Tadi dia takut Andrew tidak akan muncul. Takut pemuda itu mungkin masih marah padanya, lalu sengaja melambatkan diri, meski, Andrew berkata dalam suratnya ia tak akan melakukan itu. Takut, Andrew bekerja terlalu keras tanpa makanan normal hingga pada akhirnya passed out justru di hari kepulangannya. Takut Mundanus tiba-tiba mengeluarkan permintaan minta diambilkan air dari lelehan salju puncak Himalaya untuk menyeduh teh.
Sekarang, setelah sosok Andrew betulan muncul di hadapannya, mengesampingkan kecurigaan-kecurigaan bahwa mungkin saja ini sosok penampakan, atau salah satu sahabat Andrew yang minum Polijus saking tidak tega melihat Liga terpaku menunggu di peron, Liga masih takut. Ia takut pemuda itu tiba-tiba saja melepaskan kedua tangannya, menyambutnya dengan ekspresi datar, cuma berkata pendek mengajaknya pulang dengan dingin. Rangkulannya semakin mengetat.
Gelak tawa, lalu telapak yang lebar itu menepuk kepalanya. Lengan-lengan besar yang hangat, yang ia rindukan, merengkuhnya. Semua ketakutannya meluruh begitu saja.
"Habis... Aku takut kamu tidak datang..." ucapannya menghilang di ujung, hanya menanggapi ocehan ribut Andrew dengan bibir mengerucut kesal, merasa diperlakukan seperti anak kecil jelata karena pemuda itu membersihkan air matanya dengan kaus, namun dia diam saja, membiarkan Andrew terus menyerocos, padahal saputangannya terlipat rapi di saku. Ia lega, sungguh. Ia lega pemuda itu masih tertawa dan ribut dengan tulus begini, ia lega dia tidak direspon dengan wajah tertekuk dan kata-kata judes, ia lega saat Andrew masih mengaku lemah pada air matanya.
Andai ini masih Liga yang dulu, mungkin dalam hati ia akan tersenyum puas. Bangga memiliki sesuatu yang bisa ia pegang sebagai kelemahan pemudanya. Mencatat untuk menggunakannya kapanpun keadaan menguntungkannya.
Lucu sekali, karena ia yang sekarang merasa konyol bila memikirkan hal seperti itu.
Dan seperti biasa, Andrew mengangkat-angkatnya seolah dia ini some helpless doll. Pekikan pelan meloloskan diri, sebelum kemudian tergelak, melingkarkan kedua kakinya di pinggang besar sang pemuda, kedua tangannya bertumpu di bahunya, membuat dirinya stabil di pangkuan Andrew, wajahnya semakin dekat dan semakin dekat.
Dia berdecak pelan. Tentu saja, seharusnya dia sudah mengira akan begini jadinya. Liga yang dulu, mungkin dia akan tetap bertahan, mungkin pada akhirnya keduanya akan saling bertarung ego lagi, menunggu siapa yang pada akhirnya akan meledak tidak tahan lebih dulu. Ada beberapa kesempatan dimana saling tease dan tertawa puas melihat yang lain menyerah lebih dulu itu jadi sesuatu yang amat menyenangkan. Tapi tidak kali ini. Untuk apa memperpanjangnya lagi, bila sudah jelas masing-masing dari mereka sudah setengah gila tanpa keberadaan yang lain?
"I'm sorry," dia berbisik, hidung mereka masih saling bersentuhan. Jemarinya menelisik rambut pemudanya yang berantakan tak terurus.
"How should I make it up to you?"
0 comments:
Post a Comment