Thursday, October 13, 2011

"As strange as it seems, I'd rather dissolve than have you ignore me." - Post 11

Ya, mereka memiliki seluruh waktu yang tersedia di dunia. Karenanya, wajarlah bila mereka tidak peduli kalau matahari perlahan mulai tergelincir ke kaki cakrawala di ufuk barat, tidak peduli jarum jam terus berputar dan berdetak, tidak peduli manusia-manusia yang sebelumnya berjejal bagai sarden telah lama menghilang diburu ketergesaan dan paranoia, tidak peduli kabar angin mengatakan malam hari akan sangat berbahaya karena apa yang telah terjadi baru-baru ini. Yang ada di ruang pandangnya hanyalah dia dan dia saja, pemudanya, Andrew-nya satu-satunya. Dia tak bosan mereguk lagi dan lagi dan lagi seluruh sentuhannya, aromanya, tak keberatan kembali menenggelamkan diri dalam sepasang iris yang tak pernah berhenti menggelontorinya dengan cinta dan kasih sayang.

Apa yang mereka miliki, rasanya merupakan keberuntungan yang bahkan belum tentu terjadi setiap seribu tahun sekali.

"Ya ganti baju, dong," kembali ia memukul pelan bahu Andrew main-main. "Aku tidak sesinting itu keliaran di London-nya Muggle pakai jubah penyihir, enak saja, nanti dikira aku merayakan Halloween terlalu awal."

Memang, tidak seperti biasanya Liga belum mengganti jubah dan kemeja seragamnya itu saat turun. Kau tahu, ini kali terakhirnya Liga akan mengenakan seragamnya. Kali terakhir melihat peron ini lagi, melihat kereta merah itu lagi. Ia ingin menikmatinya sampai benar-benar saat paling akhir. Ada satu kesedihan yang mengetuk kalbunya. Bagaimanapun, Hogwarts sudah jadi rumahnya selama tujuh tahun ini. Rumah secara teknis, well, dia tak perlu lagi mengkhawatirkan segala hal yang selalu dia khawatirkan secara rutin ketika tinggal di rumahnya. Tak perlu mengkhawatirkan soal makanan, atau biaya hidup, atau menguras waktunya merawat Anastasia.

But, hey. Now she has another home. Her real home. Where she'll make all the warm food for her and her man, everyday. Where they'll be cuddling and embracing each other for as long as they wanted to. Where she has the whole world she needs, because Andrew will always be with her. Forever. And ever.

Gelak halus dan pekikan kecil kembali terlolos ketika pemuda itu menurunkannya. Sesaat, dia merasakan kehampaan saat hangat tubuh itu menjauh, saat kedua lengan kekarnya tidak lagi melingkupi pinggangnya, saat kakinya kembali menjejak pelataran peron. Menggigit bibirnya, jemarinya masih ngotot berkaitan, tak ingin melepaskannya barang sedetikpun.

"C'mere, Dawn," sebelah tangannya yang lain terjulur, memberi isyarat pada burung hantunya untuk kembali. Sepasang cakarnya terasa kuat menggenggam lengannya di balik jubah. "We're going home," dia berbisik, mengecup puncak kepala burung hantunya sebelum memasukkannya kembali ke dalam sangkar, senyumnya tak kuasa Liga sembunyikan, seluruh wajahnya seperti gemerlap dengan cahaya miliknya sendiri. Rumah.

Rumah mereka berdua."I have everything here," dia mengangkat shoulder bag yang sebelumnya tergeletak di tumpukan paling atas bersisian dengan kandang Dawn. Membongkar koper besar hanya untuk mengambil sepasang baju atau memasukkan kembali setelan jubah itu merepotkan, dan terima kasih dia penyihir, bisa memperluas shoulder bag-nya hingga tidak akan kembung tidak jelas meski diisi lipatan jubah besar dan kemeja dan roknya nanti. "Sisanya biar dia bawa pulang saja. Suruh dia beri Dawn makanan dan minum sesampainya nanti, ya?"

Dia terkikik melihat ekspresi sebal Andrew yang dia tahu pasti karena prospek harus berlumut menunggunya berganti baju, berjingkat, meraih dagunya. "Sekarang betul-betul tidak akan lama," bisiknya, mencium bibir Andrew sekali lagi sebelum berlalu mencari toilet.

Tidak akan lama. Karena ia pun tak ingin terpisah dari Andrew terlalu lama.

0 comments: