Saturday, October 29, 2011

This Is Not The End: Part 1

Sekuel dari Last Farewell HAHAHAHAHAHAHA *iya saya blending lagi, mengangeni seseorang lagi oTL* yabegitulahpokoknyayaaaa.... dibagi beberapa part karena kayaknya bakalan panjang (a.k.a baru part 1 ini yang selesai *dibalang*) Enjoy :3

===========================


This Is Not The End: Part 1



Hei, Reg.

Apa kabar?


“Maaa! Lihat, lihat, Ma! Selina nangkep kumbang!”


“Mama aku nangkep kumbang! Aku nangkep kumbang!”


Kuharap kamu baik-baik saja. Kuharap kamu masih ingat padaku, pada setiap kisah yang dulu kita rangkai bersama.


Dua bocah perempuan kecil berwajah serupa, mata-mata mereka berbinar seri yang gemerlap, dengan rambut selegam arang yang berayun serupa, kaki-kaki kecil mereka berderap seragam memburu seorang wanita berparas lembut yang tengah duduk menata makanan di gubuk kecil tak berdinding tak jauh dari tanah lapang tempat kedua bocah itu bermain, seorang pria berdiri di sisi lain tanah lapang, mengamati kedua bocah perempuan itu berlari-lari riang, terkekeh singkat. Seraut senyum samar terkembang di wajah sang wanita.


“Coba, Mama lihat.”


Sepasang telapak tangan salah satu bocahnya terulur, masih mengatup. Perlahan, amat perlahan, dia membukanya, memperlihatkan seekor kumbang kecil berwarna hitam merayapi lekuk-lekuk telapaknya, punggungnya berkilat kehijauan. Sesekali bocah itu terkikik, kegelian.


Tempat ini, apa kamu masih ingat?


“Papa yang nemu—“


“—di sana, di tengah-tengah kelopak bunga kuning di sana—“


“—terbang muter-muter, terus hinggap merayap-rayap—“


“—Papa bilang kami boleh coba nangkep—“


“—terus aku tangkep!—“


“—Selina hebat deh Ma, bisa nangkep kumbang!”


“Lihat Ma, lihat! Cantik, kan? Cantik, kan?”


Wanita itu tergelak menanggapi celotehan kedua putri kembarnya yang saling bersahutan, mendengarkan dengan khidmat keduanya saling menyampaikan cerita, menunjuk-nunjuk ke ujung lain tanah lapang yang terpisah oleh rel kereta yang membelah di tengah, di mana suaminya masih menunggu, gerumbulan bunga-bunga liar mungil tampak menyebar, menutupi sebagian tanah lapang.


Ya, puncak bukit di desa nenekku. Kamu masih ingat, Reg? Dulu kita pernah ke sini, pagi-pagi sekali, mengejar matahari terbit. Saat itu aku terperosok lubang karena hari masih gelap. Ingat tidak, kamu menertawaiku habis-habisan, berulangkali mengungkit soal kakiku yang seperti memakai kaus kaki lumpur?


“Wah, iya kumbangnya cantik,” wanita itu menanggapi, sama antusiasnya seperti kedua bocah kembarnya. Tangannya terulur, menyentuh pelan sang kumbang, yang mendadak membeku sesaat, lalu bergoyang sedikit, dan kemudian merayap-rayap lagi, di bawah tatapan intens kedua bocah kembar itu yang masih belum kehilangan minat.


“Ren, coba sekarang kamu yang pegang,” mendadak bocah yang dipanggil Selina itu menyodorkan tangannya ke depan wajah kembarannya, yang sontak membelalak ngeri, menggeleng-geleng keras. Cengiran jahil terplester lebar di wajah Selina, tetap berkeras menyodorkan isi kepalan tangannya.


“Cobaa! Sebentar saja!”


“Nggak mauuu! Kamu saja yang pegang!”


“Ih, pegang sebentar doaaang!”


“Pokoknya nggak mau! Mamaaaa!”


Ren si bocah kecil memilih berlindung di balik punggung ibunya, mendelik kesal pada kembarannya. Biar Selina itu kembarannya, selalu saja dia mencari-cari kesempatan menggoda dirinya, memanfaatkan fakta kalau Serene lemah menyentuh hewan-hewan kecil macam itu, meski ia punya ketertarikan sama besarnya dengan Selina.


“Hush, Selina, adikmu jangan digoda terus-terusan, ah. Kita ke sini kan buat main, bukan buat berantem.”


Selina bocah mengerucutkan bibirnya, menggerutu tinggi-rendah. Wanita itu menarik napas panjang, menepuk puncak kepala kedua putrinya lembut.


“Sana panggil Papa. Kita makan sekarang.”


Sudah lima tahun, ya? Waktu betul-betul berjalan cepat. Seperti katamu, kedua putriku tumbuh jadi gadis manis yang cantik.


“PAPAAA!!”


“MAKAAAAN!”


Pria di sisi lain tanah lapang melambaikan sebelah tangannya, tampak tengah sibuk melakukan sesuatu sebelum akhirnya berdiri beberapa saat kemudian. Mengamati kanan kirinya sebelum menyeberangi rel kosong, sebelah tangannya yang lain tersembunyi di belakang punggung ketika berjalan mendekat ke gubuk kecil tak berdinding tempat istrinya telah menggelar bekal makan siang mereka. Kedua putrinya menjulurkan leher mereka, penasaran.


“Papa, itu apa?”


“Itu apa?”


Sebuah cengiran lebar terkembang alih-alih menjawab, masih menyembunyikan sebelah tangannya di balik punggung. “Tutup mata, dong. Kalian bertiga,” ia menatap istrinya penuh arti, yang mendadak merasakan panas di kedua pipinya. Setelah bertahun-tahun bersama, tak mungkin ia tak mengenali arti tatapan suaminya itu, yang pasti selalu memiliki sesuatu bila menatap begitu. Apalagi, ini bukan kali pertama mereka mengunjungi tanah lapang ini.


“Iih! Apaan sih, Pa?”


“Iya, apa? Kenapa harus tutup mata?”


“Kenapa Mama juga harus tutup mata?”


Memang, mereka cerewetnya minta ampun, hahaha. Tapi mereka tetap dua anak perempuan yang manis, hartaku dan suamiku yang paling berharga.


“Pokoknya tutup mata. Cuma sebentaar,” suaminya ikut keras kepala. Dia tidak mengatakan apa-apa, hanya tergelak pelan, berusaha menyembunyikan senyum sipu bagai gadis remaja yang tampaknya pasti akan merekah terlalu lebar, menutup matanya tanpa sanggahan lagi. Kedua putrinya ikut menutup mata meski diakhiri gerutuan-gerutuan panjang lebar.


Dia tidak berubah, masih dia yang mencintaiku tanpa syarat seperti dulu, dia yang membuatku ingin tenggelam dalam kedamaian yang ia berikan.


“Oke, buka mata sekarang.”


Dua bocah perempuan kecil dengan wajah serupa itu, sontak memekik kompak, terkejut bercampur girang dengan gelang dari rangkaian bunga yang kini terpasang di pergelangan tangan mereka, heboh berteriak-teriak mengenai betapa cantiknya rangkaian bunga itu, serta bagaimana caranya ayah mereka yang seorang pria bisa memiliki tangan yang begitu terampil. Pria itu tak menjawab, hanya menatap lurus pada istrinya, dengan tatapan lembut mendamba-nya yang biasa, dengan tatapan berbinar penuh sayang yang tak pernah berubah meski sekian tahun telah berlalu. Mati-matian menahan agar tidak terkikik norak seperti bertahun lalu kala ia masih seorang gadis belasan tahun, dia menunduk, mengulum bibirnya.


“Mama kalian yang ajarkan,” pria itu bergerak mendekat, mengelus anak rambut istrinya yang terlolos menari-nari dipermainkan angin, mengecup penuh sayang puncak kepalanya. “Bunganya tidak cukup untuk tiga mahkota, jadi kubuatkan gelang saja,” bisiknya perlahan di telinga istrinya, amat perlahan, hingga hanya mereka berdua yang mendengar. Dia tersenyum, balas mengecup pipi suaminya penuh sayang. Kedua putrinya ribut minta diajarkan membuat gelang dari bunga liar.


Masih dia yang selalu berusaha melakukan hal-hal manis, terkadang tampak terlalu keras sampai terasa menggelikan.


“Iya, iya, nanti Mama ajarkan. Sekarang kita makan dulu, oke? Sudah lapar, kan?”


Tapi itu bukan suatu masalah. Aku bahagia, bersamanya, bersama Selina, bersama Serene. Bertahun-tahun berlalu, dan aku masih bahagia.


“Selina, kumbangnya dilepas ya, Sayang? Kasihan kalau dikurung terus-terusan.”


Gadis kecilnya mengangguk patuh, sudah hapal dengan kebiasaan sang ibunda. Ini bukan pertama kalinya gadis itu menangkap serangga-serangga kecil, ibunya selalu memintanya melepasnya lagi setelah bocah itu puas mengamati. Berlari-lari kecil dengan Serene ke gerumbulan semak terdekat, bocah kecil Selina hati-hati meletakkan kumbang kecilnya di atas rerumpunan semak, mengamatinya untuk beberapa saat sebelum kemudian kumbangnya kembali terbang, menghilang. Kemudian kembali duduk dengan patuh, mengambil tisu basah yang disodorkan ibunya untuk membersihkan tangan.


Aku hanya merindukanmu. Sangat.


“Berdoa dulu,” kali ini ayah mereka yang mengingatkan.


“Selamat makan!” kedua bocah kecil itu berseru kompak.


Apa kamu merindukanku juga, seperti halnya aku merindukanmu?


***


Mendadak saja, tanpa peringatan apapun, perutku berkeriuk lantang memecah hening, minta ampun kerasnya. Disusul tawa terbahak-bahak pria pirang itu yang berderai ramai, menenggelamkan makian-makian yang tercetus begitu saja dari mulutku.


“Makan dulu, Mel,” pria pirang itu mencetus santai, tak bergerak dari posisinya yang tengah tidur ayam di sebelahku. Aku menggerutu, kini mengangkat sebelah kaki menekan perutku, berusaha mengabaikan perut yang sejak tadi berteriak-teriak meminta jatah, mengabaikan dia yang juga ikut-ikutan mencerewetiku, jemariku kembali menari-nari di atas keyboard seolah tak terganggu apapun.


“Kau ini sok jago. Sudah tahu kau paling tidak tahan dengan lapar,” lagi, pria itu terkekeh pelan, masih berusaha mengingatkanku. Menggeram pelan, akhirnya aku menyerah. Enggan kehilangan hasil ketikan meski hanya meninggalkannya semenit dua, kusimpan sebelum berdiri dan turun dari tempat tidur menuju dapur mini di sudut lain kos-kosan satu kamarku ini.


“Mie instan lagi?” kali ini suara si pria dari belakang punggungku terdengar skeptis, bisa kubayangkan ia berkata sambil mengangkat satu alis mengomentari aku yang malah memanaskan air di teko listrik. Aku menggulirkan mata malas.


“Malas masak yang lain. Sudah ah, aku sedang perlu yang cepat, bisa-bisa aku lupa semua yang mau kutulis kalau sambil masak ini-itu,” aku membalas ketus, sibuk dengan kemasan cup noodle dan toples kopi, kembali ke atas tempat tidur beberapa menit kemudian, duduk bersila menghadap laptop dengan kemasan mie instan di tangan dan cangkir kopi di sebelahku.


“Eh, Reg.”


“Apa?”


Dia masih tidak bergerak, tiduran santai di sebelahku. Tanganku mengaduk-aduk isi kemasan mie instan sambil terpekur.


“Kau… sama Raychel saja, ya? Bagaimana?”


“HAH?!” Sontak pemuda itu terbangun, kini duduk benar-benar tegak, sepasang zamrud-nya menatapku horor seolah aku baru bilang akan membuatnya menerjunkan diri dari atas gedung tingkat sepuluh atau apa.


“Habis mau sama siapa lagi, coba?” Aku berdecak, sesekali menyuapkan mie panas, mengacuhkannya. “Si Ratu Neraka? Dia kan sudah punya Raja Setan. Memangnya mau kau dijadikan suami ketiga dengan peluang mati misterius?”


Dia mendengus keras, berjalan random ke meja tulisku.


“Tuh kan, pasti tidak mau. Kau bertingkah seolah punya banyak pilihan calon saja.”


“Siapa, gitu. Kau sadar kan, Raychel itu gembongnya si Ratu Neraka? Aneh sekali kau waswas kalau aku dengan Ratu Neraka tapi dengan enteng memintaku memilih Raychel.”


“Hei, begitu-begitu juga mereka kan beda,” aku menggerutu, menghirup kopiku. “Raychel tidak punya niatan membunuh setiap suaminya untuk mengeruk emas mereka seperti si Ratu Neraka.”


“Aaargh!” dia mengacak-acak rambut pendeknya frustasi.


“Kenapa sih kau enggan sekali dengan Raychel? Masa kau, seorang Reginald, tak bisa menaklukkan seorang Raychel?”


“Bukan begitu, Melanie sayang,” aku tahu dia mulai tidak sabar. “Tidakkah kau sadar seperti apa yang selalu terjadi setiap kali aku dan Raychel berinteraksi? Merde, bahkan permainan Chuck dan Blair saja masih lebih jinak! Itu bukan cinta, apalagi afeksi. Antara aku dan Raychel cuma ada permainan, siapa yang kalah lebih dulu, siapa yang menyerah lebih dulu. Aku ini dosa apa harus punya kehidupan rumah tangga semengerikan itu?”


“Lakukan sesuatu untuk menyelesaikannya, kalau begitu. Kalau sudah menikah, tidak mungkin meneruskan permainan yang sama, kan? Buat kompromi, atau apalah, begitu,” aku mengedikkan bahu kasual, dibalas decakan tak sabarnya.


“Masa betulan tak ada yang lain? Mana coba lihat daftarmu.”


Dia berbalik, memburu duduk di sebelahku, menuntutku membuka satu file lain yang berisi daftar karakter yang sebelumnya telah kurencanakan. Beberapa hanya berisi nama belaka, beberapa telah lengkap dengan latar belakang mereka. Aku menggulirnya turun, membiarkan Reginald membacanya.


“N’ah,” dia berdecak meremehkan, memintaku terus membuka halaman berikutnya. “Cantik tapi bukan darah biru. Berikutnya. Lagi. Lagi. Tunggu tunggu…. Non non, namanya kampungan begini, terus. Tidak. N’uh. Jangan harap. Dia bangsawan barbar, skip saja. Nah, stop stop! Dia bagaimana?”


Aku melongok membaca nama yang ditunjuk olehnya, namun segera berganti dengusan tak percaya.


“Dia sudah jadi hak milik si Kapten, masa lupa?”


Reginald kembali mengacak-acak rambut pirangnya, semakin frustasi.


“Dia?”


“Taken juga. D’oh. Mereka sudah kayak bakteri dan inangnya begitu.”


“Yang ini?”


“Kalian bertatap muka saja belum pernah. Prosesnya terlalu lama, lupakan lupakan.”


“Dia, kalau begitu.”


“Errgh, chemistry kalian tidak bagus saat interaksi. See? Cuma Raychel yang pantas.”


Dia mendengus keras-keras.


“Kenapa aku harus buru-buru menikah di usia muda, coba, jelaskan lagi?”


“Aku kan sudah bilang. Biar nanti hitungan lahirnya keturunan-keturunanmu tepat waktu.”


Erangan keras penuh frustasi kembali terdengar.


“Oke, kalau begitu caranya,” raut wajahnya berubah serius. Mendadak rasanya aku tahu apa yang akan dia katakan selanjutnya. “Aku mau Janelle.”


Sudah kuduga akan jadi seperti ini. Aku menarik napas, berusaha menyabarkan diri. Percakapan ini sudah berputar entah untuk yang keberapa kalinya diantara kami, Reginald sepertinya tidak pernah bosan meminta lagi dan lagi tak peduli berapa kali kukatakan itu tak mungkin.


“Kau tahu apa jawabannya, Reg. Sudahlah, percuma membahasnya lagi,” berharap dia menangkap isyaratku menghentikan pembicaraan, aku berdiri, membuang kemasan mie instan yang kini telah kosong.


Ternyata tidak.


“Aku hanya menginginkan dia,” perlahan, dia berkata sendu. “Bukan Raychel, bukan si Ratu Neraka, bukan juga wanita-wanita random lainnya yang kaubuat kutiduri seolah memilih piyama. Hanya Janelle, dan itu cukup untukku.”


Aku tak tahan kalau sudah begini. Bagaimanapun, aku mengerti betapa dalam apa yang Reginald rasakan pada Janelle-nya. Saling mengenal semenjak sebelas tahun bukanlah waktu yang singkat. Lagi dan lagi, mungkin dia begitu sering berpindah dari satu perempuan ke perempuan lain. Namun Janelle tak pernah tergantikan.


Ada yang bilang, dia yang terlalu banyak bermain terkadang tak bisa mendapatkan apa yang diinginkannya.


“Kau tahu kan, Reg,” mendadak aku tidak lagi sebal karena topik ini diungkit lagi dan lagi. Tidak. Aku hanya kasihan padanya. Ini terlalu menyakitkan, dan mengulang-ulangnya lagi terasa lebih menyakitkan. “Kau, Janelle, Frida, Carmen dan Vanessa, kalian berlima itu sahabat. Terasa seperti incest tidak sih, menikahi yang sudah seperti adikmu sendiri?”


“Yeah, seolah kau tak pernah naksir sahabatmu sendiri saja,” dia berdecak.


“Hei!” Aku membelalak. “Ini dan itu berbeda, oke? Lagipula plot utamanya kan tentang keturunan-keturunan kalian yang juga bersahabat, kalau saling menikah begini nanti siapa yang jadi keturunannya Janelle?”


Reginald berpendapat itu alasan menggelikan, aku tahu. Kali ini ia tidak repot-repot mengutarakannya, hanya menimpali dengan dengusan sinis. Aku juga sadar itu sangat menggelikan dan dibuat-buat, aku hanya ingin mengulur waktu dan menghindar dari menyebutkan alasan utamanya. Sumpah, aku sama sekali tidak ingin mengungkit alasan yang berikutnya ini.


“Lagipula…”


“Aku tahu. Sudah, tak usah diteruskan.” Reginald mengerti. Raut wajahnya berubah kelam. Aku menurut, tak lagi memperpanjangnya.


Siapa memangnya yang suka bila diingatkan pada fakta kalau satu-satunya orang yang kau cintai, telah memberikan hatinya pada orang lain, yang telah mati?


Suasananya jadi tidak enak begini. Aku benci yang seperti ini. Kuputuskan mengistirahatkan diri dari word file yang sejak berjam-jam lalu kutekuni, membuka tab browser, mengetikkan alamat salah satu social network di address bar-nya. Beberapa menit jariku hanya menggeser-geser halaman, membaca-cepat isi timeline.


“Hei, Reg. Ini malam apa, sih?”


“Minggu. Kenapa?”


“Tsk. Pantas. Isi timeline galau semua,” terkekeh pelan, masih menggeser-geser isi timeline, satu-dua meneguk kopiku. Reginald ikut terkekeh menimpali, melongok ke layar laptopku. Raut wajahnya sudah mulai membaik.


“Kau? Tidak ikutan galau? Malam Minggu bukannya hura-hura malah stuck dengan laptop dan mie instan?”


Aku tahu dia hanya iseng menggoda. Tanpa perlu kucetuskan pun, baik aku dan dia sama-sama tahu jawabannya. Kepalaku menggeleng, seulas senyum lembut tertarik di wajahku.


“Buat apa?” sepasang mataku mencari-cari zamrudnya, yang tengah balas menatapku dalam. Ada kerlip di sana, yang aku tahu hanya muncul untukku dan untukku saja. Sesuatu yang hangat menyelusup di dadaku, membuatku merasa seolah semua masalahku di dunia ini sama tak berartinya dengan debu.


“Aku punya kau.”


—TO BE CONTINUED—

Wednesday, October 26, 2011

Racau

Desau. Kertak. Derit. Retih.


Riuh.


Ada yang tengah berceloteh, riang. Cerocosan tanpa henti meningkahi. Celetukan-celetukan yang berkomentar menyela, sesekali nada bijak terdengar menengahi. Ada yang berteriak. Satu, dua, di sana, di situ. Mungkin marah. Mungkin kesal. Mungkin takut. Kemudian sesuatu yang lain terdengar, samar, sangat samar, timbul, tenggelam. Rintih? Desah. Keluh. Rutuk. Helaan napas, panjang. Haaaa…. katanya. Hmm…hmmm… hmmm… berdengung, senandung halus, membayangi di latar belakang.


Ramai.


Ramai, ramai, ya. Naik, turun, tinggi, rendah, keras, pelan, kasar, lembut. Berdegup, berdenyut hidup, menari-nari dalam irama masing-masing, saling meningkahi, saling bersilangan, saling meresonansi. Apa? Apa? Nada. Ya. Nada, nada, tengah bermain, seriang peri hutan menyambut tetes embun pertama, semesra paus yang bercinta, serela hujan yang meluruh ketika mencium bumi, sesendu tangis bayan yang merindu, semarah induk beruang yang terganggu sarangnya. Hap, hap, melangkah, melompat, berjinjit, berputar. Berputar, nada-nada menari, berjingkat, gegap gempita di dalam kepalanya.


Ah.

Hei.

Kenapa?

Kenapa wajahmu jadi mengeruh begitu?

Kenapa, kenapa, kenapakenapakenapakenapa—




Hei, lihat. Langitnya biru cerah.


Tunggu. Apa benar biru?


