Thursday, October 13, 2011

"As strange as it seems, I'd rather dissolve than have you ignore me." - Post 10 (c) Sapu

Cahaya sore sudah mulai berubah dari kemerahan menjadi kebiruan. Lokomotif kereta Hogwarts kehabisan asap untuk dimuntahkan, gerbong-gerbongnya sudah kosong sedari tadi. Hanya tinggal beberapa orang di sana, sangat sedikit yang masih menunggu dan belum menemukan yang dicari. Satu orang anak melihat mereka dengan jijik, mungkin bercampur kesal karena belum dijemput orang tuanya, mencecar lirih (yang hanya Andrew balas dengan tatapan sinis dan senyum pandir). Populasi manusia di peron itu makin menipis, kini hanya beberapa orang, dapat dihitung dengan jari-jari tangan dan kaki jumlahnya.

Yet, they didn't move from the spot where they've been finally together again.

Pasangan muda ini toh tidak terlalu peduli. Konteks adalah hal kesekian dalam otak mereka. Mau peron sudah kosong dan mereka diusir oleh penjaga, mereka tidak ambil pusing. Karena ini adalah pertemuan setelah sekian lama. Dan jika awal dari pertemuan kembali itu memakan waktu berjam-jam untuk disyukuri, Andrew tidak keberatan.

Karena Liga Gerhild sudah ada di dalam rengkuhannya lagi, pemuda sembilan belas ini hampir-hampir sudah lupa kalau masih menapak bumi yang penuh sesak ditinggali berbagai makhluk.

Dan iris kelabu itu terarah lurus padanya. Membelainya. Menghipnotisnya. Kau tahu apa yang Andrew rasakan tiap kali dirinya menatap mata Liga? Dia melihat binar. Merasa seakan dirinya ini manusia paling hebat sejagat raya, seakan dirinya satu-satunya laki-laki yang dapat membuat gadis itu bahagia, dan seakan dirinya satu-satunya orang yang berarti segalanya bagi gadis itu. Bahkan orang tuanya saja tidak pernah menatapnya demikian, tidak pernah menganggapnya sedemikian pentingnya. Andrew melihat keberadaannya adalah dunia bagi gadisnya, dan itu merupakah sebuah kehormatan yang bahkan tidak dapat ia utarakan dengan kata-kata.

"Mmhmmm," ia menyipitkan matanya, menikmati jemari lentik itu menelusuri wajahnya. Menanggapi perkataan Liga hanya dengan lenguhan ringan.

Belum pernah dia dicintai sebegini hebatnya oleh seseorang. Dihujani kasih sayang tanpa pamrih. Manis, terlalu manis.

Dan untuk itu semua, untuk membalas itu semua tanpa perlu diminta dia akan melakukan apapun. Tidak, tidak bercanda, apapun, asal detik demi detik yang mereka habiskan dapat membuat Liga bahagia. He lost his 'I-love-you-ginity' to Liga and didn't regret even an inch of it. He will say as much as she wants if that's what it takes.

Well...

Terlalu muluk, sebenarnya, untuk mengatakan kata 'selamanya', tetapi dia tidak terlalu memikirkan hal itu dan hanya ingin selama mungkin merasakan perasaan menggelanyar aneh yang menyenangkan ini. Tidak perlu alasan lain lagi. Cukup itu saja.

Andrew tergelak lagi dengan ambekan main-main gadisnya, mengelus dagu ramping Liga dengan sayang. "Yeah, jalan, ide bagus. Tapi ngomong-ngomong, kamu tidak ganti baju dulu? Jubah Hogwarts itu agak kusam untuk jalanan ramai London."

Ia mengeratkan rengkuhannya sekali lagi sebelum menurunkan Liga dari gendongannya. Tersenyum-senyum bandel sambil mengerutkan kening ke atas seakan berkata 'Hah-kamu-ganti-baju,-aku-harus-tunggu-berapa-puluh-menit-nih'. Tangan Andrew meraih troli, menepuk-nepuk bawaan bagong Liga. Burung hantu salju yang semenjak tadi terpekur di atas bangku peron mendekat, seolah tahu ini waktunya kembali ke dalam sangkar.

Terkekeh, pemuda ini bertanya, "Nah, honey, mana yang mau dibawa pulang? Biar langsung dibawa Dia dan aku tidak tambah kepayahan untuk menenteng-nentengnya ke sana ke mari."

0 comments: