Friday, August 26, 2011

Untitled

Ini draft lama, sebenernya. Tahun 2009 =)) So maafkan kalo crappy parah =)) This was supposed to be a novel, apa daya gw cuma sanggup bikin plot bunnies here and there dan beberapa potongan scene, as usual =)) yasudahlah... mungkin kapan-kapan gw lanjut (kalo niat) *dikunyah* Kenapa gw post? Karena barusan Teki nge-poke, nanya apakah gw nge-fic lagi apa nggak. Gw bilang gw lagi stuck, bahkan utang2 RP aja belom dibayarin =| Jadiyasudahlahyaaa.... gw ngepost ini aja, kayaknya Teki juga belom baca yang ini =)) Untitled karena---gw pada dasarnya nggak bisa cari judul oTL Yasudahlah, enjoy aja :3

------------------------------------------------


Berbagai macam brosur, selebaran, dan pamflet paket wisata disebar di atas meja, mengalihkan perhatianku—yang sedang tenggelam di sofa kesayanganku—dari buku sketsa yang sedang kutekuni. Keningku berkerut, kuturunkan buku sketsaku, mengintip pamflet-pamflet yang berserakan di atas meja di depanku. Kuangkat punggungku, menunduk melihat lebih jelas lagi hamparan pamflet-pamflet itu. Kupandangi dia yang berdiri di depanku dengan tatapan penuh tanya.


“Apa ini?” tanyaku.


“Brosur,” katanya singkat. Mataku bergulir malas. Percakapan tidak penting a la Si Pintar dengan Si Bego ini selalu saja muncul kapanpun kami berbincang. Heran. Siapa diantara kami yang pintar dan siapa yang bego, sih? Dia kan dokter bedah. Seharusnya dia pintar, dong.


“Iya aku tahu itu brosur,” orang buta huruf pun tahu itu brosur, tapi kalimat ini tak kuucapkan keras-keras, “maksudku brosur apa?”


“Brosur wisata,” jawabnya enteng, cengiran lebar terbentuk di wajahnya, membuatnya persis seperti anak kecil yang baru saja dibelikan mobil-mobilan yang sudah diidamkannya berbulan-bulan.


“Untuk apa?”


“Untuk kita berdua, kau pikir untuk apa lagi?” lagi-lagi, pertanyaan tidak penting. Untuk kasus ini sepertinya dia yang lambat menangkap maksud pertanyaanku. Atau kalimat tanya yang kugunakan salah? Misteri ini masih belum terpecahkan.


“Maksudku, kenapa kau tiba-tiba menyodorkan segepok brosur wisata ini ke hadapanku?” Sumpah, aku sendiri tidak mengerti kenapa kami berdua bisa tahan dengan percakapan tidak penting yang selalu meluncur begitu saja di antara kami.


“Ya karena aku ingin berwisata bersamamu, tentu saja. Itu berarti aku juga harus menanyakan keinginanmu tentang tempat tujuan, karena aku tak mau kita pergi ke tempat yang tak ingin kau datangi. Kita akan pergi awal bulan April, cuacanya paling nyaman untuk berwisata. Aku sudah ambil cuti dua minggu. Jadi sekarang kau pilih, mau pergi ke mana?”


Aku hanya bisa bengong. Apa-apaan? Ada apa ini? Kenapa begitu mendadak? Dan sejuta pertanyaan lainnya melintas di kepalaku begitu cepat bagai quarsar yang beterbangan di jagat raya. Kelopak mataku mengerdip beberapa kali.


“Ha?” Tolong maafkan keimbisilan koordinasi antara otak dan mulutku. Di saat aku punya berjuta hal untuk ditanyakan, mulutku malah hanya sanggup mengeluarkan dua huruf itu. Namun sepertinya dia sudah mengerti kebiasaanku ini. Dia duduk di sebelahku, tatapan matanya begitu serius hingga, jujur saja, aku agak takut. Saat-saat dia menampakkan wajah seriusnya seperti kesempatan satu diantara seribu. Kedua mata sewarna platina mengunciku dalam tatapan tajamnya. Tangannya melepaskan buku sketsa dari genggamanku dengan lembut. Diangkatnya kedua tanganku, dan dikecupnya dalam.


Tuhan, bahkan setelah kami berdua hidup bersama selama beberapa bulan, sikapku padanya masih seperti fans norak yang menggilai artis yang dipujanya. Terlebih bila dia bersikap seperti ini. Mati-matian aku menahan diri. Oh-tolong-cepatlah-bicara-atau-aku-yang-berteriak-kegirangan-karena-kau-cium-seperti-itu.


“Kita akan berwisata untuk bulan madu, Abby. Kita menikah musim gugur lalu, tapi hingga sekarang belum sempat berbulan madu karena kesibukanku. Jadi aku mengajukan cuti sejak sebulan lalu, agar kita berdua bisa pergi,” jelasnya, dengan suaranya yang lembut dan sabar.


Tahu apa yang kulakukan? Aku hanya bisa bengong dengan rahang terbuka, dan mengerjap beberapa kali. Shock beruntun. Untung aku tidak punya penyakit jantung atau darah tinggi. Kalau tidak, dia harus mengoperasiku karena terkena stroke atau entah apa lagi.


“Keith, aku kan sudah bilang, tidak bulan madu pun tak apa. Toh kita tinggal seatap dan setiap hari pun bertatap muka. Kau ambil cuti, Rumah Sakit pasti kelimpungan mencari penggantimu. Kau orang penting di sana,” ujarku. Ini bukan hanya basa-basi. Aku benar-benar serius dengan perkataanku. Benar deh, bulan madu itu untuk apa? Hanya seremonial belaka. Penanda kalau sepasang pria dan wanita sudah meresmikan hubungan mereka di gereja ataupun kantor catatan sipil, dan mereka berdua akan mengarungi bahtera kehidupan bersama-sama, menentang ganasnya ombak lautan kehidupan.


Wow, kata-kataku bagus juga ya barusan? Aku harus mulai mempertimbangkan kemungkinan jadi penulis. Sampingan sebagai seorang ilustrator, kau tahu.


Tapi bukan berarti pernikahan itu batal kalau tak ada bulan madu, kan? Bulan madu hanyalah pelengkap. Ada atau tidak ada, kenyataan kalau kami sudah jadi suami istri tak bisa disangkal lagi, kecuali kami berdua menandatangani surat cerai. Keith-lah yang selama ini cerewet, tentang betapa dia menyesal dia tak bisa mengambil cuti segera setelah kami menikah, mengulang-ulang mengatakan dia akan memastikan kami bisa berbulan madu, dan sebagainya dan sebagainya. Heran, siapa yang perempuan siapa yang laki-laki sih? Baru sekarang kutemui laki-laki yang begitu cerewet akan detil menyebalkan seperti itu.


“Baiklah, anggap ini bukan bulan madu. Anggap ini liburan. Aku bekerja 80 jam seminggu untuk entah berapa tahun tanpa liburan yang berarti. Aku perlu liburan. Dan aku ingin kau menemaniku liburan,” katanya lagi, masih sabar menghadapi kebebalanku untuk hal-hal romantis dan seremonial seperti ini. Senyumku terkembang hangat.


“Baiklah. Liburan. Bisa kuterima,” jawabku akhirnya. Senyum kepuasan a la anak kecil kembali muncul di wajahnya, sukses menggeser paras seriusnya (yang, kuakui, benar-benar membuatnya beberapa derajat lebih tampan. Ooh, andai saja dia bertampang serius tiap hari, alih-alih tersenyum jahil khas anak kecil). Dia mencium keningku hangat. Aku tak bisa menahan diri tersenyum geli.


“Baiklah. Let’s see… apa saja yang kau punya?” ujarku lagi, kali ini melihat brosur-brosur yang dia sebarkan di atas meja. Wow. Keith benar-benar serius dengan ide bulan madu ini. Aku bahkan bisa melihat brosur Venezia dan Yunani di sana. Juga—


—tanganku terhenti di satu brosur.


Phuket.


Keningku berkerut. Phuket? Seingatku itu nama pantai di—er—Thailand—yeah. Brosurnya biasa saja, tak ada yang istimewa kecuali tambahan tulisan abjad Thailand yang tidak kumengerti di sana sini. Kumiringkan kepalaku, mataku entah kenapa seperti tak mau lepas dari brosur itu. Apa yang dimiliki brosur itu sehingga menarik seluruh perhatianku?


”Pim…”


Aku mengerjapkan kelopak mataku. Sekali. Dua kali.


Apa barusan?


Aku cukup waras untuk yakin kalau barusan ada seseorang yang berbisik di telingaku. Memanggilku, tepatnya. Aneh, padahal yang disebutkan suara itu bukan namaku. Tapi aku yakin suara itu memanggil diriku.


“Abby? Something wrong?” aku tersentak. Suara lembut Keith yang penuh nada kecemasan seperti seember air yang menyiram kepalaku, membuat kesadaranku kembali sepenuhnya ke alam nyata. Kelopak mataku masih mengerjap-ngerjap ragu. Aku tidak yakin harus menjawab apa padanya.


“Nope. Not at all,” jawabku akhirnya, mengembangkan senyum canggung. Yeah, tidak apa-apa, hanya tiba-tiba mendengar suara gaib yang entah dari mana asalnya di siang bolong. Sama sekali bukan masalah bagiku. Kecuali Keith yang pasti akan langsung menyeretku untuk melakukan tes MRI dan entah apa lagi untuk memeriksa kepalaku, bila aku memberitahukan hal sebenarnya padanya. Aku masih bisa menangkap sorot menyelidik dari mata abu-abu Keith. Tanganku menyambar brosur Phuket itu dan melambaikannya dengan riang, berusaha mengalihkan pikirannya.


“Ke Phuket yuk? Aku penasaran seindah apa pantainya, juga seperti apa negeri-negeri di Timur sana,” ujarku spontan. Jujur, aku sendiri pun terkejut mendengar kalimat itu mengalir dari kedua bibirku. Beruntung Keith pada akhirnya memutuskan untuk tidak memperpanjang lagi, dan mengangguk mengiyakan. Aku menarik napas lega.


“Kalau begitu, bagaimana kalau kita sekalian singgah di Bangkok setelahnya? Lalu Langkawi, Genting Highland, Kuala Lumpur, terakhir Singapura. Bagaimana? Mumpung kita di sana. Kudengar biaya berlibur di Asia Tenggara tidak semahal berlibur di Amerika sini,” mataku kini membelalak melihat bagaimana Keith tiba-tiba jadi ekstra antusias dengan rencana berlibur kami, dan menarik beberapa brosur dari tumpukan brosur di depan kami. “Kau mau ikutan rally, Keith?” komentarku masih dengan ekspresi terkejut. Keith hanya nyengir, memberiku pandangan seolah seumur hidupnya dia belum pernah bepergian lebih jauh dari seratus kilometer, dan kini memiliki kesempatan untuk menyinggahi belahan dunia lain.


Padahal Keith dulu pernah berlibur ke HongKong. Katanya, sih. Saat dia baru akan masuk sekolah kedokteran. Ingin bermain di Disneyland Hongkong, katanya. Dasar Keith, seperti Amerika tidak punya Disneyland saja.


“Taruhan sepulang liburan kita hanya sanggup makan roti oles mentega selama sebulan,” gurauku, yang disambut dengan gelak tawanya.


Yeah, aku tahu candaanku membuatku tampak terdengar melarat. Keith adalah dokter bedah spesialis otak paling top di Rumah Sakit tempatnya bekerja dengan gaji tinggi yang membuat kami berdua bisa hidup mewah meski ditambah sepuluh orang anak sekalipun.


Baiklah, aku berlebihan. Aku tak mau punya sepuluh anak dan harus membentuk tim kesebelasan keluarga dengan Keith sebagai Kiper dan aku Manager-nya. Kepada negara mana timku nanti harus mengabdi? Amerika tempat kami tinggal? Inggris, negara asal Keith? Aku ragu timku bisa diterima dengan baik, terlebih bila anak-anakku nanti mewarisi kulit kecoklatan khas orang Asia, tubuh kecil, rambut hitam serta mata cokelat tua dariku.


Negara asalku? Jangan tanya. Aku sendiri juga tidak tahu aku berasal dari mana.


Sumpah, aku tidak bohong.


***

Pim…”


”Abby? Ada apa?” mataku mengerjap-ngerjap tak fokus, sesaat aku tidak mengenali suara seseorang yang memanggilku dengan nada cemas itu. ’Pesawat?’ deretan tempat duduk yang tertangkap retina mataku baru membuatku sadar dimana aku sedang berada sekarang.


”Abby?”


Huh?”


Raut kecemasan tampak di wajah Keith, tak putus-putusnya dia memandangiku penuh khawatir. Mau tak mau aku heran. Memangnya aku kenapa sampai Keith sekhawatir itu?


I’m alright... I guess. Memangnya aku kenapa, Keith?” aku balik bertanya.


”Uhm—kau gelisah sekali dalam tidurmu, sampai mengigau segala. Memimpikan sesuatu?” pandangan mata Keith masih belum lepas dari wajahku, seolah berusaha menemukan sesuatu yang aneh dari wajahku. Aku menyunggingkan senyum ringan. Jujur saja, aku benci kalau Keith sudah khawatir seperti ini.


”Mungkin. Aku tak ingat mimpi apa. Sudahlah, sudah kubilang aku tak apa, Keith. Aku cuma capek karena perjalanan jauh ini. Masih berapa jam lagi?” tanyaku, mengalihkan perhatiannya dari topik apa-mimpiku-yang-sampai-membuat-tidurku-gelisah begitu. Aku menjulurkan kepala melewati punggung kursi, mencari layar pengumuman di depan.


”Dua jam lagi,” jawab Keith. Aku menghela napas lelah. Benar-benar, liburan ini sama sekali tidak terasa seperti liburan bila kau memasukkan kelelahan dan badan kaku akibat duduk berjam-jam tanpa pergerakan berarti di atas pesawat. Mataku lemah, membuatku selalu pusing bila membaca sesuatu di atas kendaraan yang bergerak (bahkan membaca buku di atas bis yang berhenti pun bisa membuatku mual-mual) dan baterai iPod-ku sudah mati sejak berjam-jam lalu (saking ributnya menjelang keberangkatan, aku sampai lupa men-charge baterai-nya) dan aku sudah capek tidur. Percayalah, bahkan tidur saja terasa capek kalau kau tidur di kendaraan. Aku membuka penutup jendela kecil di sampingku, memandangi hamparan awan di bawah kami yang berkilauan terkena sinar matahari.


Mimpiku tadi kembali terlintas di benakku. Sebenarnya aku bukan tipe orang yang begitu memperhatikan hubungan antara mimpi dan ramalan nasib. Mimpi hanya refleksi dari alam bawah sadar kita, jadi untuk apa dipikirkan terlalu dalam? Tapi untuk yang satu ini, mau tak mau membuatku sedikit memikirkannya. Mimpi itu datang lagi, semakin sering dengan semakin mendekatnya perjalanan kami ke Phuket. Mimpi seorang pria yang tak bisa kulihat wajahnya, memanggilku dengan suara penuh kerinduan. Terkadang pria itu mengatakan sesuatu dalam bahasa yang tak bisa kumengerti. Bukan Keith. Suara seseorang yang tak kukenal dan tak kuingat pernah kudengar di mana.


Atau mungkin aku pernah bertemu dengannya di masa laluku? Apa pula hubungannya dengan rencana liburan kami ke Phuket?


Aku menggertakkan gigiku kesal. Kenapa hal ini harus muncul di saat aku sudah bisa menerima dan menjalani kehidupan baru, serta diriku yang baru? Entah sejak kapan, aku tidak lagi memaksa memori otakku untuk mengingat-ingat lagi hal-hal yang terjadi sebelum aku terbaring di Rumah Sakit dengan tubuh penuh selang, kabel dan perban.


”Anggaplah ini satu kesempatanmu untuk terlahir kembali menjadi orang yang sama sekali baru. Kau bisa punya nama apapun yang kau inginkan, serta menjalani hidup mulai dari awal lagi. Siapa tahu kau yang dulu pun memang punya beberapa hal yang ingin kau lupakan?”


Senyuman samar tersungging di bibirku. Itu kalimat yang selalu Keith katakan padaku untuk menghiburku yang sedang kesakitan dan kesepian di Rumah Sakit. Aku, orang Asia tanpa identitas yang terdampar di Rumah Sakit New Orleans tempatnya bekerja, kehilangan ingatan, dan tak punya siapa-siapa yang menjengukku atau mengakuiku sebagai kerabatnya. Tak ada yang datang, meski pengumuman tentang diriku sudah disebar kemana-mana. Aku putus asa. Pikiran kalau aku memang tidak diinginkan menguasai diriku. Andai saja tidak dikuatkan oleh kata-kata Keith, entah apa jadinya pada diriku sekarang.


”Abby, mau kubacakan sesuatu?” suara Keith mengalihkan perhatianku dari lamunanku. Aku kembali tersenyum. Aku suka sekali bila Keith memanggil namaku. Abigail. Nama yang dia berikan untukku.


”Kau punya apa?” aku balik bertanya. Tidak seperti diriku, Keith tidak punya masalah dengan membaca dalam kendaraan yang bergerak. Dia sudah terbiasa, katanya. Aku menarik tas jinjing berisi buku yang tergantung di depan Keith, memeriksa isinya. Jariku menarik satu buku. The Little Prince, buku dongeng anak-anak kesukaanku. Tak terhitung berapa kali aku membacanya ulang. Aku sampai hapal isi tulisannya. Tapi itu tidak membuatku bosan.


Kubetulkan letak bantal penyangga kepalaku, bersiap membuat diriku nyaman mendengarkan cerita yang dibacakan Keith, sementara pesawat kami membelah langit, mengantarkan kami ke dunia timur yang misterius.


***


Iya emang cuma segitu =))=)) *ditendang*

Sunday, August 21, 2011

Serendipity

A/N: Ini supposedly—apa ya?—semacam introduksi mungkin, buat cerita tentang keluarga chara gw, keluarga du Noir. Gw kepingin bikin semacem novel buat keluarga du Noir ini, jadi universe-nya bukan Wizarding World gitu. Celeste Noir itu char pertama gw di forum Hogsid (yang sekarang sudah R.I.P), dan kemudian gw lahirkan leluhurnya di IH, yaitu Rigel du Noir yang lahir tahun 1963 dan masuk Hogwarts tahun 1974. Rigel ini char gw yang background plotnya paling matang, keluarganya paling besar (soalnya sampe ngebesan dan sepupuan sama sana sini sampe family tree-nya bikin muntah—I'll show it later ==") dan gw beneran berharap Celeste bisa sampe nongol nanti di IH, pas jaman anak-anaknya Harry Potter ;_____;


Well—yah, enjoy deh. Crappy abis ini grah =')) gw kebanyakan bingung sama mau gimana ngatur alurnya sampe2 cuma numpuk plot bunnies-nya aja di hard disk =)) Terus Celeste jadi punya kembaran..... ini karena pacar gw pernah bilang kayaknya punya anak kembar cewek itu asik *UHUK* dan karena kayaknya nanggung kalo cuma berdua, gw tambahin dia punya adek juga, cowok, namanya Raphael =)) Ini dianggep intro boleh, one-shot boleh, apa deh =)) Enjoy :3



Serendipity



Apa kalian percaya pada takdir? Apa kalian percaya, bahwa tak ada yang namanya kebetulan di dunia ini, bahwa semuanya sudah diatur dalam satu jalinan benang takdir yang saling silang?


“Jangan, Cal! Kita kan dilarang masuk kalau Kakek sedang tak ada di rumah!”


Hari itu sama kelabu, sama berangin, sama bersaljunya seperti kemarin-kemarin. Aku dan adik kembarku kebosanan parah liburan musim dingin begini malah terjebak berhari-hari di rumah. Di puncak kebosanannya, Callanthia menghasutku untuk masuk ke ruang kerja Kakek untuk sesuatu yang ia sebut ‘bertualang’.


Aku tak pernah melihat Kakek marah, namun beliau mengesankan sebagai seorang pria yang sama sekali tak ingin kau buat marah. Jelas, aku tak mau melihat seperti apa Kakek versi marah untuk pertama kali.


“Ayolah, C. Pintunya tak dikunci, kok.”


Bukan Callanthia du Noir namanya kalau dia peduli dengan semprotanku. Dengan santai adik kembarku mengibaskan tangannya, memutar pegangan pintu tanpa memedulikan diriku yang tengah menatap ngeri sekeliling. Kalau sampai ada pelayan yang memergoki, habislah sudah. Mereka bukan pengadu memang, tapi kesetiaan mereka tetaplah pada Kakek sang kepala keluarga du Noir. Bila Kakek mendapati ada yang masuk ruangannya tanpa izin, lalu memaksa para pelayan buka mulut, aku yakin tak akan perlu waktu lama.


“Cal! Jangan macam-macam, ah!” aku menghentakkan kaki kesal. Kami memang hanya terpaut tiga menit, tapi bebalnya adikku itu seolah dia hanya bocah sepuluh tahun.


“Sssshh! Jangan keras-keras!” dia mendesis, menempelkan telunjuk ke bibirnya.


Aku merengut. Siapa memangnya yang sudah membuatku gusar barusan? Tak urung, aku mengikutinya juga masuk, mengendap-endap bagai pencuri. Aku tak bisa meninggalkan Cal menggeratak sendiri begitu saja. Siapa yang tahu apa yang akan dilakukannya?


Ruangan itu biasa saja, sebetulnya. Tak berbeda dari ruang-ruang kerja lain di bagian lain rumah kami. Rak-rak penuh buku, lemari-lemari arsip, nakas penuh pajangan macam-macam, meja kerja kayu mahogani berukir yang gagah menghadap jendela dengan satu PC di atasnya, beberapa kursi berlengan nyaman mengelilingi meja lain, perapian mati di satu sisi dinding, atasnya penuh bermacam-macam foto keluarga dan relasi Kakek. Rumah kami sudah sejak bertahun-tahun lalu menggunakan pemanas listrik, namun beberapa perapian di beberapa ruangan sengaja tak ditutup. Ruang kerja Kakek ini salah satunya.


“Lihat? Tak ada apa-apa yang menarik, kan?” aku mendengus, masih melipat kedua tanganku di depan dada, mengetuk-ngetuk karpet yang menutupi lantai. Cal tak memedulikan ucapanku lagi, berkeliling mengamati setiap incinya, seolah ini pertama kalinya kami masuk ke ruangan ini.


Meski tadi kubilang kami dilarang masuk kalau Kakek sedang tak ada di rumah, kami sudah pernah beberapa kali masuk sebelumnya. Saat Nenek meminta kami memanggil Kakek untuk makan malam, misalnya. Atau bila Ibu menyuruh kami mengantarkan teh. Memang ada pelayan, tapi kami tak menolak. Biasanya selalu berakhir dengan kami duduk di kursi berlengan dengan cangkir teh, menikmati Kakek bercerita.