Lihat, lihatlah lagi dengan lebih cermat, satu suara melirih anggun. Bukan sepenuhnya biru, katanya. Ada larik-larik sinar menyela, lalu gumpalan-gumpalan perak mengambang. Ya, ya, tapi tak kusangkal kalau langitnya memang cantik, begitu lanjutnya.


Tsk, kalian ini buta, sangkal yang lain, berdecak mencela. Mana biru? Mana perak? Mana sinar? Lihat, lihat di sana, begitu ia berseru gusar, menunjuk ke satu arah jauh di ufuk sana. Ada awan bergumpal tebal, katanya. Badai sebentar lagi tiba, dan semua keindahan ini akan hilang dalam kedipan mata, untuk apa tenggelam dalamnya, begitu dia menyimpul ketus.


Dia membuat yang lain terkesiap waspada. Badai? Badai? Tidak! Oh, tidak! Satu di antara mereka merintih-tintih ngeri, matanya menatap nyalang, tersaput selubung teror yang seolah merayap perlahan, amat sangat perlahan, menyelubunginya sedikit demi sedikit, menyelinap, merangkak, mengisi setiap celah, hingga akhirnya memisahkan dirinya dari dunia lain, terperangkap dalam gelembung paranoia dan ketakutan. Badai! Badai! Lalu kita semua akan mati! Dunia ini musnah! Kiamat! Habislah sudah!


Kasihan, kasihan, ya. Tolong dia, begitu kata yang lain. Bagaimana, timpal yang lainnya lagi. Entahlah, yang lain menyeletuk gamang. Jangan tanya aku, aku sama tak tahunya dengan kalian, kilah lainnya lagi.


Ha. Kenapa harus kita tolong dia? Suara skeptis berdecak. Memangnya siapa dia, memangnya apa pengaruhnya untuk kita? Aku aku kau kau, begitu putusnya tak acuh.


Hush, jaga kata-katamu, begitu yang lain memperingatkan. Tidakkah kau lihat, tanpa kata-katamu pun dia sudah hancur mengenaskan? Bagaimanapun, kita semua satu, lanjutnya lagi. Apa yang terjadi padanya akan memengaruhi kita juga, dia menutup dengan sabar.


Suara lain mendengus meremehkan. Aku tak peduli dengan semua tetek bengek itu, begitu tukasnya, tapi dia berisik. Lakukan apa saja yang penting dia diam lagi.


Kau kejam, komentar yang lain.


Peduli kucing, begitu jawabnya. Lalu melengos berlalu, tanpa sedikitpun memedulikan mereka yang tengah berdebat.




Bagaimanapun, untuk saat ini, langitnya memang indah.

Gumpalan awan yang cantik. Jadi ingin memetiknya.


Bagaimana, bagaimana? Bagaimana memetik awan?


Naik kah? Ya, ya, ya! Naik, naik, naik! Naiklah ke tempat tertinggi, tempat tertinggi yang bisa kau jamah!


Lalu ia melangkah. Tertatih, terseok, meniti tangga, satu demi satu. Matanya berbinar penuh harap, mulutnya setengah ternganga, wajahnya mengerut berkonsentrasi. Naik, naik, naik terus, dan terus, dan terus. Lebih tinggi lagi, lebih tinggi lagi, lebih tinggi—


—Tidak bisa, dia mendesah putus asa. Tangganya habis. Habis. Tidak bisa lebih tinggi lagi. Ini kurang tinggi. Kurang tinggi. Awannya masih tak terjangkau.


Rintihan lain terdengar. Tidak, tidak, itu tangis. Merana sekali kedengarannya. Dan putus asa. Dan menyayat. Apa… apa memetik awan itu sebegitu pentingnya? Apa yang nanti akan kau dapat dari memetiknya?


Tangis itu melambat, berubah jadi isakan pelan. Tidak tahu, ujarnya, tergugu. Tapi, tapi, awannya cantik. Tidak bisakah aku memilikinya?


Coba, coba, berdirilah. Luruskan punggungmu. Ulurkan tanganmu, sejauh yang kau bisa. Terus, terus ulurkan—

Tidak bisa—

Bisa! Kau pasti bisa!

Masih terlalu jauh—

Lagi! Berjinjitlah! Rentangkan tubuhmu! Kau pasti bisa!

Rentangkan… ulurkan... raih… raih… ra—




Hening.




Lalu suara benturan, keras, amat keras. Memercik, membuncah merah, semerah kembang api yang membunga langit, buyar bertemu tanah, berhambur, berserakan.


Kemudian teronggok malang.




“Kakak, main denganku? Aku ingin memetik awan, tapi tanganku tak sampai. Petikkan untukku?”

Friday, October 14, 2011

Re: [...] | Another Episode

Kesunyian ini tak akan bertahan lama. Lihat saja—

"GRAAAAAAAHHHH!!!"

tuh, kan.

Sebenarnya, teriakan frustasi barusan bukanlah hal aneh ataupun ganjil. Berminggu-minggu ini seruan geram, raungan murka atau teriakan gusar seperti sudah jadi bagian dari keseharian yang selalu terdengar di rumah kecil milik sepasang manusia bernama Liga dan Andrew. Tidak, mereka tidak tengah bertengkar, atau marahan, atau ngambek, pundung, you named it. Hubungan keduanya baik-baik saja, malahan amat sangat baik, seperti layaknya pasangan-pasangan newlywed yang masih dimabuk euforia bulan madu. Tidur saling menempel berpelukan, membangunkan dengan kecupan sayang, menjalani hari penuh kata-kata bujukan hangat, sindiran-sindiran seduktif, cekikikan nakal yang tercetus random. Hari-hari yang sempurna.

Harusnya.

Suka tidak suka, ledakan-ledakan frustasi selalu muncul secara berkala, mengeruhkan suasana hangat yang seharusnya murni semanis madu, secerah lautan tulip, sesegar udara pagi di tengah hutan pinus. Ha. Morcerf brengsek, Mundanus lebih brengsek. Dengan sebegitu banyaknya sumpah serapah yang keluar dari mulut mereka, Liga tak habis pikir kenapa Morcerf dan Mundanus masih hidup sampai detik ini.

(Kini suara cabikan perkamen yang dirobek-robek gusar)

"Hey, Andrew," ringan, seolah kegusaran yang tercetus sama tak berartinya dengan derak kayu terbakar di perapian. Semakin lama, suara-suara sarat frustasi jadi sama biasanya dengan ciuman selamat pagi. Mengabaikan rokok entah keberapa yang baru saja dinyalakan lagi oleh pemudanya, Liga menyodorkan sekeping cookies hangat ke depan wajahnya. "Coba dong. Resep baru. Pakai potongan kelapa dan pistachio."

Ngomong-ngomong....

Ini pukul berapa ya?

Keduanya mengerejap ketika jam berdentang, satu, dua, tiga, empat kali, seperti baru terbangun dari trans, baru menyadari jam biologis mereka kacau habis-habisan beberapa minggu ini. Tangan Andrew terulur, mencomot cookies yang ditawarkan gadisnya, mengunyahnya perlahan. Kemudian ia baru sadar sejak tadi wangi kue dipanggang tak henti-hentinya tercium.

"Kamu ngapain—"

Kata-katanya terhenti begitu berbalik, bengong mendapati keadaan dapur kecil yang entah sejak kapan ia punggungi. Satu meja kecil ekstra telah dijejalkan di sana menutupi lorong sempit menuju teras tempat mencuci di luar, di atasnya penuh sesak dengan berloyang-loyang pie berbagai isi, cake yang telah komplit dihias krim, yang baru setengah tertutupi, yang masih polos, yang tak perlu dihias, muffin dan cupcakes, beberapa loyang cookies berbagai bentuk dan rasa, dan gadisnya tengah mengangkat seloyang puding, beranjak membuka pintu kulkas. Andrew menjulurkan lehernya, sekilas menangkap rak-rak kulkas juga penuh sesak dengan berbagai macam dessert.

Tenggorokannya berdeguk gugup.

"Are you planning to open a cake shop or are we having a party that I don't know of?"

Tawa canggung meloloskan diri dari mulut Liga, sesaat irisnya tampak berkabut bingung. Kakinya bergerak-gerak canggung di tempat, jemarinya memainkan ujung celemek berenda yang tengah ia kenakan.

"Party? Mungkin...ya..." jawaban gadis itu terdengar amat sangat tidak meyakinkan, bingung dan kalut belum menghilang dari matanya. "Wanna have some party?" Kembali, kekeh canggung terdengar.

Spontan pemuda itu menoleh pada area di depan perapian yang masih berkeretak menjilat-jilat seru, area kerja gadisnya. Satu set meja-kursi lain dipasang di sana, penuh buku-buku yang terbuka berantakan, perkamen-perkamen penuh tulisan bertumpukan, perkamen panjang yang baru setengah ditulisi belum digulung, tampak coretan-coretan besar di atasnya, bahkan botol tintanya tidak ditutup. Cabikan-cabikan perkamen robek bertebaran di kaki meja. Dia menghela napas, matanya membulat mengerti. Rokoknya yang masih panjang dimatikan. Setelah tampaknya seperti seabad menempel di kursi, pemuda itu berdiri. Menggamit lengan gadisnya.

"Masih penangkal racun?"

Liga menggeleng.

"Ramuan pelangsing," ujarnya, masih menerawang pada lantai, entah sadar entah tidak tengah juga mengunyah sepotong cookies. "Perbandingan berat badan, jumlah massa, usia, dengan dosisnya bikin gila, Morcerf menyuruhku meneliti sendiri. Terus... terus pada dasarnya ramuan buat tiap orang pasti ada yang berbeda—"

Kata-katanya terhenti begitu saja, terputus oleh ciuman lembut yang diberikan pemudanya. Hangat, penuh sayang, melemaskan otot-otot yang tegang, mengendurkan urat-urat yang terentang kritis. Perlahan, kelopak mata gadis itu menutup, menikmati setiap detiknya. Kekalutan di matanya meredup, bahunya melemas, tidak lagi ia pedulikan rasa pahit tembakau yang tercecap, meski biasanya dia selalu bawel tentang pemudanya yang tidak enak untuk dicium setelah merokok. Dia bisa merasakan jemari Andrew menarik celemeknya hingga lepas, melemparkannya ke punggung kursi.

"Mandi, yuk?"

Liga mengangguk dalam bisu, masih belum melepaskan jemari mereka yang saling berkaitan. Mematikan oven dan kompor, kaki-kakinya yang telanjang perlahan menapaki lantai kayu, mengikuti Andrew yang membimbingnya ke kamar mandi. Pemuda itu memindahkan pemutar musik portabel mereka ke dalam, memainkan lagu bernada lembut, sementara ia mengisi bak mandi dengan air hangat, menyalakan lilin aromaterapi, dan seketika kamar mandi kecil itu dipenuhi aroma rose blossom bercampur lavender yang ia hirup dalam-dalam, perlahan mengendurkan ketegangan. Dia membiarkan Andrew melepaskan seluruh pakaiannya, membiarkan dirinya dituntun masuk ke bak mandi.

Pukul empat pagi. Lampu di ruang tengah sama sekali belum dimatikan semenjak matahari terbenam sore tadi. Rasanya seperti sudah berabad-abad semenjak mereka bangun, lalu makan, setelahnya memaksa tangan dan otak bekerja tanpa henti. Berendam sebentar, ditemani musik yang mengalun pelan, ditemani wangi aromaterapi yang menguar menenangkan, bergantian memijat otot-otot yang kaku, menggosok kulit yang lengket dengan penat, lalu hanya menyelonjor santai, saling bersandar, merasakan kulit mereka saling bersentuhan, bertukar bisu. Sesuatu yang semakin lama terasa seperti sebuah kemewahan diantara hari-hari memuakkan.

"Kue-kuenya kukirim buat Orange saja, deh."

Andrew menimpali dalam gumaman sabar, tahu gadisnya sama sekali tidak memaksudkannya sebagai sebuah pertanyaan yang menuntut jawaban pasti. Namun, ia juga mengerti gadisnya membutuhkan respon, puas meski hanya dengan lenguhan pelan.

"Terus buat Nigel juga. Terus... Auel, Argie, Romeo juga. Oh, Toto juga."

"Si anak mastermu itu?"

"He em, dia selalu suka camilan buatanku, lho."

"Kamu bikin kue buat satu desa apa."

Liga tergelak. Menertawakan dirinya sendiri.

"Terus... Mau kirim buat Oleg dan pacarnya juga?"

"Mmm-hmm." Andrew kembali bergumam, mengeratkan pelukannya. Liga tak lagi melanjutkan kata-katanya, ikut tenggelam dalam diam, bersender nyaman di dada pemudanya. Perlahan-lahan, kelopak matanya tertutup. Menikmati kedamaian, yang ia tahu hanya bisa terkecap sementara.

Pukul empat pagi. Keduanya sampai lupa kapan terakhir kali mereka tidur. Meluangkan setengah hingga satu jam, mungkin hingga lilin pendek itu habis, sekeping kedamaian yang hanya bisa mereka dapatkan dengan mendorong hal-hal lain ke tepi.

"Nanti liburan, yuk?"

"Hmm? Kamu mau ke mana?"

"Nggak tahu... Pantai mungkin?"

"Grah. Panas."

"Buuu," kembali gelak kecil terdengar. "Kamu mau ke mana?"

"Hmmm.... Mau lihat Islandia?"

"Hnnnn..."

"Terus ke kastilku lagi."

"Hayo ngapain?"

"Renovasi?"

"Renovasi atau 'renovasi'?"

Cekikikan kecil lagi, ditingkahi kekehan bandel.

"Aku mau ke Venezia juga, dong."

"Iya..."

"Terus Monaco..."

"Mmmhmmm...."

"Terus... Kamu masih hutang bawa aku ke Jepang."

"He em..."

Pemutar musiknya sudah kembali memutar ke bagian awal sejak tadi. Api lilin mengerejap, bergoyang, masih berjuang untuk menyala hingga saat-saat terakhir. Lalu mengecil, mengecil, mengecil....

Lalu padam.

Thursday, October 13, 2011

[PLOT] Suspicion-Filled Space

Oke, forgive me for posting another roleplay posts AGAIN =')) Ini post dimana Liga sedang dalam pengaruh Imperius Curse, dan well..... proses menulisnya LUAMA banget :| banyak mikir, diskusi kanan-kiri, baca-baca semuanya tentang Imperius Curse, dan pada akhirnya tetep aja kayaknya gw nggak bisa deskripsi behaviour-nya Liga dengan tepat :| Seharusnya kan ya kalo kena Imperius sifatnya tetep nggak berubah, ini kesannya kayak Liga kerasukan gitu oTL Tapi yaudahlah, gw cukup puas kok dengan ini .____. Sebenernya Liga ngepost 3x di topik itu, yang pertama baru hadir tanpa ngapa2in, terus post kedua mulai kena Imperius dan post ketiga Liga mulai fighting pengaruhnya. Ini dua-duanya gw langsung post di sini deh malesin kalo dipisah HAHAHAHA #plak

Oh yeah.... selama di bawah pengaruh Imperius itu.... Andrew dateng buat nyelametin :") Ahihihihihihih~~~ :") #dikunyah

==================================


Post #1

Serius, dia kepingin pulang. Pikirannya melayang, bertanya-tanya sedang apa Andrew sekarang di rumah. Kalau ia di rumah, mungkin sekarang ia sedang membereskan cucian kering, atau menekuri salah satu bukunya, kemudian menanyai Andrew pemuda itu ingin makan malam apa, yang pasti akan dijawab dengan kata-kata 'terserah, apa saja kumakan' dan setelahnya pemuda itu akan curi-curi memeluknya dari belakang saat ia memasak.

Dengan dunia sihir yang tengah tidak karuan seperti sekarang, terjebak berminggu-minggu di rumah rasanya tidak buruk. Hei, paling tidak dia tak perlu merasa waswas sepanjang waktu, kan? Tak perlu terus-menerus memasang kewaspadaan tinggi, dan jelas tak akan ada orang aneh yang mendadak mendekatinya sambil menawarinya berbagai macam jimat-jimat tidak jelas.

Atau seperti pria rombeng menyeramkan ini yang tanpa Liga sadari tiba-tiba saja sudah ada di sampingnya. Dia gelagapan, dalam hati merutuk karena membiarkan dirinya sendiri lengah dengan melamun terlalu dalam hingga menurunkan kewaspadaannya. Seketika dia merinding, jijik, menepis lengan yang dengan kurangajarnya menyentuh kepalanya itu.

"Jangan sembarangan pegang-pegang—"

Dia tak mengerti apa yang terjadi. Entah kenapa, tiba-tiba saja, perasaan marah, terhina, serta jijik yang baru saja ia rasakan seperti terhapus begitu saja, seolah otaknya seperti tengah diprogram ulang dan sama sekali tidak mengenal apa itu waswas, apa itu marah, apa itu terhina, apa itu lelah. Sama sekali tak ada yang tersisa, lalu sesuatu yang hangat dan menyenangkan seolah tengah perlahan-lahan dituangkan ke atas kepalanya, meresap hingga ke kedua ujung jarinya, tubuhnya, bahkan ke kedua ujung kakinya. Tubuhnya seolah lupa bagaimana menjadi tegang karena lelah itu, perlahan-lahan melemas, terlena.

Satu bagian kecil di belakang kepalanya mengingat, ada hal lain yang pernah membuatnya lebih bahagia, lebih menyenangkan, lebih hangat dari apa yang tengah ia rasakan ini. Namun, kehangatan baru yang tengah menjalar ini, mendesak kepingan ingatan itu ke bagian paling belakang, paling berdebu, paling terabaikan, mengiming-iminginya hingga Liga lupa akan keberadaannya.

Katakan Diagon Alley aman... Katakan Diagon Alley aman...

'Hmm?'

Diagon Alley ini aman karena para Auror yang berjaga-jaga...

'Begitu?'

Yeah. Katakan Diagon Alley ini aman...

'Hng... Hanya bilang begitu, kan?'

Dan ajaklah mereka berdoa...

'Hah?'

Ajaklah mereka berlutut dan berdoa...

'...Berdoa bagaimana?'

Ajaklah mereka untuk berlutut bersama dan berdoa: Salam dan Doa Maria.

'... Aku tidak ingat.'

Ajaklah mereka berdoa...

'...Yasudahlah.'




"Hei."

Ada seseorang di dekatnya, sepertinya begitu. Dia hanya mendengar suara-suara ribut, lalu bayangan-bayangan kabur saling berkelebat di depan matanya yang dia tak bisa mengerti itu apa, lalu dia merasa tubuhnya ditarik dan disentak, namun dia sama sekali tidak mengenali apapun yang terlihat. Bibirnya tertarik, kehangatan yang ia rasakan tadi tak kuasa membuatnya tersenyum, melayang.

"Kau tahu," smiles, "Diagon Alley ini aman, lho. Amaan... sekali. Lihat, lihat," jemarinya menunjuk-nunjuk, pada sosok-sosok yang tak berhasil ia kenali apa, "ada banyak Auror yang berjaga-jaga!" Auror, Auror... Auror itu apa? Apa warna-warna yang tengah berkelebat hidup itu yang namanya Auror? Tidak tahu... dia hanya tahu harus berkata seperti itu. "Jangan takut, jangan takut. Di sini aman," takut itu apa, memangnya? "Jadi, ayo, kita berdoa... Kau tahu Doa Maria?"

Sesuatu di belakang kepalanya murung. Ia tak ingat apa itu Doa Maria. Doa Maria itu apa? Maria itu siapa? Perlahan.... ini membuatnya ragu berkata lebih lanjut.

Lalu ia perlahan merasakan, mengenali, bahwa ia bukan tengah ditarik dan disentak kesana kemari. Ia tengah dirangkul seseorang, dengan erat, seolah ada sesuatu yang besar dan menyenangkan tengah berdiri melindungi dirinya dari kelebatan-kelebatan dan suara-suara melengking tidak nyaman yang sejak tadi terus-menerus mendera-dera gendang telinganya. Lalu secuil ingatan itu, ingatan tentang sesuatu hal yang pernah membuatnya lebih bahagia, lebih hangat, lebih nyaman dari apa yang tengah ia rasakan ini, perlahan kembali menemukan jalannya untuk menampakkan diri.

Dia ingat pernah merasa nyaman dan bahagia dalam pelukan seseorang yang terasa hangat, yang terasa besar dan aman, membuatnya merasa terlindungi, membuatnya merasa dicintai sepenuh hati.

Seseorang yang sama dengan yang tengah merangkulnya erat sekarang. Ya... Liga akhirnya mengingat itu. Ada seseorang yang juga tengah merangkulnya sekarang dengan sepenuh hati. Suara yang sama di belakang kepalanya berkata, dia mengenalnya.

Siapa? Siapa?

"...drew?"

Iya... dia mengenal orang itu.


====================================

Post #2


Ada yang menyentuh kedua pipinya. Meneriakkan sesuatu. Apa? Apa yang diteriakkan? Nama—kah? Nama siapa?




Namanya.... siapa?

Kelebatan cahaya. Ledakan. Teriakan. Panas. Asap.

Tatapannya nanar, kalut. Refleks kedua tangannya terangkat, menyembunyikan kepala. Tidak, tidak, tidak. Dia tidak suka ini. Berisik. Berisik. Berisiiik!

Ajaklah mereka berdoa...

'Kenapa kau masih di situ?'

Ajaklah mereka berlutut dan berdoa...

'Berisik, berisik! Pergi, pergi dari sini!'

... Salam dan Doa Maria. Ajaklah mereka berlutut dan berdoa...


Kembali, suara-suara berisik itu seolah diperkecil, seolah menjauh, hingga samar... samar... Dia masih bisa mendengarnya, dia masih bisa merasakan panas, hidungnya sesak, matanya perih oleh asap, namun seolah ada selubung tak terlihat yang menghalanginya dari merasakan semua panas, dan sesak, dan perih.

Dan suara itu terus menerus menyuruhnya berdoa.

"Hail Mary, full of grace
our Lord is with thee"


Mulutnya membuka, bersenandung, syahdu.

"blessed art thou among women
and blessed is the fruit of thy womb, Jesus"


Kembali, ada yang mengulang-ulang satu kata. 'Li—ga'? Iya, Liga, katanya. Liga. Siapa?

Lalu Andrew. Liga. Andrew. Liga. Andrew. Liga—

Ada yang berusaha mengoyak-ngoyakkan selubung kehangatan yang sejak tadi melingkupinya. Sesuatu—seseorang—entahlah—di dalam kepalanya, berteriak-teriak, panik, panik, memanggil, putus asa.

Apa katanya?

Liga.

Ya, Liga.





"An—drew?"

Matanya berkerejap. Bingung. Bersirobok dengan mata seseorang, yang sehijau emerald, yang menatapnya balik dengan.... kacau? Kalut? Mata yang—

—Mendadak saja, dia seperti tengah disiram seember air es. Terkesiap. Seperti ada yang tiba-tiba membuka katup dan semua ingatan dan kenangan berpusar-pusar membebaskan diri, membanjirinya dengan hujan gambar dan kata-kata dan suara dan bau. Panik. Panik. Ia memandang sekeliling. Di mana? Melayang. Melayang? Melayang! Tolong! Tolong! Dia jatuh! Dia jat—

Tidak. Tidak jatuh. Dia terbang. Seseorang memeganginya. Erat. Kuat. Namun lembut. Siapa? Siapa?

"Andrew—"

Salam dan Doa Maria... Salam dan Doa Maria...

"Holy Mary, mother of—"

BERHENTI, BERHENTI!

"Andrew, help—"

Doa Maria... Doa Maria...

"Mother of God, pray for us sinners..."

Dia terisak-isak. Bahunya bergetar, hebat.

"Andrew—save—me—"

"As strange as it seems, I'd rather dissolve than have you ignore me." - Post 11

Ya, mereka memiliki seluruh waktu yang tersedia di dunia. Karenanya, wajarlah bila mereka tidak peduli kalau matahari perlahan mulai tergelincir ke kaki cakrawala di ufuk barat, tidak peduli jarum jam terus berputar dan berdetak, tidak peduli manusia-manusia yang sebelumnya berjejal bagai sarden telah lama menghilang diburu ketergesaan dan paranoia, tidak peduli kabar angin mengatakan malam hari akan sangat berbahaya karena apa yang telah terjadi baru-baru ini. Yang ada di ruang pandangnya hanyalah dia dan dia saja, pemudanya, Andrew-nya satu-satunya. Dia tak bosan mereguk lagi dan lagi dan lagi seluruh sentuhannya, aromanya, tak keberatan kembali menenggelamkan diri dalam sepasang iris yang tak pernah berhenti menggelontorinya dengan cinta dan kasih sayang.

Apa yang mereka miliki, rasanya merupakan keberuntungan yang bahkan belum tentu terjadi setiap seribu tahun sekali.

"Ya ganti baju, dong," kembali ia memukul pelan bahu Andrew main-main. "Aku tidak sesinting itu keliaran di London-nya Muggle pakai jubah penyihir, enak saja, nanti dikira aku merayakan Halloween terlalu awal."

Memang, tidak seperti biasanya Liga belum mengganti jubah dan kemeja seragamnya itu saat turun. Kau tahu, ini kali terakhirnya Liga akan mengenakan seragamnya. Kali terakhir melihat peron ini lagi, melihat kereta merah itu lagi. Ia ingin menikmatinya sampai benar-benar saat paling akhir. Ada satu kesedihan yang mengetuk kalbunya. Bagaimanapun, Hogwarts sudah jadi rumahnya selama tujuh tahun ini. Rumah secara teknis, well, dia tak perlu lagi mengkhawatirkan segala hal yang selalu dia khawatirkan secara rutin ketika tinggal di rumahnya. Tak perlu mengkhawatirkan soal makanan, atau biaya hidup, atau menguras waktunya merawat Anastasia.

But, hey. Now she has another home. Her real home. Where she'll make all the warm food for her and her man, everyday. Where they'll be cuddling and embracing each other for as long as they wanted to. Where she has the whole world she needs, because Andrew will always be with her. Forever. And ever.

Gelak halus dan pekikan kecil kembali terlolos ketika pemuda itu menurunkannya. Sesaat, dia merasakan kehampaan saat hangat tubuh itu menjauh, saat kedua lengan kekarnya tidak lagi melingkupi pinggangnya, saat kakinya kembali menjejak pelataran peron. Menggigit bibirnya, jemarinya masih ngotot berkaitan, tak ingin melepaskannya barang sedetikpun.

"C'mere, Dawn," sebelah tangannya yang lain terjulur, memberi isyarat pada burung hantunya untuk kembali. Sepasang cakarnya terasa kuat menggenggam lengannya di balik jubah. "We're going home," dia berbisik, mengecup puncak kepala burung hantunya sebelum memasukkannya kembali ke dalam sangkar, senyumnya tak kuasa Liga sembunyikan, seluruh wajahnya seperti gemerlap dengan cahaya miliknya sendiri. Rumah.

Rumah mereka berdua."I have everything here," dia mengangkat shoulder bag yang sebelumnya tergeletak di tumpukan paling atas bersisian dengan kandang Dawn. Membongkar koper besar hanya untuk mengambil sepasang baju atau memasukkan kembali setelan jubah itu merepotkan, dan terima kasih dia penyihir, bisa memperluas shoulder bag-nya hingga tidak akan kembung tidak jelas meski diisi lipatan jubah besar dan kemeja dan roknya nanti. "Sisanya biar dia bawa pulang saja. Suruh dia beri Dawn makanan dan minum sesampainya nanti, ya?"

Dia terkikik melihat ekspresi sebal Andrew yang dia tahu pasti karena prospek harus berlumut menunggunya berganti baju, berjingkat, meraih dagunya. "Sekarang betul-betul tidak akan lama," bisiknya, mencium bibir Andrew sekali lagi sebelum berlalu mencari toilet.

Tidak akan lama. Karena ia pun tak ingin terpisah dari Andrew terlalu lama.

"As strange as it seems, I'd rather dissolve than have you ignore me." - Post 10 (c) Sapu

Cahaya sore sudah mulai berubah dari kemerahan menjadi kebiruan. Lokomotif kereta Hogwarts kehabisan asap untuk dimuntahkan, gerbong-gerbongnya sudah kosong sedari tadi. Hanya tinggal beberapa orang di sana, sangat sedikit yang masih menunggu dan belum menemukan yang dicari. Satu orang anak melihat mereka dengan jijik, mungkin bercampur kesal karena belum dijemput orang tuanya, mencecar lirih (yang hanya Andrew balas dengan tatapan sinis dan senyum pandir). Populasi manusia di peron itu makin menipis, kini hanya beberapa orang, dapat dihitung dengan jari-jari tangan dan kaki jumlahnya.

Yet, they didn't move from the spot where they've been finally together again.

Pasangan muda ini toh tidak terlalu peduli. Konteks adalah hal kesekian dalam otak mereka. Mau peron sudah kosong dan mereka diusir oleh penjaga, mereka tidak ambil pusing. Karena ini adalah pertemuan setelah sekian lama. Dan jika awal dari pertemuan kembali itu memakan waktu berjam-jam untuk disyukuri, Andrew tidak keberatan.

Karena Liga Gerhild sudah ada di dalam rengkuhannya lagi, pemuda sembilan belas ini hampir-hampir sudah lupa kalau masih menapak bumi yang penuh sesak ditinggali berbagai makhluk.

Dan iris kelabu itu terarah lurus padanya. Membelainya. Menghipnotisnya. Kau tahu apa yang Andrew rasakan tiap kali dirinya menatap mata Liga? Dia melihat binar. Merasa seakan dirinya ini manusia paling hebat sejagat raya, seakan dirinya satu-satunya laki-laki yang dapat membuat gadis itu bahagia, dan seakan dirinya satu-satunya orang yang berarti segalanya bagi gadis itu. Bahkan orang tuanya saja tidak pernah menatapnya demikian, tidak pernah menganggapnya sedemikian pentingnya. Andrew melihat keberadaannya adalah dunia bagi gadisnya, dan itu merupakah sebuah kehormatan yang bahkan tidak dapat ia utarakan dengan kata-kata.

"Mmhmmm," ia menyipitkan matanya, menikmati jemari lentik itu menelusuri wajahnya. Menanggapi perkataan Liga hanya dengan lenguhan ringan.

Belum pernah dia dicintai sebegini hebatnya oleh seseorang. Dihujani kasih sayang tanpa pamrih. Manis, terlalu manis.

Dan untuk itu semua, untuk membalas itu semua tanpa perlu diminta dia akan melakukan apapun. Tidak, tidak bercanda, apapun, asal detik demi detik yang mereka habiskan dapat membuat Liga bahagia. He lost his 'I-love-you-ginity' to Liga and didn't regret even an inch of it. He will say as much as she wants if that's what it takes.

Well...

Terlalu muluk, sebenarnya, untuk mengatakan kata 'selamanya', tetapi dia tidak terlalu memikirkan hal itu dan hanya ingin selama mungkin merasakan perasaan menggelanyar aneh yang menyenangkan ini. Tidak perlu alasan lain lagi. Cukup itu saja.

Andrew tergelak lagi dengan ambekan main-main gadisnya, mengelus dagu ramping Liga dengan sayang. "Yeah, jalan, ide bagus. Tapi ngomong-ngomong, kamu tidak ganti baju dulu? Jubah Hogwarts itu agak kusam untuk jalanan ramai London."

Ia mengeratkan rengkuhannya sekali lagi sebelum menurunkan Liga dari gendongannya. Tersenyum-senyum bandel sambil mengerutkan kening ke atas seakan berkata 'Hah-kamu-ganti-baju,-aku-harus-tunggu-berapa-puluh-menit-nih'. Tangan Andrew meraih troli, menepuk-nepuk bawaan bagong Liga. Burung hantu salju yang semenjak tadi terpekur di atas bangku peron mendekat, seolah tahu ini waktunya kembali ke dalam sangkar.

Terkekeh, pemuda ini bertanya, "Nah, honey, mana yang mau dibawa pulang? Biar langsung dibawa Dia dan aku tidak tambah kepayahan untuk menenteng-nentengnya ke sana ke mari."

"As strange as it seems, I'd rather dissolve than have you ignore me." - Post 9

Never knew I could feel like this

Sepasang mata hijau jernih itu, yang ia rindukan, yang selalu membuatnya merasa dicintai setiap kali ia menatap ke dalamnya, yang membuatnya ingin menenggelamkan diri dan diliputi kedamaian abadi di dalam sana. Seraut senyum syahdu terkembang, perlahan, sehangat mentari musim semi, secerah peony yang merekah menyambut embun pagi. Jemarinya merunut, meraba, kembali bisa menyentuh pemudanya setelah sekian lama, menyusuri lembut pelipisnya, pipinya, rahangnya, hidungnya, bibirnya, semuanya. Menghirup kembali aroma pemudanya, yang masih bisa dia hirup diantara samar aroma aftershave dan sabun.

