Monday, September 26, 2011

Online

Sesuatu mendera jendela. Pelan. Halus. Satu, dua. Lalu semakin cepat. Semakin keras. Semakin banyak. Kacanya berkeretak, kisi-kisi berderak-derak mengkhawatirkan. Sesekali siulan samar terdengar, misterius, melenakan, sesaat membuat mereka yang mendengar lupa kalau kecepatannya pasti mengerikan bila angin sampai bersiul-siul seperti itu.


Aku masih di ambang pintu. Terbuka setengah, kutahan dari angin yang mendorong-dorong dari luar. Tercenung. Air menetes-netes deras, dari kuncir rambutku, bajuku, celana jeans-ku. Menatap kosong pada tetes-tetes air yang mendera bagian luar jendela, pada siluet dahan-dahan yang berdansa liar dengan angin, pada langit gelap pekat, pada kilat yang sesekali menyambar. Hebat sekali. Aku merasa seperti pelakon yang memiliki asisten pribadi untuk efek khusus.


Kunci kamar bergemerincing saat mendarat di atas meja. Berikutnya giliran tas bahuku yang kulempar begitu saja ke depan lemari, mendarat dengan suara basah menjengkelkan. Jongkok, melepas sandal tali-ku—atau apa yang tersisa darinya. Putus di ujung gang kos-kosanku tadi. Begitu saja. Kupandangi beberapa saat, bersungut menyumpah-nyumpah sambil memijati betisku yang pegal luar biasa. Tidak lama. Saat berikutnya sepasang sandal yang sudah tak berbentuk itu berpindah sarang—tempat sampah plastik di luar pintu kamar kos. Besok pagi pasti sudah berpindah lagi ke bak penampungan sampah besar di ujung jalan sana. Atau kalau si bibi pembantu kosanku itu rajin, dia pungut, menunggu tukang sol yang lewat, mungkin setelahnya ia berikan pada anak gadisnya.


Terus terang saja, berbagai kebangsatan yang terjadi sejak aku keluar kamar kos-kosanku tadi pagi hingga detik ini ini membuat kepedulianku pada nasib bangkai sandalku itu setara tebal lapisan epidermis. Murahan, lagipula. Tidak sampai lima puluh ribu, dan masih saja ngotot kutawar. Aku menyambar handuk, mengeringkan badan dan rambut, berganti baju tanpa ada niat mandi dulu, melemparkan baju basahku ke dalam ember di kamar mandi. Menghempaskan diri di tempat tidur. Kepalaku makin sakit, tenggorokanku juga masih rewel. Tadi malam hujan deras dan aku lupa menutup jendela, selimutku tertendang sampai ujung kaki tempat tidur, jadilah aku terbangun dengan hidung tersumbat dan bersin-bersin parah.


Minggu pertama perkuliahan bagiku justru minggu yang paling bangsat. Harus mondar-mandir kesana-kemari, mendaftar untuk grup tutorial di kantor tuan dosen, berguling lagi ke laboratorium untuk mendaftar grup praktikum. Belum kelas-kelasku semester ini kebanyakan berlangsung di gedung kuliah bersama yang berjauhan dari fakultasku. Tentu saja, pakai apa lagi kalau bukan jalan kaki? Dan sudahkah kusebutkan kalau dompetku tertinggal, jadi kulewatkan waktu istirahat makan siang dengan duduk menekuk-nekuk badan di perpustakaan? Wajar bila ajakan kawanku untuk makan dan nonton selepas kuliah kuiyakan begitu saja. Aku ngutang dulu, begitu kubilang sambil nyengir-nyengir kambing. Bukan masalah besar sebenarnya. Dompet tertinggal atau kehabisan uang dan malas menyambangi ATM adalah beberapa kasus biasa untuk kami berdua. Saling menghutang bukan hal aneh lagi.


Aku mengangkat kepala sedikit, mengintip laptop di kaki tempat tidur, yang memang tak kumatikan saat pergi tadi. Demi file yang kudownload, seperti biasa. Mengecek hasil download. Menjawab beberapa Instant Message yang datang saat aku tak ada di kamar seharian tadi, kesemuanya kusahut dengan ‘maaf’ dalam berbagai variasi. Menggeser scroll bar friendlist client chat. Mencari-cari satu ID. Kelabu.


Bukan, dia bukan siapa-siapa. Hanya seseorang yang kukenal di forum, yang kebetulan saja sering mengobrol. Tentang macam-macam. Tentang hal-hal seputar forum, tentang hal-hal lain di luar itu. Seseorang biasa, yang belakangan ini tampaknya semakin dan semakin jarang online. Terakhir kami berbincang dua malam lalu.


Kubuka page profile-nya di forum yang kami ikuti. Mengecek last activity-nya. Masih jam tadi malam. Aku bertompang dagu, jemariku refleks saja menari-nari di atas touchpad, membuka page last post-nya. Membaca semua, satu demi satu, meski semuanya sudah kubaca sampai habis begitu aku membuka mata tadi pagi.


Kulirik angka jam di sudut kanan bawah layar. Pukul sepuluh lewat. Kepalaku sudah tidak tertahankan lagi sakitnya, kuputuskan untuk tidur saja. Kembali berguling bangun, aku mengorek-ngorek laci tempatku menyimpan persediaan obat-obatan, mencari obat sakit kepala. Lalu ingat aku belum mencuci muka dan menggosok gigi. Kuseret kakiku malas-malasan ke kamar mandi.


Laptop masih belum kumatikan. Lagi, kupandangi ID-nya di friendlist. Icon-nya masih kelabu. Kembali kucek profile page-nya di forum. Masih jam tadi malam.


Lalu ada satu keinginan random muncul untuk mengecek blog-nya, yang tempo hari kuketahui dari hasil mengetikkan nama aliasnya di Google. Dia bilang, dia menggunakan nama alias itu untuk semua social network site yang dia ikuti. Kau tahu, aku bahkan baru tahu nama lengkapnya siapa saat membaca entri-entri blog-nya. Dan aku tak pernah memberitahunya soal aku tahu blog-nya ini.


Ada satu entri baru. Kuperiksa jam-nya. Baru beberapa menit lalu. Kubuka, kubaca lamat-lamat sampai habis. Lalu kuulangi lagi dari awal. Beberapa kali.


Tiba-tiba saja, aku tersenyum.


Kubuka profile last.fm-nya, yang juga kuketahui dari chart box di blog-nya. Aktif. Kembali kubuka profile page-nya di forum. Dia masih belum muncul di sana. ID chat-nya juga masih kelabu. Tak urung, aku membuka window chat dengan ID-nya. Mengetik offline message.


Selamat tidur.


Kepalaku sudah berkurang sakitnya, hal pertama yang kusadari saat membuka mata. Meraba-raba di samping bantal, di mana kuletakkan telepon genggamku. Pukul setengah dua pagi.


Seperti kebiasaan sebelum-sebelumnya, aku berguling, mengecek layar laptopku.


Kali ini, ada sesuatu yang baru di sana. Jawaban dari offline message yang tadi kutinggalkan. Dikirimkan pukul dua belas malam tadi. Icon-nya pun sudah kembali kelabu.


Sorry, baru bisa online jam segini.

Selamat tidur. Have a nice dream.


Aku kembali tersenyum. Menarik selimut. Kembali memejamkan mata. Hujannya berhenti.

Tuesday, September 13, 2011

Just Be Friends


Anggaplah ini hadiah untuk diri saya sendiri :"| #WUAPA Yapokoknyabegitulahyaaaa uhuk uhuk. Tadinya sih mau ikutan chronicles of yang bikin tema Just Be Friends, tapi tahu deh ini ngepas apa kaga, anggap aja ngepas yaaa ='))=')) #udahtelatjugasihwoi


Terima kasih sama yang udah kasih saran nama, maaf nggak saya ambil semuanya, karena ternyata yang bisa ditongolin cuma segini #plak Enjoy deh. oTL


--------------------------------------------------------


Just Be Friends



DOOOR!! PUHAHAHAHAHAH! >D Tebak siapa :>


Pakabaaar??? Ketemuan yuk yuk yuuk D: Aku kepingin cerita buanyaaaaakkk banget. Besok sore bisa?


Agak percuma sepertinya si pengirim menggunakan nomor yang tak tercatat di memori ponselku. Diantara semua yang mungkin mengirimiku SMS, cuma satu orang yang selalu menulis seheboh bocah lima tahun begitu hingga sekarang, selalu memulai dengan tebak-tebakan iseng senada. Sudah begitu, tanpa singkatan pula. Sebentuk lengkung tipis terbentuk.


Sudah berapa bulan, ya?


Kania pasti, ya? Apa kabar? Lagi pulang, nih? Hayu aja, kebetulan saya lagi senggang. Di tempat biasa?


Bohong kalau kubilang tidak kangen.

***

“FAIRUZ! Sini, di sini!”


Seruan sekeras itu, cuma satu yang punya. Setelah bertahun-tahun pemiliknya masih sama saja, ternyata. Penampilannya boleh saja tampak semakin dewasa, jauh berbeda dengan saat sekolah dulu, tapi gadis itu masih sama. Masih selalu berteriak-teriak heboh berlebihan saat bertemu kenalan, masih tidak peduli pada pandangan aneh beberapa orang yang duduk di dekatnya pada seorang gadis dua puluhan berjilbab apik dengan make up segar berteriak-teriak barbar, hampir meloncat-loncat heboh dengan cengiran lebar. Untung saja foodcourt itu hampir penuh, sebagian besar sibuk dengan urusan masing-masing.


Some things changed. Some things didn’t.


“Heh, Assalamualaikum-nya mana!”


“Yee, rempong deh. Assalamualaikum. Tuh, udah!”


“Waalaikum salam,” aku nyengir, membuka percakapan seperti barusan semata karena ingin menggodanya seperti biasa.


“Kayaknya kamu sehat, ya,” menarik kursi di depannya, langsung duduk begitu saja. Tak perlu ada jabat tangan, atau bahkan rangkulan bersahabat. Anggukan atau kedikan kepala saja sudah cukup, gestur yang normal-normal saja diberikan diantara lingkaran pertemananku.


Pangling deh, makin cantik,” jeda sesaat, aku menikmati cengiran puas dan bangganya (entah kenapa aku tahu dia selalu berusaha datang dengan penampilan terbaiknya setiap kali ada reuni semacam ini), sebelum kemudian kulanjutkan diiringi cengiran jahil, “tapi dalamnya nggak berubah, ya, ternyata,” aku terkekeh, puas menikmati senyumnya yang langsung menguap, bibirnya mengerucut cemberut.


“Apa sih,” ujarnya ketus, “biar dong. Orang lain juga nggak protes.”


Aku kembali terkekeh.


“Udah pesan makanan?” tanyaku, melirik meja kami masih kosong. Dia menggeleng.


“Barusan pesan es buah doang. Kamu mau makan?”


“Es buah juga, deh,” aku menggeleng, berdiri lagi untuk memesan di kounter.


“Ambilkan punyaku sekalian ya, Fai! Sudah kubayar, kok!”


Aku cuma mendengus sebagai balasan.


Ada beberapa pemikiran dan pertanyaan yang bergumul. Kenapa Kania meminta bertemu berdua saja, misalnya. Aku gatal ingin bertanya apakah Kemal tidak keberatan pacarnya bertemu denganku berdua saja begini (atau, haruskah aku bertanya dulu apa mereka berdua masih bersama?). Atau tentang apa yang ingin diceritakan Kania padaku. Kenapa tidak lewat telepon atau SMS saja seperti biasa?


Atau mungkin, aku bisa bersabar dan menunggu Kania sendiri yang mulai bercerita.


“Nih,” kuletakkan dua mangkuk dengan es serut menggunung di depan kami, salah satunya kusodorkan lebih dekat padanya, yang ternyata tengah menyibukkan diri dengan ponselnya saat aku menunggui es buah kami.


“Thanks,” dia mengangkat kepalanya, mengetik beberapa saat lagi sebelum memasukkan ponselnya kembali.


“Kemal, ya?” aku tidak tahan tidak menggodanya, ternyata. Bagaimana tidak, kalau setelah entah berapa tahun mereka bersama, gadis di depanku ini masih saja memberikan ekspresi tersipu yang sama bila ditanya, lalu mengangguk canggung sebagai balasan? Seolah, ia terhenti di usia remaja belasannya.


“Nggak apa-apa nih, kita ketemuan berdua begini?”


“Nggak apa-apa, Kemal tahu, kok. Dia oke,”


“Hoo.”


“Kamu sendiri? Shiva gimana, nih?”


“Baik-baik aja, ada di rumahnya,” aku tahu cepat atau lambat pasti dia akan bertanya tentang Shiva kalau aku bertanya tentang Kemal.


“Ya siapa tahu… nggak apa-apa kan, pacarnya kupinjam sebentar?”


“Kenapa nggak tanya sendiri?”


“Hidih! Yang pacarnya siapa juga…”


“Kalau kamu yang pinjam mana mungkin Shiva marah, sih.”


Aku tidak melebih-lebihkan barusan. Sepertinya ketika pertama kali Shiva kupertemukan dengannya dulu itu, mereka berdua langsung cocok sampai-sampai aku yakin Kania jadi lebih sering mengobrol dengan pacarku itu daripada denganku. Tentu, aku senang saat-saat berkumpul setiap beberapa bulan sekali ini bersama Kania, bersama Kemal, juga teman-teman kami yang lain semasa SMA dulu. Tapi sepertinya aku juga sedikit merindukan waktu-waktu mengobrol hanya berdua saja dengan Kania. Seperti dulu. Saat hitungan jam rasanya seperti berlalu begitu saja ketika kami berdua tenggelam dalam pembicaraan, yang bisa berkisar dari diskusi mendalam tentang episode anime terbaru yang tengah kami ikuti, berencana mau mencoba warung bakso mana akhir minggu berikutnya, menggosipkan crush masing-masing, kegiatan ekstrakurikuler, sampai apakah teori gerak parabola benar-benar bisa diaplikasikan dalam pertandingan nyata atau tidak. Debat-debat bodoh dan random sejenis itu.


Masa lalu yang menyenangkan.


“Terus, kamu mau cerita apa, nih?”


Cengiran khasnya kembali muncul lagi. Senyam-senyum tersipunya yang tampak malu-malu, tapi juga dengan mudah aku bisa melihat semburat kebanggaan dan rasa puas yang mendalam di sana, seolah dalam hitungan detik gadis itu bisa meledak setiap saat saking bahagianya.


“Apaan? Cerita bagus ya pastinya?” aku balas nyengir. Dia masih tersenyum-senyum. Alih-alih menjawab, dia mengacungkan tangan kirinya ke depan wajahku.


“Tadaaa!!” serunya ceria.


Sebentuk cincin bermata satu yang sederhana di jari manisnya tertangkap mataku. Awalnya kupikir itu cincinnya yang biasa (hadiah ulang tahun ketujuhbelas dari neneknya, yang ia pakai di jari manis karena katanya tidak pas di jari yang lain) tapi kemudian aku sadar itu cincin yang berbeda. Mataku membulat, menyadari apa itu.


“Dari Kemal?!” aku berseru terkejut. Tentu saja aku terkejut. Tidak setiap hari sahabatmu mendatangimu lalu bercerita mereka baru saja dilamar. Meski, tidak bisa disebut terlalu tiba-tiba juga. Mereka berdua sudah bersama semenjak sekitar tiga tahun lalu, hal ini pasti akan terjadi cepat atau lambat. Aku mengenal mereka semenjak SMP. Keduanya bukan tipe yang berani mengatakan ya pada komitmen bila tidak memiliki niat yang lebih serius.


“Iya, lah. Dari siapa lagi, memangnya?” dia tertawa riang, masih melambai-lambaikan tangan kirinya, sesekali berhenti hanya untuk memandangi cincinnya penuh damba.


Kebahagiaannya, antusiasmenya, seperti biasa, selalu menular.


“WUAH! Ya ampun, selamat! Kapan?” aku melotot antusias. Kemudian tiba-tiba aku teringat sesuatu. “Jangan-jangan… kemarin?”


Kania mengangguk, masih tersipu.


“Pantesan!” aku tertawa terbahak-bahak. “Statusnya Kemal kemarin di FB kayak gitu, hahaha! Subhanallah, nggak nyangka… tuh anak diem-diem, tapi udah punya rencana besar, ckckck.”


“Ah, kayak nggak hapal dia aja, gimana. Inget waktu kita berdua baru mulai jadian dulu?” dia tergelak singkat.


Aku mengangguk. Siapa yang tidak ingat? Tak ada siapapun yang mengira, bahkan mereka berdua tidak memberi gelagat tengah memiliki sesuatu yang lebih daripada sekedar persahabatan seperti sebelumnya. Saling flirt secara terselubung, berbalas status dan komen di Facebook dengan amat sangat tersirat, sepertinya tidak banyak yang berhasil menebak ada apa diantara mereka, sampai satu reuni berbulan-bulan kemudian.


“Kalian sukses bikin anak-anak kaget tuh, datang gandengan tangan begitu. Duduk sebelahan terus. Pulang juga bareng-bareng. Nggak kamu banget padahal, diem-diem begitu,”


Dia mengikik kecil.


“Kemal, tuh. Nggak ngerti deh maunya apa, nggak mau orang-orang tahu. Kayaknya puaas, gitu, membayangkan tiba-tiba kita berdua bilang mau nikah tanpa siapapun tahu dari sebelumnya.”


Aku diam saja, pura-pura mengangguk setuju. Mungkin Kania tidak tahu, betapa Kemal sempat mendatangiku dengan dilemanya yang kompleks, mendasari keputusannya untuk merahasiakan tentang mereka dari semua orang. Biarlah, Kania tak perlu ikut terbebani. Terkadang Kemal terlalu mudah panik untuk hal-hal remeh.


“Terus ini, nggak ada yang tahu juga?”


“Memang belum ada siapa-siapa yang tahu, kok. Habis ini kita mau kasih tahu orangtuaku dulu… Yaa Mama sama Papa udah dari dulu sih tahu kalau kita kepingin lanjut sampai serius. Ini mungkin bilang formalnya, gitu, sebelum lanjut rencanain buat kapan lamaran resmi sambil dihadiri keluarga masing-masing.”


Dia terdiam sejenak. Raut wajahnya jadi serius, mengulur waktu dengan mengaduk-aduk es buahnya. Aku tahu sebelumnya tadi dia memeriksa potongan-potongan buahnya dulu, memakannya mulai dari buah yang potongannya paling banyak sampai yang paling sedikit. Kebiasaannya belum berubah semenjak dulu, lagi-lagi kusadari itu. Aku tak mendesak lagi, ikut mengalihkan perhatian pada es buah milikku.


“Aku bilang Kemal… pingin kasih tahu kamu dulu. Menurut kamu… gimana?”


Sebenarnya pertanyaannya ini sama sekali tidak akan membawa pengaruh apapun. Ya, memangnya akan membawa pengaruh apa, aku tahu diri dengan posisiku. Ini hanya satu dari kebiasaan kecil Kania. Kebiasaannya… yang belum berubah. Dia masih seorang Kania yang sama ketika masa sekolah dulu ternyata, yang begitu manja padaku, yang selalu mendatangiku terlebih dulu bila ada sesuatu yang mengganggunya, yang selalu bertanya meminta pendapatku sekalipun untuk hal-hal yang sudah demikian jelas. Yang selalu bocor bercerita bahkan untuk hal-hal seremeh ‘habis coba resep kue baru dan gagal’ dan sejenisnya padaku, namun enggan membaginya pada teman-teman perempuannya yang lain.


Sepertinya… ada sebagian kecil diriku yang juga merindukan ketergantungannya padaku itu.


Lengkung tipis di wajahku muncul dengan tulus.


“Kamu sendiri ngerasanya gimana?” ini juga pertanyaan retoris, aku tahu.


“…Nggak tahu…” kepalanya malah menunduk lemas, menjawab dengan suara kecil. Aku terkekeh menimpalinya.


“Lah kok malah nggak tahu. Kamu ini gimana, kamu yang dilamar, kan? Udah diterima, pula. Kenapa tiba-tiba nggak yakin begini?”


“Bukan begitu.” Dia menghembuskan napas panjang, wajahnya keruh. “Aku senang waktu Kemal ngomong kemarin, aku nggak bisa berhenti memutar lagi dan lagi kata-katanya dia, aku udah nunggu-nunggu ini dari lama. Ya ampun Fai, rasanya aku nggak bisa berhenti senyum-senyum sendiri kayak orang gila, rasanya aku jadi orang paling bahagia di dunia aku pingin terus-terusan teriak ngasih tahu semua orang sebahagia apa aku.”


Kania, Kania. Definisi kebahagiaannya belum berubah juga. Masih sesederhana dulu.


“Terus, kamu khawatir apa lagi?”


Dia malah membalas dengan erangan. Aku tertawa pelan.


“Kalau itu bikin kamu dan Kemal bahagia, jalanilah. Saya percaya kalian sama-sama punya tujuan baik, saya percaya restu Allah bersama kalian. Soal nggak yakin, nggak percaya diri dan sebagainya, itu cuma gangguan-gangguan kecil, semua orang, yang paling hebat sekalipun, pasti punya.”


“Iya sih…”


“Udah, nggak usah jadi ngemo gitu, ah. Saya percaya sama kalian, kalian juga harus punya kepercayaan sama diri sendiri, dong.”


“Betulan?”


“Yah…” aku nyengir jahil, “asalkan kamu sama Kemal nggak panik mengenai hal yang sama sih, semuanya bakal baik-baik aja. Kayaknya.” Kemal yang panikan dan Kania yang over-reaktif dan terlalu gamblang. Untung saja mereka mengkhawatirkan hal yang sama sekali berbeda.


“Dih!” dia cemberut lagi, namun sepertinya kini benaknya meringan, kembali mengaduk-aduk mangkuknya ceria. Aku tersenyum tipis.


“Kamu masih ingat, Fai?”


“Hm?”


“Dulu… kita pernah sama-sama berjanji.”


Aku tahu janji mana yang dia maksudkan. Tapi aku masih diam, membiarkannya melanjutkan.


“Janji, kalau meskipun di masa depan jalan kehidupan kita terpisah, we’ll still be friends. Until forever.


Hei, Kania. Menurutmu, aku akan semudah itu melupakan janji kita?


“Ingat, lah. Masa lupa.”


Senyum itu, senyum yang dulu membuatku rela melakukan apa saja demi membuatnya selalu terkembang dengan tulus, tanpa terbayang sendu, atau ternoda lara. Aku menyukai tawanya yang selalu berderai ramai, pekikan-pekikannya, teriakannya hebohnya. Bagaimana ia bisa menjadi seseorang dengan pemikiran yang sangat dewasa, sekaligus sejahil bocah lima tahun. Bagaimana ia selalu membuatku merasa jadi lelaki paling hebat, karena ia selalu mendatangiku untuk hal apapun. Bagaimana aku merasa jadi seseorang yang paling penting untuknya karena aku selalu jadi yang pertama tahu segalanya mengenai seorang Kania.


“Jadi… masih teman?”


Some things changed. But some things still stay as they are.


Kuulurkan kelingking kananku. “Yep. Tetap teman.”


Dia tersenyum kecil, juga mengulurkan kelingking kanannya. Mengaitkannya dengan kelingkingku. “Tetap teman,” ulangnya.


Ada satu beban terangkat melihat Kania kembali tersenyum begitu tulus, kembali bisa merasakan kebahagiaan dengan sederhana. Ya, siapa bilang aku memasabodohi apa yang pernah terjadi di masa lalu? Aku sudah terlalu kejam padanya, memberinya harapan yang salah, kemudian membuatnya jatuh dengan keras. Terlalu keras. Dan aku terlalu pengecut untuk mengatakan hal yang sebenarnya padanya, berharap waktu akan menyelesaikan semua begitu saja.


“Selamat ya, sekali lagi. Senang kamu bisa nemu orang yang bisa bikin kamu bahagia begini.” Senang, karena pada akhirnya kamu bisa bahagia dengan tulus bersama orang lain. Dia yang bisa menghapus sakit yang dulu saya buat.


Tentu saja, yang terakhir itu tidak kuucapkan keras-keras. Aku masih sama pengecutnya seperti dulu, rupanya. Masih sama sulitnya mengatakan dengan tegas apa yang sebenarnya kuinginkan.


Sialnya, sepertinya Kania bisa membaca pikiranku.


“Kamu tahu, Fai,”


“Hm?”


“Semua yang dulu pernah terjadi diantara kita, aku nggak merasa itu menyakitkan lagi. Semuanya jadi… apa ya? Bahkan sesuatu yang mungkin dulu bikin aku sakit, rasanya sekarang hanya jadi sebuah kenangan. Kenangan yang nggak pingin aku lupakan, yang tetap aku simpan. Aku belajar banyak dari semua itu. Sekarang, aku sudah menemukan kebahagiaanku, jalan hidupku. Kamu nggak perlu khawatir lagi.”


Begini ya rasanya tertangkap basah itu? Ha-ha. Aku harus menjawab apa sekarang? Kania hanya kuberi satu senyum lemah penuh maaf. Kuharap itu cukup.


“Jadi kamu sama Shiva kapan, nih?”


Mendadak saja aku hampir tersedak. Kania, sebaliknya, tertawa terbahak, tampak sangat puas.


“Aduh, jangan tanya itu dulu, deh. Kamu kan tahu saya baru selesai profesi, belum punya apa-apa,” ujarku, mengerang. Iya, aku belum punya apa-apa, baru menata pondasi kehidupan baru beberapa bulan lalu. Berbeda dengan Kemal. Mungkin dia berkali-kali menyatakan ketidakpercayaan dirinya, karena masih merasa belum jadi apa-apa. Meski begitu dia telah meniti karir sejak beberapa tahun lalu, dan mau tak mau harus kuakui, itu membuatku iri. Aku belum bisa memberi Shiva apapun, seperti Kemal yang memberi Kania senyum bahagia permanen.


“Didoain cepet nyusul, deh. Aku pingin kamu juga bahagia, Fai.”


“Amin. Doain modalnya cepet gede juga, dong.”


“Hidih! Nawar!”


Aku senang kami bisa tertawa lepas seperti ini lagi. Seperti dulu, masa-masa awal, ketika belum ada satupun hal-hal buruk terjadi, ketika kami masih murni hanya ingin memberikan perhatian penuh pada satu sama lain, selayaknya sahabat yang saling menyayangi.


“Aku pulang deh, ya. Takut keburu Maghrib di jalan nanti.”


Aku mengangguk. “Kemal nggak jemput?”


“Nggak, dia masih kerja. Nanti datang ke rumah juga kayaknya sepulang kerja. Aku suruh dia telepon kamu deh nanti.”


“Nggak apa, saya aja nanti yang SMS dia.” Aku nyengir.


Kami berjalan beriringan keluar. Hampir seperti dulu, ketika aku selalu menungguinya naik angkutan umum menuju rumahnya dulu sebelum aku memutar ke arah berlawanan untuk pulang. Hanya saja, kali ini telah banyak hal berbeda terjadi diantara kami.


“Salam buat Kemal, ya. Buat keluarga kamu juga.”


“Insyaallah. Salam buat Shiva juga. Kamu mau kasih tahu dia nggak apa-apa, kok. Siapa tahu jadi nambah semangat kalian buat nyusul.”


“Dasar! Itu mah repot di saya nanti,” sambitku, tak urung tergelak bersamanya.


Angkutan umumnya tiba.


“Yuk. Assalamualaikum.”


“Waalaikumsalam.”


Selamat tinggal. Semoga bahagia.


—END—

Wednesday, September 07, 2011

Faceless Monsters

Ini post-nya Astoria Greengrass di thread Uriel Eamnnon di Danau, Faceless Monsters. Di sana ceritanya tiap yang ngerepp harus jadi seorang monster di dalam diri char mereka masing-masing.

To tell you the truth.... Gw udah lama keracunan Drusilla-nya Buffy the Vampire Slayer. Sintingnya, sadisnya, psycho-nya.... semuanya. Kepingin banget coba nge-RP as dia, tapi gw nggak yakin bakalan sanggup ngurusnya kalo harus bikin char baru. Makanya cari-cari tret AU =)) ya akhirnya dimasukin ke situ. Agak-agak kurang ngepas sih sama tema topik, tapiyasudahlah, gw lega pada akhirnya bisa nyobain ngepos dengan mentality kayak gini :* Gw edit dikit dari versi aslinya, diperbaiki =))

-------------------------------------------------


Ada yang bersenandung.

Siapa?


Tidak kenal, tidak kenal. Itu bukan dia.

Really? Kalau begitu—

—Si-a-pa?



Iya, si-a-pa?



Ada yang tengah mengayun-ayunkan kaki. Ia duduk di cagak terendah pohon yang melandai nyaman, di tepi sebuah danau yang airnya berkilau secantik berlian. Ah, berlian, berlian, cantik, bukan? Semua perempuan suka yang cantik, yang berkilauan. Semakin mahal semakin dipuja. Semakin mahal semakin dicari. Mengedip sini, menggoda sana, mencoleng sini, merenggut sana, demi memberi label kepemilikan pada apa-apa yang cantik, apa-apa yang berkilauan. Kemudian mereka tertawa puas. Mengusungnya dengan bangga. Menutup mata dan telinga atas huru hara yang mungkin tercipta dalam prosesnya.

Perempuan, perempuan. Karenanyalah Adam diusir dari Surga, no? Bukan? Oho, itu karena Hawa yang dihasut setan?

Mmm, mmm, tapi bukankah perempuan juga—setan—dengan cara mereka sendiri?

Kau tahu, Tuhan menciptakan berjenis-jenis makhluk. Manusia, malaikat, setan—dan perempuan.


Ah, tapi, apa lacur membahas tentang tuhan, surga dan sejenisnya dengan dia. Kata-kata hanyalah kata-kata, bukan begitu? Tuhan, surga, setan, dosa, berlian, sampah, kepuasan... semua hanya kata-kata. Yang membedakan hanyalah distorsi dari perspektif seseorang belaka, no? Bagi sebagian orang kata-kata itu mungkin sarat dengan makna. Baginya, itu hanyalah kata-kata belaka.

Iya, bagi siapa?



Dia itu—siapa?


Seorang Astoria Greengrass tak pernah memanjat pohon bak anak kolong barbar. Dia mungkin berkata kasar pada para sampah, dia mungkin mendelik sinis pada yang tak berharga, namun dia tetaplah gadis terpelajar, tahu siapa yang pantas mendapat sopan santunnya, siapa yang pantas mendapatkan hormatnya. Dalam alam manapun, dalam jenis kamus Astoria yang manapun, memanjat pohon tetaplah sesuatu yang tidak pantas untuk seorang perempuan.

Terpelajar—eh?

Siapa memangnya yang mengajarimu, Sayang?


Ya, siapa, siapa?




Tak bisa menjawab, ya? Hmmm, hmmm.... memangnya kau ini punya siapa? Ayah—tidak. Ia sibuk dengan dunia kelelakiannya. Ibu? Mmh. Dia pun sibuk—dengan apapun yang ia usung sebagai kesibukan, mengecualikan kewajiban mendidik dua putrinya. Kakak—eh? Bukankah—bukankah bersikap seolah kalian tidak saling mengenal itu—sudah lumrah? Ya, ya, Astoria, Astoria, dia yang terkucilkan, yang seolah tak diinginkan, yang masih harus berpura-pura mengangkat dagu, seolah masih bermahkotakan kejayaan, sementara dunia tetap berputar tanpa membawanya. Ia menggeliat sendiri, tertatih sendiri, mencari dunianya sendiri, paling berbahagia di saat-saat paling gelap dan mencekam bagi orang lain.

"Bored now..."

Disenandungkan pelan, lamat-lamat. Yang tadi tengah duduk mengayunkan kaki di cagak, kini meloncat turun. Memiringkan kepala, rambut cokelatnya terurai jatuh di bahu, dimainkan sejumput oleh jari jemari kurus. Menapak. Pelan. Pelan. Mendekat.

"Are you bored as well?" senandung, senandung tipis setengah melamun, memandang dengan kepenasaran seorang bocah yang melihat serangga pertamanya, telunjuknya menyentuh samar. "I was dreaming," irisnya menerawang, "there were worms in my baguette..."

(pouts)


Aah... sesama penderita kebosanan sama sekali tak menghibur, no?

Look, look! Look at them! Those two—what, people? No, no, they weren't, of course, Dear, you aren't too, are you?—devil, devil, nymph—whatevs—See what's reeking from them—"I smell fear,"——mengikik maniakal lagi—"It's intoxicating."

"Run and catch, run and catch, the lamb is caught in the blackberry patch."

Menyenangkan, ya, Astoria sayang?

------------------------------------------------------

Semua kalimat langsung (c) to Vamps!Willow dan Drusilla dari Buffy The Vampire Slayer.

Monday, September 05, 2011

Home

Jadi ceritanya kemaren gw mati gaya di pesawat dan di kereta, lupa bawa novel, jadilah gw membuat ini ==" Ini... entah mau dijadiin RP-fic atopun diterusin di-RP-in, gimana entar ajalah =')) Banyak pengulangan kata, tapi somehow gw ngerasa itu malah jadi style gw. Mungkin jadinya agak ngebosenin sih ya oTL yasudahlah, enjoy aja :3


---------------------------------------------------------------


Home


Gelap.

Iya, masih gelap.

Ada yang tengah mengerjap-ngerjapkan kelopak mata, setengah kesadarannya masih tertinggal di belakang. Sedikit bingung dengan keadaan gelap, namun kemudian matanya, yang gemerlap kelabu irisnya tak tampak dalam ketidakhadiran cahaya yang cukup, mulai menyesuaikan keadaan. Garis-garis siluet gelap terbentuk. Dia mengenali garis bentuk itu, yang tengah naik turun dengan teratur, yang tak bergerak hangat di sebelahnya, dengan kontur helai-helai yang lebih halus membayang. Jika dia memperhatikan lebih jauh lagi, suara napas halus dan beraturan bisa tertangkap.

Kemudian dia teringat mereka di mana. Seraut senyum, samar, lembut, tertarik di wajahnya, masih tampak seolah tak percaya, sepintas seperti tengah berkonklusi bahwa ini masihlah mimpi, bahwa ia tak ingin terbangun. Gelap mungkin membuatnya tak terlihat, namun sesaat wajahnya berseri bahagia. Tubuh polos mungilnya beringsut, perlahan, tak ingin mengganggu tidur damai sosok di sampingnya, hingga tengkurap, sebelah tangan terhimpit pipinya. Satu tangan ramping lainnya, menyembul keluar dari balik selimut tebal, terangkat, jari-jemari yang panjang dan lentik menari-nari, menyisiri ringan ikal-ikal halus itu, mengelusnya sayang, pemiliknya masih bernapas seteratur sebelumnya, tak terusik.

Mereka di sini. Di satu tempat, yang pada akhirnya bisa mereka berdua sebut sebagai rumah. Yang akhirnya bisa menjadi tempat untuk mereka pulang.

Twas fun, pencarian rumah. Tiring, but fun. Entah berapa kantor agen properti yang mereka datangi, sangat mungkin telah mereka buat pusing dan geram dengan permintaan muluk ini-itu mengenai kriteria rumah seperti apa yang mereka inginkan. Pada awalnya si gadis membayangkan sesuatu yang sederhana. Apartemen kecil dengan satu kamar berjendela besar dan terang, ruang tamu nyaman, dapur yang lega dan bersih, serta bathtub luas. Kemudian pemudanya menginginkan ruangan ekstra sebagai perpustakaan mini, membawa si gadis pada satu kesadaran kalau mereka sepertinya memerlukan ruang kerja mereka masing-masing, lalu berlanjut kepada mereka menginginkan ruangan ekstra lagi dan lagi untuk ini dan itu, memilih flat yang lebih besar, dan lebih besar, dan lebih besar lagi. Dia mengikik geli tanpa suara mengingat tatapan skeptis agen properti yang meragukan kemampuan finansial sepasang kekasih muda yang bahkan belum mencapai usia dua puluh saat mereka berkeliling melihat-lihat flat di Kensington dan sekitar Hyde Park, namun menguap begitu saja menjadi bungkukan hormat saat pemudanya memberi tip berlembar-lembar pounds seolah hanya tengah membeli permen.

Satu flat di Royal Crescent Notting Hill sempat membuat mereka jatuh hati, dengan kamar utamanya yang bundar, dengan conservatory yang beratap kaca, dengan play room yang terpisah, terutamanya dengan private garden yang luas, nyaman, rimbun, serta aman dari pandangan orang-orang luar. Sambil berbisik-bisik seru (agar tidak terdengar agen Muggle yang tengah menyabarkan diri menunggu pasangan yang terlalu excited itu selesai berkeliling) tentang bagaimana si pemuda bisa terbang dengan leluasa di garden baru mereka (tentunya dengan mantera-mantera pengaman tambahan--mereka tidak lupa dengan flat tetangga di lantai atas yang jendelanya mengarah ke taman mereka), tentang bagaimana mereka bisa memiliki game room sendiri dengan pool table dan mini bar, tentang bagaimana menyenangkannya homecoming dengan mengadakan barberque party di taman mereka yang luas. Si gadis bahkan sudah membayangkan ayunan seperti apa yang ingin dia pasang.

Mereka masih muda, ya. Muda dan muluk, dengan akses pada galleon yang hampir tak terbatas; setidaknya si pemuda. Mereka mengangankan ini dan itu, dengan angkuh sempat memilih flat besar mewah yang sebenarnya lebih pantas diisi keluarga beranak lima daripada pasangan muda labil, hanya karena memiliki walk-in closet yang luas dan kamar mandi nyaman. Pada akhirnya mereka sama-sama sadar, bahwa merawat flat sebesar itu tidaklah mudah.

Agen mereka (yang telah menyabarkan diri dengan luar biasa) pada akhirnya menawarkan tempat ini, yang menjadi pilihan terakhir mereka. Flat sederhana dengan hanya satu kamar. Ruang tamunya yang diisi sofa-sofa kecil dan rak buku menempel di dinding langsung membuat si pemuda berteriak kegirangan. Bagai anak kecil dilepas di taman bermain, mereka berlari-lari, tangan saling bergandeng, berayun-ayun manja, menunjuk jendela ruang tamunya yang besar, tungku dan oven kuno yang langsung membuat si pemuda (dengan kebangkotan Darah Murni-nya yang masih saja tercium pekat) cengar-cengir riang, berlari-lari mengitari tamannya yang besar dengan perdu di sana sini, tanaman rambat menutupi pagar temboknya yang tinggi, dengan jendela kamar yang langsung membuka ke taman...

Ini rumah. Satu kesadaran yang sama-sama menyelusupi keduanya begitu mereka menginjakkan kaki di apartemen ini.

Tubuh mungil itu beringsut lagi, kini mengangkat selimut, perlahan kaki-kakinya yang telanjang menjejak lantai panel kayu dingin, sedikit bergidik saat udara mencium tubuh polosnya dengan kulit sehalus susu, menarik jubah kamar satin dari kaitan, menyampirkannya di bahu. Masih mengendap-endap dalam keengganan menimbulkan suara sekecil apapun, lengan rampingnya menarik tirai tebal, menyibakkannya sedikit. Gerumbulan perdu pendek dan semak membentuk siluet di luar, sesekali bergerak halus tertiup angin subuh, bunyi keresaknya masih teredam jendela yang belum ia buka. Langit bersepuh nilam, ia tahu semburat lembayung telah menghias ufuk timur meski sedikit yang bisa terintip dari jendelanya yang menghadap barat ini, matahari akan menyingsing dalam hitungan menit, memulai putaran hari.

Dia berbalik, irisnya kembali lekat pada sesosok yang masih damai bergelung di bawah selimut tebal. Seraut senyum merekah, syahdu, berterima kasih dengan awal kehidupan baru mereka, yang pada akhirnya bisa disebut tenteram, sederhana dan bahagia.

Lebih baik dia mulai menyiapkan sarapan. Andrew selalu suka memulai pagi dengan aroma roti segar yang baru matang dari panggangan.