Dengan shoulder bag tersampir di bahu, dalam balutan terusan berbahan denim lembut yang jatuh di atas lututnya, paspor bersampul burgundy tergenggam di tangan, langkahnya yang terbalut ankle boots kini meringan setelah kopernya selesai dengan urusan check-in bagasi, kembali ke area pengantar, kembali menemui dia, yang mengundangnya kemari, yang masih sabar menunggunya meski Liga menghabiskan setengah jam lebih mengantri di check-in gate. Dia mengangguk, duduk di petak kosong bangku aluminum panjang di sebelah si pemuda.
“Boarding time satu setengah jam lagi,” dia menambahkan, menyelusup dalam dekapan Andrew, seolah lupa kalau sepanjang hari, entah sudah berapa kali Liga mengulang-ulang menyebutkan jam penerbangannya, sulit meyakinkan Andrew kalau dia harus ada di bandara setidaknya dua jam sebelum keberangkatan. Positif, pemuda itu Pureblood bangkot, tak pernah merepotkan diri naik pesawat Muggle.
“Repotnya. Pakai Portkey, kau sudah sampai dari tadi,”
Tuh, kan.
“Ergh. No, thanks,” Liga bergidik. “Kalau ada satu hal yang tidak kusuka dari penyihir, itu cara transportasinya. Apparate dan Floo sih masih mending. Portkey? Tidak deh,”
“Maksudku, kalau pakai Portkey, kita masih punya waktu lebih lama sebelum kau pulang,” berdecak, Andrew menyentil ujung hidung gadisnya pelan. Memainkan helai-helai keemasan yang terurai. Dalam hening, Liga membenarkan, dengan sedikit sesal. Setiap detik berlalu, perpisahan terasa semakin berat. Selalu, dan selalu, hal yang sama yang ia rasakan setiap kali tengah bersamanya, keinginan bersama untuk menghentikan lengan-lengan waktu. Menyenderkan kepala, Liga bisa merasakan dadanya naik-turun seiring helaan napasnya, dagu yang bertumpu di puncak kepalanya, detak jantung yang terasa menggema di telinganya, sentuhan lembut jemarinya yang tengah memainkan helai-helai keemasannya…
Kenapa bersama pemuda itu selalu bisa membuatnya merasa damai?
“September nanti kau balik sekolah cupu itu lagi, ya?”
Seperti biasa, Liga tak pernah ingin jadi yang memecahkan hening. Masih belum berubah dari posisinya, dia mengangguk pelan. Tak ingin lepas dari kedamaian yang ia rasakan.
“Satu tahun lagi, terima kasih Merlin,”
Andrew terkekeh puas. Sekecil apapun kastil Durmstrang, baginya sistem edukasi Durmstrang tetap nomor satu. Pemuda itu menikmati saat-saat mencari kelemahan dari apa yang dijalankan Hogwarts. Untuk satu dan lain hal, Liga terpaksa setuju dengannya.
“Terus, apa rencanamu habis ini? Kau sudah lulus, kan?” Liga balik bertanya.
“Hmm… Entahlah,” Andrew tampak menerawang, menimbang-nimbang. “Mungkin beli flat di Moscow, keliling dunia, senang-senang dulu sampai mampus. Yaah, gampang lah,”
Entah kenapa, Liga bisa menebak pemuda itu akan menjawab seperti apa. Bukan Andrew namanya kalau tidak melakukan sesuatu semaunya, kan? Karena Andrew yang bebas seperti angin, Andrew yang memiliki standarnya sendiri, Andrew yang seperti itulah yang selama ini bersamanya, yang memberinya berjuta ekor kupu-kupu di dalam perutnya, yang membuatnya seperti berjalan di atas awan.
Itu, membawanya pada satu kesadaran lain, yang entah kenapa menusuk ulu hatinya. Bahwa membuat pemuda itu terikat, sama sekali bukan pilihan yang pantas untuk dia lakukan. Andrew bukanlah Andrew tanpa kebebasannya. Pun Liga tahu, dirinya terlalu berharga untuk membuang segalanya, dan memulai hidup dalam bayang-bayang Andrew. Dia perlu memiliki rencana masa depan. Dia perlu mencapai puncak aktualisasi diri, sebelum bisa berpuas dengan hidupnya.
“And maybe, visiting you during winter?”
Seraut senyum, bahagia, tulus, merekah perlahan di wajahnya. Apa ini juga bisa dibilang sebagai satu bentuk kebahagiaan, meski tampak sederhana?
“Betulan?”
“Why not? Musim dingin di Inggris lumayan hangat dibandingkan di sini. Aku ketagihan,”
Pemuda itu mengakhirinya dengan kekeh kecil. Namun, Liga tak tertawa bersamanya.
“Hey, Andrew…” Ini harus dikatakan, cepat atau lambat, bukan? Liga mendongak, mencari-cari sepasang iris hijau itu, menatapnya lekat. Ekspresi serius di wajahnya menguapkan cengiran si pemuda.
“Thank you. For giving me all those great memories. For always making me happy. For everything.” Terhenti sesaat. Liga berusaha menyusun kata-kata selanjutnya. Menyadari, ucapannya barusan memberi kejutan kecil pada si pemuda.
“Hei. Ada apa denganmu? Kok mendadak jadi formal begini?”
“Dengar dulu,” Liga tersenyum kecil, satu respon yang juga sebagai usaha untuk membuatnya tetap fokus pada apa yang ingin dia katakan. Dia tak ingin ada salah paham. Pun, dia tak ingin setelah ini, ada satu diantara mereka yang merasa terpaksa.
“But… I don’t want if all of this, forcing you into making promises that you’re not sure you can keep,” lekat, Liga menatap sepasang iris hijaunya, tulus. Berusaha membuat pemuda itu mengerti apa yang ingin dia katakan. “Semua waktu di Hogwarts dulu, aku tahu itu apa.”
Dia sepenuhnya sadar, awal kebersamaan mereka dulu itu, semata hanyalah karena maksud lain untuk saling diuntungkan. Liga memerlukan pasangan untuk Yule Ball, Andrew memerlukan—well—sesuatu untuk mengalihkan kebosanannya di Hogwarts. Seseorang yang bisa dia ajak bersenang-senang. Yes,it’s just a short fling, she realized that. Although, one year seems too long for just a fling.
“Aku tak akan memaksamu melakukan apa yang tak ingin kau lakukan. Jalani hidupmu, bersenang-senanglah seperti rencanamu, dan aku juga akan menjalani hidupku.”
Merlin, kenapa tenggorokannya tiba-tiba tercekat begini?
“But, well, if there’re chances for us to meet again, somewhere in the future, you’re still welcomed. Always. It will never change,”
Karena baginya, seperti apapun masa depannya nanti, Liga tak menemukan celah dimana dia tak bisa menerima Andrew lagi. Tapi, apa yang dia tahu tentang masa depan, lagipula? Mungkin pemuda ini seperti angin, datang dan pergi. Mungkin juga semuanya benar-benar akan berakhir di sini.
Apa yang sudah terucap, tak boleh ada penyesalan, kan? Ini keputusannya. Dia harus menerima segalanya.
Menakjubkan, pemuda itu mendengarkan segalanya, tanpa memberi selaan, tanpa memotong atau membantah. Sepasang mata hijau itu hanya menatapnya, intens, dalam, dan masih menatapnya. Bahkan ketika Liga telah selesai dengan apa yang harus dia katakan, dia masih menatapnya. Lembut. Seperti selama ini Andrew memperlakukannya dengan hati-hati dan penuh hormat seolah dia adalah mahkota ratu pertama suku Maya yang baru tergali, seperti itulah pemuda itu menatapnya. Mengelus lembut pipinya.
Menciumnya, dalam. Lekat. Lamat-lamat.
“Sure. But there’s one thing you should know,” pemuda itu berbisik, memegang lembut dagunya, masih menatapnya lekat. “For me, you’re one of a kind. So, well, do expect me to pop out every now and then somewhere in the future,”
Mengejutkan, karena ternyata, satu kalimat itu saja sudah cukup baginya. Tersenyum tulus, kedua pipinya memerah, Liga menunduk, meremas genggaman tangan Andrew.
Bolehkah dia berkata, Andrew-nya?
“I should go now,” dia berdiri. Tak ada lagi yang harus dia ucapkan. Semuanya sudah cukup. Lagi, sesuatu yang mengejutkan, karena Liga puas dengan satu kebahagiaan kecil ini. Seumur hidup, dia tak akan melupakannya.
Sudahkah dia bilang, dia dan Andrew-nya, sama-sama membenci perpisahan?
“See you when I see you,”
Maka itulah yang terucap, alih-alih 'selamat tinggal.' Diiringi satu kecupan di bibirnya. Satu kecupan terakhir.
—o0o—
Liga Gerhild, kini sembilan belas tahun. Apa kabar hidupnya, setelah Juni lalu dia lulus dari Hogwarts? Semuanya baik, yeah. Beberapa minggu setelah lulus, surat Orange mendatanginya, bercerita betapa dia sudah jenuh tinggal di kastilnya di Edinburgh, ditambah satu kabar baik mengenai pekerjaan barunya di Departemen Kerja Sama Sihir Internasional, kemudian Liga memberitahunya kalau aplikasinya ke Sekolah Farmasi Universitas London diterima, yang berakhir dengan kesepakatan mereka untuk tinggal bersama. Apartemen di sudut kota London yang tenang dan asri menjadi pilihan, setelah berminggu-minggu mencari. Orange tak suka tempat yang terlalu ramai, katanya.
“Le Meridien, Ritz, atau Royal Garden?”
“Huh?”
“Birthday dinner, d’oh. Jangan bilang kau lupa besok tanggal dua belas. Jadi, mau dimana?”
Itu percakapannya semalam dengan Orange, di sela-sela sesi perawatan tubuh rutin bersama. Sedikit selorohnya tercetus, mempertanyakan kenapa tiba-tiba saja Orange mengajaknya makan malam di restoran hotel berbintang lima, dibalas dengan kata-kata ketus tentang dia yang sesekali ingin memberi Liga sesuatu yang spesial untuk ulang tahunnya yang ke-sembilan belas, diiringi wajah yang lagi-lagi semerah rambutnya. Liga tertawa, sambil memaskeri rambut Orange, memilih Ritz saja, karena sebelumnya Orange ingin makan makanan Perancis namun belum sempat terwujud. Orange jelas-jelas menghindari arah matanya, tertunduk dengan wajah yang lebih merah, bergumam mereka akan bertemu setelah jam kantornya selesai besok di Oxford Street untuk berbelanja sedikit sebelumnya.
Jadi, di sinilah ia, di antara manekin dan lusinan baju tergantung dan rak-rak display Debenhams, dua jam sebelum waktu yang ia janjikan bersama Orange, mencari hadiah Natal untuk si Nona Anggur. Sengaja ia pergi lebih awal, menghabiskan waktu mencari dengan tenang, mungkin mengambilnya nanti di lain hari bila menemukan sesuatu yang cocok.
Dia tengah memilih blus dari gantungan di depan cermin besar, ketika sesuatu membuatnya membeku seketika, darahnya terkesiap, jantungnya mendadak berpacu dua kali lebih cepat. Seseorang, yang sedetik lalu tak ada di sana, tengah berdiri, dengan cengiran khas-nya, balik menatap Liga dari cermin. Seseorang, yang amat tidak Liga sangka akan dia temui secara random di antara jajaran blus wanita dan cardigan, pukul tiga di sore hari dua belas Desember. Dia berbalik seketika. Masih merasa ini mimpi. Masih merasa ini permainan bayangan cermin.
Tidak, ini bukan mimpi. Pemuda itu masih di sana, dua meter darinya. Masih sama seperti terakhir mereka bertemu, tampak lebih tinggi beberapa senti, dengan bahu yang lebih tegap, lebih ramping namun lebih kekar, rambutnya yang halus ikal kecoklatan lebih pendek dan rapi, tangan kirinya di dalam saku, tangan kanannya memanggul buket mawar merah di bahu dengan kasual. Masih dengan cengirannya yang dulu. Masih dengan kilau jenakanya yang dulu.
“Yo, Liga. Happy Birthday.”
“Andrew!”
Dua orang pramuniaga Debenhams seksi pakaian wanita, tersenyum penuh arti menikmati pelanggannya berlari, meloncat ke pangkuan si pemuda, berciuman dalam, melepas rindu, penuh gairah.
—o0o—
”Kau jadi lembek sama cowok, ya?”
“Yah, bagaimana dong? Nyatanya aku gampang luluh dengan kebahagiaan-kebahagiaan seorang perempuan. Can’t help it."
“Kebahagiaan seorang perempuan… Apaan?”
“Well, kau tahu. Saat kau rasanya tak bisa berhenti tersenyum sangat lebar dari telinga ke telinga. Saat seluruh darah rasanya mengumpul di kepalamu, membuatmu mati rasa, dan kepalamu mendadak terasa sangat ringan. Saat bagian bawah tubuhmu tiba-tiba terasa melumpuh. Saat jutaan kupu-kupu beterbangan di dalam perutmu. Saat kau merasa tengah melayang tiga puluh senti di atas lantai. Saat kau selalu ditemani pelangi pribadi, dengan hujan petal-petal bunga. Seperti itulah.”
“Whoa. Dan Andrew… membuatmu merasa begitu?”
“Yah… menurutmu?”
0 comments:
Post a Comment