Like I've never seen the sky before

Apa itu cinta?

Atas nama cinta, ibunya membuang segala yang ia miliki; nama, reputasi, kehidupan layak, semuanya. Atas nama cinta jugalah, ibunya dibuang begitu saja, tanpa memiliki apapun yang tersisa darinya. Atas nama cinta, seorang Liga Gerhild harus mengais dan merangkak demi bisa hidup dengan, sedikitnya, setengah layak. Cinta, membuat seorang Liga Gerhild tumbuh dengan menutup mata hati dan nuraninya, tanpa henti memberitahu dirinya sendiri untuk tidak terbodohi karena cinta, untuk tidak merendahkan diri karena cinta, seperti yang dilakukan ibunya.

Dia dan Andrew, bukanlah dua orang naif yang percaya dunia bisa berputar hanya karena cinta, dia tahu itu. Mutualisme, bukankah itu kesepakatan mereka dulu? Sesuatu yang terasa lebih nyata, lebih realistis daripada sekedar ilusi bernama cinta. Sesuatu yang tak akan membuat mereka kehilangan akal, mengabaikan segala logika dan kenyataan. Bagus, bukan?

What happened to them now?

Want to vanish inside your kiss

"Pffft—you beast," dia tergelak, gumaman pelan ia senandungkan, matanya tertutup, menikmati sentuhan-sentuhan sang pemuda, memanjakannya, melenakannya. Dia membiarkan kedua pipi mereka saling bersentuhan, ujung hidungnya menggelitik daun telinga si pemuda. "Later, Love," dia berbisik, "We own all the time in the world, we can dive and drown into it anytime we want."

Mereka masih muda, menapaki hidup dengan angkuh, hanya mengizinkan keberadaan satu dan yang lainnya dalam otak masing-masing, dalam ruang kenangan masing-masing, dalam ruang pandang masing-masing.

Everyday I love you more and more

Yeah, what happened to them now?

Listen to my heart, can you hear it sings


Dua anak manusia, yang dulu dengan angkuh menampik sesuatu bernama cinta sebagai bagian dari realita. Dua anak manusia, yang kini, mungkin, telah terlalu lama bersama, hingga bagi mereka daun tak akan lagi hijau tanpa keberadaan yang lain, dan bunga tak akan lagi merekah, dan hujan tak akan lagi nyaman dan menyegarkan, dan matahari tak akan lagi disambut bersahabat, dan tanpa mereka sadari, 'terlalu lama' tak lagi terasa sebagai sesuatu yang terlalu lama, karena perpisahan hanyalah membuat mereka hampa meski hanya sementara, menyadari betapa besar arti keberadaan yang lain bagi mereka, menyadari betapa dunia tersenyum lebih ramah dengan jari-jemari mereka selalu saling berkait, dan tak akan terpisahkan lagi.

Telling me to give you everything

"Apa, sih!" kembali bibirnya mengerucut, memukul pelan bahu si pemuda, meski tak urung setelahnya tawa berderai riang. "Bisa, dong. Menurutmu aku sebodoh apa lulus tanpa bisa Apparate sama sekali?"

Bahkan ejekan-ejekan kecil seperti ini pun dia rindukan betul-betul.

Seasons may change winter to spring

"Jalan saja, yuk? Walk around, lihat mana yang tampaknya oke, baru putuskan nanti. Kamu belum makan dari kemarin begitu masih mau Apparate, tsk." dia menampakkan ekspresi kesal, seolah masih marah karena Andrew sama sekali tidak menjaga dirinya padahal selalu rewel setiap saat bila Liga tambah kurus. Kembali jemarinya bergerak, menyusuri rahang kokohnya, bergelantungan di lehernya, kembali menenggelamkan diri ke sepasang mata hijau sang pemuda, yang hanya menatap padanya, yang hanya memberikan seluruh dunia untuknya.

"I want to waste the time with you."

But I love you, until the end of time.

-----------------------------------------

Song Lyrics (c) Moulin Rouge OST. - Come What May

"As strange as it seems, I'd rather dissolve than have you ignore me." - Post 8 (c) Sapu

What is happiness?

Adalah saat di mana kau belum sampai lima menit bersentuhan dengan seseorang namun seperti segala kegalauan dan keresahan yang semenjana terjadi tiba-tiba saja bubar begitu saja. Seperti, tiba-tiba saja organ di dalam tempurung tengkorak yang awalnya kelabu pekat mirip aspal, berdenyut kembali, tersihir, terbanjiri dengan imaji-imaji menyenangkan yang bergelimangan. Sederhana, namun kompleks, tidak dapat dilukiskan dengan kata-kata, sebenarnya.

Seperti permainan takdir, awalnya mereka cuma iseng. Iseng! ISENG! Andrew tidak ada kerjaan dan Liga tidak ada pasangan. Seperti hewan-hewan bersimbiosis, keduanya melakukan hubungan mutualisme yang tidak terlalu melibatkan perasaan. Satu minggu, dua minggu, perlahan, sangat perlahan mutualisme itu berkembang, bergeser. Satu pertengkaran mulai, dan berlanjut ke kejadian-kejadian lainnya. Dan, ini, kini, mereka berdua. Andrew dan Liga. Keduanya sudah lulus dan menyandang titel penyihir dewasa. Satu setengah tahun lebih bersama, dan masing-masing dari mereka seakan rela mengorbankan apapun demi pasangannya.

What is delighted?

"Sure, I'm hungry. Fiercely hungry."

Andrew mengecup lagi bibir Liga, mengencangkan pelukannya karena gadisnya sendiri tidak menunjukkan tanda-tanda ingin turun dari gendongannya. "But I don't want to eat anything but you."

Ia tergelak. "Kidding, I'm literally hungry. Mau makan apa? Thai? Seafood? French? Oriental?"

Bersyukur King's Cross adalah daerah sibuk di Central London. Di dekat sini ada beberapa restoran, kalau tidak salah. Dia sedang ingin berjalan saja daripada melakukan aparisi. Well, banyak hal yang dapat dilakukan sembari berjalan, kau tahu. Bergandengan tangan, berangkulan, snogging along the way, etc. etc.

What is content?

"Paling dekat noodle bar, dan, egh, McDonald's," air mukanya berubah jadi jijik. Dia pernah mengatai muggle fast-food terasa seperti sandal jepit, dan memang ada benarnya, kan? Lebih parah daripada makanan di Kuali Bocor. Pemuda Slavic ini merinding membayangkan penyetan daging berwarna cokelat tua yang dihias sekadarnya dengan keju dan pickles itu terbuat dari daging apa sebenarnya. Ew, ew.

"Atau mau yang jauh? Tapi kamu yang apparate ya? HAYO! Sudah bisa belum?"




So, what is life?




Now for him, life is being with Liga Gerhild and see her smile every second.

"As strange as it seems, I'd rather dissolve than have you ignore me." - Post 7

Dan mereka berdua sama-sama tahu, permintaan maaf itu hanyalah formalitas. Simbolik. Karena semua kekesalan, amarah, ego, keangkuhan, semua telah luruh di detik keduanya saling berpandangan, ketika sosok masing-masing memenuhi daerah pandang yang lain, ketika pada akhirnya jari jemari mereka betul-betul bisa saling bersentuhan lagi, bukan hanya untuk menggerakkan pena bulu di atas perkamen atau menyentuh permukaan dingin cermin. Ketika kedua bibir mereka pada akhirnya bisa kembali saling berpagutan, berciuman, saling menyesap, saling meraup. Melupakan aliran waktu, melupakan suara-suara bising yang menjadi latar belakang, melupakan di mana mereka tengah berada sekarang.

Hampir gila.

Malah, mungkin, dirinya sudah gila betulan, berbulan-bulan terjebak di Hogwarts tanpa Andrew, tanpa ada tubuh besarnya yang selalu memeluk Liga setiap malam, tanpa kecupan selamat tidur dan selamat pagi yang menghujaninya setiap hari, apalagi ketika pemuda itu mendeklarasikan dirinya tengah ngambek. Tak ada surat, tak ada lagi perbincangan lewat cermin, sama sekali tak ada kabar. Berkali-kali ia menangis dalam hening, diam-diam, ketika semua teman sekamarnya telah terlelap, atau ketika ia tengah mandi, menyembunyikan isaknya dengan suara rintik shower. Ia tak ingin siapapun melihatnya dalam keadaan paling jatuh begitu.

"Tidak akan," dia berbisik, tergelak genit bagai gadis desa diantara hujan ciuman pemudanya, berhenti sejenak menarik napas, untuk kemudian balas menciuminya lagi. Kembali merasakan helai-helai ikal lemas itu diantara jemarinya. "We'll always be together from now on, forever. And ever."

Forever itu waktu yang lama. Sangat lama. Mereka hanyalah pasangan muda, yang hanya ingin bersenang-senang sepanjang hidupnya, yang masih labil dan bisa jadi sepasang manusia palingindecisive di seluruh permukaan bumi, yang terkadang membutakan diri dan memasabodohi keadaan dunia, menganggapnya sama sekali tak akan mempengaruhi mereka asalkan mereka saling memiliki, selalu bersama-sama. Seperti di dalam dongeng.

Ini dongengnya dan Andrew. Dongeng mereka. Dan biarkanlah ia tenggelam di dalamnya, karena ia telah lupa bagaimana ia menjalani hari-hari kehidupannya sebelum Andrew muncul dan mengisi hari-harinya.

"Tuh, kan," bibirnya kembali mengerucut, menjentik sebal ujung hidung pemudanya. "Sudah kubilang, makan yang benar, jaga dirimu. Pasti kamu cuma bertahan sama bir dan rokok saja berhari-hari."

Ia sudah bisa menebaknya semenjak pertama kali pemuda itu muncul, sebenarnya. Apa lagi? Aromanya masih tercium samar. Aroma malam, keringat, rokok, dan bir, semua bercampur jadi satu, dead giveaway. Untung saja tidak sampai passed out seperti yang dikhawatirkannya, eh? Dan di saat begitu, pemuda itu masih saja sempat menginginkan hal lain selain mengisi perut.

"Cari makan, yuk?"

Tapi tak tampak sedikitpun keinginannya untuk turun dari pangkuan pemudanya, atau untuk melepas rangkulannya, atau untuk berjauhan sedikit saja. Padahal dia masih perlu mengganti jubah Hogwarts-nya yang ngotot dia pakai hingga turun, for the sake of her very last ride.

Mereka sudah berjauhan berbulan-bulan, dia sama sekali tak ingin melepaskan genggaman tangan mereka lagi.

"As strange as it seems, I'd rather dissolve than have you ignore me." - Post 6 (c) Sapu

Sekali lagi, tidak, dari tadi dia belum berhenti, pemuda ini tersenyum, tulus. Suara lirih itu menggelitik indera pendengarannya. Suara yang hilang dalam beberapa bulan terakhir. Memang kalau didengar langsung akan berbeda, yeah? Tangan mungil yang menelisir rambutnya, pinggang ringkih yang biasanya dapat dengan mudah Andrew topang, pipi yang segar kemerahan. Sakau. Dasar adiktif, manusia bernama Liga Gerhild ini.

"N-aah, nothing. Kau tidak mengulang tahun ketujuh saja sudah cukup," Andrew terkekeh. Dia tahu Liga tidak mungkin tidak lulus. Gadisnya kan pintar dan tidak cupu. Nakal, dia menjawil hidung Liga sayang. "Jangan pernah pergi lama lagi, ah. Aku bosan menunggu."

Dan akhirnya dia mencecap kembali bibir ranum delima gadisnya, menyesap manis yang tidak dapat dikatakan begitu diidamkan. Seperti orang yang kehausan di padang gurun, seolah ciuman sederhana tidak cukup. Berkali-kali, liar. Mungkin beberapa orang akan menggeleng-geleng akan public display of affection yang agak berlebihan ini, tetapi ya, mana Andrew peduli dong. Berkali-kali, dalam, penuh gairah.

Lama.

Berapa bulan sejak mereka terakhir menghabiskan waktu bersama? Lima? Enam? Otaknya terlalu berat untuk menghitung hari karena satu minggu saja rasanya seabad lamanya. Pernah satu kali saat dirinya terlalu bosan dan akhirnya mengiyakan ajakan kawannya untuk melaksanakan proyek sampingan yang rahasia, yang agak-agak berbahaya sampai menorehkan sejarah bekas luka cakaran Nundu besar di punggungnya. Dua minggu di rumah sakit sihir Islandia yang amat sangat tidak bagus. Nasi rasa sekam bertekstur dedak, ih. Andrew hampir menangis karena rindu masakan gadisnya. Sempat di-silencio oleh kamerad-kameradnya karena berisik menyebut nama gadisnya sepanjang hari. Ya, dia bisa disetarakan dengan orang yang agak sinting.

Karena dia benci saat-saat itu. Saat ranjang terasa kosong, saat lengannya dingin karena tidak ada yang melingkarinya manja, saat tidak ada lagi cookies hangat yang segera dibuatkan gadisnya jika ia sedang merajuk random. Hari-hari laknat penuh ke-annoying-an Mundanus dan orang-orang membosankan. LSD saja tidak berani disentuh karena bisa-bisa dia malah frustasi. Ke mana Andrew yang dahulu mengacak-acak anak gadis orang hanya untuk membuat ayahnya kesal?

Yeah. Dia berubah, jauh, dan pemuda ini sama sekali tidak menyesalinya.

Because they are together now. He forget how to spend life without a Liga Gerhild.

"Going straight home?" ujarnya lirih di tengah napas yang memburu, sebenarnya terlalu sibuk mereguk wangi tubuh gadisnya yang terlalu harum untuk diabaikan, "or somewhere else? Barang-barangnya biar Dia saja yang urus."

"Aku belum makan dari kemarin, ngomong-ngomong."

Dan di rumah sudah pasti tidak ada bahan makanan. Kotak pendingin muggle itu terlalu penuh dengan bir.

"As strange as it seems, I'd rather dissolve than have you ignore me." - Post 5

Tadi dia takut Andrew tidak akan muncul. Takut pemuda itu mungkin masih marah padanya, lalu sengaja melambatkan diri, meski, Andrew berkata dalam suratnya ia tak akan melakukan itu. Takut, Andrew bekerja terlalu keras tanpa makanan normal hingga pada akhirnya passed out justru di hari kepulangannya. Takut Mundanus tiba-tiba mengeluarkan permintaan minta diambilkan air dari lelehan salju puncak Himalaya untuk menyeduh teh.

Sekarang, setelah sosok Andrew betulan muncul di hadapannya, mengesampingkan kecurigaan-kecurigaan bahwa mungkin saja ini sosok penampakan, atau salah satu sahabat Andrew yang minum Polijus saking tidak tega melihat Liga terpaku menunggu di peron, Liga masih takut. Ia takut pemuda itu tiba-tiba saja melepaskan kedua tangannya, menyambutnya dengan ekspresi datar, cuma berkata pendek mengajaknya pulang dengan dingin. Rangkulannya semakin mengetat.

Gelak tawa, lalu telapak yang lebar itu menepuk kepalanya. Lengan-lengan besar yang hangat, yang ia rindukan, merengkuhnya. Semua ketakutannya meluruh begitu saja.

"Habis... Aku takut kamu tidak datang..." ucapannya menghilang di ujung, hanya menanggapi ocehan ribut Andrew dengan bibir mengerucut kesal, merasa diperlakukan seperti anak kecil jelata karena pemuda itu membersihkan air matanya dengan kaus, namun dia diam saja, membiarkan Andrew terus menyerocos, padahal saputangannya terlipat rapi di saku. Ia lega, sungguh. Ia lega pemuda itu masih tertawa dan ribut dengan tulus begini, ia lega dia tidak direspon dengan wajah tertekuk dan kata-kata judes, ia lega saat Andrew masih mengaku lemah pada air matanya.

Andai ini masih Liga yang dulu, mungkin dalam hati ia akan tersenyum puas. Bangga memiliki sesuatu yang bisa ia pegang sebagai kelemahan pemudanya. Mencatat untuk menggunakannya kapanpun keadaan menguntungkannya.

Lucu sekali, karena ia yang sekarang merasa konyol bila memikirkan hal seperti itu.

Dan seperti biasa, Andrew mengangkat-angkatnya seolah dia ini some helpless doll. Pekikan pelan meloloskan diri, sebelum kemudian tergelak, melingkarkan kedua kakinya di pinggang besar sang pemuda, kedua tangannya bertumpu di bahunya, membuat dirinya stabil di pangkuan Andrew, wajahnya semakin dekat dan semakin dekat.

Dia berdecak pelan. Tentu saja, seharusnya dia sudah mengira akan begini jadinya. Liga yang dulu, mungkin dia akan tetap bertahan, mungkin pada akhirnya keduanya akan saling bertarung ego lagi, menunggu siapa yang pada akhirnya akan meledak tidak tahan lebih dulu. Ada beberapa kesempatan dimana saling tease dan tertawa puas melihat yang lain menyerah lebih dulu itu jadi sesuatu yang amat menyenangkan. Tapi tidak kali ini. Untuk apa memperpanjangnya lagi, bila sudah jelas masing-masing dari mereka sudah setengah gila tanpa keberadaan yang lain?

"I'm sorry," dia berbisik, hidung mereka masih saling bersentuhan. Jemarinya menelisik rambut pemudanya yang berantakan tak terurus.

"How should I make it up to you?"

"As strange as it seems, I'd rather dissolve than have you ignore me." - Post 4 (c) Sapu

Kepalanya pening, kupingnya pengang akan ingar-bingar keramaian stasiun muggle yang sedikit bagiannya dimanipulasi penyihir. Satu, dua senggolan pada bahu oleh orang asing, perut yang masih menggelagak parah akibat tidak makan beberapa hari dan efek aparisi yang masih mengganjal. Andrew dua tahun lalu biasanya akan hibernasi beberapa hari untuk membayar kelelahan tidak tidur beberapa hari ini dan mungkin akan menatap kasihan pemuda lusuh yang berdiri gamang ini. Yeah, dia tidak pernah membayangkan dalam hidupnya, bahwa akan sebegini relanya memaksakan diri agar seseorang senang. Never. Even in his wildest dream.

Bahkan beberapa orang menjulukinya manusia seenaknya sendiri. 'Andrew VanWyck doesn't do girlfriend' and here he is, married hampir dua tahun bersama perempuan yang sama dan tidak berpikir sekalipun untuk lepas dari perempuan itu.

"Of course I'm alive!"

Andrew tergelak, menepuk-nepuk kepala Liga yang menghambur ke arahnya. Aah, wangi ini, pelukan ini. Pemuda ini kembali mengulum bibirnya untuk meredakan senyum yang kelebaran, memeluk balik sosok mungil yang begitu berarti di kehidupannya. Dia membiarkan kaus yang dikenakannya basah oleh air mata. Bukti bahwa sampai sebegitunya gadis ini merindukan dirinya. Andrew jadi terharu. Kengambekannya menguap begitu saja.

"Or you'd be happier to have me turn into a ghost? Aduh kamu jadi berantakan. Ingus! Ingus!" Dia mengelap pipi Liga yang sembap dengan kausnya sambil mencubit hidung gadis itu. Tergelak lagi. "Kamu lihat aku hidup, nangis, lihat aku mati juga kayaknya bakal nangis. Kapan tidak nangis, tsk tsk. Aku kan paling lemah sama air mata. Sudah ya, cep cep..."

Dia melingkarkan tangannya ke pinggang gadisnya dan mengangkatnya, agar tinggi mata mereka setara (yep, Liga Gerhild tambah mungil sekarang, aduh). Menempelkan keningnya, tersenyum.

"Really? Kupikir lebih menyenangkan kalau kita segera pulang dan melakukan hal lain. Dibanding berpelukan di peron..."

Pemuda slavic ini menghela napasnya. Hidung bersentuhan, namun bibir belum bertaut. Sengaja, fakye. Ia membuka mulutnya sedikit lalu menyeringai bandel, seolah bermain-main dengan yang namanya ciuman. Masih ingin menyiksa Liga sedikit lebih lama. Meski kesabarannya sendiri tengah diuji (ayolah, Andrew ini pemuda normal tidak aseksual). Satu tangannya menelusuri jubah Hogwarts yang dikenakan Liga dan berhenti pada bahunya, meremasnya pelan.

"Miss me much?"

"You didn't say I'm sorry, I'm not gonna kiss you."

"As strange as it seems, I'd rather dissolve than have you ignore me." - Post 3

Tak ubahnya seperti seorang anak manis penurut, Liga itu, duduk tegak dengan kedua tangan di atas pahanya, tenang, sabar. Mengamati pelataran peron yang masih berjejal manusia, setengah dirinya meringis karena gagal mendapati wajah-wajah yang ia kenal, wajah-wajah teman-temannya, ingin melihat mereka kembali untuk yang paling terakhir kalinya, mungkin melambai dan saling mengucapkan semoga beruntung dengan kehidupan baru yang menghadang di depan, sebelum entah-kapan mereka bisa bertemu lagi. Tak urung, sebagian dirinya lagi, bersyukur.

Karena ia tak ingin mereka melihatnya masih duduk menunggu alih-alih tengah berpelukan dan berciuman dan bergelayut manja di rangkulan pemudanya. Bagaimana kalau nanti Orange meradang lagi kalau tahu Andrew terlambat menjemputnya, lalu bersikeras ikut menunggui bersamanya, lalu menyemprot dan melabrak pemuda itu begitu dia menampakkan diri?

Ada satu kisah yang dulu pernah ia dengar, tentang sepasang kekasih yang terpaksa harus menunda pernikahan mereka karena si pemuda dipanggil untuk memenuhi kewajibannya pada negara: melindungi negara dari serangan musuh di garis depan. Kemudian mereka saling mengucap sumpah, bahwa sang pemuda akan bertahan hidup, bahwa setelah perang usai ia akan pulang kembali, dan setelahnya mereka akan menikah, tinggal di rumah kecil mereka yang dikelilingi taman bunga dan pohon buah, lalu bersama-sama menggarap ladang gandum mereka.

Tapi sang pemuda tertembak mati di garis depan.

Si gadis tak percaya kekasih hatinya telah tinggal nama. Setiap hari, dia duduk di bangku stasiun, sejak kereta pertama tiba hingga kereta terakhir telah lama mengeluarkan penumpangnya. Duduk, dan menunggu, terus menunggu. Mengamati setiap kereta yang lewat. Menggantung harapan kalau suatu saat pemudanya akan muncul, turun dari salah satu pintu gerbong, dengan tawanya yang lebar, lalu berlari menyongsongnya, terus menerus mengucapkan permintaan maaf karena telah lama menghilang, lalu sang gadis akan memukulinya kesal, namun kemudian tersenyum lembut, dan bersamaan dengan pelukan mereka, semuanya termaafkan.

Puluhan tahun kemudian, seorang wanita tua dengan seluruh rambut yang telah memutih, menghembuskan napas terakhirnya di bangku yang sama, stasiun yang sama.

Kerumunan orang mulai menipis. Dengung-dengung percakapan tidak lagi seberisik tadi. Ia masih menunggu.

"Hey."

Tak bisa kaubayangkan betapa besar kelegaan yang gadis itu rasakan, ketika sapaan yang amat familiar menyapa telinganya, ketika ia mengangkat kepala, dan sesosok itu, sosok yang ia tunggu, memenuhi ruang pandangnya. Ia menyadari pemudanya lebih kurus, dengan wajah sayu, dengan rambut panjang berantakan. But he still her man.

"Hey."

And he's still breathing. And alive.

Apa ini, yang tengah hangat berjatuhan di pipinya, yang tiba-tiba saja membuat pandangannya mengabur, yang tiba-tiba saja membuat semuanya seperti tengah dilihat dari balik kaleidoskop kaca?

Hal berikutnya yang Liga tahu, dia sudah berdiri, menghambur ke pelukan pemudanya, membenamkan wajahnya yang basah, kedua tangannya melingkari pinggang pemudanya erat.

"You're still alive. You're still alive..." Suaranya bergetar, bercampur isakan teredam. Mungkin pemuda itu masih marah padanya. Mungkin seharusnya Liga juga marah karena merasa diperlakukan tidak adil, karena merasa pemuda itu membolehkan dirinya sendiri marah selama ini padanya, sementara dia selalu ribut berkomentar bila Liga ngambek berkepanjangan. Tapi semua itu kini tidak lagi terasa berarti, malah tampak konyol dan kekanakan, ketika sosok pemuda itu hadir di depannya. Dia merindukan pemuda itu terlalu dalam.

"Please, just--stay like this a while longer..."

Namun, dia tahu, mungkin saja, pemudanya masih marah.

"As strange as it seems, I'd rather dissolve than have you ignore me." - Post 2 (c) Sapu

Musim gugur itu... masih lama harusnya.

Si tua itu bilang kalau dia baru mau mengajar Andrew musim gugur tahun ini, yang berarti masih beberapa bulan lagi. Tapi siapa sangka, eh? Musim gugur digeser jadi akhir musim dingin, lalu berlanjut sampai sekarang. Memang tidak formal 'diajar' tetapi lebih tepat dengan sebutan 'diperbudak'. Kau tahu, dengan master yang sebegitu eksentrik, lalu Inggris yang makin tegang dan menjijikan karena Pelahap-Maut berkeliaran, ditambah ketiadaan sumber hidupnya. Baginya, hari-hari belakangan ini merupakan neraka tiada henti. Ah, Andrew masih waras saja masih sebuah keajaiban.

Mana minggu-minggu sebelum ini dia agak terusik harga dirinya untuk sekadar menjawab getaran dari cermin yang terus menggelepar di dalam sakunya... Being right isn't always worth the fight, huh?

Sejenak dia terdiam, membuka matanya malas, menggeliat, menarik lagi selimutnya untuk kembali terlelap, kalau saja tidak diingatnya sekarang tanggal berapa dan apa yang terjadi pada tanggal tersebut. Pemuda sembilan belas ini menguap, melompat dari peraduannya untuk mandi dan bercukur, yang kalau tidak dilakukannya pasti akan jadi bahan ejekan gadisnya (ayolah, kumis dan jenggot itu sama sekali tidak kece untuk umur segini). Mata hijaunya menyadari ia bertambah kurus dengan muka kuyu dan lingkaran mata panda.

Kesannya tidak terurus.

Seperti random homeless hipster.

....Ampun jelek amat.

Ya sudahlah, biar ejekan Liga padanya menjadi nyata, biar dia lihat kalau pemudanya betulan jelek jadi macam apa kacaunya.

Satu letupan pelan dan Andrew menghilang ditelan udara. Begitu muncul di tempat tujuan, dia mencari-cari sandaran, menenangkan perutnya yang makin buruk karena begadang. Dia tidak menyandar lama-lama melihat beberapa manusia sudah keluar secara misterius dari sebuah dinding peron. Andrew beringsut, memasuki peron tiga perempat dengan santai. Kakinya berayun sementara matanya menyapu ke sekitar.

Ah, itu dia.

Di tangannya bertengger burung hantu yang Andrew berikan beberapa bulan lalu. Wajah itu masih sama, rambut, postur, bahkan dari jarak beberapa meter, dirinya seperti bisa menghirup aroma yang dirindukannya. Yea, right. Being right isn't always worth the fight. He missed her, too little too much. Tetapi pemuda ini tidak segera menyongsongnya seperti biasa. Dia memilih untuk menyandar lagi, memerhatikan gerak-gerik gadisnya saat menunggu. Tersenyum terlalu lebar sampai dia harus menyembunyikannya dengan mengulum bibir.

Lima menit, dua belas menit.

Andrew akhirnya menghampiri wanita itu. Oh, sepertinya sekarang tingginya sudah sampai enam kaki? Soalnya Liga Gerhild jadi tambah mungil... Atau karena mereka sudah lama tidak bertemu? Pemuda ini menghela napas, menepuk-nepuk troli alih-alih memeluk dan mencium.

"Hey."

Cuma itu saja.

Haha.

Yeah. Jangan lupa kalau Andrew masih ngambek.

"As strange as it seems, I'd rather dissolve than have you ignore me." - Post 1

'Dear eyelashes, wish bones, dandelions, pennies, shooting stars, 11:11, and birthday candles,'


Cahaya matahari sore jatuh miring, terbaurkan oleh tebalnya asap putih dari lokomotif, yang kemudian mengambang di atas kepala, menyebar. Jubah-jubah berbagai motif, warna, dan material berkelebat, ribuan kaki-kaki berderap sibuk, seruan girang, teriakan cemas, tangis rindu yang meledak, eongan kucing meningkahi, dekut burung hantu tak mau kalah, debam koper-koper kayu berat dijatuhkan, derit roda troli yang berseliweran...

Seperti biasa. Suasana biasa di setiap masa kepulangan dari Hogwarts, seperti tahun-tahun kemarin. Ada beberapa hal yang berbeda, memang. Bagaimana aura kecemasan dan paranoid mengambang samar di udara. Bagaimana beberapa dari mereka melangkah sedikit tergesa, dengan mata berkeliling waspada, dengan bibir menipis penuh konsentrasi. Bagaimana beberapa lagi dari mereka jelas-jelas mengangkat dagu dengan angkuh, seringai penuh kuasa membayang.

And then there's her...

'But it's evening. I have no wish bones, dandelions, nor pennies,'


Trolinya penuh dengan koper kayu jumbo beremblem Hogwarts, lalu koper-koper yang lebih kecil, lalu kotak-kotak lain, terparkir aman di sebelah bangku besi panjang yang tengah ia duduki di ujungnya. Ada yang berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, sebuah sangkar di tumpukan paling atas, seekor burung hantu salju betina bertengger tenang di dalamnya, seolah tengah ikut memperhatikan keadaan sekeliling dalam diam. Burung hantunya, burung hantu barunya, yang Andrew belikan musim gugur lalu untuknya, yang ia beri nama Dawn. Dawn yang cantik, Dawn yang selalu melaksanakan tugasnya dengan sempurna meski harus terbang menempuh jarak jauh ke berbagai negara, Dawn yang tenang, tidak pernah rewel macam-macam. Sedikit senyum gadis itu tersungging, berdiri meraih sangkar, mengeluarkan burung hantunya. Mengelusnya sayang sementara si cantik berpindah ke atas lengannya.

'And today's not my birthday either,'


"When do you think he'll come, Dawn?"

Ia tengah menunggu. Bukan, ini bukan skeptisisme atas berkurangnya intensitas surat-menyurat mereka di bulan terakhir, atau atas perbincangan mereka tempo hari lewat cermin setelahnya. Ia ingin tetap percaya, kalau begitu ia menginjakkan kaki di peron, akan ada pemuda itu yang tengah berdiri menunggunya, kedua tangannya yang besar terkembang lebar, mata hijaunya bersinar-sinar penuh kehidupan, lalu mendekapnya, memberinya kehangatan yang ia rindukan dalam-dalam selama ini. Ia ingin tetap percaya kalau rumah mereka yang hangat, yang nyaman, akan menyambutnya nanti, kemudian mereka akan melewatkan hari-hari musim panas membayar semua yang terlewatkan ketika ribuan kilometer memisahkan mereka, ketika surat ataupun cermin dua arah sudah tak lagi sanggup memberi sesuatu yang signifikan.

Bayangan Oleg yang menemuinya dengan hanya secarik cabikan kaus berlumur darah dan berita buruk alih-alih pemudanya, masih tak bisa ia usir jauh-jauh.

'So, dear eyelashes,'


Telapaknya menepuk perlahan kepala Dawn. Lengannya diangkat, membiarkan burung hantunya terbang di atas kepala sementara mereka menunggu. Ia tidak khawatir, Dawn tahu ke mana harus menyusulnya sekalipun nanti mereka terpisah. Kembali ia menerawang kosong ke arah kereta, mesinnya sudah lama berhenti, hanya tinggal sisa-sisa asap tipis masih mengepul. Peron masih sepenuh sebelumnya.

Ini terakhir kalinya ia akan melihat kereta merah itu, yeah? Semuanya benar-benar sudah berakhir. Benar-benar selamat tinggal. Pada Hogwarts, pada kereta merah, pada tujuh tahun yang lalu, pada mereka-mereka yang mengisi tujuh tahunnya.

'Please, do your job.'


Ia masih menunggu.

===========================

Title (c) to MGMT - Congratulations. Quotes (c) to Tumblr with some changes