Wednesday, December 14, 2011

[……………………..]

Bahkan sampe sekarang gw masih bingung ini mau dijudulin apaan. Yak jadi intinya ini fic AndrewxLiga yang gw bikin buat Sapu dan Andrew. Ngga bisa dipajang di IH karena over-fluff [s]dan mentok rating banget-bangetan[/s] =')) Timeline waktu Desember 1996, beberapa bulan abis Liga lulus Hoggy. Enjoy. Dan jangan salahkan saya kalau yang baca jadi kepingin HAHAHAHAHA #disembur

=====================================


December 12th, 1996

Mulanya kau serasa mendengar tukang kayu tengah sengaja mengetuk-ngetukkan palunya tepat di sebelah telingamu. Kelopak matamu kau buka sedikit, sangat sedikit, kau hanya menangkap gundukan-gundukan berwarna putih dan krem dan moka berbayang bulu matamu, sebelum kemudian menutupnya lagi. Suara itu terdengar lagi, entah kenapa kali ini kau seperti melihat imaji dia tengah mengetuk-ngetukkan ujung selang karet ke pintu kaca yang tengah kaubersihkan, cengiran bandelnya yang khas penuh kepuasan terplester lebar, sementara kau sibuk mengomel tentang dia yang membuat usahamu membersihkan kaca jadi sia-sia, dan tentang dia yang seharusnya berkonsentrasi pada menyirami tanaman saja daripada mengganggumu, yang kemudian ia timpali dengan ocehan tentang kalian bisa meminta Peri Rumahnya saja untuk melakukan semua tugas bersih-bersih ini. kau teringat, itu sekeping dari ingatan beberapa bulan ke belakang, satu penghujung minggu di musim panas. Ketika kau dan dia tengah membenahi rumah kecil ini menjadi sarang baru, sarang kalian berdua.

Kenapa tiba-tiba kau teringat pada sepotong hari itu, kau sendiri pun tak mengerti. Suara mengetuk itu masih saja terdengar, kini kau mengernyitkan kening dan bergumam tidak jelas, tungkai-tungkaimu bergerak seolah berusaha mengusir apapun itu yang tengah bersuara, mulai merasa terganggu. Semakin keras, dan semakin intens. Pada akhirnya, kau buka juga kelopak matamu dengan berat hati, hidungmu masih setengah tenggelam dalam bantal bulu angsa bersarung putih. Lalu terdengar suara pintu terbuka, dan langkah-langkah berat yang berdecit di atas lantai kayu. Suara rel tirai yang disibak ditingkahi kelebat teredam kain tebal, ceklikan halus, suara rel digeser lagi. Hening sejenak, hanya ada keresak-keresak yang tidak bisa kautebak suara apa. Lalu kau membalikkan tubuhmu yang sebelumnya damai tengkurap, beringsut untuk bangun.

“Pagi.”

Hal pertama yang kaulihat adalah sosok tinggi besarnya, dengan rambut ikal halus yang masih luar biasa berantakan, kedua tangannya yang besar, yang tampak sekeras batu namun selalu merengkuhmu dengan lembut dan hati-hati, memegang nampan berkaki, yang kemudian ia turunkan, ia letakkan tepat di depanmu, memastikannya terletak stabil dan lurus, lalu duduk melipat kaki di sebelahmu. Kau melihat nampan besar itu penuh, dengan dua piring yang masing-masing berisi dua lembar roti panggang, sosis goreng, kacang panggang, dan omelet yang bentuknya tidak keruan. Semangkuk kecil kranberi, mangkuk lain berisi apel dan melon yang dipotong-potong asal, apelnya bahkan tidak dikupas dulu. Selai beri hitam dalam toples, yang baru saja kau buat kemarin. Teh hangat dalam dua gelas tinggi. Lalu dua set pisau dan garpu.

Dia terkekeh menanggapi dirimu hanya termangu memelototi isi nampan, tahu kau masih terkaget-kaget mendapati dia menyiapkan sarapan. Dia memasak, memasak! Kau merasa bahkan bintang jatuh saja muncul lebih sering daripada seorang Andrew dengan sukarela memasak. Kau ganti memandanginya dengan penuh tanya, matanya yang sehijau tunas pertama di musim semi berseri-seri riang.

“Happy birthday.”

Satu detik, dua detik, barulah kau sadar ini hari apa, tanggal berapa. Senyummu perlahan-lahan terkembang, sepolos gadis kecil yang tengah bermain-main di antara kupu-kupu, tulus dan berbahagia. Ia menciummu dengan lembut, seperti semua ciumannya sebelumnya, selalu terasa seolah kalian telah terpisah selama ribuan tahun, dia reguk lamat-lamat, sepuasnya, seperti menikmati anggur merah paling lezat yang pernah manusia buat, dikecap setetes demi setetes tanpa takut dikejar waktu.

“Thank you. Kamu sampai bikin sarapan segala,” begitu bisikmu di telinganya setelah bibir kalian berpisah, kedua tanganmu bergelayut dengan manja di lehernya, kau tersenyum seolah kedua ujung bibirmu telah diplester permanen di telinga, jemarinya mengelus pipimu sayang.

“Biar dong, kan aku pingin memanjakan pacar tersayang yang hari ini tambah tua,” begitu timpalnya, terdengar amat sangat bangga, kekeh riangnya tak putus-putus terdengar.

Kau cemberut, main-main menyodok rusuknya. “Ih, kamu juga kan Desember ini sama-sama tambah tua!”

Lalu tawanya semakin berderai, mengecup bibirmu yang masih mengerucut kesal, sehingga kau hanya bisa menghela napas panjang, pura-pura masih kesal dengan menjentik ujung hidungnya, namun berusaha menyembunyikan cengiran geli. Selalu, dan selalu begitu yang terjadi di antara kau dan dia. Gombalan-gombalan murah, ejekan-ejekan kecil, pura-pura ngambek, lalu beberapa godaan kacangan lainnya, dan kalian berdua akan sama-sama terbahak lagi beberapa saat kemudian.

Dia dengan wajah penuh harap mendesakmu untuk makan, cerewet soal meminta pendapatmu tentang masakannya. Kau belum mengangkat garpu, belum, tapi balas mencerewetinya karena dia yang malah memakai piring untuk sup, sosis yang kelewat berminyak, garpu yang tidak sepasang dengan pisaunya, juga tentang dia yang menggunakan gelas tinggi untuk teh alih-alih cangkir padahal rasanya kau sudah membawelinya setiap saat soal teh. Lalu ia membalasnya dengan kibasan tangan, beralibi soal semua perabot sama saja fungsinya, kembali mendesakmu mencicipi omeletnya. Kau menggeleng-gelengkan kepala, tak urung mengangkat garpu dan melahap sesuap. Enak, begitu kau bilang, seketika membuat ekspresinya lebih riang beberapa tingkat. Ia bersiul-siul girang, ikut mengangkat garpunya dan makan dengan lahap. Sesekali menyuapimu, sesekali kau yang menyuapinya. Pagi yang menyenangkan, begitu pikirmu.

“Oh iya,” dia berhenti menyuap, beringsut mengambil sesuatu di atas meja riasmu. “Tadi ini datang waktu kau masih tidur. I think I knew who the sender is.”

Buket bunga berisi dua belas kuntum mawar merah yang terikat cantik ia angsurkan ke pangkuanmu, beserta satu kotak kecil dan ramping, dan satu kotak besar yang sudah tidak asing lagi bagimu. Mana mungkin kau tidak mengenalinya, sementara dulu ketika kau masih tinggal di kastil Hogwarts, seorang tertentu secara berkala mendapat kiriman yang dikemas dalam kotak yang sama, yang selalu mereka nikmati bersama-sama? Dan seketika kau pun tahu siapa yang mengirimkannya, bahkan sebelum kau membaca kartunya.

“Orange,” begitu tebakmu, senyummu masih terkembang lebar.

Dan benar saja. Kartunya berhiaskan tulisan tangannya, mengucap selamat ulang tahun untukmu, juga sedikit sindiran-sindiran untuk Andrew, seperti biasa. Kau tergelak lagi, tahu kalau Andrew-mu sedikit merasa sebal denganmu yang selalu bertambah cerah bila menyangkut apapun mengenai sahabatmu itu, yang selalu kau abaikan, seperti biasa. Kauhirup bunganya, wangi, juga masih segar dan cantik. Dia berkomentar tentang mawar merah biasanya diberikan seseorang untuk orang yang mereka cintai. Kau melambaikan tangan lagi, berkata Orange hanya memilihnya karena warnanya cantik, dan berpikir merah cocok untukmu. Dan memang benar begitu. Kau tahu Orange-mu tidak perhatian pada arti bahasa bunga ataupun bebatuan sama sekali.

Kau membuka kotak yang ramping terlebih dahulu. Parfum dalam botol kaca segi empat bertutup emas, Hermes labelnya. Kau menjerit heboh, sangat kegirangan. Andrew berdecak, ia tidak mengira Orange akan mengirimimu parfum mahal, katanya. Kau bilang, mungkin sebagai balasan parfum Muelhens yang dulu kaubelikan untuknya sebagai oleh-oleh perjalanan musim panasmu dan Andrew.

Kotak yang besar kaubuka, dan lagi-lagi dugaanmu tepat. Macaron, seperti macaron yang selalu sahabatmu bagikan ketika dulu kalian kumpul-kumpul seangkatan. Kau tahu ia langsung mendapatkannya dari Perancis, seperti biasa. Andrew, melihatmu yang tampak sangat menikmati ketika menggigit sebuah, bergumam soal ia yang sesumbar akan membelikanmu lebih banyak lagi dari yang dikirim Orange ini. Sekarang kalau perlu, begitu katanya. Kau mengikik, menyindirnya tengah cemburu pada sahabatmu itu. Kedua lenganmu kembali bergelayut manja di lehernya, duduk di pangkuannya, menyuapkan macaron yang tengah kau gigit, dari kerlingan matanya kau tahu kau pasti tengah menatapnya seduktif. Ia melingkarkan lengannya yang kokoh itu di pinggangmu, menggigit suapanmu dengan antusias, tidak perlu waktu lama hingga ia ikut melumat bibirmu kembali dengan penuh gairah, bercampur dengan manisnya frambos dan lembut teksturnya yang meleleh di mulutmu.

“Shopping, yuk?” dia berbisik, di antara sela-sela napasnya.

“Maunya,” begitu kau menimpali, mendadak saja teringat, membuat semangatmu turun lagi. “Tapi ini kan hari kerja. Kamu juga bukannya nggak libur?”

Ada kerlip kemenangan terbias di kedua bola matanya, cengirannya melebar penuh puas.

“Aku sudah minta izin sama Mundanus. Kristobal juga.”

Dia masih saja merangsek dirimu sembari berkata, menghirup lipatan-lipatan kulitmu, mencecap lehermu, ceruk di antara tulang selangkamu, menyesap bahumu. Napasmu terputus-putus, sesekali terkesiap.

“Diizinkan?”

“Mmmhmm.”

“Yang benar? Bohong, ah!”

Wajarlah bila kau tak percaya. Mundanus dan Kristobal, dua master tempat kau dan dirinya berguru itu, sama tidak tolerannya mengenai hari libur. Jangankan meminta cuti, terkadang akhir minggu pun mereka mengharuskan kalian untuk lembur seharian suntuk.

“Yaah…” dia menahan kata-katanya, “harus ganti sama lembur akhir minggu sih…”

“Tuh, kan,” kau tergelak lagi.

“Ulang tahunmu kan hari ini. Aku bingung mau kasih apaan, jadi mending kumanjakan saja kamu seharian.”

“Ciye.”

Kau mengikik. Senang, apa lagi? Kau tahu, seperti layaknya semua kaum pria di seluruh dunia, Andrew itu luar biasa tidak sabaran untuk urusan menungguimu berbelanja. Kau terlalu lama menghabiskan waktu untuk memilih, begitu katanya. Tapi ia tahu kau senang berbelanja. Kau senang berkeliling meski hanya untuk melihat-lihat, kau senang mencoba blus ini, atau sepatu yang itu, atau melihat kalung yang sana, meski pada akhirnya tidak kau beli.

“Atau…” dia menggantung ucapannya, sorot matanya yang mengerlingmu berkilat-kilat liar dan mabuk, kau bahkan bisa mencecapnya di lidahmu. Entah sejak kapan, kau kembali berbaring, masih saling melumat, nampan berkaki telah berpindah ke lantai. “Mau kumanjakan di sini saja?” dia berbisik serak di telingamu. Kau menutup mata, membiarkan darahmu berdesir nyaman ke kepala, membiarkan seluruh kulitmu merinding menyenangkan, menikmati setiap sensasinya yang menyengat-nyengat.

“Enak saja. Mau dua-duanya, dong,” begitu kau membalas, nyengir bandel.

Ia terkekeh, suaranya berat dan serak.

Tak perlu waktu lama untuk seprai yang masih berkerut itu jadi bertambah masai, selimut tergulung dan tertendang, kausnya dan gaun tidurmu dan pakaian dalam kalian tercerai berai, bertumpuk kusut satu sama lain di atas lantai kayu. Kau melupakan aliran waktu, begitu juga dirinya. Kau membiarkan dirimu tenggelam dengan menyenangkan, begitu juga dirinya. Ya, ini pagi yang menyenangkan. Ini hari yang menyenangkan.

***

Pada akhirnya kau dan dia menghabiskan sepanjang pagi tanpa beranjak dari tempat tidur. Terus, dan terus, dan terus, hingga perut kalian kembali berkeriuk ramai, seolah dua piring yang licin tandas itu tidak berarti apa-apa. Kau dan dia saling terkekeh dan mengikik, tidak menyadari kalau di luar sudah terang, tidak menyadari keretak api di perapian tengah berjuang untuk tetap menyala. Mungkin bila perutmu tidak kembali bersuara, kau pun akan ikut tenggelam dalam aliran waktu. Dia terbahak keras, lagi-lagi menggoda tentang dirimu yang selalu cepat lapar. Kau cemberut, mendengus berkata tentang apa yang sedari tadi kalian berdua lakukan memang selalu menguras tenagamu, membuatmu kembali lapar. Ia kembali terkekeh, memandangmu penuh arti, tanpa berkata apapun langsung menggendongmu begitu saja, mengangkatmu seolah kau ini hanyalah sebuah boneka tak berdaya, membawamu keluar kamar. Kau memekik terkejut dan bertanya-tanya ke mana ia akan membawamu. Mau kumandikan, timpalnya, masih dengan seringai timpang, menendang pintu kamar mandi hingga terbuka. Pekik dan gelak tawamu kembali terdengar berderai, rupanya ia berpura-pura terjatuh saat menurunkanmu ke bak berendam.

Lagi-lagi, kau dan dia asyik masyuk saling menyentuh, saling berdekatan, saling menikmati, saling mencecap, hingga airnya telah mendingin. Lalu kau mengingatkannya tentang tawaran berbelanja sebelumnya, pura-pura merutuk padanya, berkata dia sengaja lupa, sengaja tak ingin pergi. Dengan sabar, ia menjawil hidungmu, membilas tubuhmu dengan lembut dan hati-hati, mengangkatmu keluar, mengeringkanmu. Mau tak mau kau tak bisa terus menerus cemberut padanya, karena lagi-lagi rasanya kedua ujung bibirmu seperti diplester permanen ke kedua sisi telingamu. Kau kemudian merasa akan terlalu sia-sia bila hari ini tidak kaunikmati setiap detiknya, setiap saatnya.

Ia menungguimu selesai berganti baju dan berdandan, tanpa gerutuan dan keluhan seperti yang biasanya selalu ia keluarkan bila menurutnya kau menghabiskan waktu terlalu lama mematut diri. Yah, keluhan setengah hati memang, karena setelah kau selesai, biasanya ia kembali cengar-cengir riang, senang melihatmu yang cantik dan menawan, lebih senang lagi saat kau berdandan ekstra untuknya. Seksi, terkadang ia berkomentar begitu, dan itu salah satu komentarnya sekarang, meski kau mengenakan celana panjang ketat tebal ditambah kaus dan sweter longgar.

Berbalut mantel musim dingin, kau menggelayuti lengan besarnya dengan manja, bertanya apakah di luar anginnya terlalu kencang atau tidak, ada badai atau tidak. Tidak, begitu dia menjawab. Tapi semalam turun salju yang cukup lebat, sambungnya. Wajahmu berseri-seri, mengajaknya menggunakan kereta bawah tanah alih-alih ber-Apparate ke pusat perbelanjaan.

“Aku sedang ingin jalan kaki bersamamu,” kau bilang.

“Kamu nggak dingin? Aku sih sudah biasa,” dia menimpali.

Kau berjinjit, menarik dirinya yang lebih tinggi dua puluh senti itu untuk merunduk karena kau ingin berbisik di telinganya, matamu berkilat jahil. “Kan ada kamu yang menghangatkanku.”

“Gombaaal!”

Lalu kalian berdua terbahak bersama, kembali saling berangkulan, jari jemari yang saling berkaitan, ribut berceloteh dan terkikik, tidak memedulikan kepala-kepala yang selalu menoleh ke arah mereka saat berpapasan. Kau dan dia seperti dua bocah kecil yang meloncati gundukan salju, sesekali sengaja menjejak genangan, air memercik ke segala arah. Kemudian kembali terbahak. Senang, riang, girang. Kau terhenyak dalam pelukannya, berpegangan dan bertumpu padanya di dalam kereta, lengannya melindungimu dari desakan penumpang yang saling berjejal.

“Kamu mau makan apa?”

Kau terpekur beberapa saat. Kalian berdua senang mencoba macam-macam, rasanya setiap berkunjung ke pusat perbelanjaan ini selalu menyempatkan diri mencoba tempat makan yang berbeda. Pizza Express dan restoran makanan Meksiko masih jadi tempat nongkrong favorit, memang, dan kalian juga menggandrungi warung sushi. Namun hari ini, rasanya kau ingin sesuatu yang lain.

“Hot pot, yuk?” kau menunjuk ke sebuah restoran cina. “Aku ingin sesuatu yang berkuah dan hangat.”

Pipimu yang dingin kembali memerah hangat oleh sup dan teh panas, perutmu melenguh puas. Dia yang selalu bawel soal berat badanmu yang terlalu mudah turun, soal tulangmu yang terlalu sering terlihat, menepuk-nepuk puncak kepalamu dengan puas, senang melihatmu makan sebanyak itu. Harusnya kamu selahap itu tiap makan, biar cepat gemuk, begitu katanya. Kau menimpalinya dengan mendelik dan memeletkan lidah.

Suasana Natal sudah digembar-gemborkan dengan heboh di dalam pusat perbelanjaan. Lagu-lagu Natal diputar, terdengar berkumandang. Panggung di atrium tengah, pria berkostum Santa yang duduk di sudut, antrian bocah-bocah yang mengular menunggu giliran, diorama palungan, pohon Natal super besar dihiasi kelap kelip lampu dan salju buatan… Seperti anak kecil, dia terkekeh-kekeh menunjuk-nunjuk dengan norak. Sayang sekali kau meninggalkan kamera polaroid kalian di rumah. Kau dan dirinya memiliki alasan masing-masing yang membuat kalian tidak menganggap Natal sebagai satu momen relijius, namun tak bisa kau pungkiri, kau menyukai suasana Natal yang ramai begini. Terlebih lagi semenjak dua tahun lalu, tanggal dua puluh lima Desember menjadi suatu hari yang memiliki arti tersendiri bagi kalian berdua.

“Ada apa?”

Ia menyadari kalau kau tengah berhenti di depan sebuah manekin di antara jajaran gaun-gaun lain yang tergantung, menatapnya lama. Kau merasakan jemarinya menepuk bahumu, merangkulnya.

“Suka?”

Kepalamu meneleng sedikit, kedua mata kelabumu masih tak lepas menatap gaun yang dipakai manekin itu. Ekspresimu melembut, menatapnya dengan tatapan mendamba.

“Cantik.” Kau bergumam, pelan, hampir tak terdengar.

Gaun itu memang cantik. Warnanya karamel yang manis, kainnya yang melayang ringan tertutup sekuin kemilau, potongan leher dan dadanya berbentuk V rendah, bagian belakang yang terbuka, dan ada aksen kerut di bagian perut dan pinggang. Cantik, kau membayangkan gaun itu jatuh sempurna di lekuk-lekuk tubuhmu.

“Mau?”

Mau? Tentu saja, tentu saja. Siapa yang tidak menginginkan gaun secantik itu? Kau tahu dia pun tengah membayangkan dirimu memakainya, tengah berputar-putar mematut diri di depannya. Tanpa sadar senyummu mengembang samar, menerawang.

“Tapi buat dipakai ke mana?”

Ya, ada pertanyaan lain yang menggantung di belakang jawaban ‘mau’ itu. Kalian bukanlah golongan orang-orang kelas sosialita yang mengisi malam demi malam hinggap dari satu pesta eksklusif ke pesta eksklusif lain. Kau punya beberapa gaun di lemarimu cukuplah untuk sedikit tampil beda ketika mereka mengunjungi bar atau pub, atau makan malam di restoran yang cukup mewah untuk merayakan sesuatu yang spesial, tapi hanya itu saja. Kau tahu dia telah lama meninggalkan gaya hidup para sosialita yang dulu ia jalani dengan paksaan atas nama kewajiban keluarga, dan kau sendiri pun telah lama menjauh dari lingkaran pergaulan hedonis teman-teman sekolah Muggle-mu dulu. Hanya ada satu gaun malam formal yang benar-benar mewah di lemarimu, gaun tanpa tali dari organza merah itu, yang dua tahun lalu kau pakai di pesta dansa Natal yang kauhadiri bersamanya. Kehidupan kalian yang sekarang, dengan titel sebagai murid peramu dan murid alkemis, sama sekali jauh dari gemerlap dan ingar bingar pesta kelas atas. Untuk apa membeli gaun, bila kau tahu kesempatan memakainya tak akan pernah datang?

“Hmm… Buat dinner malam ini saja.” Dia menimpali ringan, tampaknya sama sekali tidak sadar dengan kontemplasi yang memenuhi benakmu itu. Kau mengerjap, seolah baru saja sadar dari trans, menatapnya penuh keheranan. Rasa-rasanya kau sama sekali tidak pernah mendengarnya berkata apapun tentang rencana makan malam di suatu tempat yang lain malam ini.

“Memangnya kamu sudah bikin reservasi di mana, sampai pantas datang pakai gaun ini?”

“Tidak bikin reservasi di mana-mana, kok. Kita makan di rumah saja. Candle light dinner berdua. Aku lebih kepingin makan masakanmu.”

Kau tergelak kecil, menjentik hidungnya pelan.

“Kalau makan di rumah, buat apa pakai gaun semewah itu?”

“Lho, kan buat aku. Masa kamu nggak mau dandan cantik buat pacarmu ini?”

Kau yang sudah menduga dia akan menyeletuk seringan itu, kembali tergelak. Membayangkan betapa malam ini kau akan mendadak sangat sibuk. Menyiapkan masakan spesial yang berbeda dari hari-hari sebelumnya, menyiapkan meja makan dan sebagainya, belum lagi setelahnya kau memerlukan waktu untuk mandi dan berdandan. Tapi, apa kau bisa benar-benar menolak untuk makan di rumah, memintanya untuk memesan tempat di salah satu restoran hotel saja?

Yah…

Orang bilang, ambil hati lelakimu dengan makanan. Sudah terbukti selama ini, tho. Dia menyukai masakanmu, dia menyukai kudapan-kudapan yang kau buat. Kau sendiri pun, semenjak bersamanya, semakin sering belajar membuat makanan-makanan kesukaannya, juga mencoba banyak variasi jenis makanan lain. Dia tak pernah bosan makan masakanmu, kau pun tertantang membuat masakan baru lagi dan lagi setiap harinya. Aku ketagihan masakanmu, dia pernah berkata begitu padamu. Kau merasakan, memiliki seseorang yang akan selalu makan masakanmu dengan lahap dan penuh terima kasih, memberimu satu perasaan hangat tertentu yang membuatmu tak habis-habis merasa dibuai hingga ke awang-awang.

Jadi, tidak. Kau tidak sampai hati untuk menolaknya.

“Mau beli?”

Kau tersenyum tersipu, mengangguk pelan. Dia terkekeh menimpalinya, menepuk puncak kepalamu sebelum meminta gadis pelayan toko memberimu gaun dengan ukuranmu untuk dicoba.

“Hei. Mau lingerie baru buat hadiah?”

Kali ini dia yang tiba-tiba berhenti ketika kalian tengah berjalan beriringan, tas belanja berisi gaun barumu berayun-ayun di lenganmu. Dia berbisik berat di telingamu, matanya berkilat-kilat liar menelaahmu inci demi inci. Kau balas berbisik dengan tidak kalah seduktifnya.

“Itu hadiah buat berdua dong, jadinya.”

“He. He. He.”

“Keenakan kamuu!”

“Jadi mau, tidak?”

Kau mengikik, tanpa berkata apa-apa lagi menariknya masuk ke butik pakaian dalam. Tempat yang mungkin akan canggung dimasuki pemuda itu beberapa tahun lalu, atau pemuda-pemuda lajang lain seusianya, namun tidak dengan dirinya saat ini, karena ia tampak sama bersemangatnya dengan dirimu. Kau tahu bahwa selagi kau memilah dan memilih serta mematut-matut, benaknya sibuk membayangkan dirimu dalam setiap jenis pakaian dalam yang ia lihat, karena dia semakin intens mencari-cari kesempatan saling bersinggungan denganmu agar bisa menyentuhmu, atau sekedar menyapukan jari-jemarinya sekilas di lekuk tubuhmu, atau hanya mengendus lehermu dalam kontak yang tidak sampai sepersekian detik. Kau mengetahui ini, dan kau dengan sengaja bersinggungan dengannya, atau hanya menarikan jemarimu di punggungnya, atau mengusap sekilas pahanya. Kau bisa merasakan tatapannya semakin, dan semakin, dan semakin berat, semakin liar.

Udara di sekitar kalian terasa berat, hingga ia yang mendadak menarikmu setelah tas belanja berisi pakaian dalam baru sudah berpindah ke tanganmu, telah kauprediksikan sebelumnya. Bagai dua bocah yang tengah berencana mencuri apel tetangga, kalian tersenyum-senyum geli, menahan tawa, menahan napas, berjingkat-jingkat melirik kanan kiri, dan saat kesempatan tampak mengizinkan, kau dan dia menyelinap ke toilet untuk orang cacat, saling terkekeh dan mengikik tertahan, suara ceklikan kunci di pintu menjadi hal terakhir yang dengan kesadaran penuh ingat kaulakukan.

***

“Bagaimana?”

Kau berputar di depannya, kain berhias sekuin karamel berkilau dan melayang seiring gerakmu. Gaun itu benar-benar jatuh dan melekat dengan pas di tubuhmu, mengikuti lekuknya. Rambutmu kau gelung, membiarkan sedikit anak-anak rambut dan bagian depan jatuh bergelombang membingkai wajahmu, memperlihatkan garis lehermu yang semakin sensual.

Respon pertamanya adalah siulan panjang. Kau tergelak menimpalinya.

“I take it as a compliment,” kau melambaikan tanganmu ringan, berbalik lagi menghadap cermin untuk memasang anting-anting. Dia terkekeh serak.

“Memang compliment, kok,” ia merangkul pinggangmu, berbisik di telingamu. “You’re amazingly gorgeous, Babe.”

Kalau kau tidak menjentik keningnya, mungkin ia sudah kembali asyik mengendusi lehermu, menarikan jari jemarinya di garis punggungmu yang terbuka. Kau mengingatkannya akan makanan yang sudah susah payah kau masak dalam waktu terbatas sore tadi, yang tengah menunggu kalian berdua di atas meja. Dia tidak menjawab, hanya mendesah panjang, meski akhirnya melepaskan rangkulannya.

“Pakaikan dasiku,” dia merengek manja.

Karena dia memintamu memakai gaun itu untuk makan malam ini, maka kau pun memintanya memakai sesuatu yang berbeda. Dia si Darah-Murni, hingga kini masih saja tak bisa akur dengan dasi, satu fakta yang senang sekali kau ungkit-ungkit untuk menyindirnya. Bukan Darah-Murni juga belum tentu pakai dasi tiap hari, terkadang begitu ia membela diri.

Bila orang lain melihat kalian berdua sekarang ini, tak akan ada yang percaya kalau ini hanyalah untuk makan malam di rumah. Kau yang mengagumkan dalam gaun barumu, dengan riasan dan tatanan rambut menawan, ia yang tampan dalam setelan jas-nya, bahkan dengan sukarela menjinakkan rambutnya sedikit, lenganmu berkait anggun dengan miliknya ketika berjalan keluar kamar.

Yah, ini malam spesial kalian berdua. Kau ingin segala sesuatunya tampak sempurna, meski hanya makan di rumah. Tapi mungkin, bagi dirinya, masakanmu sendiri adalah sesuatu yang sangat spesial. Berkali-kali ia selalu berkata kalau ia lebih suka masakanmu ketika kalian tengah makan di luar. Biasanya kau timpali dengan guyonan bahwa kau membubuhkan Amortentia di setiap masakanmu untuk membuatnya ketergantungan, matamu sengaja kau belalakkan hingga tampak licik dan jahat.

“Jadi sebenarnya kamu masak apa?”

Dia masih saja mengulangi pertanyaan yang sama sejak sore tadi. Bahkan ketika kini kalian berdua telah sama-sama duduk di meja makan yang telah kau tata habis-habisan, kau masih keras kepala tidak membiarkannya mengetahui menu apa yang kau siapkan. Kejutan, begitu katamu sore tadi. Kau berhasil memaksanya jauh-jauh darimu, jauh-jauh dari dapur selama kau memasak. Padahal, biasanya ia selalu senang merangkulmu dari belakang bila kau tengah berkutat dengan kompor dan wajan, terkadang mencomot isi wajan barang satu dua suap. Dengan gerutuan, memang, ia memaksa diri sibuk dengan buku-buku dan manuskripnya. Beberapa ayunan tongkatmu turut campur untuk mencegahnya masuk ke area dapur yang terbuka, bahkan mencegah aromanya terlolos dan ia endus.

“Pokoknya lihat saja.”

Kau hanya tersenyum-senyum misterius, kedua matamu berkilau-kilau puas. Peri-Rumahnya muncul, kau memintanya untuk menyajikan makanan hingga kau tak perlu repot-repot mengayunkan tongkatmu. Sepiring sup krim kental dengan potongan salmon dihidangkan sebagai makanan pembuka, yang dia sambut dengan decak puas. Berikutnya, steak sapi tebal tanpa lemak yang dipanggang dalam oven, kau bumbui dengan jamur kalengan, zaitun hijau, paprika, dan prem berbintik kering, disiram anggur burgundy lezat sebelum dipanggang. Kau hidangkan dengan potongan kentang panggang dan rebusan wortel, brokoli dan seledri besar di tepi, sausnya terasa gurih dan kental. Lalu untuk penutup, kau membuat Sitronfromasj, mousse lemon yang kau taburi beri lingon, frambos, dan beri hitam.

Kau ingat, beberapa bulan lalu dia sempat mendadak berkata rindu makanan-makanan asal Norwegia.

“Kamu lupa terus sih, setiap kuminta beli cetakan Krumkake. Kalau punya, aku bisa buatkan sebanyak apapun kamu mau,” kau menyeletuk ketika kalian menikmati makanan penutup. Sepanjang makan malam, cengiran bahagianya tidak hilang-hilang, bahkan sempat meminta tambah. Untungnya kau sudah hapal dengan tabiatnya dan sengaja memasak dengan porsi ekstra.

Ini hari yang menyenangkan, tak bosan-bosannya kau mengatakannya berulangkali.

“Hei.”

“Hmm?”

“Wine hadiah darimu tahun lalu itu…”

“Ya?”

Kau ingat apa yang dia maksud. Tahun lalu, kau memberinya anggur merah keluaran tahun kelahirannya sebagai hadiah ulang tahun. Aku tak ingat kapan pastinya ulangtahunku, begitu selalu dia berkilah. Dia hanya ingat dia dilahirkan di bulan Desember. Tidak masalah, jadi aku bisa memberimu hadiah kapan saja sepanjang bulan Desember, kan? Begitu kau menimpali dengan ringan.

“Buka sekarang, yuk?”

Kau tersenyum lembut. Mengangguk.

Bila sekarang kau diminta mengingatnya lagi, rasanya sepanjang sisa malam itu terasa sangat surealis. Seolah-olah hanya merupakan gambaran imaji kepingan mimpimu, kau masih merasa seperti di awang-awang. Terlalu indah, terlalu manis, terlalu hangat, terlalu menyenangkan. Api perapian tetap berkobar menjilat-jilat, kau dan dia duduk melesak di sofa, saling berpelukan, saling berangkulan menikmati sebotol anggur hadiah darimu tahun lalu itu.

“Akhirnya kita bisa benar-benar merayakan ulang tahunmu, hm?”

Kau tersenyum kecil menanggapinya. Hampir dua tahun kau dan dia bersama, baru sekarang kalian memiliki kesempatan merayakan ulang tahunmu benar-benar di hari ulang tahunmu. Tahun lalu, kau masih terjebak di dalam Hogwarts ketika tanggal dua belas Desember tiba. Agak menggelikan, bila kau pikir kembali. Dua puluh lima Desember tahun lalu, ketika kau dan dia akhirnya bisa duduk untuk merayakan bersama, kalian merayakan beberapa hal sekaligus. Merayakan ulang tahunmu, merayakan ulang tahunnya, merayakan satu tahun kalian bersama, merayakan kenangan tanggal dua puluh lima Desember di tahun sebelumnya, sesuatu yang membawa kalian pada kebersamaan. Ia memberimu sebuah jam tangan, kau memberinya anggur keluaran tahun kelahirannya. Tapi sama sekali tidak menyebutkan Natal pada daftar hal-hal yang kalian rayakan.

“Sudah mau dua tahun, ya…”

“Mmmhmm…”

“Tidak terasa.”

Lagi-lagi, kau hanya mengangguk sebagai jawaban. Tidak tahu harus menimpali dengan apa. Dua tahun… Bahkan kau masih terkejut sendiri mendapati dirimu masih bersamanya selama dua tahun ini. Banyak, banyak sekali hal yang telah kalian lalui bersama. Kau mengalami banyak hal yang baru kau alami pertama kali dalam hidupmu bersamanya. Ia ciuman pertamamu, ia orang pertama yang kau izinkan menyentuhmu begitu jauh, begitu dalam, hingga sekarang. Ia orang pertama yang kaubiarkan menembus seluruh dinding kepura-puraan yang kau bangun untuk berlindung dari dunia, orang pertama yang membuatmu merasa jadi terlalu kejam dan terlalu tidak bermoral bila kembali membohonginya. Orang pertama yang memberitahumu kalau ia mencintaimu.

Dan, orang pertama yang membuatmu merasa, bahkan kata cinta dan rindu saja tidak cukup untuk menggambarkan apa yang kau rasakan padanya. Kau ingin selalu bersamanya, selamanya, karena pelukannya membuatmu merasa terlindungi dari dunia, membuatmu merasa diagungkan dengan begitu berharga, membuatmu selalu merasa berjalan di atas awan dengan kejutan-kejutan dan pujian-pujian kecilnya. Kau ingin selalu melihatnya bahagia, melihatnya tersenyum seriang itu, melihatnya tertawa-tawa menyambut dunia. Kau ingin menjadi seseorang yang ada di sisinya, bahkan bila seluruh dunia telah memunggunginya.

Kau ingin menjadi dunianya.

“Bosan?”

Mendadak kau menyeletuk bertanya. Dia mendengus, seolah tak percaya.

“Sama kamu mana mungkin bisa bosan?”

Lalu ia memelukmu dengan lebih erat, menghirup aroma tubuhmu sepuasnya.

“Memang kamu bosan?” ia balik bertanya.

Kau beringsut, berbalik menatapnya. Menatap sepasang matanya, yang sehijau zamrud paling murni, sehijau tunas paling subur, sehidup gegap gempita musim semi, seberkilau bintang paling terang di langit musim panas. Jemarimu merunut garis wajahnya, merasakan kulitnya di bawah sentuhanmu, merasakan bibirnya di bawah sentuhanmu, merasakan halus rambutnya yang jatuh ikal. Kau tersenyum syahdu.

“Aku ingin merayakan ulang tahunku bersamamu lagi tahun depan,” kau menggerakkan bibirmu, berbisik hampir tanpa suara, tapi kau tahu ia mendengar setiap kata-katamu dengan jelas. “Lalu melewati tahun baru bersama, Valentine, musim semi, midsummer night, musim gugur, Halloween, lalu ulang tahunku lagi, dan ulang tahunmu lagi. Dan tahun depannya lagi, dan tahun depannya lagi, dan tahun-tahun berikutnya, selalu bersama denganmu.”

Kau bisa merasakan jemarinya menyibakkan anak-anak rambut di bingkai wajahmu, merunut pipimu, dan dagumu. Mencium bibirmu dengan amat sangat lembut, kau bisa mengecap seluruh cintanya yang seolah tumpah ruah seketika itu juga.

“Have a dance with me?” dia mengambil gelas di tanganmu, meletakkan keduanya di lantai. Menarikmu berdiri, menarikmu ke tengah-tengah ruangan, kau merasakan karpet yang berbulu lembut dan nyaman di bawah kakimu. Tongkatnya terayun, memutar vinyl records mixtape buatanmu. Kau melingkarkan lenganmu di lehernya, kedua tangannya yang besar melingkar dengan aman di pinggangmu, merengkuhmu hingga tubuh kalian berdekatan, saling merapat, berayun seiring alunan musik yang mengalir lembut, diiringi tarikan napas masing-masing, dan detak jantung masing-masing, membiarkan hidungmu dimanjakan oleh aroma tubuhnya. Kalian saling bertatapan, lekat, kau merasa waktu terhenti begitu saja, kau merasa duniamu tenggelam dalam sinarnya yang menatapmu penuh takjub dan damba.

Kau merasa, saat itu, bila kau berpikir selamanya senyummu itu tak akan pernah hilang, mungkin itu adalah sesuatu yang wajar. Kau merebahkan kepalamu di dadanya, mendengarkan jantungnya berdetak lembut.

“I love you.”

Selalu. Selamanya.

—END—

0 comments: