Monday, July 04, 2011

Everybody Has Their Own Version of Happiness Part 2 [END]

Sheremetyevo International Airport, Moscow, Russia
End of August, 1995


“Sudah
check-in-nya?”


Dengan shoulder bag tersampir di bahu, dalam balutan terusan berbahan denim lembut yang jatuh di atas lututnya, paspor bersampul burgundy tergenggam di tangan, langkahnya yang terbalut ankle boots kini meringan setelah kopernya selesai dengan urusan check-in bagasi, kembali ke area pengantar, kembali menemui dia, yang mengundangnya kemari, yang masih sabar menunggunya meski Liga menghabiskan setengah jam lebih mengantri di check-in gate. Dia mengangguk, duduk di petak kosong bangku aluminum panjang di sebelah si pemuda.


Boarding time satu setengah jam lagi,” dia menambahkan, menyelusup dalam dekapan Andrew, seolah lupa kalau sepanjang hari, entah sudah berapa kali Liga mengulang-ulang menyebutkan jam penerbangannya, sulit meyakinkan Andrew kalau dia harus ada di bandara setidaknya dua jam sebelum keberangkatan. Positif, pemuda itu Pureblood bangkot, tak pernah merepotkan diri naik pesawat Muggle.


“Repotnya. Pakai Portkey, kau sudah sampai dari tadi,”


Tuh, kan.


Ergh. No, thanks,” Liga bergidik. “Kalau ada satu hal yang tidak kusuka dari penyihir, itu cara transportasinya. Apparate dan Floo sih masih mending. Portkey? Tidak deh,”


“Maksudku, kalau pakai Portkey, kita masih punya waktu lebih lama sebelum kau pulang,” berdecak, Andrew menyentil ujung hidung gadisnya pelan. Memainkan helai-helai keemasan yang terurai. Dalam hening, Liga membenarkan, dengan sedikit sesal. Setiap detik berlalu, perpisahan terasa semakin berat. Selalu, dan selalu, hal yang sama yang ia rasakan setiap kali tengah bersamanya, keinginan bersama untuk menghentikan lengan-lengan waktu. Menyenderkan kepala, Liga bisa merasakan dadanya naik-turun seiring helaan napasnya, dagu yang bertumpu di puncak kepalanya, detak jantung yang terasa menggema di telinganya, sentuhan lembut jemarinya yang tengah memainkan helai-helai keemasannya…


Kenapa bersama pemuda itu selalu bisa membuatnya merasa damai?


“September nanti kau balik sekolah cupu itu lagi, ya?”


Seperti biasa, Liga tak pernah ingin jadi yang memecahkan hening. Masih belum berubah dari posisinya, dia mengangguk pelan. Tak ingin lepas dari kedamaian yang ia rasakan.


“Satu tahun lagi, terima kasih Merlin,


Andrew terkekeh puas. Sekecil apapun kastil Durmstrang, baginya sistem edukasi Durmstrang tetap nomor satu. Pemuda itu menikmati saat-saat mencari kelemahan dari apa yang dijalankan Hogwarts. Untuk satu dan lain hal, Liga terpaksa setuju dengannya.


“Terus, apa rencanamu habis ini? Kau sudah lulus, kan?” Liga balik bertanya.


“Hmm… Entahlah,” Andrew tampak menerawang, menimbang-nimbang. “Mungkin beli flat di Moscow, keliling dunia, senang-senang dulu sampai mampus. Yaah, gampang lah,”


Entah kenapa, Liga bisa menebak pemuda itu akan menjawab seperti apa. Bukan Andrew namanya kalau tidak melakukan sesuatu semaunya, kan? Karena Andrew yang bebas seperti angin, Andrew yang memiliki standarnya sendiri, Andrew yang seperti itulah yang selama ini bersamanya, yang memberinya berjuta ekor kupu-kupu di dalam perutnya, yang membuatnya seperti berjalan di atas awan.


Itu, membawanya pada satu kesadaran lain, yang entah kenapa menusuk ulu hatinya. Bahwa membuat pemuda itu terikat, sama sekali bukan pilihan yang pantas untuk dia lakukan. Andrew bukanlah Andrew tanpa kebebasannya. Pun Liga tahu, dirinya terlalu berharga untuk membuang segalanya, dan memulai hidup dalam bayang-bayang Andrew. Dia perlu memiliki rencana masa depan. Dia perlu mencapai puncak aktualisasi diri, sebelum bisa berpuas dengan hidupnya.


“And maybe, visiting you during winter?”


Seraut senyum, bahagia, tulus, merekah perlahan di wajahnya. Apa ini juga bisa dibilang sebagai satu bentuk kebahagiaan, meski tampak sederhana?


“Betulan?”


“Why not? Musim dingin di Inggris lumayan hangat dibandingkan di sini. Aku ketagihan,”


Pemuda itu mengakhirinya dengan kekeh kecil. Namun, Liga tak tertawa bersamanya.


“Hey, Andrew…” Ini harus dikatakan, cepat atau lambat, bukan? Liga mendongak, mencari-cari sepasang iris hijau itu, menatapnya lekat. Ekspresi serius di wajahnya menguapkan cengiran si pemuda.


“Thank you. For giving me all those great memories. For always making me happy. For everything.” Terhenti sesaat. Liga berusaha menyusun kata-kata selanjutnya. Menyadari, ucapannya barusan memberi kejutan kecil pada si pemuda.


“Hei. Ada apa denganmu? Kok mendadak jadi formal begini?”


“Dengar dulu,” Liga tersenyum kecil, satu respon yang juga sebagai usaha untuk membuatnya tetap fokus pada apa yang ingin dia katakan. Dia tak ingin ada salah paham. Pun, dia tak ingin setelah ini, ada satu diantara mereka yang merasa terpaksa.


“But… I don’t want if all of this, forcing you into making promises that you’re not sure you can keep,” lekat, Liga menatap sepasang iris hijaunya, tulus. Berusaha membuat pemuda itu mengerti apa yang ingin dia katakan. “Semua waktu di Hogwarts dulu, aku tahu itu apa.


Dia sepenuhnya sadar, awal kebersamaan mereka dulu itu, semata hanyalah karena maksud lain untuk saling diuntungkan. Liga memerlukan pasangan untuk Yule Ball, Andrew memerlukan—well—sesuatu untuk mengalihkan kebosanannya di Hogwarts. Seseorang yang bisa dia ajak bersenang-senang. Yes,it’s just a short fling, she realized that. Although, one year seems too long for just a fling.


“Aku tak akan memaksamu melakukan apa yang tak ingin kau lakukan. Jalani hidupmu, bersenang-senanglah seperti rencanamu, dan aku juga akan menjalani hidupku.”


Merlin, kenapa tenggorokannya tiba-tiba tercekat begini?


“But, well, if there’re chances for us to meet again, somewhere in the future, you’re still welcomed. Always. It will never change,”


Karena baginya, seperti apapun masa depannya nanti, Liga tak menemukan celah dimana dia tak bisa menerima Andrew lagi. Tapi, apa yang dia tahu tentang masa depan, lagipula? Mungkin pemuda ini seperti angin, datang dan pergi. Mungkin juga semuanya benar-benar akan berakhir di sini.


Apa yang sudah terucap, tak boleh ada penyesalan, kan? Ini keputusannya. Dia harus menerima segalanya.


Menakjubkan, pemuda itu mendengarkan segalanya, tanpa memberi selaan, tanpa memotong atau membantah. Sepasang mata hijau itu hanya menatapnya, intens, dalam, dan masih menatapnya. Bahkan ketika Liga telah selesai dengan apa yang harus dia katakan, dia masih menatapnya. Lembut. Seperti selama ini Andrew memperlakukannya dengan hati-hati dan penuh hormat seolah dia adalah mahkota ratu pertama suku Maya yang baru tergali, seperti itulah pemuda itu menatapnya. Mengelus lembut pipinya.


Menciumnya, dalam. Lekat. Lamat-lamat.


“Sure. But there’s one thing you should know,” pemuda itu berbisik, memegang lembut dagunya, masih menatapnya lekat. “For me, you’re one of a kind. So, well, do expect me to pop out every now and then somewhere in the future,”


Mengejutkan, karena ternyata, satu kalimat itu saja sudah cukup baginya. Tersenyum tulus, kedua pipinya memerah, Liga menunduk, meremas genggaman tangan Andrew.


Bolehkah dia berkata, Andrew-nya?


“I should go now,” dia berdiri. Tak ada lagi yang harus dia ucapkan. Semuanya sudah cukup. Lagi, sesuatu yang mengejutkan, karena Liga puas dengan satu kebahagiaan kecil ini. Seumur hidup, dia tak akan melupakannya.


Sudahkah dia bilang, dia dan Andrew-nya, sama-sama membenci perpisahan?


“See you when I see you,”


Maka itulah yang terucap, alih-alih 'selamat tinggal.' Diiringi satu kecupan di bibirnya. Satu kecupan terakhir.


—o0o—


Liga Gerhild, kini sembilan belas tahun. Apa kabar hidupnya, setelah Juni lalu dia lulus dari Hogwarts? Semuanya baik, yeah. Beberapa minggu setelah lulus, surat Orange mendatanginya, bercerita betapa dia sudah jenuh tinggal di kastilnya di Edinburgh, ditambah satu kabar baik mengenai pekerjaan barunya di Departemen Kerja Sama Sihir Internasional, kemudian Liga memberitahunya kalau aplikasinya ke Sekolah Farmasi Universitas London diterima, yang berakhir dengan kesepakatan mereka untuk tinggal bersama. Apartemen di sudut kota London yang tenang dan asri menjadi pilihan, setelah berminggu-minggu mencari. Orange tak suka tempat yang terlalu ramai, katanya.


“Le Meridien, Ritz, atau Royal Garden?”


“Huh?”


“Birthday dinner, d’oh. Jangan bilang kau lupa besok tanggal dua belas. Jadi, mau dimana?”


Itu percakapannya semalam dengan Orange, di sela-sela sesi perawatan tubuh rutin bersama. Sedikit selorohnya tercetus, mempertanyakan kenapa tiba-tiba saja Orange mengajaknya makan malam di restoran hotel berbintang lima, dibalas dengan kata-kata ketus tentang dia yang sesekali ingin memberi Liga sesuatu yang spesial untuk ulang tahunnya yang ke-sembilan belas, diiringi wajah yang lagi-lagi semerah rambutnya. Liga tertawa, sambil memaskeri rambut Orange, memilih Ritz saja, karena sebelumnya Orange ingin makan makanan Perancis namun belum sempat terwujud. Orange jelas-jelas menghindari arah matanya, tertunduk dengan wajah yang lebih merah, bergumam mereka akan bertemu setelah jam kantornya selesai besok di Oxford Street untuk berbelanja sedikit sebelumnya.


Jadi, di sinilah ia, di antara manekin dan lusinan baju tergantung dan rak-rak display Debenhams, dua jam sebelum waktu yang ia janjikan bersama Orange, mencari hadiah Natal untuk si Nona Anggur. Sengaja ia pergi lebih awal, menghabiskan waktu mencari dengan tenang, mungkin mengambilnya nanti di lain hari bila menemukan sesuatu yang cocok.


Dia tengah memilih blus dari gantungan di depan cermin besar, ketika sesuatu membuatnya membeku seketika, darahnya terkesiap, jantungnya mendadak berpacu dua kali lebih cepat. Seseorang, yang sedetik lalu tak ada di sana, tengah berdiri, dengan cengiran khas-nya, balik menatap Liga dari cermin. Seseorang, yang amat tidak Liga sangka akan dia temui secara random di antara jajaran blus wanita dan cardigan, pukul tiga di sore hari dua belas Desember. Dia berbalik seketika. Masih merasa ini mimpi. Masih merasa ini permainan bayangan cermin.


Tidak, ini bukan mimpi. Pemuda itu masih di sana, dua meter darinya. Masih sama seperti terakhir mereka bertemu, tampak lebih tinggi beberapa senti, dengan bahu yang lebih tegap, lebih ramping namun lebih kekar, rambutnya yang halus ikal kecoklatan lebih pendek dan rapi, tangan kirinya di dalam saku, tangan kanannya memanggul buket mawar merah di bahu dengan kasual. Masih dengan cengirannya yang dulu. Masih dengan kilau jenakanya yang dulu.


“Yo, Liga. Happy Birthday.”


“Andrew!”


Dua orang pramuniaga Debenhams seksi pakaian wanita, tersenyum penuh arti menikmati pelanggannya berlari, meloncat ke pangkuan si pemuda, berciuman dalam, melepas rindu, penuh gairah.


—o0o—


”Kau jadi lembek sama cowok, ya?”


Yah, bagaimana dong? Nyatanya aku gampang luluh dengan kebahagiaan-kebahagiaan seorang perempuan. Can’t help it."


“Kebahagiaan seorang perempuan… Apaan?


Well, kau tahu. Saat kau rasanya tak bisa berhenti tersenyum sangat lebar dari telinga ke telinga. Saat seluruh darah rasanya mengumpul di kepalamu, membuatmu mati rasa, dan kepalamu mendadak terasa sangat ringan. Saat bagian bawah tubuhmu tiba-tiba terasa melumpuh. Saat jutaan kupu-kupu beterbangan di dalam perutmu. Saat kau merasa tengah melayang tiga puluh senti di atas lantai. Saat kau selalu ditemani pelangi pribadi, dengan hujan petal-petal bunga. Seperti itulah.”


Whoa. Dan Andrew… membuatmu merasa begitu?”


“Yah… menurutmu?”

Everybody Has Their Own Version of Happiness Part 1

Disclaimer: Mami JK untuk PotterVerse-nya dan para PM chara-chara yang tersebut di dalam FF ini. Maaf kalo OOC oTL


Dedicated to: Tiga muse saya, sumber inspirasi saya, tiga orang yang sangat berarti dalam perkembangan karakter Liga; Neng Eli, Teki sama Sapu. Makasih banyak. FF ini nggak bisa terwujud kalau tanpa kalian, mungkin Liga nggak bakalan jadi kayak gini tanpa kalian. Maaf, mungkin gw yang lagi kena euforia ini bikin kalian empet dan bosen oTL gw sayang kalian ;;________;;


A/N: Ini FF tentang Liga Gerhild, Original Chara gw di IndoHogwarts, kelas 6, visunya Kate Bosworth. Dibikin waktu lagi blending, terus belum lama habis marathon Buffy 4 season dan marathon ulang That's 70's Show 2 season, jadi--well--beginilahjadinyauhuk (pokerface) Sepertinya rated M. Kayaknya sih. Siap-siap aja =)) *ditimpuk* Karena kayaknya kepanjangan, gw bagi dua. Ini part 1-nya. Enjoy!


Completion date: June 29, 2011



Everybody Has Their Own Version of Happiness


Liga Gerhild, tujuh belas tahun. Malam ini, dia hanyalah seorang gadis biasa dalam gaun ball merah menyala buatan Oscar De La Renta yang terseret anggun, dengan pipi yang memerah sehat, dengan rambut keemasan yang masih tergelung dan tersampir indah, dengan tuxedo milik Andrew VanWyck menutupi bahunya yang tenggelam dalam rangkulan hangat si pemuda dengan dasi terlepas dan dua kancing kemeja teratas terbuka, sebelah tangan menggelayuti pinggangnya, sebelah lagi berayun kekanakan menenteng hak tinggi Pour La Victoire berwarna merah satin, kaki-kakinya yang telanjang menapaki lantai batu dingin, berjalan perlahan, seolah keduanya tak ingin segera tiba di tujuan, seolah keduanya sama-sama berdoa agar waktu terhenti begitu saja.


“Sebentar. Jadi asramamu teknisnya ada di bawah danau? Betul-betul di bawah danau?


Liga mengangguk kecil. “Jangankan kau, aku pun awalnya tak percaya. Tapi itu tertulis di buku Sejarah Hogwarts, jadi harusnya benar, kan?”


Satu lagi, informasi yang menurut Andrew menggelikan dan tidak wajar mengenai kastil Hogwarts. Dibandingkan dengan kastil Durmstrang-nya yang hanya empat lantai itu, jelas saja Hogwarts memiliki lebih banyak sudut-sudut tak terduga. Namun, letak asrama di bawah danau baginya itu lebih mengarah ke sinting.


No offense, tapi Salazar-mu itu betulan sakit kayaknya,”


Liga tergelak pelan. Mengesampingkan segala catatan agung mengenai Salazar Slytherin, satu dari empat pendiri Hogwarts, kemungkinan Salazar Slytherin ini mengidap paranoia berlebihan, tampaknya tak bisa ditampik.


“Setidaknya aku tak perlu memanjat ratusan anak tangga setiap hari. Bayangkan kalau asramaku di menara juga, seperti anak-anak Gryffindor dan Ravenclaw,” Liga menggeleng-gelengkan kepalanya prihatin.


“Iya juga, sih. Nanti kau tambah kering saja. Tapi dengan betis sebesar atlet Olimpiade,” kalimat Andrew terputus, mendadak berakhir dalam erangan ketika Liga memukul lengan atasnya dengan high heels-nya, namun segera berganti dengan seringai puas mendapati gadisnya gagal dalam usahanya untuk tampak marah dan tersinggung.


“It’s quite romantic, don’t you think so? With me staying on the lake,” si pemuda berbisik rendah, menjawil ringan dagu mungil Liga, mengelus bibirnya yang terpoles lipstik merah menyala, semerah gaunnya. Menunduk, menyesapnya, lamat-lamat, menikmati setiap detik yang berlalu, mereguk setiap tetes manis yang terasa, merengkuhnya dengan hati-hati.


Liga merasakan permukaan tembok batu menekan punggungnya, tuxedo yang hanya tersampir di bahunya bergeser. Dia tak peduli. Dia tidak sedang dalam situasi untuk peduli. Sepasang hak tinggi merah satin terjatuh, disusul bunyi halus tuxedo yang ikut terpuruk, jemari yang sesaat lalu menggenggamnya kini saling mencengkeram, saling menekan, menari-nari, kedua lengan ramping melingkar erat. Ada helaan napas berat yang tertahan, naik-turun, kehilangan irama. Jemari yang bertualang, membelai liar, bibir yang saling berpagutan, hembusan panas di telinga, sentuhan penuh gairah di leher, Liga merasa kakinya selembek jeli, lantai di bawahnya sehampa awan, seluruh permukaan kulitnya tersengat menyenangkan.


Keduanya hanyalah remaja tujuh belas tahun, Sayang. Remaja tujuh belas tahun normal, yang dengan mudah tenggelam dalam kebahagiaan-kebahagiaan sederhana yang tercipta dan terasa pada saat ini.


“So when will you invite me in?” Andrew berbisik berat di sela-sela, kembali membuat darahnya berdesir. Seraut senyum tertarik, tampak penuh sesal.


“I can’t,” Liga balas berbisik, sesaat terkesiap, pemuda itu belum berhenti, hidung mereka masih saling bersentuhan, pun jemarinya, masih tenggelam diantara helai-helai ikal kecoklatan sang pemuda. “Bahkan anak asrama lain juga tak seharusnya masuk, apalagi kau?”


“Huh. Being a good girl, eh?”


Dia tertawa kecil. “Besides, you can’t enter my room. It’s enchanted,”


Pemuda itu menggerung. “With your curfew and everything, Hogwarts-mu betulan cupu deh.”


“Lebih cupu mana dengan cowok yang mengencani cewek murid sekolah cupu?


“…Woi.”


Nah, nah. Dia menang, bukan begitu? Jadi bolehkah kita terkekeh puas sekarang? Sudah, dari tadi, andai saja Andrew tidak sibuk membuat napasnya terasa terputus-putus, atau beberapa kali terkesiap ketika sesuatu menyengat lehernya, atau membuatnya sibuk mempertimbangkan ajakan Andrew sebelumnya untuk—erm—well—menginap di kabinnya.


Dan ya, Liga tahu apa yang akan terjadi, seandainya itu terwujud.


“Andrew, I—“ terputus pagutan lain, “—really—“ sengalan napas, “have—to—“ terengah pelan, “go back—“


“Mmm-hmm,” si pemuda melenguh, tampak jelas hanya bersuara ala-kadarnya tanpa mempertimbangkan apa maksud dari lenguhannya, atau setidaknya, terlalu sibuk untuk memperhatikan kata-kata Liga.


“Andrew!”


Satu desahan berat, panjang, penuh sesal. Hangat tubuhnya menjauh, ogah-ogahan melepas kontak, masih berkeras melingkari pinggang ramping si gadis, tergelitik organza yang berlipat-lipat, sebelah lengannya mengelus lembut pipi sehalus kaca. Liga mengelus lengannya pelan, iris kelabunya menatap nanar, jemarinya merunut keliman kemeja si pemuda, menggigit bibir sendu.


Kau sudah tahu kenapa. Keduanya tak ingin berpisah.


“Besok sarapan bareng?”


“Eight?”


“Nine.”


“Fine,” si gadis terkekeh kecil, geli dengan kecupan di ujung hidungnya. Kembali, Liga merasakan hangat tubuhnya menjauh, ketika si pemuda menunduk, memunguti sepasang hak tinggi dan tuxedo yang sesaat lalu terabaikan begitu saja, mengulurkan sepatu merah satin padanya, kembali menyampirkan tuxedo-nya di bahu Liga.


“See you around,”


“See you around,” Liga berbisik, membalas kecupan lembut salam perpisahan, yang diakhiri tepukan kecil di puncak kepalanya.


“Sana masuk, atau sedetik lagi kuculik kau ke kabin,” kekeh Andrew, matanya berkilat jahil, meski tak tampak usaha apapun untuk merealisasikan ucapannya, melenggang pergi, tangannya tenggelam di dalam saku. Hak tingginya dia genggam dengan kedua tangan, bersandar pada tembok, memperhatikan punggung tegap itu semakin menjauh, dan menjauh…


Lalu menghilang di belokan.


Liga Gerhild, tujuh belas tahun. Baru saja berpikir, mungkin kebahagiaan tidak menuntut kompleksitas teori penuh kriteria yang dulu disusunnya.


—o0o—


“Nah! Tuh kan, sudah pulang—wait. YOU WEAR HIS SUIT?!”


Matanya membulat terkejut. Mengingat dia dan Andrew termasuk yang paling terakhir meninggalkan Aula Besar (ditambah sedikit ’mampir’ di sini dan di sana—well,) dan kegiatan ‘ekstra’ di depan dinding yang menjadi pintu masuk asrama Slytherin, Liga mengira hanya tinggal tumpukan abu dan bara berkelip hampir padam di perapian, ditambah kursi-kursi dan meja membisu yang menyambutnya.


Sama sekali tak menyangka akan ada bonus berupa sesosok berambut merah menyala, masih dalam balutan gaun strapless hitam organza berhias tatahan sequin emas, tengah bersandar pada punggung sofa yang membelakangi mereka, berkacak pinggang dengan ekspresi terkejut terpeta jelas. Seolah masih kurang, sesosok pirang yang rambut riap-riapannya tak ada lagi yang punya, duduk di atas punggung sofa, tengah mengerang kesal, meninju sofa berkulit sewarna zaitun matang tanpa tedeng aling-aling, namun kelipan jenaka dan seringai jumawa segera menggantikan.


Nah. Ini, satu bentuk kejutan yang tidak dia sangka-sangka.


“Ngapain kalian?” Tentu, dia heran. Untuk apa Orange Muscat dan Nigel White menungguinya pulang dengan setia, mungkin sambil terbengong-bengong bosan menanti menit-menit berlalu? Dia sebelumnya memperkirakan Orange sudah di dalam kamar mereka, mengganti gaunnya, mungkin tengah bergosip dulu dengan Kerry, Cannelle dan Eloise mengenai yang masing-masing mereka alami di Ball tadi. Mungkin saat Liga masuk, Orange baru saja terlelap, tapi segera meloncat bangun karena suara pintu terbuka, lalu memberondongnya dengan sejuta pertanyaan, kemudian memekik tertahan (agar tidak membangunkan Kerry, Cannelle dan Eloise) atau berdecak di setiap detail yang menurutnya perlu.


Sedangkan Nigel, well, kau tahu dia seperti apa. Setelah mengibas-ngibaskan tangannya seolah mengusir mereka keluar dari Ruang Rekreasi sebelum Ball tadi sambil nyengir menyebalkan, berkata dia lebih memilih berkencan dengan bantal daripada ribet memakai jubah pesta dan berputar-putar bagai orang tolol, paling-paling Nigel hanya akan mencegatnya besok, lalu mengorek-ngorek apa saja yang terjadi antara dirinya dan Andrew dengan tampang jumawa-nya yang minta disumpal cacing Flobber, berhenti menggodai dirinya cupu karena masih belum tersentuh, namun berganti dengan berbagai seruan-seruan norak bila mendapati dirinya tengah bersama Andrew.


Tapi, Liga tak pernah menduga keduanya akan dengan kompak menungguinya begini. Sekejap Liga jadi merasa seperti seorang anak tunggal yang baru keluar berkencan pertama kali seumur hidupnya, dengan Nigel dan Orange menjadi sepasang orang tua yang ketat dan khawatiran.


Tunggu. Itu menggelikan.


“HE GAVE YOU HIS SUIT?!”


“WAH. Kalian ngapain saja tadi?”


“TUNGGU NIGEL! This doesn’t change anything! Aku tetap menang!”


“Woi!”


Tidak mengejutkan, keduanya mengabaikan pertanyaan heran Liga. Si pirang-pilon kembali bersungut-sungut dalam gerutuan tinggi-rendah yang Liga tak bisa tangkap kata-katanya, namun kini berbalik, memungut kantung kulit yang tampak berat, disambar Nona Anggur yang masih mendelik curiga. Mata Liga semakin membesar, tiba-tiba sadar apa yang terjadi.


“Tunggu tunggu. Apa-apaan sih? Kalian taruhan?” masih menenteng-nenteng hak tingginya, Liga berjalan mendekati keduanya, berkacak pinggang. Baiklah, tingkat godaan keduanya saat tahu Liga tercantol seorang pemuda Durmstrang (dalam hal ini, Orange lebih kepada mengomel panjang lebar, serta mewanti-wantinya setelah berhasil mendesak Liga menceritakan setiap detil percakapan antara dirinya dengan Andrew saat di kelas Ramuan) meningkat drastis, namun tetap saja, Liga tak mengira akan sampai pada tahap taruhan seperti ini.


“Heh!”


FYI, Liga masihlah seorang Liga yang dulu. Dia tak suka bila diabaikan.


“Nigel yang mulai,” melengos, kembali duduk dengan hati-hati agar gaunnya tidak terlipat di tempat yang salah, akhirnya Orange membuka mulut. “Dia mencegatku waktu aku baru pulang, mendadak bertanya kenapa tidak pulang denganmu. Ya kubilang saja kau lagi lupa dunia di pelukan Andrew-jerk-VanWyck itu. Terus ngajak taruhan tolol,”


Seperti kali-kali sebelumnya, selalu ada nada sebal yang terselip bila Orange harus mengucapkan nama Andrew, yang Liga abaikan seperti biasa (cukup sekali saja mereka berdebat hebat tentang satu makhluk adam ini, saat Orange mengaku dia baru saja melabrak Andrew karena menurutnya pemuda brengsek macam Andrew tidak pantas untuk Liga), hanya memusatkan perhatian pada kata-katanya yang lain. Mengerutkan kening, dia ganti menatap tajam Nigel, meminta penjelasan.


Tolol, tapi kau senang-senang saja bisa menang, kan?” pemuda itu mendengus malas, dengan luar biasanya tidak lagi tampak kesal dan mengumpat-umpat, padahal Liga yakin jumlah kepingan Galleon dalam kantung kulit di genggaman Orange itu tidak sedikit. Lagi, dia merasa tersentil oleh kenyataan.


Dasar orang kaya.


“Oh, come on!” dia berseru, menghentakkan kakinya kesal, sama sekali tidak sempat mengkhawatirkan apakah ada yang akan terbangun karena keramaian yang mereka buat atau tidak. “Taruhan apa? Jangan bilang kalian taruhan soal aku bakalan pulang malam ini atau tidak,” dia menggulirkan matanya malas, meletakkan hak tingginya di samping sofa sebelum ikut duduk di petak kosong sebelah kanan Orange.


Hening.



Bull’s eye?



Oh ya Merlin bunting.


Dia membelalak ngeri.


“Demi apa—“ speechless— “kalian betulan taruhan soal itu? Soal ITU?!


Bunda Maria. Teman macam apa mereka berdua ini? Dia menuntut penjelasan sesegera mungkin pokoknya.


“Hei, sudah kubilang Nigel yang mulai, oke?” Orange menegaskan, meski tampak sedikit kegelisahan di sorot matanya, sangat jelas sengaja menghindari tatapan Liga. “And I said no the hell way you’ll ditch the curfew and sneak out with that—bast—“


“Andrew,” Liga membetulkan, otomatis saja, sedikit lega Orange bertaruh dirinya akan pulang meski jelas sekali untuk alasan yang sama sekali berbeda antara keduanya. Tapi ini bukan waktunya untuk membahas itu, no? Ada hal lain yang lebih penting. Menusuk Nigel dengan garpu besi penyodok kayu bakar dan memanggangnya di atas perapian, misalnya.


“Dan kenapa kau malah bikin taruhan tolol macam itu, heh? Bukannya tadi kau sudah pamitan mau pacaran dengan bantal tersayang?” Liga memutar tubuhnya menghadap dua oknum yang Liga tak percaya malah saling berbagi kemoronan, kedua tangannya terlipat di dada, bibirnya menipis.


“Bosan tidur. Dan Pavlov berisik,”


Liga mengangkat alis. Sayangnya, saat itu tidak terdengar lagi dengkingan-dengkingan memelas samar dari arah kamar anak laki-laki meski sudah sesunyi gurun (bila mengabaikan seruan-seruan hebat mereka bertiga, tentu saja), mana Liga percaya Nigel tidak sengaja bangun untuk menagih laporan (dan kemungkinan besar menyetok ulang bahan-bahan godaannya)? Lama-lama bocah itu jadi mirip Auel dengan telinganya yang peka pada semua jenis kisikan.


“Oh, please,” dia mengerang frustasi, kedua tangannya terangkat pasrah, “kalian benar-benar berpikir aku bakalan menyelinap ke kabin Andrew dan baru pulang besok pagi? Aku tidak semoron Fawcett dan Stebbins, for heaven’s sake. Snape tak akan membiarkanku hidup kalau tahu aku tidak pulang ke asrama!”


Liga menyembunyikan fakta, kalau beberapa puluh menit lalu, dia serius menimbang-nimbang ide gila itu. Andai saja dia tidak ingat gaunnya berwarna merah menyala yang akan langsung terlihat dari jarak lima puluh meter itu, tanpa tambahan mantel apapun sementara cuaca di luar sama sekali tidak ramah untuknya yang hanya memakai gaun strapless, juga tidak rela gaun empat ribu poundsterling-nya jadi kotor dan rusak terseret-seret di atas salju, mungkin sekarang dia tengah bergelung di atas tempat tidur Andrew, hangat di bawah selimut tebalnya, aman dalam dekapan kedua lengan kokohnya, gaunnya terhampar di atas lantai, bertumpuk dengan tuxedo, vest dan kemeja si pemuda yang terserak kusut—


well.


Tidak. Tampaknya, dia belum siap.


“Kau tidak seru,” Nigel mendengus, matanya bergulir bosan, terhenyak dalam posisi seenaknya, menaikkan sebelah kaki ke atas sofa. “Sebenarnya, kalian berdua sudah sampai mana, sih? Jangan-jangan—“ matanya, yang sewarna dengan mata Liga, membulat tiba-tiba, hingga Liga diserbu berbagai perasaan tak enak—Nigel pasti, lagi-lagi, mengambil konklusi paling kasar yang bisa manusia ciptakan, “—jas itu cuma basa-basi doang, eh? Kalian masih belum masuk second base, ya?”


tuh kan. Dasar pirang bego.


“HEH!”


“NIGEL!”


Bukan hanya Liga yang berteriak, ternyata. Orange yang lebih dekat, lebih cepat memukulkan bantal sofa ke kepala si pirang snobbish. Meski, kembali Liga sadar, untuk alasan yang sama sekali berbeda.


“Lipstik-mu masih sama, jangan-jangan kalian sama sekali tidak berciuman,”


Nigel yang langsung menyerah, sama saja seperti pertanda kalau dunia sudah akan berakhir.


Long-lasting lipstick, d’oh. Daripada menggosipkan diriku, kenapa kau tidak tanya-tanya Orange saja,ball-nya tadi bagaimana?” alisnya terangkat penuh arti, melirik redhead di sampingnya dengan kilatan mata hampir senada kilatan Nigel saat tadi pemuda itu menggodanya. Gadis itu gerak cepat. Dia langsung mengirimkan delik peringatan padanya.


“Nah! Memangnya Orange kenapa tadi? Kudesak terus sambil menunggumu, dia tetap serapat kerang. Sebegitu buruknya ya, ditinggal Arha-apalah itu namanya,” beberapa hari sebelumnya, Orange yang berwajah kusut di tepi tempat tidur berkata parau kalau Arhanovich, yang sejak hari pengumuman diadakannya Yule Ball telah langsung meminta Orange, mendadak membatalkan semuanya.


Berpuluh-puluh menit berlalu tanpa ada kata tertukar diantara dia dan Orange, kecuali tangis diam gadis itu di pelukannya. Mengesampingkan fakta serumit apa hubungan gadis itu dengan si bocah junior, Liga paham ini benar-benar guncangan untuknya. Dia dan Liga sudah mempersiapkan semuanya semenjak jauh, bahkan jauh sebelum keduanya tahu persisnya acara apa yang akan diadakan di Hogwarts. Dengan hanya berbekal sepotong informasi yang tertulis di surat kenaikan kelas mereka kalau mereka harus membawa jubah-pesta di tahun ini, Liga dan Orange benar-benar habis-habisan. All-out. Semua sesi belanja mereka di Oxford Street hanya dihabiskan untuk mencari gaun, sepatu, perhiasan, bahkan sampai ke parfum apa yang bakal mereka pakai.


Andai Liga tidak memaksanya pergi, mengingatkan fakta kalau gaun Oscar De La Renta-nya juga sama-sama tidak murah (iya, mereka akhirnya membeli gaun dari desainer yang sama) dan akan sangat disayangkan bila Orange kehilangan kesempatan memakainya, mungkin alih-alih tidur, Nigel bakalan tenggelam di sofa depan perapian berdua dengan Orange, mungkin bergosip, mungkin sambil minum cokelat panas dan membakar marshmallow. Untungnya, dia mengangguk, pasrah saja Liga mendandani dan menata rambutnya.


Nu-uh, lupakan si berondong. Orange got herself her own prince, didn’t you, Orange?” mendendangkannya, sengaja ingin mengompori si Nona Anggur.


“Stop right there, Liga,”


Tentu saja, bukan Liga kalau langsung menurut dan terdiam. Tidak, bahkan dengan Orange berusaha membekap mulutnya.


“Ooh, bukannya itu benar-benar menakjubkan, ya? Aku ingat kok, Prince Auel melihatmu merana sendirian di sudut, lalu mengajakmu berdansa, lalu wajahmu sampai memerah begitu, senyum-senyum seperti angsa baru melihat bulan—“


“I said shut up!”


“—Nah. Sekarang siapa ya yang merasa dunia cuma milik berdua?”


“LIGA!”


Kini sasaran serangan bantal Orange berpindah—Liga refleks loncat, menghindari pukulan membabi buta gadis itu, sementara Nigel tergelak hebat. Menakjubkan tak ada anak lain yang terbangun lalu menyemprot mereka bertiga habis-habisan dengan tuduhan mengganggu ketenangan umum.


“Ayolah, Orange. Aku senang kau tidak harus memasang awan mendung pribadi, betulan!”


Liga tak mengira wajah Orange bisa semerah rambutnya. Ternyata, bisa.


“It’s Nadav, okay? Nadav Arhanovich. And I’m going to sleep,” berbalik tanpa mengindahkan tatapan Liga dan Nigel lagi, Orange menunduk, bergumam rendah, melangkah tergesa-gesa menuju kamar anak perempuan. Liga melepas kikikan kecil saat didengarnya pintu dibanting menutup, kembali menyamankan diri di sofa panjang, kini hanya berdua dengan Nigel.


“Kau sadar kan, kalau Orange cemburu pada Andrew-mu itu?”


Tahu, kok,” satu senyum puas terkembang, kedua iris kelabunya masih memandangi selasar menuju kamar anak perempuan, tempat di mana beberapa detik lalu, ekor gaun hitam Orange menghilang di balik pintu.


“She’s cute when she pouts and scowls,”


Nigel menggulirkan matanya lagi. “Girls,”


“Tidur, sana,” tambahnya. “Jangan salahkan aku kalau besok kau bangun terlambat untuk kencan-sarapanmu,”


“Hah?” untuk yang ini, Liga benar-benar murni terkejut, dengan rahang sedikit terbuka, membuatnya tampak lebih moron dari Nigel. “KOK TAHU?!”


“Kau itu terkadang memang gampang ditebak deh, Liga.”


“….Sial.”


Liga membiarkan si-pirang-bego berlalu dengan cengiran snobbish-nya yang jumawa dan luar biasa puas. Tapi kalau kau bertanya lagi, itu hanya karena Pour La Victoire-nya terlalu mahal untuk dipakai menimpuk kepala.



TO BE CONTINUED

Friday, July 01, 2011

Three Words, Eight Letters

Disclaimer: Well, sebenernya ini Fanfic-nya Rigel yang dipost di board Fanfiction di IH. Tapi yang ini, edited version supaya nggak tampak penyihir banget :'| Jadi anggaplah ini OriFic =)) *ditabok* Janette Blizzard punya Talith, Recha du Noir punya Rere, Dimitrov Eammnon punya Sigih.

Completion Date: December 13th, 2010



Three Words, Eight Letters

It’s been said, and over



Suara pintu dibuka. Langkah-langkah pelan, gamang, teredam karpet Persia berbulu tebal. Hening sesaat. Lemparan jas ke atas salah satu sofa beludru. Hempasan tubuh di kursi berlengan beludru lain.


Jika pria itu tengah duduk nyaman di sofa ruang keluarga, menonton dengan santai drama percintaan di televisi dengan kualitas macam proyek murahan anak sekolah menengah, mungkin dia akan tertawa sampai puas, menikmati hanya karena kesampahannya layak untuk ditertawakan dan dihina-dina.


Sayangnya, hidup punya sudut pandang tersendiri dalam menerjemahkan arti kata lelucon. Terkadang seperti setuju dengan pemahaman manusia kebanyakan. Seringkali hidup memilih dengan tiba-tiba, tanpa peringatan, dan dengan tingkah kalau manusia hanya tusuk gigi di tangan seekor beruang ngamuk, untuk menempatkan arti kata lelucon dalam lingkup yang lebih sektoral. Lucu untuknya sendiri. Mengenaskan bagi manusia.


Persisnya, bagi satu manusia bertubuh tegap, dengan rambut pirang kecoklatan yang sudah diacak-acak frustasi, yang kini telah melempar jas Armani-nya dengan lagak dia bisa beli baru bak membeli loli, tak ada kebahagiaan tampak tersisa di raut wajahnya.


Semacam tawa lolos. Tak memesona seperti tawanya yang biasa. Tidak seduktif, apalagi. Tawa pahit. Getir. Sarkas. Hanya saja, tawa itu sarkas pada dirinya. Menertawai dirinya. Harga dirinya. Kepengecutannya. Eksistensinya. Nasibnya. Ketidakbersyukurannya.


Yah, yang terakhir itu terdengar seperti diucapkan para pandir dan pemuka agama yang taat, selalu mengatupkan tangan dan mulutnya tak berhenti mengucap puji-pujian. Satu hal yang jelas, Rigel du Noir bukanlah orang suci macam mereka. Dia hanya seorang pria berusia hampir dua puluh delapan. Mencecap banyak dosa di masa lalu, namun berusaha untuk tobat, dengan caranya sendiri.


Tapi dia tetaplah seorang manusia. Seorang Rigel. Yang baru saja mendapati, langsung dari pihak pertama, kalau Janette-nya, Jane-nya tengah hamil.


Dan telah bertunangan dengan orang lain.


Tangannya menggerapai meja kecil di samping sofa, mencari-cari remote control CD Player-nya, memutar komposisi Mozart yang mengalun dengan volume lembut. Sepi terlalu menekan telinga, menstimulasi otaknya untuk memproyeksikan bermacam-macam pemikiran absurd juga hiperbolik, sama sekali tak membantu. Lampu tak ia nyalakan. Kegelapan lebih menawarkan sangtuari.


Janette Blizzard.


Yang dia kenal sejak usia sebelas. Seseorang yang selalu ingin dia lindungi dengan kedua tangannya, yang ia jaga bagaikan patung kaca buatan pengrajin terbaik, yang bisa membuat harinya indah hanya dengan menatap kedua bola matanya yang dalam dan tenang, yang membuatnya merasa sebagai kesatria yang baru saja menaklukkan monster laut pengganggu kerajaan bila bibir seranum delima itu tersenyum penuh kebahagiaan.


Sesungguhnya Janette untuknya itu—apa? Mereka bukanlah lagi remaja-remaja ingusan jaman sekolah dulu, dimana rotasi suka-cinta-cemburu-ditolak berputar-putar macam rantai setan yang mengungkung dirinya, Janette dan beberapa pihak figuran lain, adalah hal biasa. Mereka telah tumbuh melewati fase itu. Dewasa. Seharusnya.


Yet, he still clung on the same thing, the same person, for all this time.


Ketukan teredam langkah seirama yang familier, lalu ceklikan tombol, bersamaan dengan lampu-lampu bertudung di setiap sudut ruangan yang menyala. Kursinya yang membelakangi pintu masuk membuat Rigel tak bisa melihat siapa yang datang, tapi langkah kaki itu sudah memberitahunya.


"Didn't realize you've been home," ujar sang suara, meletakkan baki berisi peralatan minum teh untuknya sendiri di meja kecil di sebelahnya, merunduk untuk mengecup bibirnya ringan, helaian lembut setara sutera hitam tebal tergerai jatuh, aroma mawar menggelitik hidungnya.


"Baru saja tiba," tak sepenuhnya tepat, memang. Sebelah alis sang istri terangkat kilat menyangsikan, namun tak berkomentar lebih jauh lagi. Mendentingkan bel memanggil pelayan, meminta tambahan cangkir dari dapur untuk Rigel, menuang teh untuknya sendiri dan suaminya, gaun tidur sutera berenda melayang seiring geraknya, Recha du Noir duduk di kursi berlengan yang sama, terpisah oleh meja kecil berisi teh dan kudapan darinya.


"How she’s doing?"


Dia tahu siapa yang dimaksud istrinya. Pun dia tahu, ini hanyalah basa-basi semata. Recha tak pernah bisa sepenuhnya berkonsiliasi terbuka dengan dia. Dengan Janette.


"She's fine, as always. She—" ucapannya tertahan sesaat. Selama ini, selalu ada selapis yang dinamakan harga diri dan keangkuhan antara dia dan istrinya. Pernikahan mereka semata hanya untuk keuntungan status dan bisnis bagi keduanya. Dia menjatuhkan pilihan pada seorang Recha McFadden, tidak lain dan tidak bukan karena mereka sama. Sejenis. Juga saling diuntungkan. Rigel diuntungkan dengan meluasnya relasi bisnis, Recha diuntungkan—karena dia memerlukan status sebagai istri seseorang. Hanya ada permainan diantara keduanya: permainan untuk tidak jatuh cinta terlebih dulu. Seperti apa dirinya, luar dalamnya, baik busuknya, seperti itu jugalah Recha. Wanita itu tahu, tanpa harus dirinya memverbalkan.


Mungkin, karena itu pulalah dirinya memilih Recha, untuk menjadi bagian dari keluarganya?


"She... will become Madame Eamnnon, soon,"


Katakanlah dirinya ini lelah. Di satu titik, bahkan seorang Fuhrer pun bisa mengambil tindakan tolol bagai remaja baru mengenal kata puber karena batin yang lelah. Mungkin ini yang terjadi pada dirinya sekarang. Biarlah, untuk sekali ini saja, dirinya menyibakkan selubung antara dirinya dan Recha. Biarlah kali ini dia meletakkan senjata, menyatakan finalisasi antara permainan ego mereka berdua.


Istrinya tak mengucap apa-apa. Meletakkan cangkir earl grey-nya, Recha mendekati mini bar di sisi lain dinding, berkutat beberapa saat, kembali ke depan Rigel dengan cangkir teh bercampur brandy.


"Minumlah. Kau tampak kacau,"


Rigel menurut. Tegukan pertamanya memang ampuh, sedikit membuatnya tenang. Duduk di lengan kursinya, Recha menunggu hingga suaminya selesai, kembali meletakkan cangkir di atas meja. Dia masih tetap duduk di sana.


"What am I doing, Cher?" Rigel berbisik serak, napasnya tampak berat, kepalanya bersandar pada punggung kursi, zamrudnya yang kini tampak bingung dan resah, kehilangan binar yang selalu tampak di sana, menatap lekat bola mata istrinya. "What am I doing, all this while?"


Jemari halus Recha menelisik anak rambut suaminya, lalu merangkulnya lembut, meletakkan kepala Rigel di dadanya, dagunya bertelekan pada puncak kepala suaminya.


Sang du Noir itu, du Noir yang berkelas dan aristokrat itu, gemetar. Gamang. Bingung. Tersesat.


"Pull yourself together," hanya itu yang Recha ucapkan, masih tetap merangkul suaminya. Tak ada kata balasan. Namun tak ada perlawanan. Rigel seolah tersuruk dalam pelukannya, menyerah sepenuhnya.


"Please. Just stay like this—a little longer..."


Senyum lembut tertarik di bibir ranum itu, masih mengelus dan menepuk-nepuk Rigel lembut. Detik, menit, bergulir. Kelopak mata keduanya terpejam. Pelukannya belum terusik, keduanya sama-sama menikmati hening yang menyelimuti, larut dalam geming, menata kembali napas yang teracak gamang, merepih kembali keping-keping kesadaran.


"Daddy?"


Putri kecil mereka memecah hening, terdengar ragu, seperti takut. Keduanya menoleh, mendapati anak-anak mereka berdiri di ambang pintu, Yvonette kecil memeluk erat pinggang Eugene, seolah tak ingin melepasnya lagi selamanya.


"Anette mimpi buruk," bocah sembilan tahun itu menambahkan, lengannya merangkul lembut adiknya, menenangkan. Tampak ada bekas air mata menggenang di kedua pipi tembam Yvonette.


Istrinya menepuk lengannya perlahan, bangkit berdiri menyambut putri kecil mereka, meski tampak jelas ada kelip kecewa membayang di bola mata si gadis kecil yang masih berkilau basah. Selalunya, Rigel yang menemaninya tidur, terkadang mendongenginya, mendendangkan senandung pengantar tidur. Menepuk pelan puncak kepala sang putri kecil, Recha menggamit genggaman mungilnya yang masih bergelayut di pelukan sang kakak.


"Sini, Mummy temani kau tidur lagi,"


"Daddy mana?" tanyanya pelan. Tersenyum penuh arti, Recha mengerling Rigel yang masih duduk, nampak kembali meneguk sisa tehnya.


"Daddy'll come along," berkata singkat penuh pengertian, membawa putrinya kembali ke kamarnya di atas. Rigel masih berkutat, menuang lebih banyak brandy dan teh.


"Daddy?"


Dia merunduk. Entah sejak kapan Eugene berdiri di sampingnya, menatapnya penuh tanya dan khawatir, namun sekaligus tampak cukup dewasa untuk tidak mendesaknya. Sang du Noir tersenyum, menepuk puncak kepala putranya pelan.


"I'm fine, Gene. Come, adikmu minta ditemani," lengan kokohnya menggamit Eugene, menyusul istri dan putrinya.


Istrinya benar. Ada kenyataan yang menunggu Rigel untuk kembali. Dia tak boleh membiarkan dirinya tenggelam terseret arus. Ada mereka yang menunggunya, menatapnya penuh harap untuk menjadi pelindung mereka, sosok panutan mereka. Ada kedua anak dan istrinya yang membutuhkan perhatiannya, membutuhkan seseorang yang terbaik yang bisa mereka dapatkan untuk menjadi ayah dan suami.


Bersamaan dengan langkahnya, satu cerita dia tutup, disimpannya baik-baik di sudut hatinya. Janette memerlukannya, sebagai sahabat. Dia akan selalu ada, kini memberinya senyum penyemangat. Gurat putus asa itu tak seharusnya tampak lagi.


—THE END—