“Hei, C. Lihat ini,” Cal memanggil dari depan perapian.


Aku menoleh, mendapati pandangannya terpaku pada satu foto hitam putih tua dalam pigura yang diletakkan tepat di tengah-tengah. Alisku mengernyit. Apa yang aneh? Aku sudah melihat foto itu puluhan kali, tak ada yang istimewa.


“Cuma foto,” kataku datar. Herannya, Cal menggeleng.


“Kukira juga begitu, tapi ada sesuatu di bawahnya,” suaranya bernada serius, tangannya terulur mengambil pigura itu dari atas perapian. Aku mengernyit, mendekat, mau tak mau rasa ingin tahuku tergelitik meski waswas Kakek akan memarahi kami.


“Apa?”


“Entahlah, sepertinya tulisan. Terpotong pinggir pigura, aku tak bisa membacanya dengan jelas.”


Aku mengamati pigura foto seukuran kartu post itu lebih dekat. Ternyata benar, ada tulisan bersambung meliuk-liuk dalam tinta merah yang terpotong oleh pinggiran pigura. Fotonya tak ada yang aneh, foto tua satu pemuda dengan empat gadis di kedua sisinya, dalam jas dan gaun pesta yang tampak ketinggalan jaman, sepertinya foto Kakek waktu masih muda dengan teman-temannya. Cal membolak-balik piguranya, seolah tengah mempelajari bagaimana cara membukanya. Tak perlu waktu lama.


Mengejutkan karena aku hanya berdiri di sampingnya sambil menahan napas, tanpa mencereweti Cal tentang Kakek bakal menggantung kami terbalik atau apa seperti biasanya. Hanya perlu beberapa menit bagi Cal berkutat. Senyum kemenangan tertarik begitu dia menarik fotonya keluar.


“Lihat, C! Memang betul ada tulisan!” dia berseru tertahan penuh semangat, menunjuk tulisan bersambung kecil-kecil dalam tinta merah. Aku melongokkan kepala ikut berdebar, entah kenapa ini terasa sangat mencekam, padahal bisa saja tulisannya hanya tulisan sepele.


“In the name of our blood, who stand here from left to the right,” pelan-pelan Cal membaca. Namun mataku keburu melotot, seolah hampir mau keluar. Kurasa Cal juga menyadarinya karena napasnya terkesiap saat membaca kalimat berikutnya.


“Friday BonClay, Cassandra Almendarez—“


“—Rigel du Noir, Voe Goscinny, and Janette Blizzard,” aku memotong tak sabar.


Kami hanya bisa ternganga setelah membacanya. Saling bertukar pandang horor.


“Ini—“


“Apa-apaan—“


“Kakek tak pernah cerita—“


“BonClay, Blizzard, Almendarez—“


“C, apa Thursday, Roxxy dan Estelle pernah cerita tentang ini?”


“Nggak, nggak pernah. Kurasa mereka juga sama sekali tak tahu tentang ini.”


“Jadi itu artinya—“


Lagi-lagi kami berpandangan, dengan rahang identik yang sama-sama ternganga, mata sehitam kumbang identik yang sama-sama ternganga.


“Whoa!”


Hening.


“Kita harus tanya Kakek begitu beliau pulang.”


Aku menimpali dengan diam, masih tercenung. Kalau ini dalam kondisi biasa, pasti aku langsung menampik ide Cal mentah-mentah, karena itu sama saja mengaku pada Kakek kalau kami memasuki ruang kerjanya tanpa izin saat beliau tak ada. Tapi rasa penasaran yang menghantui tentang kenapa teman-teman Kakek punya nama belakang yang sama dengan teman-teman kami, juga kenapa Kakek tak pernah bercerita tentang ini, jauh lebih mendesak. Ragu aku mengangguk.


Sekarang aku tanya lagi. Apa kalian percaya takdir?