Ini udah gw tulis dari awal Januari kalo gak salah. Terus stuck, karena terlalu banyak alternative scene sama ending yang kepingin gw masukin tapi bakalan jadi terlalu panjang untuk sebuah cerpen. Baru sekarang dapet ide buat dilanjutin, meski---kayaknya nggak gitu oke juga sih lol. Yaudahlah. Sebagai consolation untuk diri sendiri karena draft cerpen yang udah jadi 70% kemarin ilang, nggak ke-save dan nggak ada di autorecovery system. oTL.
=====================================
Apple and Cinnamon
Hujan yang turun semalaman suntuk masih menyisakan hawa dinginnya, menggelayut dalam bentuk kabut tipis yang mengambang rendah. Matahari belumlah muncul sepenuhnya, larik-larik sinarnya masih belum cukup kuat untuk mengusir hawa dingin musim gugur yang menggigit tulang. Di cuaca seperti ini, satu-satunya hal yang terasa tepat untuk dilakukan adalah kembali bergelung nyaman di bawah selimut tebal yang hangat, mungkin meneruskan kembali kisah yang baru terjalin setengah jalan di alam bawah sadar, ataupun hanya sekedar mengulat-ngulat ria ditemani secangkir cokelat panas.
Sayangnya, angan-angan terkadang hanya berhasil merangkak pada tahapan angan-angan. Pemuda itu punya angan-angan, kurang lebih sama dengan yang disebutkan barusan. Belum lagi kedua kelopak matanya terasa seperti digelayuti sepasang monyet ababil yang secara konstan berusaha menjejali bola matanya dengan cabai jalapeno. Pendar spektrum dari LCD laptopnya makin lama makin mirip dengan Shanghai di malam hari, terasa membutakan.
Apa yang menunggunya dalam beberapa jam ke depan seperti terang-terangan melarangnya untuk terlelap. Kembali jemarinya memutar slide presentasi dalam gerakan otomatis macam robot, sesekali melirik tak bergairah pada catatan kecil yang tampak seperti sudah dibuka-buka ratusan kali.
Terdengar ketukan di pintu apartemen satu kamarnya ini.
“Jake, kau sudah bangun?” suara seorang gadis yang familier memanggil dalam volume normal. Namun, terima kasih pada apartemen 1K-nya yang hanya seluas sekitar 20 m2 (termasuk kamar mandi sempit dan dapur sederhana) dan berdinding agak tipis serta otaknya yang belum beristirahat selama lewat dari dua puluh empat jam, seruan gadis itu terdengar seperti berteriak tepat di telinganya.
“Hmmmh…” pemuda yang dipanggil Jake itu menjawab dalam gumaman serak rendah, terlalu kaku untuk berdiri sehingga merangkak menuju pintu untuk membuka selot dan kunci rantainya, mendapati seraut wajah yang dibingkai rambut tebal sewarna burgundy menyala, langsung menampakkan ekpresi khawatir bercampur gusar.
“Sudah kuduga, kau tidak tidur lagi, kan?” tanpa harus melihat apakah ada futon tergelar atau tidak, sang gadis sudah bisa menebak. Melepas sepatu di genkan, sebelah tangannya menjinjing kantung kanvas berukuran sedang yang sarat isi. Jake tak langsung menjawab, tergeletak dengan kaki menggantung di genkan, iris ambernya setengah tersembunyi.
“Seolah aku bisa tidur, Jude,” gumamnya parau. Alis gelap si gadis bertaut, iris sewarna aquamarine terpancang tajam, meneliti si pemuda seusianya yang tampak sekacau gelandangan penghuni terowongan bawah tanah Ginza. Takkan ada satupun yang mengira kalau dalam beberapa jam lagi, kalau Dewi Keberuntungan memberkati seorang Jake Lloyd, gelar Master of Science akan ditambahkan di belakang namanya.
Sebenarnya, itulah yang membuat seorang Jake Lloyd tak bisa terlelap dalam kurun waktu dua puluh empat jam ini.
“Presentasimu pukul sepuluh, kan?” melangkahi kaki Jake yang melintang di genkan, gadis itu meletakkan ransel dan jaketnya di lantai dekat dinding, serta tas jinjing kanvasnya sebelah kompor gas mini, berhati-hati agar tak menginjak tumpukan catatan dan buku terbuka yang berserakan. Aquamarine-nya melirik jam dinding yang tergantung di atas jendela balkon, jarumnya masih menunjukkan pukul tujuh. “Sana kau mandi dulu, kusiapkan kopi dan sarapan,” tambahnya. Hanya lenguhan pelan yang didapat Judith sebagai jawaban, pemuda itu masih sekaku onggokan tulang-dan-daging tanpa bergerak sesenti pun. Bola matanya berputar. Menyambar handuk yang tergantung di sisi lemari satu pintu, melemparkannya ke atas wajah si pemuda.
“Jake,” ulangnya lagi, berkacak pinggang, kali ini dengan nada lebih mendesak, helaian rambut pirang pendek si pemuda hampir menyentuh kakinya. “Mandi. Sekarang. Demi Tuhan, unta Mesir saja masih lebih wangi! Tanemura-san tak akan mau meluluskanmu kalau kau bau begini meski presentasimu sedahsyat Archimedes! Kau tidak mandi berapa minggu, sih?” omelan demi omelan beruntun keluar, aquamarine-nya melotot tajam. Mendapati si pemuda masih tak berkutik, gadis itu memutuskan menarik kedua lengan kokoh si pemuda, berusaha menyeretnya ke kamar mandi meski seorang gadis ramping menyeret pemuda yang hampir tampak dua kali besar dirinya itu terlihat konyol dan sia-sia.
“JAAAKE!”
“God, Judith… Jangan teriak-teriak…” keluhnya parau, meski tak urung dia beringsut bangun, setengah merangkak menuju pintu kamar mandi, sama sekali tak berusaha menarik handuk yang menutupi wajahnya, ditonton Judith yang menggeleng-gelengkan kepala.
“Kapan terakhir kau makan?” tanya meluncur dalam setengah seruan ke arah kamar mandi saat gadis itu membuka kulkas mini, alisnya kembali bertaut mendapati bungkusan makanan buatannya kemarin malam masih utuh dalam kotak plastik sekali-pakai. “Oh, lupakan, harusnya aku tak tanya,” gumamnya lebih pada dirinya sendiri, memotong teriakan jawaban Jake di antara suara percikan air.
Setengah diri Judith menyesal karena tidak datang sedikitnya dua kali sehari ke apartemen sahabatnya ini, kalau perlu menyuapinya untuk memastikan pemuda itu tetap mendapat asupan makanan. Jake yang tengah konsentrasi pada sesuatu terkadang melupakan kebutuhan-kebutuhan primernya sebagai manusia. Thesisnya sudah selesai sejak entah-kapan, Judith tahu persis. Juga, bukan sekali dua pemuda itu berlatih presentasi di depan Judith dan tiga kawan mereka, sampai pada tahapan mereka mampu mengulang kata-kata Jake dengan persis sama. Terkadang sesi simulasi itu berujung pada mereka berempat menahan diri untuk tidak melempar kepala Jake dengan buku Kamus Istilah Kedokteran milik Magdalena yang setebal bata karena Jake tak berhenti mendesak mereka memberinya pertanyaan yang diprediksi akan ditanyakan Tanemura-san, Profesor Penguji-nya.
Betapapun Judith ingin, datang lebih dari sekali sehari ke apartemen Jake tidaklah memungkinkan. Tumpukan paper di atas mejanya menunggu untuk diselesaikan, belum lagi jam-jam research panjang yang dia lewatkan di lab, dirinya tidak lupa makan saja sudah merupakan satu prestasi. Beruntung hari ini jadwalnya kosong seharian. Menarik napas panjang, dia membuang kotak makanan dari lemari pendingin ke dalam tempat sampah di bawah wastafel, mengeluarkan kotak lain dari tas tenteng kanvas-nya dan menghangatkan isinya di microwave, lalu menyalakan pemanas air dan mulai menyiapkan kopi.
Bunyi pancuran air berhenti, disusul Jake dengan boxer dan handuk melilit leher keluar beberapa menit kemudian, mendapati satu-satunya meja di ruangan kini dipenuhi dua cangkir kopi mengepul dan dua piring berisi apa yang biasa mereka makan di negeri asal mereka di akhir minggu: full course English Breakfast. Beberapa lembar toast, telur, bacon, sosis dan jamur goreng dengan kacang merah panggang, tak ketinggalan sebotol marmalade yang sudah terbuka, dan dua butir apel. Laptop dan tumpukan kertas serta bukunya dipindahkan secara rapi di atas lantai.
"Apel lagi, huh?"
"Hei, an apple a day—"
"—Keeps the doctor away. Mana mungkin aku lupa sloganmu itu," si pemuda tertawa singkat. “Aku lupa memberitahumu, cuma ada ramen instan tersisa di lemari,” sambungnya, sebuah senyum penuh terima kasih terkembang. Duduk melipat kaki dengan khidmat, Jake menyambar sarapannya, tampak selahap bocah Afrika penderita kwashiorkor saat mereka disodori makanan. “And not to be rude to this country, but I think I’m getting sick of instant noodle,”
“Ayolah Jake, kita ini bukan baru kenal kemarin sore, kau pikir aku masih akan mengandalkan persediaan makananmu?” menggulirkan bola matanya malas, meski tak urung mengakhirinya dengan senyum keibuan yang tak bisa disembunyikan. Sunyi mengambang saat keduanya menghabiskan isi piring. Tangan kiri Judith menopang dagunya di atas meja, menyuap sambil matanya tak lepas memperhatikan Jake yang tengah khusyuk mengisi energi, sesekali menghirup kopinya lamat-lamat, seolah ingin menikmati setiap tetesnya.
“Sana bersiap, biar kubereskan ini,” ujarnya memecah sunyi saat piring si pemuda tandas dalam hitungan menit, dibalas dengan anggukan pendek. Layaknya yang baru mendapat suntikan suplemen energi, sama sekali tak tampak jejak-jejak seseorang yang hampir mati kelaparan dalam diri Jake, yang melompat bangun dan menyambar kemeja yang telah tersetrika rapi sejak seminggu lalu lengkap dengan setelan celana dan dasi senada. Sangat Jake. Meski dia bekerja hingga lupa makan, mandi dan tidur, persiapan untuk segalanya telah siap sejak jauh-jauh hari, bahkan sampai acara memilih kaus kaki.
“Mau berangkat sekarang?” Judith kembali bersuara. Jake yang tengah membereskan ranselnya melirik jam dinding sekilas. Pukul delapan. Pemuda itu mengangguk singkat. Sebenarnya, jarak antara kampus mereka dengan apartemen Jake ini hanya sekitar lima belas menit perjalanan dengan sepeda.
“Kau ke kampus juga atau pulang?”
“Kampus. Junichi-san,” gadis itu mengerang pendek seolah nama Supervisor-nya itu mengandung racun mematikan, tak urung mengundang kekeh singkat si pemuda sebagai bentuk simpati. Judith hanya menimpali dengan dengusan sebal, menyibukkan diri berkutat membereskan kembali barang bawaannya.
“Anyway, Simon tadi mengirim email, dia berhasil dapat mobil untuk malam ini. Kau ikut, kan?”
Acara hang out bersama selalu rutin diadakan setiap bulan semenjak Judith dan keempat kawan sesama pelajar Eropa di negara itu saling berkenalan. Biasanya, karena mereka selalu menyewa mobil untuk alasan kepraktisan, kelimanya menggunakan kesempatan ini untuk juga berbelanja segala keperluan bulanan, dilanjutkan dengan antara berkeliling kota, atau mencari sebuah taman dimana mereka bisa menatap langit atau menikmati pemandangan lampu-lampu kota, atau mampir di pub, mereka selalu punya hal baru untuk dilakukan. Jake tak segera menjawab, seperti tengah berpikir keras.
“Ayolah, masa kau tidak ikut lagi,” Judith menghela napas. “Bulan lalu cuma aku dan Maggie, tahu,” bibirnya mengerucut, mengingat kembali bulan kemarin dimana Jake, Simon dan Riley kompakan berhalangan ikut. “Ujung-ujungnya jadi cuma nongkrong di apartemennya Maggie, nonton DVD sampai ketiduran.”
Pemuda itu kembali tertawa, kemudian menepuk puncak kepala Judith pelan seolah menghiburnya. “Iya iya aku ikut. Simon dan Riley juga ikut, kan?”
Wajah gadis itu seketika cerah.
“Yep,” dia mengangguk mantap. “Kumpul di tempat biasa, Simon akan menjemput kita.”
“Oke. Berangkat—WHOA!”
Ucapannya terpotong begitu saja ketika Jake membuka pintu, amber-nya melotot dengan ekspresi campuran antara kegirangan dan takjub, memandangi lantai persis di depan pintu masuk apartemennya. Sebuah kotak kue kecil tergeletak di sana, sebuah kartu terikat dengan pita di atasnya. Ujung bibir pemuda itu terangkat, tahu apa isi kotaknya bahkan sebelum ia membukanya. Tanpa ia sadari, sebagian kecil dirinya berharap hari ini pun bingkisan itu akan muncul.
“Kenapa?” Berjinjit untuk mengintip keluar dari balik bahu Jake, Judith ikut mengerling lantai penasaran, namun seketika mulutnya membulat mengerti begitu melihatnya. Bahkan, gadis itu sudah tidak asing lagi dengan bingkisan yang kini tengah Jake pungut. Pemuda itu menarik lepas pitanya, membaca kartunya yang samar-samar beraroma apel. Kata-kata penyemangat untuk presentasinya hari ini dalam bahasa Inggris, dicetak dengan printer, tanpa nama ataupun tanda tangan, seperti biasanya. Wangi kayu manis menguar begitu Jake membuka kotaknya, menampakkan tiga buah muffin yang masih hangat. Tersenyum lembut, dia kembali menutupnya, menentengnya dengan hati-hati. Kartunya ia masukkan ke dalam saku depan ransel.
“Aku kagum sama secret admirer-mu itu,” Judith berkomentar sembari mereka berjalan menuju parkiran sepeda. “Gigih sekali, ya? Dan selalu saja tahu hari-hari spesial untukmu. Penasaran dari mana dia tahu.”
Pemuda itu mengangguk setuju. “Sudah dari… sejak pertama kali aku di sini, lho,” ambernya menerawang, mengingat-ingat lagi. “Ulang tahun. Hari pertama semester baru. Hari pertama ujian. Hari terakhir ujian. Hari presentasi. Waktu aku terjebak di apartemen dua minggu karena kakiku patah dulu itu. Waktu gips-nya dibuka. Bahkan sampai ke hari pertama liburan segala, tak pernah gagal untuk muncul.”
“Wow,” gadis itu tertawa, mau tak mau ikut takjub. “Aku sampai tidak sadar sebanyak itu. Dan selalu muffin kayu manis?”
“Yep.”
Muffin kayu manis bukan sembarang muffin untuk seorang Jake Lloyd. Ada satu kenangan masa lalu, kenangan yang bahkan kini hanya bisa samar-samar dia ingat kembali, dengan detil-detil kecil sudah terlupakan, terkikis oleh waktu. Dia hanya ingat, saat itu dia merasakan muffin kayu manis hangat untuk pertama kali, dan bahwa itu terasa seperti makanan paling enak yang pernah ia rasakan seumur hidup. Sampai sekarang pemuda itu masih kecanduan dengan muffin kayu manis, yang selalu bisa membuatnya merasa jauh lebih baik kapanpun ia tengah murung atau bersedih.
“Kau tak tergelitik ingin tahu siapa yang mengirimnya, Jake?”
Hening sesaat, hanya ada suara ceklikan gembok yang terbuka, serta dencing-dencing rantai pengunci yang diulur.
“Entah kenapa, aku punya firasat kalau orang itu tahu aku berusaha mencari siapa identitasnya, dia akan menghilang sebelum aku berhasil,” akhirnya pemuda itu membuka mulut, mendorong sepedanya ke jalan. “Yah… kurasa aku sudah terlalu terbiasa mendapatkan bingkisan seperti ini di hari-hari tertentu, aku tak mau kehilangan. C’mon.”
Dua pasang pedal berputar, roda-rodanya berdecit menggulir di atas aspal. Sekali dua, beberapa orang yang mereka kenal diantara kerumunan pejalan kaki melambai, atau berteriak memanggil nama mereka, yang dibalas dengan dering bel yang berbunyi nyaring. Angin mempermainkan rambut pirangnya, menampar-nampar wajahnya yang memerah sehat. Senyum si pemuda terkembang lebar. Hari ini akan jadi hari yang baik, ia yakin itu.
Dia tak menyadari, gadis yang tengah mengayuh di sampingnya juga ikut tersenyum, samar, hangat. Memperhatikannya dalam tatapan sendu yang jauh, seolah pemuda itu berarti seluruh dunia untuknya. Anak-anak rambutnya melayang-layang, sebagian meloloskan diri dari kunciran ekor kudanya. Tanpa keduanya sadar, resleting tas ransel si gadis terbuka sedikit. Ujung pita yang berwarna sama dengan yang mengikat kotak kue di keranjang sepeda sang pemuda, menyembul keluar. Terjulur, melambai-lambai dipermainkan angin.
Kemudian diterbangkan, tersangkut di semak-semak tepi jalan.
0 comments:
Post a Comment