Sepasang mata hijau jernih itu, yang ia rindukan, yang selalu membuatnya merasa dicintai setiap kali ia menatap ke dalamnya, yang membuatnya ingin menenggelamkan diri dan diliputi kedamaian abadi di dalam sana. Seraut senyum syahdu terkembang, perlahan, sehangat mentari musim semi, secerah peony yang merekah menyambut embun pagi. Jemarinya merunut, meraba, kembali bisa menyentuh pemudanya setelah sekian lama, menyusuri lembut pelipisnya, pipinya, rahangnya, hidungnya, bibirnya, semuanya. Menghirup kembali aroma pemudanya, yang masih bisa dia hirup diantara samar aroma aftershave dan sabun.
Like I've never seen the sky before
Apa itu cinta?
Atas nama cinta, ibunya membuang segala yang ia miliki; nama, reputasi, kehidupan layak, semuanya. Atas nama cinta jugalah, ibunya dibuang begitu saja, tanpa memiliki apapun yang tersisa darinya. Atas nama cinta, seorang Liga Gerhild harus mengais dan merangkak demi bisa hidup dengan, sedikitnya, setengah layak. Cinta, membuat seorang Liga Gerhild tumbuh dengan menutup mata hati dan nuraninya, tanpa henti memberitahu dirinya sendiri untuk tidak terbodohi karena cinta, untuk tidak merendahkan diri karena cinta, seperti yang dilakukan ibunya.
Dia dan Andrew, bukanlah dua orang naif yang percaya dunia bisa berputar hanya karena cinta, dia tahu itu. Mutualisme, bukankah itu kesepakatan mereka dulu? Sesuatu yang terasa lebih nyata, lebih realistis daripada sekedar ilusi bernama cinta. Sesuatu yang tak akan membuat mereka kehilangan akal, mengabaikan segala logika dan kenyataan. Bagus, bukan?
Want to vanish inside your kiss
"Pffft—you beast," dia tergelak, gumaman pelan ia senandungkan, matanya tertutup, menikmati sentuhan-sentuhan sang pemuda, memanjakannya, melenakannya. Dia membiarkan kedua pipi mereka saling bersentuhan, ujung hidungnya menggelitik daun telinga si pemuda. "Later, Love," dia berbisik, "We own all the time in the world, we can dive and drown into it anytime we want."
Mereka masih muda, menapaki hidup dengan angkuh, hanya mengizinkan keberadaan satu dan yang lainnya dalam otak masing-masing, dalam ruang kenangan masing-masing, dalam ruang pandang masing-masing.
Yeah, what happened to them now?
Listen to my heart, can you hear it sings
Dua anak manusia, yang dulu dengan angkuh menampik sesuatu bernama cinta sebagai bagian dari realita. Dua anak manusia, yang kini, mungkin, telah terlalu lama bersama, hingga bagi mereka daun tak akan lagi hijau tanpa keberadaan yang lain, dan bunga tak akan lagi merekah, dan hujan tak akan lagi nyaman dan menyegarkan, dan matahari tak akan lagi disambut bersahabat, dan tanpa mereka sadari, 'terlalu lama' tak lagi terasa sebagai sesuatu yang terlalu lama, karena perpisahan hanyalah membuat mereka hampa meski hanya sementara, menyadari betapa besar arti keberadaan yang lain bagi mereka, menyadari betapa dunia tersenyum lebih ramah dengan jari-jemari mereka selalu saling berkait, dan tak akan terpisahkan lagi.
Telling me to give you everything
"Apa, sih!" kembali bibirnya mengerucut, memukul pelan bahu si pemuda, meski tak urung setelahnya tawa berderai riang. "Bisa, dong. Menurutmu aku sebodoh apa lulus tanpa bisa Apparate sama sekali?"
Bahkan ejekan-ejekan kecil seperti ini pun dia rindukan betul-betul.
Seasons may change winter to spring
"Jalan saja, yuk? Walk around, lihat mana yang tampaknya oke, baru putuskan nanti. Kamu belum makan dari kemarin begitu masih mau Apparate, tsk." dia menampakkan ekspresi kesal, seolah masih marah karena Andrew sama sekali tidak menjaga dirinya padahal selalu rewel setiap saat bila Liga tambah kurus. Kembali jemarinya bergerak, menyusuri rahang kokohnya, bergelantungan di lehernya, kembali menenggelamkan diri ke sepasang mata hijau sang pemuda, yang hanya menatap padanya, yang hanya memberikan seluruh dunia untuknya.
"I want to waste the time with you."
-----------------------------------------
Song Lyrics (c) Moulin Rouge OST. - Come What May
0 comments:
Post a Comment