadap dua oknum yang Liga tak percaya malah saling berbagi kemoronan, kedua tangannya terlipat di dada, bibirnya menipis.


“Bosan tidur. Dan Pavlov berisik,”


Liga mengangkat alis. Sayangnya, saat itu tidak terdengar lagi dengkingan-dengkingan memelas samar dari arah kamar anak laki-laki meski sudah sesunyi gurun (bila mengabaikan seruan-seruan hebat mereka bertiga, tentu saja), mana Liga percaya Nigel tidak sengaja bangun untuk menagih laporan (dan kemungkinan besar menyetok ulang bahan-bahan godaannya)? Lama-lama bocah itu jadi mirip Auel dengan telinganya yang peka pada semua jenis kisikan.


“Oh, please,” dia mengerang frustasi, kedua tangannya terangkat pasrah, “kalian benar-benar berpikir aku bakalan menyelinap ke kabin Andrew dan baru pulang besok pagi? Aku tidak semoron Fawcett dan Stebbins, for heaven’s sake. Snape tak akan membiarkanku hidup kalau tahu aku tidak pulang ke asrama!”


Liga menyembunyikan fakta, kalau beberapa puluh menit lalu, dia serius menimbang-nimbang ide gila itu. Andai saja dia tidak ingat gaunnya berwarna merah menyala yang akan langsung terlihat dari jarak lima puluh meter itu, tanpa tambahan mantel apapun sementara cuaca di luar sama sekali tidak ramah untuknya yang hanya memakai gaun strapless, juga tidak rela gaun empat ribu poundsterling-nya jadi kotor dan rusak terseret-seret di atas salju, mungkin sekarang dia tengah bergelung di atas tempat tidur Andrew, hangat di bawah selimut tebalnya, aman dalam dekapan kedua lengan kokohnya, gaunnya terhampar di atas lantai, bertumpuk dengan tuxedo, vest dan kemeja si pemuda yang terserak kusut—


well.


Tidak. Tampaknya, dia belum siap.


“Kau tidak seru,” Nigel mendengus, matanya bergulir bosan, terhenyak dalam posisi seenaknya, menaikkan sebelah kaki ke atas sofa. “Sebenarnya, kalian berdua sudah sampai mana, sih? Jangan-jangan—“ matanya, yang sewarna dengan mata Liga, membulat tiba-tiba, hingga Liga diserbu berbagai perasaan tak enak—Nigel pasti, lagi-lagi, mengambil konklusi paling kasar yang bisa manusia ciptakan, “—jas itu cuma basa-basi doang, eh? Kalian masih belum masuk second base, ya?”


tuh kan. Dasar pirang bego.


“HEH!”


“NIGEL!”


Bukan hanya Liga yang berteriak, ternyata. Orange yang lebih dekat, lebih cepat memukulkan bantal sofa ke kepala si pirang snobbish. Meski, kembali Liga sadar, untuk alasan yang sama sekali berbeda.


“Lipstik-mu masih sama, jangan-jangan kalian sama sekali tidak berciuman,”


Nigel yang langsung menyerah, sama saja seperti pertanda kalau dunia sudah akan berakhir.


Long-lasting lipstick, d’oh. Daripada menggosipkan diriku, kenapa kau tidak tanya-tanya Orange saja,ball-nya tadi bagaimana?” alisnya terangkat penuh arti, melirik redhead di sampingnya dengan kilatan mata hampir senada kilatan Nigel saat tadi pemuda itu menggodanya. Gadis itu gerak cepat. Dia langsung mengirimkan delik peringatan padanya.


“Nah! Memangnya Orange kenapa tadi? Kudesak terus sambil menunggumu, dia tetap serapat kerang. Sebegitu buruknya ya, ditinggal Arha-apalah itu namanya,” beberapa hari sebelumnya, Orange yang berwajah kusut di tepi tempat tidur berkata parau kalau Arhanovich, yang sejak hari pengumuman diadakannya Yule Ball telah langsung meminta Orange, mendadak membatalkan semuanya.


Berpuluh-puluh menit berlalu tanpa ada kata tertukar diantara dia dan Orange, kecuali tangis diam gadis itu di pelukannya. Mengesampingkan fakta serumit apa hubungan gadis itu dengan si bocah junior, Liga paham ini benar-benar guncangan untuknya. Dia dan Liga sudah mempersiapkan semuanya semenjak jauh, bahkan jauh sebelum keduanya tahu persisnya acara apa yang akan diadakan di Hogwarts. Dengan hanya berbekal sepotong informasi yang tertulis di surat kenaikan kelas mereka kalau mereka harus membawa jubah-pesta di tahun ini, Liga dan Orange benar-benar habis-habisan. All-out. Semua sesi belanja mereka di Oxford Street hanya dihabiskan untuk mencari gaun, sepatu, perhiasan, bahkan sampai ke parfum apa yang bakal mereka pakai.


Andai Liga tidak memaksanya pergi, mengingatkan fakta kalau gaun Oscar De La Renta-nya juga sama-sama tidak murah (iya, mereka akhirnya membeli gaun dari desainer yang sama) dan akan sangat disayangkan bila Orange kehilangan kesempatan memakainya, mungkin alih-alih tidur, Nigel bakalan tenggelam di sofa depan perapian berdua dengan Orange, mungkin bergosip, mungkin sambil minum cokelat panas dan membakar marshmallow. Untungnya, dia mengangguk, pasrah saja Liga mendandani dan menata rambutnya.


Nu-uh, lupakan si berondong. Orange got herself her own prince, didn’t you, Orange?” mendendangkannya, sengaja ingin mengompori si Nona Anggur.


“Stop right there, Liga,”


Tentu saja, bukan Liga kalau langsung menurut dan terdiam. Tidak, bahkan dengan Orange berusaha membekap mulutnya.


“Ooh, bukannya itu benar-benar menakjubkan, ya? Aku ingat kok, Prince Auel melihatmu merana sendirian di sudut, lalu mengajakmu berdansa, lalu wajahmu sampai memerah begitu, senyum-senyum seperti angsa baru melihat bulan—“


“I said shut up!”


“—Nah. Sekarang siapa ya yang merasa dunia cuma milik berdua?”


“LIGA!”


Kini sasaran serangan bantal Orange berpindah—Liga refleks loncat, menghindari pukulan membabi buta gadis itu, sementara Nigel tergelak hebat. Menakjubkan tak ada anak lain yang terbangun lalu menyemprot mereka bertiga habis-habisan dengan tuduhan mengganggu ketenangan umum.


“Ayolah, Orange. Aku senang kau tidak harus memasang awan mendung pribadi, betulan!”


Liga tak mengira wajah Orange bisa semerah rambutnya. Ternyata, bisa.


“It’s Nadav, okay? Nadav Arhanovich. And I’m going to sleep,” berbalik tanpa mengindahkan tatapan Liga dan Nigel lagi, Orange menunduk, bergumam rendah, melangkah tergesa-gesa menuju kamar anak perempuan. Liga melepas kikikan kecil saat didengarnya pintu dibanting menutup, kembali menyamankan diri di sofa panjang, kini hanya berdua dengan Nigel.


“Kau sadar kan, kalau Orange cemburu pada Andrew-mu itu?”


Tahu, kok,” satu senyum puas terkembang, kedua iris kelabunya masih memandangi selasar menuju kamar anak perempuan, tempat di mana beberapa detik lalu, ekor gaun hitam Orange menghilang di balik pintu.


“She’s cute when she pouts and scowls,”


Nigel menggulirkan matanya lagi. “Girls,”


“Tidur, sana,” tambahnya. “Jangan salahkan aku kalau besok kau bangun terlambat untuk kencan-sarapanmu,”


“Hah?” untuk yang ini, Liga benar-benar murni terkejut, dengan rahang sedikit terbuka, membuatnya tampak lebih moron dari Nigel. “KOK TAHU?!”


“Kau itu terkadang memang gampang ditebak deh, Liga.”


“….Sial.”


Liga membiarkan si-pirang-bego berlalu dengan cengiran snobbish-nya yang jumawa dan luar biasa puas. Tapi kalau kau bertanya lagi, itu hanya karena Pour La Victoire-nya terlalu mahal untuk dipakai menimpuk kepala.



TO BE CONTINUED

0 comments: