Monday, September 05, 2011

Home

Jadi ceritanya kemaren gw mati gaya di pesawat dan di kereta, lupa bawa novel, jadilah gw membuat ini ==" Ini... entah mau dijadiin RP-fic atopun diterusin di-RP-in, gimana entar ajalah =')) Banyak pengulangan kata, tapi somehow gw ngerasa itu malah jadi style gw. Mungkin jadinya agak ngebosenin sih ya oTL yasudahlah, enjoy aja :3


---------------------------------------------------------------


Home


Gelap.

Iya, masih gelap.

Ada yang tengah mengerjap-ngerjapkan kelopak mata, setengah kesadarannya masih tertinggal di belakang. Sedikit bingung dengan keadaan gelap, namun kemudian matanya, yang gemerlap kelabu irisnya tak tampak dalam ketidakhadiran cahaya yang cukup, mulai menyesuaikan keadaan. Garis-garis siluet gelap terbentuk. Dia mengenali garis bentuk itu, yang tengah naik turun dengan teratur, yang tak bergerak hangat di sebelahnya, dengan kontur helai-helai yang lebih halus membayang. Jika dia memperhatikan lebih jauh lagi, suara napas halus dan beraturan bisa tertangkap.

Kemudian dia teringat mereka di mana. Seraut senyum, samar, lembut, tertarik di wajahnya, masih tampak seolah tak percaya, sepintas seperti tengah berkonklusi bahwa ini masihlah mimpi, bahwa ia tak ingin terbangun. Gelap mungkin membuatnya tak terlihat, namun sesaat wajahnya berseri bahagia. Tubuh polos mungilnya beringsut, perlahan, tak ingin mengganggu tidur damai sosok di sampingnya, hingga tengkurap, sebelah tangan terhimpit pipinya. Satu tangan ramping lainnya, menyembul keluar dari balik selimut tebal, terangkat, jari-jemari yang panjang dan lentik menari-nari, menyisiri ringan ikal-ikal halus itu, mengelusnya sayang, pemiliknya masih bernapas seteratur sebelumnya, tak terusik.

Mereka di sini. Di satu tempat, yang pada akhirnya bisa mereka berdua sebut sebagai rumah. Yang akhirnya bisa menjadi tempat untuk mereka pulang.

Twas fun, pencarian rumah. Tiring, but fun. Entah berapa kantor agen properti yang mereka datangi, sangat mungkin telah mereka buat pusing dan geram dengan permintaan muluk ini-itu mengenai kriteria rumah seperti apa yang mereka inginkan. Pada awalnya si gadis membayangkan sesuatu yang sederhana. Apartemen kecil dengan satu kamar berjendela besar dan terang, ruang tamu nyaman, dapur yang lega dan bersih, serta bathtub luas. Kemudian pemudanya menginginkan ruangan ekstra sebagai perpustakaan mini, membawa si gadis pada satu kesadaran kalau mereka sepertinya memerlukan ruang kerja mereka masing-masing, lalu berlanjut kepada mereka menginginkan ruangan ekstra lagi dan lagi untuk ini dan itu, memilih flat yang lebih besar, dan lebih besar, dan lebih besar lagi. Dia mengikik geli tanpa suara mengingat tatapan skeptis agen properti yang meragukan kemampuan finansial sepasang kekasih muda yang bahkan belum mencapai usia dua puluh saat mereka berkeliling melihat-lihat flat di Kensington dan sekitar Hyde Park, namun menguap begitu saja menjadi bungkukan hormat saat pemudanya memberi tip berlembar-lembar pounds seolah hanya tengah membeli permen.

Satu flat di Royal Crescent Notting Hill sempat membuat mereka jatuh hati, dengan kamar utamanya yang bundar, dengan conservatory yang beratap kaca, dengan play room yang terpisah, terutamanya dengan private garden yang luas, nyaman, rimbun, serta aman dari pandangan orang-orang luar. Sambil berbisik-bisik seru (agar tidak terdengar agen Muggle yang tengah menyabarkan diri menunggu pasangan yang terlalu excited itu selesai berkeliling) tentang bagaimana si pemuda bisa terbang dengan leluasa di garden baru mereka (tentunya dengan mantera-mantera pengaman tambahan--mereka tidak lupa dengan flat tetangga di lantai atas yang jendelanya mengarah ke taman mereka), tentang bagaimana mereka bisa memiliki game room sendiri dengan pool table dan mini bar, tentang bagaimana menyenangkannya homecoming dengan mengadakan barberque party di taman mereka yang luas. Si gadis bahkan sudah membayangkan ayunan seperti apa yang ingin dia pasang.

Mereka masih muda, ya. Muda dan muluk, dengan akses pada galleon yang hampir tak terbatas; setidaknya si pemuda. Mereka mengangankan ini dan itu, dengan angkuh sempat memilih flat besar mewah yang sebenarnya lebih pantas diisi keluarga beranak lima daripada pasangan muda labil, hanya karena memiliki walk-in closet yang luas dan kamar mandi nyaman. Pada akhirnya mereka sama-sama sadar, bahwa merawat flat sebesar itu tidaklah mudah.

Agen mereka (yang telah menyabarkan diri dengan luar biasa) pada akhirnya menawarkan tempat ini, yang menjadi pilihan terakhir mereka. Flat sederhana dengan hanya satu kamar. Ruang tamunya yang diisi sofa-sofa kecil dan rak buku menempel di dinding langsung membuat si pemuda berteriak kegirangan. Bagai anak kecil dilepas di taman bermain, mereka berlari-lari, tangan saling bergandeng, berayun-ayun manja, menunjuk jendela ruang tamunya yang besar, tungku dan oven kuno yang langsung membuat si pemuda (dengan kebangkotan Darah Murni-nya yang masih saja tercium pekat) cengar-cengir riang, berlari-lari mengitari tamannya yang besar dengan perdu di sana sini, tanaman rambat menutupi pagar temboknya yang tinggi, dengan jendela kamar yang langsung membuka ke taman...

Ini rumah. Satu kesadaran yang sama-sama menyelusupi keduanya begitu mereka menginjakkan kaki di apartemen ini.

Tubuh mungil itu beringsut lagi, kini mengangkat selimut, perlahan kaki-kakinya yang telanjang menjejak lantai panel kayu dingin, sedikit bergidik saat udara mencium tubuh polosnya dengan kulit sehalus susu, menarik jubah kamar satin dari kaitan, menyampirkannya di bahu. Masih mengendap-endap dalam keengganan menimbulkan suara sekecil apapun, lengan rampingnya menarik tirai tebal, menyibakkannya sedikit. Gerumbulan perdu pendek dan semak membentuk siluet di luar, sesekali bergerak halus tertiup angin subuh, bunyi keresaknya masih teredam jendela yang belum ia buka. Langit bersepuh nilam, ia tahu semburat lembayung telah menghias ufuk timur meski sedikit yang bisa terintip dari jendelanya yang menghadap barat ini, matahari akan menyingsing dalam hitungan menit, memulai putaran hari.

Dia berbalik, irisnya kembali lekat pada sesosok yang masih damai bergelung di bawah selimut tebal. Seraut senyum merekah, syahdu, berterima kasih dengan awal kehidupan baru mereka, yang pada akhirnya bisa disebut tenteram, sederhana dan bahagia.

Lebih baik dia mulai menyiapkan sarapan. Andrew selalu suka memulai pagi dengan aroma roti segar yang baru matang dari panggangan.

0 comments: