Thursday, October 13, 2011

"As strange as it seems, I'd rather dissolve than have you ignore me." - Post 3

Tak ubahnya seperti seorang anak manis penurut, Liga itu, duduk tegak dengan kedua tangan di atas pahanya, tenang, sabar. Mengamati pelataran peron yang masih berjejal manusia, setengah dirinya meringis karena gagal mendapati wajah-wajah yang ia kenal, wajah-wajah teman-temannya, ingin melihat mereka kembali untuk yang paling terakhir kalinya, mungkin melambai dan saling mengucapkan semoga beruntung dengan kehidupan baru yang menghadang di depan, sebelum entah-kapan mereka bisa bertemu lagi. Tak urung, sebagian dirinya lagi, bersyukur.

Karena ia tak ingin mereka melihatnya masih duduk menunggu alih-alih tengah berpelukan dan berciuman dan bergelayut manja di rangkulan pemudanya. Bagaimana kalau nanti Orange meradang lagi kalau tahu Andrew terlambat menjemputnya, lalu bersikeras ikut menunggui bersamanya, lalu menyemprot dan melabrak pemuda itu begitu dia menampakkan diri?

Ada satu kisah yang dulu pernah ia dengar, tentang sepasang kekasih yang terpaksa harus menunda pernikahan mereka karena si pemuda dipanggil untuk memenuhi kewajibannya pada negara: melindungi negara dari serangan musuh di garis depan. Kemudian mereka saling mengucap sumpah, bahwa sang pemuda akan bertahan hidup, bahwa setelah perang usai ia akan pulang kembali, dan setelahnya mereka akan menikah, tinggal di rumah kecil mereka yang dikelilingi taman bunga dan pohon buah, lalu bersama-sama menggarap ladang gandum mereka.

Tapi sang pemuda tertembak mati di garis depan.

Si gadis tak percaya kekasih hatinya telah tinggal nama. Setiap hari, dia duduk di bangku stasiun, sejak kereta pertama tiba hingga kereta terakhir telah lama mengeluarkan penumpangnya. Duduk, dan menunggu, terus menunggu. Mengamati setiap kereta yang lewat. Menggantung harapan kalau suatu saat pemudanya akan muncul, turun dari salah satu pintu gerbong, dengan tawanya yang lebar, lalu berlari menyongsongnya, terus menerus mengucapkan permintaan maaf karena telah lama menghilang, lalu sang gadis akan memukulinya kesal, namun kemudian tersenyum lembut, dan bersamaan dengan pelukan mereka, semuanya termaafkan.

Puluhan tahun kemudian, seorang wanita tua dengan seluruh rambut yang telah memutih, menghembuskan napas terakhirnya di bangku yang sama, stasiun yang sama.

Kerumunan orang mulai menipis. Dengung-dengung percakapan tidak lagi seberisik tadi. Ia masih menunggu.

"Hey."

Tak bisa kaubayangkan betapa besar kelegaan yang gadis itu rasakan, ketika sapaan yang amat familiar menyapa telinganya, ketika ia mengangkat kepala, dan sesosok itu, sosok yang ia tunggu, memenuhi ruang pandangnya. Ia menyadari pemudanya lebih kurus, dengan wajah sayu, dengan rambut panjang berantakan. But he still her man.

"Hey."

And he's still breathing. And alive.

Apa ini, yang tengah hangat berjatuhan di pipinya, yang tiba-tiba saja membuat pandangannya mengabur, yang tiba-tiba saja membuat semuanya seperti tengah dilihat dari balik kaleidoskop kaca?

Hal berikutnya yang Liga tahu, dia sudah berdiri, menghambur ke pelukan pemudanya, membenamkan wajahnya yang basah, kedua tangannya melingkari pinggang pemudanya erat.

"You're still alive. You're still alive..." Suaranya bergetar, bercampur isakan teredam. Mungkin pemuda itu masih marah padanya. Mungkin seharusnya Liga juga marah karena merasa diperlakukan tidak adil, karena merasa pemuda itu membolehkan dirinya sendiri marah selama ini padanya, sementara dia selalu ribut berkomentar bila Liga ngambek berkepanjangan. Tapi semua itu kini tidak lagi terasa berarti, malah tampak konyol dan kekanakan, ketika sosok pemuda itu hadir di depannya. Dia merindukan pemuda itu terlalu dalam.

"Please, just--stay like this a while longer..."

Namun, dia tahu, mungkin saja, pemudanya masih marah.

0 comments: