Wednesday, October 26, 2011

Racau

Desau. Kertak. Derit. Retih.


Riuh.


Ada yang tengah berceloteh, riang. Cerocosan tanpa henti meningkahi. Celetukan-celetukan yang berkomentar menyela, sesekali nada bijak terdengar menengahi. Ada yang berteriak. Satu, dua, di sana, di situ. Mungkin marah. Mungkin kesal. Mungkin takut. Kemudian sesuatu yang lain terdengar, samar, sangat samar, timbul, tenggelam. Rintih? Desah. Keluh. Rutuk. Helaan napas, panjang. Haaaa…. katanya. Hmm…hmmm… hmmm… berdengung, senandung halus, membayangi di latar belakang.


Ramai.


Ramai, ramai, ya. Naik, turun, tinggi, rendah, keras, pelan, kasar, lembut. Berdegup, berdenyut hidup, menari-nari dalam irama masing-masing, saling meningkahi, saling bersilangan, saling meresonansi. Apa? Apa? Nada. Ya. Nada, nada, tengah bermain, seriang peri hutan menyambut tetes embun pertama, semesra paus yang bercinta, serela hujan yang meluruh ketika mencium bumi, sesendu tangis bayan yang merindu, semarah induk beruang yang terganggu sarangnya. Hap, hap, melangkah, melompat, berjinjit, berputar. Berputar, nada-nada menari, berjingkat, gegap gempita di dalam kepalanya.


Ah.

Hei.

Kenapa?

Kenapa wajahmu jadi mengeruh begitu?

Kenapa, kenapa, kenapakenapakenapakenapa—




Hei, lihat. Langitnya biru cerah.


Tunggu. Apa benar biru?


Lihat, lihatlah lagi dengan lebih cermat, satu suara melirih anggun. Bukan sepenuhnya biru, katanya. Ada larik-larik sinar menyela, lalu gumpalan-gumpalan perak mengambang. Ya, ya, tapi tak kusangkal kalau langitnya memang cantik, begitu lanjutnya.


Tsk, kalian ini buta, sangkal yang lain, berdecak mencela. Mana biru? Mana perak? Mana sinar? Lihat, lihat di sana, begitu ia berseru gusar, menunjuk ke satu arah jauh di ufuk sana. Ada awan bergumpal tebal, katanya. Badai sebentar lagi tiba, dan semua keindahan ini akan hilang dalam kedipan mata, untuk apa tenggelam dalamnya, begitu dia menyimpul ketus.


Dia membuat yang lain terkesiap waspada. Badai? Badai? Tidak! Oh, tidak! Satu di antara mereka merintih-tintih ngeri, matanya menatap nyalang, tersaput selubung teror yang seolah merayap perlahan, amat sangat perlahan, menyelubunginya sedikit demi sedikit, menyelinap, merangkak, mengisi setiap celah, hingga akhirnya memisahkan dirinya dari dunia lain, terperangkap dalam gelembung paranoia dan ketakutan. Badai! Badai! Lalu kita semua akan mati! Dunia ini musnah! Kiamat! Habislah sudah!


Kasihan, kasihan, ya. Tolong dia, begitu kata yang lain. Bagaimana, timpal yang lainnya lagi. Entahlah, yang lain menyeletuk gamang. Jangan tanya aku, aku sama tak tahunya dengan kalian, kilah lainnya lagi.


Ha. Kenapa harus kita tolong dia? Suara skeptis berdecak. Memangnya siapa dia, memangnya apa pengaruhnya untuk kita? Aku aku kau kau, begitu putusnya tak acuh.


Hush, jaga kata-katamu, begitu yang lain memperingatkan. Tidakkah kau lihat, tanpa kata-katamu pun dia sudah hancur mengenaskan? Bagaimanapun, kita semua satu, lanjutnya lagi. Apa yang terjadi padanya akan memengaruhi kita juga, dia menutup dengan sabar.


Suara lain mendengus meremehkan. Aku tak peduli dengan semua tetek bengek itu, begitu tukasnya, tapi dia berisik. Lakukan apa saja yang penting dia diam lagi.


Kau kejam, komentar yang lain.


Peduli kucing, begitu jawabnya. Lalu melengos berlalu, tanpa sedikitpun memedulikan mereka yang tengah berdebat.




Bagaimanapun, untuk saat ini, langitnya memang indah.

Gumpalan awan yang cantik. Jadi ingin memetiknya.


Bagaimana, bagaimana? Bagaimana memetik awan?


Naik kah? Ya, ya, ya! Naik, naik, naik! Naiklah ke tempat tertinggi, tempat tertinggi yang bisa kau jamah!


Lalu ia melangkah. Tertatih, terseok, meniti tangga, satu demi satu. Matanya berbinar penuh harap, mulutnya setengah ternganga, wajahnya mengerut berkonsentrasi. Naik, naik, naik terus, dan terus, dan terus. Lebih tinggi lagi, lebih tinggi lagi, lebih tinggi—


—Tidak bisa, dia mendesah putus asa. Tangganya habis. Habis. Tidak bisa lebih tinggi lagi. Ini kurang tinggi. Kurang tinggi. Awannya masih tak terjangkau.


Rintihan lain terdengar. Tidak, tidak, itu tangis. Merana sekali kedengarannya. Dan putus asa. Dan menyayat. Apa… apa memetik awan itu sebegitu pentingnya? Apa yang nanti akan kau dapat dari memetiknya?


Tangis itu melambat, berubah jadi isakan pelan. Tidak tahu, ujarnya, tergugu. Tapi, tapi, awannya cantik. Tidak bisakah aku memilikinya?


Coba, coba, berdirilah. Luruskan punggungmu. Ulurkan tanganmu, sejauh yang kau bisa. Terus, terus ulurkan—

Tidak bisa—

Bisa! Kau pasti bisa!

Masih terlalu jauh—

Lagi! Berjinjitlah! Rentangkan tubuhmu! Kau pasti bisa!

Rentangkan… ulurkan... raih… raih… ra—




Hening.




Lalu suara benturan, keras, amat keras. Memercik, membuncah merah, semerah kembang api yang membunga langit, buyar bertemu tanah, berhambur, berserakan.


Kemudian teronggok malang.




“Kakak, main denganku? Aku ingin memetik awan, tapi tanganku tak sampai. Petikkan untukku?”

0 comments: