Hei, Reg.
Apa kabar?
“Maaa! Lihat, lihat, Ma! Selina nangkep kumbang!”
“Mama aku nangkep kumbang! Aku nangkep kumbang!”
Kuharap kamu baik-baik saja. Kuharap kamu masih ingat padaku, pada setiap kisah yang dulu kita rangkai bersama.
Dua bocah perempuan kecil berwajah serupa, mata-mata mereka berbinar seri yang gemerlap, dengan rambut selegam arang yang berayun serupa, kaki-kaki kecil mereka berderap seragam memburu seorang wanita berparas lembut yang tengah duduk menata makanan di gubuk kecil tak berdinding tak jauh dari tanah lapang tempat kedua bocah itu bermain, seorang pria berdiri di sisi lain tanah lapang, mengamati kedua bocah perempuan itu berlari-lari riang, terkekeh singkat. Seraut senyum samar terkembang di wajah sang wanita.
“Coba, Mama lihat.”
Sepasang telapak tangan salah satu bocahnya terulur, masih mengatup. Perlahan, amat perlahan, dia membukanya, memperlihatkan seekor kumbang kecil berwarna hitam merayapi lekuk-lekuk telapaknya, punggungnya berkilat kehijauan. Sesekali bocah itu terkikik, kegelian.
Tempat ini, apa kamu masih ingat?
“Papa yang nemu—“
“—di sana, di tengah-tengah kelopak bunga kuning di sana—“
“—terbang muter-muter, terus hinggap merayap-rayap—“
“—Papa bilang kami boleh coba nangkep—“
“—terus aku tangkep!—“
“—Selina hebat deh Ma, bisa nangkep kumbang!”
“Lihat Ma, lihat! Cantik, kan? Cantik, kan?”
Wanita itu tergelak menanggapi celotehan kedua putri kembarnya yang saling bersahutan, mendengarkan dengan khidmat keduanya saling menyampaikan cerita, menunjuk-nunjuk ke ujung lain tanah lapang yang terpisah oleh rel kereta yang membelah di tengah, di mana suaminya masih menunggu, gerumbulan bunga-bunga liar mungil tampak menyebar, menutupi sebagian tanah lapang.
Ya, puncak bukit di desa nenekku. Kamu masih ingat, Reg? Dulu kita pernah ke sini, pagi-pagi sekali, mengejar matahari terbit. Saat itu aku terperosok lubang karena hari masih gelap. Ingat tidak, kamu menertawaiku habis-habisan, berulangkali mengungkit soal kakiku yang seperti memakai kaus kaki lumpur?
“Wah, iya kumbangnya cantik,” wanita itu menanggapi, sama antusiasnya seperti kedua bocah kembarnya. Tangannya terulur, menyentuh pelan sang kumbang, yang mendadak membeku sesaat, lalu bergoyang sedikit, dan kemudian merayap-rayap lagi, di bawah tatapan intens kedua bocah kembar itu yang masih belum kehilangan minat.
“Ren, coba sekarang kamu yang pegang,” mendadak bocah yang dipanggil Selina itu menyodorkan tangannya ke depan wajah kembarannya, yang sontak membelalak ngeri, menggeleng-geleng keras. Cengiran jahil terplester lebar di wajah Selina, tetap berkeras menyodorkan isi kepalan tangannya.
“Cobaa! Sebentar saja!”
“Nggak mauuu! Kamu saja yang pegang!”
“Ih, pegang sebentar doaaang!”
“Pokoknya nggak mau! Mamaaaa!”
Ren si bocah kecil memilih berlindung di balik punggung ibunya, mendelik kesal pada kembarannya. Biar Selina itu kembarannya, selalu saja dia mencari-cari kesempatan menggoda dirinya, memanfaatkan fakta kalau Serene lemah menyentuh hewan-hewan kecil macam itu, meski ia punya ketertarikan sama besarnya dengan Selina.
“Hush, Selina, adikmu jangan digoda terus-terusan, ah. Kita ke sini kan buat main, bukan buat berantem.”
Selina bocah mengerucutkan bibirnya, menggerutu tinggi-rendah. Wanita itu menarik napas panjang, menepuk puncak kepala kedua putrinya lembut.
“Sana panggil Papa. Kita makan sekarang.”
Sudah lima tahun, ya? Waktu betul-betul berjalan cepat. Seperti katamu, kedua putriku tumbuh jadi gadis manis yang cantik.
“PAPAAA!!”
“MAKAAAAN!”
Pria di sisi lain tanah lapang melambaikan sebelah tangannya, tampak tengah sibuk melakukan sesuatu sebelum akhirnya berdiri beberapa saat kemudian. Mengamati kanan kirinya sebelum menyeberangi rel kosong, sebelah tangannya yang lain tersembunyi di belakang punggung ketika berjalan mendekat ke gubuk kecil tak berdinding tempat istrinya telah menggelar bekal makan siang mereka. Kedua putrinya menjulurkan leher mereka, penasaran.
“Papa, itu apa?”
“Itu apa?”
Sebuah cengiran lebar terkembang alih-alih menjawab, masih menyembunyikan sebelah tangannya di balik punggung. “Tutup mata, dong. Kalian bertiga,” ia menatap istrinya penuh arti, yang mendadak merasakan panas di kedua pipinya. Setelah bertahun-tahun bersama, tak mungkin ia tak mengenali arti tatapan suaminya itu, yang pasti selalu memiliki sesuatu bila menatap begitu. Apalagi, ini bukan kali pertama mereka mengunjungi tanah lapang ini.
“Iih! Apaan sih, Pa?”
“Iya, apa? Kenapa harus tutup mata?”
“Kenapa Mama juga harus tutup mata?”
Memang, mereka cerewetnya minta ampun, hahaha. Tapi mereka tetap dua anak perempuan yang manis, hartaku dan suamiku yang paling berharga.
“Pokoknya tutup mata. Cuma sebentaar,” suaminya ikut keras kepala. Dia tidak mengatakan apa-apa, hanya tergelak pelan, berusaha menyembunyikan senyum sipu bagai gadis remaja yang tampaknya pasti akan merekah terlalu lebar, menutup matanya tanpa sanggahan lagi. Kedua putrinya ikut menutup mata meski diakhiri gerutuan-gerutuan panjang lebar.
Dia tidak berubah, masih dia yang mencintaiku tanpa syarat seperti dulu, dia yang membuatku ingin tenggelam dalam kedamaian yang ia berikan.
“Oke, buka mata sekarang.”
Dua bocah perempuan kecil dengan wajah serupa itu, sontak memekik kompak, terkejut bercampur girang dengan gelang dari rangkaian bunga yang kini terpasang di pergelangan tangan mereka, heboh berteriak-teriak mengenai betapa cantiknya rangkaian bunga itu, serta bagaimana caranya ayah mereka yang seorang pria bisa memiliki tangan yang begitu terampil. Pria itu tak menjawab, hanya menatap lurus pada istrinya, dengan tatapan lembut mendamba-nya yang biasa, dengan tatapan berbinar penuh sayang yang tak pernah berubah meski sekian tahun telah berlalu. Mati-matian menahan agar tidak terkikik norak seperti bertahun lalu kala ia masih seorang gadis belasan tahun, dia menunduk, mengulum bibirnya.
“Mama kalian yang ajarkan,” pria itu bergerak mendekat, mengelus anak rambut istrinya yang terlolos menari-nari dipermainkan angin, mengecup penuh sayang puncak kepalanya. “Bunganya tidak cukup untuk tiga mahkota, jadi kubuatkan gelang saja,” bisiknya perlahan di telinga istrinya, amat perlahan, hingga hanya mereka berdua yang mendengar. Dia tersenyum, balas mengecup pipi suaminya penuh sayang. Kedua putrinya ribut minta diajarkan membuat gelang dari bunga liar.
Masih dia yang selalu berusaha melakukan hal-hal manis, terkadang tampak terlalu keras sampai terasa menggelikan.
“Iya, iya, nanti Mama ajarkan. Sekarang kita makan dulu, oke? Sudah lapar, kan?”
Tapi itu bukan suatu masalah. Aku bahagia, bersamanya, bersama Selina, bersama Serene. Bertahun-tahun berlalu, dan aku masih bahagia.
“Selina, kumbangnya dilepas ya, Sayang? Kasihan kalau dikurung terus-terusan.”
Gadis kecilnya mengangguk patuh, sudah hapal dengan kebiasaan sang ibunda. Ini bukan pertama kalinya gadis itu menangkap serangga-serangga kecil, ibunya selalu memintanya melepasnya lagi setelah bocah itu puas mengamati. Berlari-lari kecil dengan Serene ke gerumbulan semak terdekat, bocah kecil Selina hati-hati meletakkan kumbang kecilnya di atas rerumpunan semak, mengamatinya untuk beberapa saat sebelum kemudian kumbangnya kembali terbang, menghilang. Kemudian kembali duduk dengan patuh, mengambil tisu basah yang disodorkan ibunya untuk membersihkan tangan.
Aku hanya merindukanmu. Sangat.
“Berdoa dulu,” kali ini ayah mereka yang mengingatkan.
“Selamat makan!” kedua bocah kecil itu berseru kompak.
Apa kamu merindukanku juga, seperti halnya aku merindukanmu?
***
Mendadak saja, tanpa peringatan apapun, perutku berkeriuk lantang memecah hening, minta ampun kerasnya. Disusul tawa terbahak-bahak pria pirang itu yang berderai ramai, menenggelamkan makian-makian yang tercetus begitu saja dari mulutku.
“Makan dulu, Mel,” pria pirang itu mencetus santai, tak bergerak dari posisinya yang tengah tidur ayam di sebelahku. Aku menggerutu, kini mengangkat sebelah kaki menekan perutku, berusaha mengabaikan perut yang sejak tadi berteriak-teriak meminta jatah, mengabaikan dia yang juga ikut-ikutan mencerewetiku, jemariku kembali menari-nari di atas keyboard seolah tak terganggu apapun.
“Kau ini sok jago. Sudah tahu kau paling tidak tahan dengan lapar,” lagi, pria itu terkekeh pelan, masih berusaha mengingatkanku. Menggeram pelan, akhirnya aku menyerah. Enggan kehilangan hasil ketikan meski hanya meninggalkannya semenit dua, kusimpan sebelum berdiri dan turun dari tempat tidur menuju dapur mini di sudut lain kos-kosan satu kamarku ini.
“Mie instan lagi?” kali ini suara si pria dari belakang punggungku terdengar skeptis, bisa kubayangkan ia berkata sambil mengangkat satu alis mengomentari aku yang malah memanaskan air di teko listrik. Aku menggulirkan mata malas.
“Malas masak yang lain. Sudah ah, aku sedang perlu yang cepat, bisa-bisa aku lupa semua yang mau kutulis kalau sambil masak ini-itu,” aku membalas ketus, sibuk dengan kemasan cup noodle dan toples kopi, kembali ke atas tempat tidur beberapa menit kemudian, duduk bersila menghadap laptop dengan kemasan mie instan di tangan dan cangkir kopi di sebelahku.
“Eh, Reg.”
“Apa?”
Dia masih tidak bergerak, tiduran santai di sebelahku. Tanganku mengaduk-aduk isi kemasan mie instan sambil terpekur.
“Kau… sama Raychel saja, ya? Bagaimana?”
“HAH?!” Sontak pemuda itu terbangun, kini duduk benar-benar tegak, sepasang zamrud-nya menatapku horor seolah aku baru bilang akan membuatnya menerjunkan diri dari atas gedung tingkat sepuluh atau apa.
“Habis mau sama siapa lagi, coba?” Aku berdecak, sesekali menyuapkan mie panas, mengacuhkannya. “Si Ratu Neraka? Dia kan sudah punya Raja Setan. Memangnya mau kau dijadikan suami ketiga dengan peluang mati misterius?”
Dia mendengus keras, berjalan random ke meja tulisku.
“Tuh kan, pasti tidak mau. Kau bertingkah seolah punya banyak pilihan calon saja.”
“Siapa, gitu. Kau sadar kan, Raychel itu gembongnya si Ratu Neraka? Aneh sekali kau waswas kalau aku dengan Ratu Neraka tapi dengan enteng memintaku memilih Raychel.”
“Hei, begitu-begitu juga mereka kan beda,” aku menggerutu, menghirup kopiku. “Raychel tidak punya niatan membunuh setiap suaminya untuk mengeruk emas mereka seperti si Ratu Neraka.”
“Aaargh!” dia mengacak-acak rambut pendeknya frustasi.
“Kenapa sih kau enggan sekali dengan Raychel? Masa kau, seorang Reginald, tak bisa menaklukkan seorang Raychel?”
“Bukan begitu, Melanie sayang,” aku tahu dia mulai tidak sabar. “Tidakkah kau sadar seperti apa yang selalu terjadi setiap kali aku dan Raychel berinteraksi? Merde, bahkan permainan Chuck dan Blair saja masih lebih jinak! Itu bukan cinta, apalagi afeksi. Antara aku dan Raychel cuma ada permainan, siapa yang kalah lebih dulu, siapa yang menyerah lebih dulu. Aku ini dosa apa harus punya kehidupan rumah tangga semengerikan itu?”
“Lakukan sesuatu untuk menyelesaikannya, kalau begitu. Kalau sudah menikah, tidak mungkin meneruskan permainan yang sama, kan? Buat kompromi, atau apalah, begitu,” aku mengedikkan bahu kasual, dibalas decakan tak sabarnya.
“Masa betulan tak ada yang lain? Mana coba lihat daftarmu.”
Dia berbalik, memburu duduk di sebelahku, menuntutku membuka satu file lain yang berisi daftar karakter yang sebelumnya telah kurencanakan. Beberapa hanya berisi nama belaka, beberapa telah lengkap dengan latar belakang mereka. Aku menggulirnya turun, membiarkan Reginald membacanya.
“N’ah,” dia berdecak meremehkan, memintaku terus membuka halaman berikutnya. “Cantik tapi bukan darah biru. Berikutnya. Lagi. Lagi. Tunggu tunggu…. Non non, namanya kampungan begini, terus. Tidak. N’uh. Jangan harap. Dia bangsawan barbar, skip saja. Nah, stop stop! Dia bagaimana?”
Aku melongok membaca nama yang ditunjuk olehnya, namun segera berganti dengusan tak percaya.
“Dia sudah jadi hak milik si Kapten, masa lupa?”
Reginald kembali mengacak-acak rambut pirangnya, semakin frustasi.
“Dia?”
“Taken juga. D’oh. Mereka sudah kayak bakteri dan inangnya begitu.”
“Yang ini?”
“Kalian bertatap muka saja belum pernah. Prosesnya terlalu lama, lupakan lupakan.”
“Dia, kalau begitu.”
“Errgh, chemistry kalian tidak bagus saat interaksi. See? Cuma Raychel yang pantas.”
Dia mendengus keras-keras.
“Kenapa aku harus buru-buru menikah di usia muda, coba, jelaskan lagi?”
“Aku kan sudah bilang. Biar nanti hitungan lahirnya keturunan-keturunanmu tepat waktu.”
Erangan keras penuh frustasi kembali terdengar.
“Oke, kalau begitu caranya,” raut wajahnya berubah serius. Mendadak rasanya aku tahu apa yang akan dia katakan selanjutnya. “Aku mau Janelle.”
Sudah kuduga akan jadi seperti ini. Aku menarik napas, berusaha menyabarkan diri. Percakapan ini sudah berputar entah untuk yang keberapa kalinya diantara kami, Reginald sepertinya tidak pernah bosan meminta lagi dan lagi tak peduli berapa kali kukatakan itu tak mungkin.
“Kau tahu apa jawabannya, Reg. Sudahlah, percuma membahasnya lagi,” berharap dia menangkap isyaratku menghentikan pembicaraan, aku berdiri, membuang kemasan mie instan yang kini telah kosong.
Ternyata tidak.
“Aku hanya menginginkan dia,” perlahan, dia berkata sendu. “Bukan Raychel, bukan si Ratu Neraka, bukan juga wanita-wanita random lainnya yang kaubuat kutiduri seolah memilih piyama. Hanya Janelle, dan itu cukup untukku.”
Aku tak tahan kalau sudah begini. Bagaimanapun, aku mengerti betapa dalam apa yang Reginald rasakan pada Janelle-nya. Saling mengenal semenjak sebelas tahun bukanlah waktu yang singkat. Lagi dan lagi, mungkin dia begitu sering berpindah dari satu perempuan ke perempuan lain. Namun Janelle tak pernah tergantikan.
Ada yang bilang, dia yang terlalu banyak bermain terkadang tak bisa mendapatkan apa yang diinginkannya.
“Kau tahu kan, Reg,” mendadak aku tidak lagi sebal karena topik ini diungkit lagi dan lagi. Tidak. Aku hanya kasihan padanya. Ini terlalu menyakitkan, dan mengulang-ulangnya lagi terasa lebih menyakitkan. “Kau, Janelle, Frida, Carmen dan Vanessa, kalian berlima itu sahabat. Terasa seperti incest tidak sih, menikahi yang sudah seperti adikmu sendiri?”
“Yeah, seolah kau tak pernah naksir sahabatmu sendiri saja,” dia berdecak.
“Hei!” Aku membelalak. “Ini dan itu berbeda, oke? Lagipula plot utamanya kan tentang keturunan-keturunan kalian yang juga bersahabat, kalau saling menikah begini nanti siapa yang jadi keturunannya Janelle?”
Reginald berpendapat itu alasan menggelikan, aku tahu. Kali ini ia tidak repot-repot mengutarakannya, hanya menimpali dengan dengusan sinis. Aku juga sadar itu sangat menggelikan dan dibuat-buat, aku hanya ingin mengulur waktu dan menghindar dari menyebutkan alasan utamanya. Sumpah, aku sama sekali tidak ingin mengungkit alasan yang berikutnya ini.
“Lagipula…”
“Aku tahu. Sudah, tak usah diteruskan.” Reginald mengerti. Raut wajahnya berubah kelam. Aku menurut, tak lagi memperpanjangnya.
Siapa memangnya yang suka bila diingatkan pada fakta kalau satu-satunya orang yang kau cintai, telah memberikan hatinya pada orang lain, yang telah mati?
Suasananya jadi tidak enak begini. Aku benci yang seperti ini. Kuputuskan mengistirahatkan diri dari word file yang sejak berjam-jam lalu kutekuni, membuka tab browser, mengetikkan alamat salah satu social network di address bar-nya. Beberapa menit jariku hanya menggeser-geser halaman, membaca-cepat isi timeline.
“Hei, Reg. Ini malam apa, sih?”
“Minggu. Kenapa?”
“Tsk. Pantas. Isi timeline galau semua,” terkekeh pelan, masih menggeser-geser isi timeline, satu-dua meneguk kopiku. Reginald ikut terkekeh menimpali, melongok ke layar laptopku. Raut wajahnya sudah mulai membaik.
“Kau? Tidak ikutan galau? Malam Minggu bukannya hura-hura malah stuck dengan laptop dan mie instan?”
Aku tahu dia hanya iseng menggoda. Tanpa perlu kucetuskan pun, baik aku dan dia sama-sama tahu jawabannya. Kepalaku menggeleng, seulas senyum lembut tertarik di wajahku.
“Buat apa?” sepasang mataku mencari-cari zamrudnya, yang tengah balas menatapku dalam. Ada kerlip di sana, yang aku tahu hanya muncul untukku dan untukku saja. Sesuatu yang hangat menyelusup di dadaku, membuatku merasa seolah semua masalahku di dunia ini sama tak berartinya dengan debu.
“Aku punya kau.”