Musim gugur itu... masih lama harusnya.
Si tua itu bilang kalau dia baru mau mengajar Andrew musim gugur tahun ini, yang berarti masih beberapa bulan lagi. Tapi siapa sangka, eh? Musim gugur digeser jadi akhir musim dingin, lalu berlanjut sampai sekarang. Memang tidak formal 'diajar' tetapi lebih tepat dengan sebutan 'diperbudak'. Kau tahu, dengan master yang sebegitu eksentrik, lalu Inggris yang makin tegang dan menjijikan karena Pelahap-Maut berkeliaran, ditambah ketiadaan sumber hidupnya. Baginya, hari-hari belakangan ini merupakan neraka tiada henti. Ah, Andrew masih waras saja masih sebuah keajaiban.
Mana minggu-minggu sebelum ini dia agak terusik harga dirinya untuk sekadar menjawab getaran dari cermin yang terus menggelepar di dalam sakunya... Being right isn't always worth the fight, huh?
Sejenak dia terdiam, membuka matanya malas, menggeliat, menarik lagi selimutnya untuk kembali terlelap, kalau saja tidak diingatnya sekarang tanggal berapa dan apa yang terjadi pada tanggal tersebut. Pemuda sembilan belas ini menguap, melompat dari peraduannya untuk mandi dan bercukur, yang kalau tidak dilakukannya pasti akan jadi bahan ejekan gadisnya (ayolah, kumis dan jenggot itu sama sekali tidak kece untuk umur segini). Mata hijaunya menyadari ia bertambah kurus dengan muka kuyu dan lingkaran mata panda.
Kesannya tidak terurus.
Seperti random homeless hipster.
....Ampun jelek amat.
Ya sudahlah, biar ejekan Liga padanya menjadi nyata, biar dia lihat kalau pemudanya betulan jelek jadi macam apa kacaunya.
Satu letupan pelan dan Andrew menghilang ditelan udara. Begitu muncul di tempat tujuan, dia mencari-cari sandaran, menenangkan perutnya yang makin buruk karena begadang. Dia tidak menyandar lama-lama melihat beberapa manusia sudah keluar secara misterius dari sebuah dinding peron. Andrew beringsut, memasuki peron tiga perempat dengan santai. Kakinya berayun sementara matanya menyapu ke sekitar.
Ah, itu dia.
Di tangannya bertengger burung hantu yang Andrew berikan beberapa bulan lalu. Wajah itu masih sama, rambut, postur, bahkan dari jarak beberapa meter, dirinya seperti bisa menghirup aroma yang dirindukannya. Yea, right. Being right isn't always worth the fight. He missed her, too little too much. Tetapi pemuda ini tidak segera menyongsongnya seperti biasa. Dia memilih untuk menyandar lagi, memerhatikan gerak-gerik gadisnya saat menunggu. Tersenyum terlalu lebar sampai dia harus menyembunyikannya dengan mengulum bibir.
Lima menit, dua belas menit.
Andrew akhirnya menghampiri wanita itu. Oh, sepertinya sekarang tingginya sudah sampai enam kaki? Soalnya Liga Gerhild jadi tambah mungil... Atau karena mereka sudah lama tidak bertemu? Pemuda ini menghela napas, menepuk-nepuk troli alih-alih memeluk dan mencium.
"Hey."
Cuma itu saja.
Haha.
Yeah. Jangan lupa kalau Andrew masih ngambek.
Thursday, October 13, 2011
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
0 comments:
Post a Comment