Monday, September 26, 2011

Online

Sesuatu mendera jendela. Pelan. Halus. Satu, dua. Lalu semakin cepat. Semakin keras. Semakin banyak. Kacanya berkeretak, kisi-kisi berderak-derak mengkhawatirkan. Sesekali siulan samar terdengar, misterius, melenakan, sesaat membuat mereka yang mendengar lupa kalau kecepatannya pasti mengerikan bila angin sampai bersiul-siul seperti itu.


Aku masih di ambang pintu. Terbuka setengah, kutahan dari angin yang mendorong-dorong dari luar. Tercenung. Air menetes-netes deras, dari kuncir rambutku, bajuku, celana jeans-ku. Menatap kosong pada tetes-tetes air yang mendera bagian luar jendela, pada siluet dahan-dahan yang berdansa liar dengan angin, pada langit gelap pekat, pada kilat yang sesekali menyambar. Hebat sekali. Aku merasa seperti pelakon yang memiliki asisten pribadi untuk efek khusus.


Kunci kamar bergemerincing saat mendarat di atas meja. Berikutnya giliran tas bahuku yang kulempar begitu saja ke depan lemari, mendarat dengan suara basah menjengkelkan. Jongkok, melepas sandal tali-ku—atau apa yang tersisa darinya. Putus di ujung gang kos-kosanku tadi. Begitu saja. Kupandangi beberapa saat, bersungut menyumpah-nyumpah sambil memijati betisku yang pegal luar biasa. Tidak lama. Saat berikutnya sepasang sandal yang sudah tak berbentuk itu berpindah sarang—tempat sampah plastik di luar pintu kamar kos. Besok pagi pasti sudah berpindah lagi ke bak penampungan sampah besar di ujung jalan sana. Atau kalau si bibi pembantu kosanku itu rajin, dia pungut, menunggu tukang sol yang lewat, mungkin setelahnya ia berikan pada anak gadisnya.


Terus terang saja, berbagai kebangsatan yang terjadi sejak aku keluar kamar kos-kosanku tadi pagi hingga detik ini ini membuat kepedulianku pada nasib bangkai sandalku itu setara tebal lapisan epidermis. Murahan, lagipula. Tidak sampai lima puluh ribu, dan masih saja ngotot kutawar. Aku menyambar handuk, mengeringkan badan dan rambut, berganti baju tanpa ada niat mandi dulu, melemparkan baju basahku ke dalam ember di kamar mandi. Menghempaskan diri di tempat tidur. Kepalaku makin sakit, tenggorokanku juga masih rewel. Tadi malam hujan deras dan aku lupa menutup jendela, selimutku tertendang sampai ujung kaki tempat tidur, jadilah aku terbangun dengan hidung tersumbat dan bersin-bersin parah.


Minggu pertama perkuliahan bagiku justru minggu yang paling bangsat. Harus mondar-mandir kesana-kemari, mendaftar untuk grup tutorial di kantor tuan dosen, berguling lagi ke laboratorium untuk mendaftar grup praktikum. Belum kelas-kelasku semester ini kebanyakan berlangsung di gedung kuliah bersama yang berjauhan dari fakultasku. Tentu saja, pakai apa lagi kalau bukan jalan kaki? Dan sudahkah kusebutkan kalau dompetku tertinggal, jadi kulewatkan waktu istirahat makan siang dengan duduk menekuk-nekuk badan di perpustakaan? Wajar bila ajakan kawanku untuk makan dan nonton selepas kuliah kuiyakan begitu saja. Aku ngutang dulu, begitu kubilang sambil nyengir-nyengir kambing. Bukan masalah besar sebenarnya. Dompet tertinggal atau kehabisan uang dan malas menyambangi ATM adalah beberapa kasus biasa untuk kami berdua. Saling menghutang bukan hal aneh lagi.


Aku mengangkat kepala sedikit, mengintip laptop di kaki tempat tidur, yang memang tak kumatikan saat pergi tadi. Demi file yang kudownload, seperti biasa. Mengecek hasil download. Menjawab beberapa Instant Message yang datang saat aku tak ada di kamar seharian tadi, kesemuanya kusahut dengan ‘maaf’ dalam berbagai variasi. Menggeser scroll bar friendlist client chat. Mencari-cari satu ID. Kelabu.


Bukan, dia bukan siapa-siapa. Hanya seseorang yang kukenal di forum, yang kebetulan saja sering mengobrol. Tentang macam-macam. Tentang hal-hal seputar forum, tentang hal-hal lain di luar itu. Seseorang biasa, yang belakangan ini tampaknya semakin dan semakin jarang online. Terakhir kami berbincang dua malam lalu.


Kubuka page profile-nya di forum yang kami ikuti. Mengecek last activity-nya. Masih jam tadi malam. Aku bertompang dagu, jemariku refleks saja menari-nari di atas touchpad, membuka page last post-nya. Membaca semua, satu demi satu, meski semuanya sudah kubaca sampai habis begitu aku membuka mata tadi pagi.


Kulirik angka jam di sudut kanan bawah layar. Pukul sepuluh lewat. Kepalaku sudah tidak tertahankan lagi sakitnya, kuputuskan untuk tidur saja. Kembali berguling bangun, aku mengorek-ngorek laci tempatku menyimpan persediaan obat-obatan, mencari obat sakit kepala. Lalu ingat aku belum mencuci muka dan menggosok gigi. Kuseret kakiku malas-malasan ke kamar mandi.


Laptop masih belum kumatikan. Lagi, kupandangi ID-nya di friendlist. Icon-nya masih kelabu. Kembali kucek profile page-nya di forum. Masih jam tadi malam.


Lalu ada satu keinginan random muncul untuk mengecek blog-nya, yang tempo hari kuketahui dari hasil mengetikkan nama aliasnya di Google. Dia bilang, dia menggunakan nama alias itu untuk semua social network site yang dia ikuti. Kau tahu, aku bahkan baru tahu nama lengkapnya siapa saat membaca entri-entri blog-nya. Dan aku tak pernah memberitahunya soal aku tahu blog-nya ini.


Ada satu entri baru. Kuperiksa jam-nya. Baru beberapa menit lalu. Kubuka, kubaca lamat-lamat sampai habis. Lalu kuulangi lagi dari awal. Beberapa kali.


Tiba-tiba saja, aku tersenyum.


Kubuka profile last.fm-nya, yang juga kuketahui dari chart box di blog-nya. Aktif. Kembali kubuka profile page-nya di forum. Dia masih belum muncul di sana. ID chat-nya juga masih kelabu. Tak urung, aku membuka window chat dengan ID-nya. Mengetik offline message.


Selamat tidur.


Kepalaku sudah berkurang sakitnya, hal pertama yang kusadari saat membuka mata. Meraba-raba di samping bantal, di mana kuletakkan telepon genggamku. Pukul setengah dua pagi.


Seperti kebiasaan sebelum-sebelumnya, aku berguling, mengecek layar laptopku.


Kali ini, ada sesuatu yang baru di sana. Jawaban dari offline message yang tadi kutinggalkan. Dikirimkan pukul dua belas malam tadi. Icon-nya pun sudah kembali kelabu.


Sorry, baru bisa online jam segini.

Selamat tidur. Have a nice dream.


Aku kembali tersenyum. Menarik selimut. Kembali memejamkan mata. Hujannya berhenti.

1 comments:

Tiktakzonk said...

Aduh bingung mau komen apaan :| *digibeng* =))

yah, yang ini yang akhirnya gw pilih buat dikomen, karena rasanya yang inilah yang paling pendek :| *ditonjok beneran*

Err.. apa ya.. ceritanya simple, feelnya dapet--tapi rasanya, cuma 'kaum kita' aja yang paham sama perkara macem beginian yah :|a *sotoy*, tapi intronya kayanya kepanjangan .___. Emang sengaja ga ada klimaks atau konflik ini-itu kan yah? cuma cerita yang simple aja kan, cuma mau gambarin satu momen aja kan?

Aaaaa.... gatau lagi =)) udah deh.. itu aja :|