Thursday, October 13, 2011

"As strange as it seems, I'd rather dissolve than have you ignore me." - Post 7

Dan mereka berdua sama-sama tahu, permintaan maaf itu hanyalah formalitas. Simbolik. Karena semua kekesalan, amarah, ego, keangkuhan, semua telah luruh di detik keduanya saling berpandangan, ketika sosok masing-masing memenuhi daerah pandang yang lain, ketika pada akhirnya jari jemari mereka betul-betul bisa saling bersentuhan lagi, bukan hanya untuk menggerakkan pena bulu di atas perkamen atau menyentuh permukaan dingin cermin. Ketika kedua bibir mereka pada akhirnya bisa kembali saling berpagutan, berciuman, saling menyesap, saling meraup. Melupakan aliran waktu, melupakan suara-suara bising yang menjadi latar belakang, melupakan di mana mereka tengah berada sekarang.

Hampir gila.

Malah, mungkin, dirinya sudah gila betulan, berbulan-bulan terjebak di Hogwarts tanpa Andrew, tanpa ada tubuh besarnya yang selalu memeluk Liga setiap malam, tanpa kecupan selamat tidur dan selamat pagi yang menghujaninya setiap hari, apalagi ketika pemuda itu mendeklarasikan dirinya tengah ngambek. Tak ada surat, tak ada lagi perbincangan lewat cermin, sama sekali tak ada kabar. Berkali-kali ia menangis dalam hening, diam-diam, ketika semua teman sekamarnya telah terlelap, atau ketika ia tengah mandi, menyembunyikan isaknya dengan suara rintik shower. Ia tak ingin siapapun melihatnya dalam keadaan paling jatuh begitu.

"Tidak akan," dia berbisik, tergelak genit bagai gadis desa diantara hujan ciuman pemudanya, berhenti sejenak menarik napas, untuk kemudian balas menciuminya lagi. Kembali merasakan helai-helai ikal lemas itu diantara jemarinya. "We'll always be together from now on, forever. And ever."

Forever itu waktu yang lama. Sangat lama. Mereka hanyalah pasangan muda, yang hanya ingin bersenang-senang sepanjang hidupnya, yang masih labil dan bisa jadi sepasang manusia palingindecisive di seluruh permukaan bumi, yang terkadang membutakan diri dan memasabodohi keadaan dunia, menganggapnya sama sekali tak akan mempengaruhi mereka asalkan mereka saling memiliki, selalu bersama-sama. Seperti di dalam dongeng.

Ini dongengnya dan Andrew. Dongeng mereka. Dan biarkanlah ia tenggelam di dalamnya, karena ia telah lupa bagaimana ia menjalani hari-hari kehidupannya sebelum Andrew muncul dan mengisi hari-harinya.

"Tuh, kan," bibirnya kembali mengerucut, menjentik sebal ujung hidung pemudanya. "Sudah kubilang, makan yang benar, jaga dirimu. Pasti kamu cuma bertahan sama bir dan rokok saja berhari-hari."

Ia sudah bisa menebaknya semenjak pertama kali pemuda itu muncul, sebenarnya. Apa lagi? Aromanya masih tercium samar. Aroma malam, keringat, rokok, dan bir, semua bercampur jadi satu, dead giveaway. Untung saja tidak sampai passed out seperti yang dikhawatirkannya, eh? Dan di saat begitu, pemuda itu masih saja sempat menginginkan hal lain selain mengisi perut.

"Cari makan, yuk?"

Tapi tak tampak sedikitpun keinginannya untuk turun dari pangkuan pemudanya, atau untuk melepas rangkulannya, atau untuk berjauhan sedikit saja. Padahal dia masih perlu mengganti jubah Hogwarts-nya yang ngotot dia pakai hingga turun, for the sake of her very last ride.

Mereka sudah berjauhan berbulan-bulan, dia sama sekali tak ingin melepaskan genggaman tangan mereka lagi.

0 comments: