Thursday, October 13, 2011

"As strange as it seems, I'd rather dissolve than have you ignore me." - Post 4 (c) Sapu

Kepalanya pening, kupingnya pengang akan ingar-bingar keramaian stasiun muggle yang sedikit bagiannya dimanipulasi penyihir. Satu, dua senggolan pada bahu oleh orang asing, perut yang masih menggelagak parah akibat tidak makan beberapa hari dan efek aparisi yang masih mengganjal. Andrew dua tahun lalu biasanya akan hibernasi beberapa hari untuk membayar kelelahan tidak tidur beberapa hari ini dan mungkin akan menatap kasihan pemuda lusuh yang berdiri gamang ini. Yeah, dia tidak pernah membayangkan dalam hidupnya, bahwa akan sebegini relanya memaksakan diri agar seseorang senang. Never. Even in his wildest dream.

Bahkan beberapa orang menjulukinya manusia seenaknya sendiri. 'Andrew VanWyck doesn't do girlfriend' and here he is, married hampir dua tahun bersama perempuan yang sama dan tidak berpikir sekalipun untuk lepas dari perempuan itu.

"Of course I'm alive!"

Andrew tergelak, menepuk-nepuk kepala Liga yang menghambur ke arahnya. Aah, wangi ini, pelukan ini. Pemuda ini kembali mengulum bibirnya untuk meredakan senyum yang kelebaran, memeluk balik sosok mungil yang begitu berarti di kehidupannya. Dia membiarkan kaus yang dikenakannya basah oleh air mata. Bukti bahwa sampai sebegitunya gadis ini merindukan dirinya. Andrew jadi terharu. Kengambekannya menguap begitu saja.

"Or you'd be happier to have me turn into a ghost? Aduh kamu jadi berantakan. Ingus! Ingus!" Dia mengelap pipi Liga yang sembap dengan kausnya sambil mencubit hidung gadis itu. Tergelak lagi. "Kamu lihat aku hidup, nangis, lihat aku mati juga kayaknya bakal nangis. Kapan tidak nangis, tsk tsk. Aku kan paling lemah sama air mata. Sudah ya, cep cep..."

Dia melingkarkan tangannya ke pinggang gadisnya dan mengangkatnya, agar tinggi mata mereka setara (yep, Liga Gerhild tambah mungil sekarang, aduh). Menempelkan keningnya, tersenyum.

"Really? Kupikir lebih menyenangkan kalau kita segera pulang dan melakukan hal lain. Dibanding berpelukan di peron..."

Pemuda slavic ini menghela napasnya. Hidung bersentuhan, namun bibir belum bertaut. Sengaja, fakye. Ia membuka mulutnya sedikit lalu menyeringai bandel, seolah bermain-main dengan yang namanya ciuman. Masih ingin menyiksa Liga sedikit lebih lama. Meski kesabarannya sendiri tengah diuji (ayolah, Andrew ini pemuda normal tidak aseksual). Satu tangannya menelusuri jubah Hogwarts yang dikenakan Liga dan berhenti pada bahunya, meremasnya pelan.

"Miss me much?"

"You didn't say I'm sorry, I'm not gonna kiss you."

0 comments: