Sekali lagi, tidak, dari tadi dia belum berhenti, pemuda ini tersenyum, tulus. Suara lirih itu menggelitik indera pendengarannya. Suara yang hilang dalam beberapa bulan terakhir. Memang kalau didengar langsung akan berbeda, yeah? Tangan mungil yang menelisir rambutnya, pinggang ringkih yang biasanya dapat dengan mudah Andrew topang, pipi yang segar kemerahan. Sakau. Dasar adiktif, manusia bernama Liga Gerhild ini.
"N-aah, nothing. Kau tidak mengulang tahun ketujuh saja sudah cukup," Andrew terkekeh. Dia tahu Liga tidak mungkin tidak lulus. Gadisnya kan pintar dan tidak cupu. Nakal, dia menjawil hidung Liga sayang. "Jangan pernah pergi lama lagi, ah. Aku bosan menunggu."
Dan akhirnya dia mencecap kembali bibir ranum delima gadisnya, menyesap manis yang tidak dapat dikatakan begitu diidamkan. Seperti orang yang kehausan di padang gurun, seolah ciuman sederhana tidak cukup. Berkali-kali, liar. Mungkin beberapa orang akan menggeleng-geleng akan public display of affection yang agak berlebihan ini, tetapi ya, mana Andrew peduli dong. Berkali-kali, dalam, penuh gairah.
Lama.
Berapa bulan sejak mereka terakhir menghabiskan waktu bersama? Lima? Enam? Otaknya terlalu berat untuk menghitung hari karena satu minggu saja rasanya seabad lamanya. Pernah satu kali saat dirinya terlalu bosan dan akhirnya mengiyakan ajakan kawannya untuk melaksanakan proyek sampingan yang rahasia, yang agak-agak berbahaya sampai menorehkan sejarah bekas luka cakaran Nundu besar di punggungnya. Dua minggu di rumah sakit sihir Islandia yang amat sangat tidak bagus. Nasi rasa sekam bertekstur dedak, ih. Andrew hampir menangis karena rindu masakan gadisnya. Sempat di-silencio oleh kamerad-kameradnya karena berisik menyebut nama gadisnya sepanjang hari. Ya, dia bisa disetarakan dengan orang yang agak sinting.
Karena dia benci saat-saat itu. Saat ranjang terasa kosong, saat lengannya dingin karena tidak ada yang melingkarinya manja, saat tidak ada lagi cookies hangat yang segera dibuatkan gadisnya jika ia sedang merajuk random. Hari-hari laknat penuh ke-annoying-an Mundanus dan orang-orang membosankan. LSD saja tidak berani disentuh karena bisa-bisa dia malah frustasi. Ke mana Andrew yang dahulu mengacak-acak anak gadis orang hanya untuk membuat ayahnya kesal?
Yeah. Dia berubah, jauh, dan pemuda ini sama sekali tidak menyesalinya.
Because they are together now. He forget how to spend life without a Liga Gerhild.
"Going straight home?" ujarnya lirih di tengah napas yang memburu, sebenarnya terlalu sibuk mereguk wangi tubuh gadisnya yang terlalu harum untuk diabaikan, "or somewhere else? Barang-barangnya biar Dia saja yang urus."
"Aku belum makan dari kemarin, ngomong-ngomong."
Dan di rumah sudah pasti tidak ada bahan makanan. Kotak pendingin muggle itu terlalu penuh dengan bir.
0 comments:
Post a Comment